anak

10 Saat Membenci Ibu, Bapak, Saudara/ Saudari, Anak, Istri/ Suami & Nyawa Sendiri (Lukas 14:26) – Momen Dimana Kita Tidak Menyukai Orang Terdekat (Keluarga)


Bencilah orang lain
Bencilah yang jahat dalam dirinya
Tetapi jangan membenci orangnya

Masa-masa yang kita hadapi tidak bisa ditebak, persiapkanlah dirimu

Hidup ini tidaklah datar saja atau lurus saja. Terkadang kita harus menghadapi lekak-lekuk gunung dan lembah yang terbentang dihadapan ini.  Pula kadang terdapat lika-liku yang berkelok-kelok ke kiri atau ke kanan. Mustahil kita berhenti lalu terpaku dalam kelunya persimpangan yang penuh problematika kehidupan. Kita harus memiliki komitmen untuk terus melaju: meninggalkan apa yang ada dibelakang dan mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab demi menggapai harapan yang menanti di depan. Selalu sadari bahwa tidak ada yang terlalu mudah untuk dihadapi akan tetapi orang-orang yang sudah terbiasa dalam pola pergumulan tertentu pasti akan melewatinya dengan sukacita sambil menikmati berkat-berkatnya sekali pun tidak seberapa.

Menjadi orang yang cerdas cerdik saat menghadapi tantangan kehidupan

Demi mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan, sebaiknya kita mengembangkan diri dimulai dari dalam pikiran masing-masing. Otak yang cerdas sangtlah dibutuhkan untuk memproses segala informasi yang datangnya dari luar. Butuh lebih banyak belajar untuk memahami berbagai bentuk informasi yang ada di sekitar kita. Setidaknya memiliki ilmu pengetahuan dasar tentang kebenaran sebagai sebuah standar yang bisa dijadikan sebagai pembanding untuk menyeleksi semuanya. Pada akhirnya, orang yang bijak hanya akan menikmati hal-hal yang sudah sesuai dengan standarnya. Sehingga dimampukan untuk memanfaatkan hal-hal tersebut demi mendatangkan kebaikan dlm kehidupan ini.

Orang bijak selalu cerdik dalam mengelola informasi yang dicernanya. Pengelolaan informasi ini sangatlah penting untuk mempertemukan kita pada sesuatu yang origina dan bermanfaat. Namun sedini mungkin memercayai hal-hal tertentu yang sifatnya imitasi (palsu) dan penuh tipu daya. Tentu saja, untuk melakukan semuanya ini tidaklah semudah mengatkanannya. Inti untuk menjadi cerdik adalah perkaya standar dalam kehidupan ini. Apabila kita mampu memahami pola-pola tertentu dalam kehidupan lalu mencocokkannya dengan berbagai konten, bila perlu menyaksikannya secara berulang-ulang. Agar kemudian bisa diambil kesimpulan apakah konten tersebut (a) benar seluruhnya, (b) benar sebagian, beberapa ada bagian yang kurang tepat, dan (c) sama sekali salah. Setelah proses mengamati dan menganalisis, akhirnya kita bisa menarik kesimpulan tentang semuanya itu. Tidak mudah untuk menjadi cerdik, semuanya butuh latihan dan mengenyam banyak kegagalan.

Menghadapi persoalan hidup dengan tetap tulus berkorban lewat berkat yang dianugerahkan Yang Maha Mulia

Teknik berikutnya untuk menghadapi setiap soal-soal dalam kehidupan ini adalah dengan senantiasa menjadi orang yang baik. Kebaikan bukanlah ekspresi yang mudah dilakukan sebab yang sangat dibutuhkan di sini adalah pengorbanan, dimulai dari yang kecil-kecil. Kami tidak menganjurkan anda untuk berkorban nyawa karena manusia hanya memiliki satu nyawa. Tidak seperti Tuhan Yesus yang memiliki banyak nyawa bahkan Dia pun bisa berbagi nyawa, menghidupkan orang yang telah wafat. Kita tidak perlu fokus pada hal-hal terbatas yang kita miliki (misalnya nyawa, materi). Melainkan kami mengajak para pembaca sekalian untuk fokus berbuat baik dengan sesuatu yang kita miliki dalam jumlah berlipat kali ganda. Bukankah sikap yang kita ekspresikan sifatnya tidak terbatas? Maka bagikanlah itu dan mulailah berkorban dari hal-hal tersebut. Terlebih perkataan yang mudah sekali terucap, kita bisa memulai kebaikan yang rela berkorban dengan berbagi kata-kata positif kepada siapa pun yang ditemui hari demi hari.

