Kepribadian

Nabi Musa Menyangkal Diri, Segala Sesuatu Dinilai Dari Tujuannya

 Sehebat apa pun kita, sadari bahwa kita bukanlah siapa-siapa. Sebab yang menyombongkan diri akan direndahkan Tuhan. Sedang yang merendahkan diri akan ditinggikan Tuhan. Jadi pilihan ada di tangan anda: (a) meninggikan diri sendiri atau (b) merendah diri untuk ditinggikan Tuhan kelak pada waktunya?

Manusia bukanlah siapa-siapa di seluruh alam semesta yang hebat dan besar ini

Bila kita melihat sekeliling, sungguh manusia bukanlah apa-apa dibandingkan seluruh ciptaan sebelum kita Tidak bisa kita menyamai matahari yang begitu kuat, panas dan terus bersinar dari waktu ke waktu. Sungguh tak mampu kita menyamai kembang-kempisnya cakrawala nan luas yang mengetahui kapan waktunya mendung dan kapan hari cerah. Mustahil kita melawan gunung yang menjulang tinggi atau menyelam hingga ke dasar palung terdalam. Mana bisa manusia menyaingi kokoh-kuatnya pepohonan yang menjulang tinggi. Binatang berukuran kecil saja, jauh lebih gesit (lincah) dibandingkan manusia mana pun. Semua fakta ini menunjukkan bahwa kita hanyalah makhluk yang paling lemah dari segi kekuatan fisik. Hanya satu kelebihan kita dibandingkan yang lain adalah otak yang cemerlang.

Sekali pun otak kita cemerlang, itu pun tidak bisa dibanggakan. Sebab sehebat-hebatnya kepintaran manusia, terkadang itu hanya berlaku di zaman dimana kita hidup. Sedang di zaman berikutnya, generasi selanjutnya akan menemukan masalah yang berbeda yang membutuhkan penyelesaian yang berbeda pula walau sepertinya mirip-mirip seperti yang kita ungkapkan. Pada akhirnya, kebanyakan pengetahuan yang kita bagikan hanya akan menjadi dasar pijakan untuk menemukan hal-hal baru yang lebih bernilai dan bermanfaat bagi umat manusia. Di samping itu, pada akhirnya ada pula yang menyadari bahwa beberapa hal yang kita utarakan tidak benar (salah) sama sekali. Pun di sekitar kita, mungkin saja masih ada orang yang lebih baik yang membagikan ilmu yang lebih berkualitas dari yang kita lakukan. Oleh karena itu, tidak ada sisi kepintaran yang patut dibanggakan.

Sekali pun ada hal yang baik yang kita lakukan, kita tidak pantas untuk membanggakannya. Sebab dimana ada kesombongan maka di sanalah iri hati bergelora dalam nurani. Kebanggaan kita seperti bom molotof yang mengundang orang-orang cerdas lainnya untuk menemukan/ menciptakan sesuatu. Padahal, cipta-mencipta selalu ada batasnya. Akan tetapi, karena sudah dimulai dan mustahil dihentikan maka sekelompok orang akan melakukan manipulasi yang dikonspirasikan dengan banyak lembaga. Semua penipuan ini untuk apa? Semata-mata demi royalti dan jaminan hidup yang super mewah, nyaman dan megah. Padahal, kita tidak menyadari bahwa lewat semua kemewahan tersebut, hidup kita perlahan-lahan dirusak, baik secara mental maupun secara fisik (gangguan keehatan).

Adalah penting bagi tiap-tiap manusia (siapa pun anda di luar sana) untuk mengadopsi sikap yang rendah hati. Tidak ada satu pun kelebihan yang pantas untuk kita puja-puji sebab semuanya itu fana adanya. Justru semakin tinggi membawakan diri maka makin besar rasa sakit yang timbul saat orang lain berhasil menjatuhkan dengan mengorek kesalahan kecil yang dilakukan sendiri. Sebelum kepahitan semacam ini merajam jiwa, alangkah lebih baik bila terlebih dahulu merendahkan diri di hadapan Tuhan. Bahkan bila perlu, berupaya untuk menginjak diri sendiri demi menyangkal diri. Aktivitas semacam ini, merupakan salah satu bentuk antisipasi untuk melonggarkan tali keangkuhan agar tidak sampai melebihi ubun-ubun sendiri. Berupaya untuk selalu merasa setara dengan semua orang sebab yang pantas ditinggikan di antara manusia hanyalah Sang Pencipta segala masa.

