Konflik Batin

7 Alasan Manusia Terbatas Tidak Mungkin Menghasilkan Hal Sempurna – Kita Menggila Karena Mencari Kesempurnaan Tetapi Carilah Kebenaran Maka Hidup Penuh Kelegaan

Berjalan sendiri-sendiri, Terjebak dalam arogansi, Hobinya melakukan manipulasi, Serakah mengumpulkan materi, Bencana datang membantai, Manusia jahat tercerai-berai, Hiduplah oleh kebenaran hakiki, Jiwa raga damai lestari di bumi

Bila hanya kita yangberkembang sedang makhluk lainnya punah pastilah bencana akan menghadang untuk membersihkan niat jahat tersebut

Ketidakmampuan manusia mengelola kehidupan telah nyata kepada kita pada zaman dahulu saat generasi sebelumnya berusaha hidup mandiri sendiri yang lebay (mempertahankan satu spesies saja). Suatu keputusan ekstrim yang dibuat oleh para penguasa zaman dahulu dimana mereka hanya memajukan dirinya sendiri, keluarganya, kelompoknya dan kaumnya. Sedangkan yang lain-lain yang terdapat di sekitarnya diabaikan sama sekali bahkan dirusak, dibunuh hingga musnah sama sekali. Manusia hanya mau hidup sendiri sok mandiri dengan memunahkan hewan dan tumbuhan yang ada di sekitarnya lalu memetak-metakkannya dalam kebun binatang dan cagar alam dengan luas sangat terbatas. Akibatnya, bencana terjadi secara berulang-ulang membersihkan manusia-manusia serakah, virus-virus perusak habitatnya (lingkungannya) sendiri.

Dengan merusak lingkungan (bumi), kita seperti kacang yang lupa kulitnya, manusia lupa akan penopang hidupnya sendiri

Begitulah nasib peradaban umat manusia yang berpikir bahwa dirinya mampu hidup sendiri di muka bumi ini. Mengandalkan kemampuan utamanya yang disebut dengan kecerdasan otak yang egois. Dengan kekuatan membuat ini-itu, melihat berbagai kegemilangan yang seolah-olah luar biasa. Namun, nyatanya keunggulan tersebut membutuhkan lebih banyak energi yang dibor dari dalam bumi, emas hitam. Kekuatan ilmu pengetahuan juga mampu memanjakan manusia itu sendiri, lantas dirinya merasa itu luar biasa. Berbagai penemuan yang telah dikembangkan nyatanya hanya digunakan untuk mewujudkan arogansi, memanipulasi orang lain secara halus dan mewujudnyatakan mimpi-mimpinya yang serakah. Manusia merasa sempurna karena mampu menciptakan banyak hal. Dirinya lupa bahwa bumi dan lingkungan sekitarlah yang telah mengajarinya untuk beroleh semuanya itu.

Ahli dalam meniru bukan berarti bisa segalanya melainkan dedikasikan hidup untuk kebenaran hakiki

Kita harus tahu diri bahwa sesempurna-sempurnanya manusia, itu hanyalah hasil meniru dari ajaran Tuhan (Kitab Suci) dan lingkungan alamiah di sekitar? Masakan pula kita membuang guru kita sendiri dengan menjadi ateis dan menginjak-injak tatanan lingkungan alamiah? Oleh karena itu, adalah baik bagi kita untuk kembali ke dasar menanggalkan segala kesombongan ini. Meminimalisir penggunaan teknologi pada kebutuhan bersama, menyediakan fasilitas yang bisa dipakai secara bersama-sama dan selalu aktif melakukan hal-hal positif. Sifat positif yang perlu kita kembangkan adalah kebiasaan membuat pikiran tertuju kepada Tuhan (baik dalm doa, firman dan bernyanyi memuliakan-Nya), mempelajari sesuatu dan menyelesaikan pekerjaan. Serta senantiasa berbagi kasih kepada sesama di sela-sela aktivitas positif tersebut.