Perkataan dan perbuatan sifatnya tidak terbatas. Bukankah hal-hal tersebut mudah untuk diungkapkan kepada siapa saja. Dedikasikan kata-kata kita untuk memberi semangat kepada siapa saja dan peruntukkan perilaku kita untuk menolong keluarga atau teman yang tampaknya sedang kesusahan. Di antara dua hal ini, tutur kata adalah kebaikan yang dapat dilakukan dengan intensitas yang lebih sering. Lebih tepatnya adalah ramah tamah merupakan pengorbanan yang bisa terus dibagikan kepada siapa pun yang menurut kita layak mendapatkannya. Jangan dulu berpikir tentang mereka yang jauh di luar sana melainkan mulailah beramah tamah dari dalam keluarga. Kembali kami ingatkan bahwa Tuhan Yesus Kristus mengobankan nyawa karena Dia memilikinya banyak bahkan bisa membagikannya kepada orang lain. Lantas, kita pun berbagi sikap yang baik, utamanya kata-kata karena kita memilikinya dalam jumlah banyak. Bukankah untuk membagikannya tinggal diucapkan saja pada momen yang tepat?

Anda diberkati dalam hal apa? Tuhan Yesus Kristus mengorbankan nyawa karena memilikinya banyak sampai tak terbatas sehingga bisa dibagikan kepada orang lain (menghidupkan orang mati). Lantas, kita pun berbagi sikap yang baik, utamanya kata-kata karena kita memilikinya dalam jumlah banyak sampai tak terbatas adanya. Bukankah untuk membagikannya tinggal diucapkan saja pada momen yang tepat? Jadi jangan pelit kata-kata tetapi lepaskan saja dengan nada positif pada momen yang tepat. Bagikanlah berkat yang telah dibagikan kepada anda!

Kata-kata bijak
Saat Membenci Ibu, Bapak, Saudara-Saudari, Istri-Suami Dan Diri Sendiri (Lukas 14;26) – Momen Dimana Kita Tidak Menyukai Orang Terdekat Di Sekitar, kebencian (bencilah) pada momen yang tepat – Benci keburukannya tetapi jangan membenci orangnya

Pengertian benci

Apa yang dimaksud dengan benci? Menurt KBBI Offline, artinya “sangat tidak suka.” Menurt kami, ini adalah “perasaan yang tidak suka kepada orang lain yang dipendam dengan didiamkan saja atau diluapkan dalam sikap yang agresif menyerang seseorang, baik secara langsung maupun tidak langsung.” Rasa ini tidak perlu diajarkan melainkan sudah ada dalam diri tiap-tiap orang dalam bentuk keinginan daging. Bisa dikatakan bahwa benci adalah lawan kata dari suka atau cinta. Saat kita tidak menyukai atau tidak mencintai seseorang berarti bisa dikatakan bahwa saat itu, kita sedang membenci dia. Sedang di dalam keluarga masing-masing, kita saling mencintai satu-sama lain sehingga erat kedekatan satu sama lain. Akan tetapi, Tuhan Yesus Kristus menganjurkan kepada kita untuk membenci orang-orang terdekat di sekitar. Seperti ada tertulis.

(Lukas  14:26) “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sumber: Alkitab

Sedang kami sendiri mengartikannya sebagai berikut.

Dalam pemahaman sendiri, kami mengartikan hal ini sebagai berikut. “Jikalau seorang datang kepada kebenaran dan ia menyukai/ mencintai bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi pengikut kebenaran.” Dengan catatan “Tuhan Yesus Kristus sama dengan kebenaran.” Sedang “tidak membenci = menyukai = mencintai.”

Ruang Lingkup

Apa yang dimaksud Tuhan sesungguhnya adalah “kebencian pada momen yang tepat – Benci keburukannya tetapi jangan membenci orangnya!”

Segala sesuatu di dunia ini erat kaitannya dengan waktu. Sesuatu yang benar pun yang kita lakukan tetapi kalau waktunya tidak sesuai maka akan terasa canggung. Orang lain pun meresponinya dengan dingin sehingga situasi jadi terasa beku. Di satu sisi, keadaan ini mengajak kita untuk lebih sabar dan di sisi lain kita pun perlu mengoreksi diri agar lain kali dapat bertindak tepat pada waktunya. Demikianlah halnya saat kita hidup bersama orang lain sebagai satu keluarga. Mencintainya terus-menerus jelas tidaklah sehat. Pada momen tertentu, kita perlu membenci orang-orang terdekat dengan cara sebagai berikut.