Nabi Musa Menyangkal Diri, Segala Sesuatu Dinilai Dari Tujuannya

Manfaat merendahkan diri sendiri

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa aktivitas menyangkal diri merupakan ajaran Tuhan Yesus Kristus sebagai salah satu syarat untuk mengikuti jejak iman-Nya. Perlu kami ingatkan lagi faedah nyata dari sikap melangkahi diri sendiri bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Istilah lainnya, aktivitas tersebut tidak bisa digantikan oleh aktivitas lainnya. Sesungguhnya, apa kepentingan utama dari  aktivitas menginjak diri sendiri? Mari simak sekaliannya beberapa faedah aplikatif dari aktivitas tersebut.

  1. Merendahkan hati.
  2. Memperkuat mental saat direndahkan/ diejek orang lain.
  3. Meredakan niat hati untuk bersaing sempit dengan sesama.
  4. Mengalahkan/ melemahkan ego yang kadang melambung tinggi.
  5. Menurunkan harga diri atau gengsi yang berlebihan.
  6. Membantu meredakan amarah.
  7. Menghentikan sikap anarkis yang mulai menguncup.
  8. Membantu menyadarkan diri bahwa kita pun manusia berdosa.
  9. Memberi maaf atas kesalahan sesama.
  10. Mencegah munculnya sikap perfeksionis yang merusak.
  11. Menghindari diri dari kebanggaan atas apa yang kita berikan.
  12. Dan lain sebagainya. Khasiat jitu merendahkn diri.

Cara menyangkal diri

Hindari rasa canggung menyangkal diri sebab orang-orang hebat sebelum kita pun melakukannya dimulai dari awal mula manusia bergaul karib (mengenal) Allah. Satu-satunya penghalangnya adalah gengsi atau harga diri kita sendiri. Akan tetapi, orang yang memahami siapa dirinya sebelumnya atau dari mana manusia berasal pasti mampu menemukan titik kerendahan hati yang membuat kita mampu melakukannya dengan tulus ikhlas. Misalnya dengan menyadari bahwa “kita hanyalah debu tanah yang selalu saja berlumuran berbagai-bagai macam dosa.” Bisa juga dengan mengambil sudut pandang kelemahan lalu menggalinya lebih dalam sehingga menyadari bahwa “kita hanyalah manusia yang tidak ada apa-apanya.” Juga bisa dengan memahami betapa seringnya kita direndahkan orang lain yang mana “kita tidak lebih dari sampah atau kotoran belaka.” Simak juga kawan, Bagaimana contohnya merendahkan diri?

Riwayat penyangkalan diri ala nabi Musa

Kami sendiri menganggap bahwa nabi Musa salah tulis saat mengakui bahwa dirinya meninggal di gunung dan akan dikumpulkan bersama leluhurnya. Memang dari sudut pandang kebenaran realita, apa yang dituliskannya tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi dilapangan saat itu. Sedang kabar tentang kematiannya telah diwartakan dari keturunan kepada keturunan berikutnya. Bukankah dengan begitu dosanya banyak? Tetapi, nyatanya Musa terangkat ke sorga. Hanya orang yang teruji dan mampu mempertahankan kebenarannyalah yang terangkat ke sorga. Di atas semuanya itu, perlu dipahami bahwa tidak ada yang layak masuk sorga selain mereka yang mendapat kasih karunia Allah.

Kebohongan yang dilakukan nabi Musa seolah-olah berita hoax (informasi bohongan) yang dipercaya dari generasi ke generasi.  Pertanyaannya, apakah ini tidak menimbulkan dosa? Tetapi, jikalau pun sang nabi berdosa karena menyebarkan hoax (kebohongan), mengapa dia bisa diangkat ke sorga? Tampaknya, kasih karunia Tuhan telah mentolerir kesalahan tersebut sehingga ia pun layak masuk sorga. Lagi pula lewat berita bohong yang diwartakannya tidak ada orang lain yang dirugikan atau diuntungkan. Tetapi tindakannya benar jikalau ditinjau dari aspek kebenaran hakiki seperti yang diajarkan Yesus Kristus. Bisa dipastikan bahwa kebohongan yang disebarkannya merupakan salah satu usaha untuk menyangkal diri dihadapan para pengikutnya

Dari sini kita bisa melihat sisi kesalahan yang dilakukan oleh seorang manusia, yaitu menipu. Tetapi, ternyata di mata Allah tujuan dari tindakan nabi Musa lebih mulia dari kesalahan yang dia lakukan. Artinya, Nabi yang bertujuan menyangkal diri lebih berharga dibandingkan dosa akibat penipuan yang disebarkannya. Dosa nabi Musa memang ada karena tidak ada satu manusia pun manusia yang luput daripadanya. Akan tetapi, orang yang menyangkal dirinya telah merendahkan hatinya di hadapan Allah sehingga dipandang layak untuk bersemayam bersama-sama dengan Allah di sorga yang kekal. Singkatnya, upah dari menyangkal diri sangatlah besar di mata Sang Pencipta. Bukankah ada tertulis.