Manusia Yang Terbatas Tidak Mungkin Menghasilkan Sesuatu Yang Sempurna

Faktor penyebab manusia terbatas tidak mampu menghasilkan sesuatu yang sempurna

Kita memandang hidup ini begitu kecil hanya sebatas apa yang dapat dicitrakan oleh panca indra belaka. Padahal sesungguhnya masih ada bumi yang lain di luar sana yang mungkin saja diisi oleh orang-orang yang lebih cerdas dari kita. Kesempurnaan yang kita rasakan hanyalah seperti “katak dalam tempurung.” Luaskanlah wawasan dan perdalam ilmu pengetahuan maka akan mendapati banyak hal yang lebih luar biasa di alam semesta dibandingkan dengan manusia itu sendiri. Akan tetapi, sekali pun kita tidak mampu sempurna, bukan berarti tidak boleh memperbaiki menjadi lebih baik. Kita tetap memperjuangkan apa yang terbaik tetapi bukan untuk mencapai kesempurnaan melainkan setidak-tidaknya mendekati sempurna. Sebab yang namanya kesempurnaan adalah miliki bersama selurh alam semesta sedangkan kesempurnaan sejati itu hanya milik Tuhan Allah pencipta langit dan bumi semata. Berikut akan kami jelaskan beberapa alasan mengapa manusia yang terbatas tidak bisa menghasilkan sesuatu yang sempurna.

1. Manusia adalah ciptaan yang paling lemah.

Mengapa manusia tergolong lemah? Karena diciptakan di hari yang terakhir (Bnd. Kejadian 1:26). Seandainya alam semesta ini dianggap sebagai satu keluarga maka manusia adalah anak paling bungsu yang harus selalu dilindungi oleh saudara-saudara lainnya yang lebih tua. Kita mengharap terang dari abang sulung, matahari. Menanti berkat dari abang yang sukanya diinjak-injak, yakni bumi ini. Dan masih banyak lagi saudara kita yang lainnya di seluruh jagad raya. Sadar atau tidak, tanpa kehadiran abang dan kakak kita maka tidak ada entitas yang disebut sebagai manusia di alam semesta ini.

2. Kitab Suci tidak sempurna tetapi firman Allah sempurna adanya.

Alkitab adalah buku terbaik, terlaris dan terpopuler di seluruh bumi karena telah dicetak lebih dari miliaran kali bahkan telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Tidak perlu memuji Kitab Suci yang notabene disusun oleh manusia tetapi  pujilah Tuhan yang memberikan firman kekal sebagai sumber pengajaran bagi umat manusia. Kitab Suci jelas sangat manusiawi dan memiliki sisi kelemahannya sendiri-sediri tetapi firman Allah itu sempurna adanya. Di dalamnya terdapat nilai-nilai kemanusiaan yang bisa saja salah namun apa yang diucapkan Sang Pencipta tidak akan berlalu sebelum digenapi semuanya itu. Seperti ada tertulis.

(Yesaya 55:11) demikianlah firman-Ku yang keluardari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

Sumber: Alkitab

Kita perlu meluruskan sudut pandang dalam menilai setiap ayat yang terdapat dalam Alkitab. Aktif menggunakan standar kebenaran seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Apabila terdapat nilai-nilai Alkitab yang bertentangan dengan standar kebenaran maka kisah tersebut bisa dianggap sebagai bagian dari perumpamaan yang perlu diambil makna positifnya sedang yang negatifnya dapat diabaikan saja. Seperti ada tertulis.

(Matius 22:37-40) Jawab Yesus kepadanya:”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Sumber: Alkitab

Sisi ketidaksempurnaan Alkitab tergantung dari sudut pandang yang digunakan. Jika berdasarkn standar kebenaran yang hakiki  maka tidak semua yang terdapat di dalamnya adalah benar (sempurna). Justru ada hal-hal yang bertentangan pada kebenaran itu sendiri sehingga perlu dinilai sebagai suatu perumpamaan untuk diambil makna positifnya. Bukankah Tuhan Yesus Kristus sendiri mengajarkan banyak perumpamaan kepada kita?