(Yehezkiel  21:26) beginilah firman Tuhan ALLAH: Jauhkanlah serbanmu dan buangkanlah mahkotamu! Tiada yang tetap seperti keadaannya sekarang. Yang rendah harus ditinggikan, yang tinggi harus direndahkan.

Sumber: Alkitab

Lagi firman berkata.

(Matius  23:12) Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Sumber: Alkitab
Manusia berdosa karena tujannya tidak benar saat menguji (mencobai) sesamanya

Manusia dinilah karenatujuannya benar sekalipun ada hal-hal bohong yang wajar diumbar lewat kata-kata

Kisah nabiMusa yang berbohong demi menyangkal dirinya tetapi dibenarkan Tuhan telahmembuka mata kita tentang kebenaran hakiki. Bila semuanya harus lurus danputih, bagaimana kita bisa mencontohkan atau membandingkan apa yang benar itu? Saatkita mewartakan kebenaran kepada banyak orang, tidak salah jika kita mengumbarhal-hal yang jahat agar kebenaran itu semakin benderang di hadapan pemirsasekalian. Hanya saja, baiklah kita memilih kata-kata yang etis dan patut (sopan)didengar saat menceritakan hal-hal yang jahat demi memperkuat/ mempertegaskebenaran. Di atas semuanya itu, yang terpenting adalah apa tujuan kita saatmelakukannya? Pastikanlah bahwa itu selalu berada dijalur yang benar yaitu demikemuliaan nama Tuhan dan demi kebaikan sesama.

Sama halnya saat kita bercerita dengan sesama, tidak masalah bila mengungkapkan perumpamaan/ ilustrasi yang dimanipulasi (tidak benar-benar terjadi di dunia nyata) namun tetap masuk akal. Asalkan tujuan kita saat berkisah tidak pernah menyimpang dari kebenaran hakiki, yaitu memuliakan Allah sepenuhnya dan mengasihi sesama seadil-adilnya. Jangan sungkan untuk merendahkan diri dalam setiap peran yang kita ambil. Sekali pun kita seolah-olah berbohong lewat kata-kata yang merendah, akan tetapi bila tujuannya murni untuk menyangkal diri sehingga Tuhan dipermuliakan atas diri ini dan sebisa mungkin menyetarakan diri dengan sesama manusia lainnya. Niscaya Yang Maha Kuasa akan membenarkan kita karena tujuannya benar.

Sama halnya saat kita menguji sesama manusia. Bila kita mencobai orang lain semata-mata untuk menimbulkan kerugian besar dalam hidupnya, kita bersalah. Saat anda menguji sesama tetapi nyatanya hati berkelit bercabang dua (ada pro dan kontra; ada udang di balik batu) saat melakukannya, kita bersalah di hadapan Tuhan. Bila kita menguji sesama untuk menjatuhkan atau merendahkannya di hadapan manusia, kita bersalah. Ketika kita menimbulkan banyak soal-soal dalam kehidupan sesama semata-mata demi meninggikan diri atasnya, kita bersalah. Sewaktu kita menguji sesama agar supaya kita terlihat lebih unggul lebih hebat dari orang lain, kita bersalah. Bila kita menyesakkan hati teman sendiri semata-mata untuk memperebutkan jabatan dan sumber daya yang lebih besar, kita pun bersalah karena hal tersebut. Satu-satunya cara untuk membuat kita tidak bersalah di hadapan Tuhan saat mencobai sesama adalah dengan memiliki tujuan yang tulus agar dirinya semakin dekat dengan Tuhan/ demi pendewasaan dirinya/ demi kemajuan kepribadiannya/ agar perkembangan mentalnya jauh lebih baik. Semua ini tidak diketahui apa lagi dinilai oleh orang lain. Melainkan kita sendirilah yang menilai dan menyeleksi setiap sikap yang diekspresikan kepada sesama. Apakah itu memiliki tujuan yang benar atau salah?

Pertanyaannya sekarang adalah “sudahkah sikap hati dan sikap hidup (perkataan, perbuatan) kita bertujuan untuk mempermuliakan nama Tuhan dan menyayangi sesama seadil-adilnya?” Jangan-jangan semuua tindak-tanduk yang diekspresikan semata-mata untuk mengangkat nama dan posisi juga pendapatan (gaji) lebih tinggi dari sesama? Milikilah tujuan hidup demi keadilan sosial niscaya Tuhan akan menyatakan diri-Nya kepada kita dalam berbagai bentuk. Di atas semuanya itu, jangan lupa menyangkal diri!

Refleksi

Kesimpulan

(Bilangan 27:13-14) Sesudah engkau memandangnya, maka engkau pun juga akan dikumpulkan kepada kaum leluhurmu, sama seperti Harun, abangmu, dahulu. Karena pada waktu pembantahan umat itu di padang gurun Zin, kamu berdua telah memberontak terhadap titah-Ku untuk menyatakan kekudusan-Ku di depan mata mereka dengan air itu.” Itulah mata air Meriba dekat Kadesh di padang gurun Zin.

Sumber: Alkitab

Lagi katanya.

(Ulangan 3:26) Tetapi TUHAN murka terhadap aku oleh karena kamu dan tidaklah mendengarkan permohonanku. TUHAN berfirman kepadaku: Cukup! Jangan lagi bicarakan perkara itu dengan Aku.

Sumber: Alkitab

Bila kita perhatikan baik-baik maka akan menemukan bahwa riwayat penyangkalan diri Nabi Musa datangnya dari Allah. Nubuat tersebut datang berulang-ulang, sekali saat mereka berada di gunung Abarim (Bilangan 27:12) dan yang terakhir terjadi di gunung Pisga (Ulangan 34:1). Merendahkan diri dengan menganggap bahwa dirinya sangat berdosa dan sangat tidak layak di hadapan Allah sehingga tidak diizinkan menginjakkan kaki di tanah perjanjian. Tindakan nabi musa untuk menyangkal diri sudah benar sekali pun ada kesan dirinya telah menipu banyak orang lewat pengakuannya. Sebab sesungguhnya, upah yang didapatkannya lebih besar dari semua orang di zamannya. Memang dirinya tidak boleh memasuki tanah perjanjian bahkan menginjakkan kaki pun tidak boleh melainkan hanya sekedar melihat saja. Akan tetapi, ternyata tempat yang dimasukinya lebih mulia, lebih kekal dan lebih besar yaitu sorga tempat kediaman Allah sendiri.

Menyangkaldiri adalah suatu tindakan yang logis. Seperti pada kisah nabi Musa yang tidakmenganggap ilmunya superior, sekali pun dialah yang terbesar di antara semuaorang dalam masanya. Tindakan merendahkan diri tersebut terbukti pantas untukdilakukan sebab ajaran-ajaran yang diwartakannya, sebagian besar tidak berlakulagi di zaman sekarang. Akan tetapi, pola-pola penyusunan peraturan dan hukumyang diajarkan nabi telah menjadi dasar pijakan untuk membuat aturan yang barudi dalam masyarakat masa kini. Oleh karena itu, adalah penting sekali bagisetiap orang, sepintar apa pun anda, untuk senantiasa melakukan penyangkalanterhadap potensi/ bakat/ kemampuan yang dimiliki. Dengan demikian, kita pun dipandanglayak di hadapan Tuhan, sebab yang meninggikan diri akan direndahkan sedangkanyang merendahkan diri akan ditinggikan.

Salam, Sehebat apa pun kita,
Sadari kita bukanlah siapa-siapa,
Sebab yang menyombongkan diri
akan direndahkan Tuhan.
Sedang yang merendahkan diri
akan ditinggikan Tuhan.
Jadi pilih yang mana
a. meninggikan diri sendiri
b. merendah untuk ditinggikan
!

 Sehebat apa pun kita, sadari bahwa kita bukanlah siapa-siapa. Sebab yang menyombongkan diri akan direndahkan Tuhan. Sedang yang merendahkan diri akan ditinggikan Tuhan. Jadi pilih pilihan ada di tangan anda: (a) meninggikan diri sendiri atau (b) merendah diri untuk ditinggikan Tuhan pada waktunya?

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.