3. Kitab Suci tidak sempurna karena dipersalahkan sendiri oleh penulisnya.

Kalau anda bisa menebak, “siapakah penulis Kitab Suci yang mempersalahkan sendiri apa yang telah ditulisnya?” Dialah penulis pertama yang terdapat di awal-awal bab dalam Alkitab. Lewat nabi Musalah, Tuhan menganugerahkan Hukum Taurat kepada bangsa Israel kuno dan berlaku bagi bangsa Israel masa kita, yaitu semua yang percaya kepada-Nya.

Padahal, kalau kita bahas secara lagika, sang nabi tampaknya merupakan pribadi yang sempurna karena telah berbicara langsung dengan Sang Pencipta. Akan tetapi, dari sini kita bisa memahami peran Tuhan yang memerhatikan aspek manusiawi dalam mengajarkan kebenaran-Nya. Pengakuan nabi Musa bahwa dirinya mati di gunung jelas tidak benar menurut sudut pandang yang satu. Sedang dari sudut pandang yang lain, itulah yang didengarkannya dan itulah juga yang dituliskannya: dia melakukan hal yang benar. Sebab dia akhirnya terangkat ke surga sama seperti Henokh dan Elia. Kejadian ini terbukti nyata saat bertemu dengan Tuhan Yesus Kristus (Matius 17:3) sehingga apa yang dituliskannya dahulu kurang tepat (tentang kematiannya, bnd. Ulangan 32:50). Sekali pun Tuhan menyatakan bahwa dia tidak layak memasuki tanah perjanjian tetapi belas kasihan Allah melayakkannya untuk memasuki Tanah Perjanjian Abadi, Yerusalem yang baru, sorga yang kekal (Wahyu 21:2).

4. Apa yang kita ciptakan hanyalah miniatur dari kekuatan yang sesungguhnya.

Kita punya lampu tetapi semesta memiliki matahari yang jauh lebih baik dari semua lampu. Bisa membuat AC tetapi udara sejuk di pagi hari dan musim dingin tidak ada bandingannya. Dan masih banyak lagi hal yang kita tiru dari alam sekitar dalam bentuk teknologi terapan. Tetapi semuanya itu tidak sebanding dengan kekuatan aslinya. Karena kita bisa belajar dari abang kakak maka kita pun mampu menciptakan banyak hal. Sekali pun demikian, apa yang kita ciptakan hanyalah minatur dari kekuatan abang dan kakak di sekeliling yang jauh lebih tangguh. Jadi, inilah bukti konkrit dari keterbatasan manusia itu sendiri dimana teknologi yang kita hasilkan masih jauh berada di bawah (lebih sederhana) bila dibandingkan dengan teknologi alam semesta itu sendiri.

5. Sebaik-baiknya karya yang kita hasilkan pasti ada juga salahnya.

Sekali pun kita merasa bahwa ilmu pengetahuan yang dimiliki sangatlah luas, entah itu tentang alam semesta, kehidupan individu, sosial, kesehatan fisik-mental, lingkungan dan lain sebagainya. Sadarilah bahwa tidak semua pernyataan yang kita ungkapkan itu benar. Mungkin kita sendiri tidak menyadari letak kesalahan tersebut tetapi orang lain yang teliti sangat mengenalinya. Atau sekali pun teori yang kita ungkapkan sekarang agak diterima masyarakat, bisa saja di waktu mendatang (di masa depan) semuanya itu dianggap sebagai kebohongan. Jadi, jelaslah bahwa manusia itu terbatas dan tidak akan pernah jadi sempurna.

6. Bencana alam dan bencana kemanusiaan adalah pertanda ketidaksempurnaan.

Andai saja ilmu pengetahuan yang kita miliki sudah sempurna maka seharusnya tidak ada lagi yang namanya bencana alam. Sebab kita sudah memahami dengan baik cara kerja alam ini. Semata-mata agar kita bisa hidup bersama untuk menyatu dengan lingkungan sekitar. Berbagai komponen lainnya di bumi adalah penopang hidup yang memungkinkan kita untuk tetap bertahan Tetapi, karena tidak memahami hal tersebut dan berlaku seolah-olah manusia itu superior maka terjadilah gangguan keseimbangan alam yang memicu bencana dimana-mana sebagai bukti keterbatasan umat.

Persaingan yang berubah menjadi perselisihan menunjukkan betapa buruknya sistem dimana kita hidup. Terlebih ketika konflik pecah dimana-mana maka peperangan akan kembali dikobarkan. Penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan kelaparan yang berkepanjangan akan menambah buruk daftar bencana kemanusiaan yang terjadi setiap tahunnya. Bukankah ini adalah bukti nyata dari keterbatasan ilmu pengetahuan dan wawasan manusia itu sendiri?

7. Pada akhirnya, kita mati juga!

Bagian terakhir ini adalah bukti paling akurat yang menunjukkan bahwa manusia itu terbatas adanya. Setinggi apa pun umur kita, entah sampai ratusan tahun pasti mati juga. Ini menunjukkan bahwa waktu yang kita miliki terbatas. Oleh karena itu, adalah baik bagi kita untuk memanfaatkannya untuk tujuan yang sebenar-benarnya agar kita kelak beroleh mahkota sorgawi yang dijanjikan Tuhan. Memang keselamatan adalah kasih karunia Allah tetapi kita harus berjuang semaksimal mungkin untuk mempertahankannya hingga akhir hayat. Seperti ada tertulis.

(Lukas  13:24) Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.

Sumber: Alkitab

Kesimpulan

Dari zaman dahulu kala sudah terbukti bagaimana manusia terjebak dalam berbagai praktek kotor hanya demi mengejar yang lebih baik dan sempurna. Fokus menyempurnakan kehidupan dengan teknologi super canggih hanya membuat kita semakin menggila karena memperebutkan sumber daya yang terbatas. Alangkah lebih baik jikalau kehidupan ini kita dedikasikan untuk mencari kebenaran hakiki, maka yang lain-lain itu nanti akan ditambahkan Tuhan kepada kita, secukupnya (seberapa kita membutuhkannya). Kesempurnaan bukanlah miliki pribadi melainkan milik bersama tetapi milik pribadi adalah kelegaan hati. Seperti ada tertulis.

(Matius  6:33) Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Sumber: Alkitab

Manusia adalah peniru ulung tetapi bukan dalam artian bahwa kita lebih hebat dari sumber tiruan tersebut. Melainkan sehebat-hebatnya tiruan pasti jauh lebih baik lagi yang asli. Karena cerdik mengamati dan menelaah lingkungan maka banyak ilmu pengetahuan terapan yang bermanfaat bagi kehidupan. Akan tetapi, arogansi membuat pemanfaatannya mengarah kepada hal-hal yang manipulatif merusak karena memicu ketamakan akan sumber daya. Semua ini, ujung-ujungnya mempertemukan kita dengan bencana alam dan kemanusiaan yang memilukan hati. Tuhanlah Pencipta yang sempurna sedangkan kita ini hanyalah imitasi yang tidak berarti. Dialah yang membuat kita tetap waras dalam memanfaatkan ilmu tersebut. Selalu berusaha untuk memberi arti dengan senantiasa memuliakan nama-Nya sambil berbagi kebaikan kepada sesama. Bukan diri sendiri yang membuat sempurna tetapi kebersamaanlah yang menyempurnakan sistem dimana kita hidup.

Salam, Berjalan sendiri-sendiri,
Terjebak dalam arogansi,
Hobinya melakukan manipulasi,
Serakah mengumpulkan materi,
Bencana datang membantai,
Manusia jahat tercerai-berai,
Hiduplah oleh kebenaran hakiki,
Jiwa raga damai lestari di bumi
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.