  1. Tidak berada di dekat (di sisi) mereka tetapi komunikasi (jarak jauh) tetap lancar dan memiliki waktu khusus untuk kembali ngumpul bersama.
  2. Berlawanan argumen/ silang pendapat dengan mereka dimana masing-masing saling mempertahankan pendapatnya dengan alasan yang logis. Di atas semuanya itu, mereka masih saling mendukung satu sama lain (saling support).
  3. Tidak mengikuti kehendak mereka tetapi tetap saling beramah-tamah saat berpapasan di dalam rumah.
  4. Membiarkan mereka tertekan menanggung hukuman/ sanksi atas sikapnya namun kembali mengasihi satu sam lain saat hukumannya telah usai.
  5. Masing-masing memiliki tujuan sendiri untuk hidupnya tetapi tetap punya waktu untuk berkumpul bersama.
  6. Memiliki selera yang berbeda-beda tapi tetap akur dalam kebersamaan.
  7. Menyangkal apa yang menjadi keunggulan dalam diri sendiri namun tetap melakukan apa yang baik bagi diri sendiri.

Saat masih kecil, ada banyak keburukan di dalam diri kita, mulai dari kencing sembarngan, pup sembarangan dan suka teri-teriak ganggu orang lain. Ini hanyalah contoh kecil dari kebiasaan ketika kita masih bayi dahulu. Berangsur-angsur umur makin tinggi dan pikiran lebih dewasa sehingga hal-hal negatif tersebut pun lambat laun tertinggal di belakang. Tetapi, bukan dalam arti kita sepenuhnya/ seluruhnya sudah bersih dari keburukan itu. Melainkan mungkin saja masih ada sisa-sisa bencana yang lupa dibersihkan di beberapa sudut hati. Jadi, bencilah keburukan parsial (buruk sebagian) tersebut dengan tidak menyetujuinya, mengabaikannya, menolaknya, menegurnya dan menyangkalnya. Tetapi kendalikan itu, jangan sepenuhnya membenci, jaga hubungan baik yang sudah terjalin sebelumnya dan tetaplah lakukan kebaikan yang wajar kepada mereka.  

Saat Membenci Ibu, Bapak, Saudara-Saudari, Istri-Suami Dan Diri Sendiri (Lukas 14;26) – Momen Dimana Kita Tidak Menyukai Orang Terdekat Di Sekitar

Kapan waktu yang tepat untuk membenci orang-orang yang kita cintai?

Sebenci-bencinya kita terhadap kaum keluarga sendiri, pasti ada juga momen dimana kita berbagi kebaikan dengan mereka. Sebesar-besarnya rasa benci itu tetap saja rasa cinta di antara kita jauh lebih besar lagi. Kebencian terhadap ayah, ibu, saudara laki/ perempuan dan suami/ istri merupakan hal yang wajar bila kita mengekspresikannya pada waktunya. Oleh karena itu, mari kita pahami bersama timing yang tepat itu agar tidak mendatangkan kerugian melainkan bermanfaat untuk perkembangan kepribadian masing-masing. Berikut akan kami jelaskan beberapa waktu genting dimana kita perlu menolak lalu membenci seseorang atau beberapa orang di dalam keluarga.

 1. Setiap mengasihi sesama demi keadilan sosial.

(Yakobus 2:8-9) Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kamu berbuat baik. Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.

Sumber: Alkitab

Orang yangmencintai bapa, ibu, saudara laki-laki, saudara perempuan, anak dan suami/ istrinyapasti akan menempatkan mereka sebagai prioritas yang pertama. Kebaikan kitakepada kaum keluarga sendiri begitu besar karen mencintai mereka dengansungguh. Akibatnya, kebaikan kita kepada orang lain malah berkurang sebabsegala daya upaya terbaik telah kita curahkan kepada keluarga tercinta. Sedangorang lain di luar sana sedang menjerit karena kekurangaan sesuatu. Kitaseharusnya bisa menolong tetapi besar niat hati untuk memandang muka. Sikappilih-pilih kasih semacam ini membuat kita cenderung tidak adil dalam memberidan itu jelas salah di mata Tuhan.

Oleh karena itu, langkah pertama untuk menegakkan keadilan sosial di seluruh negeri dimulai dari masing-masing orang yang membenci orang-orang terdekatnya di dalam keluarga. Rasa ini diekspresikan dengan cara berbuat baik kepada mereka sama seperti (setara) saat kita berbuat baik kepada orang lain yang tidak dikenal. Usaha semacam ini membuat seseorang mampu bersikap netral, mengasihi orang terdekatnya setara dengan orang lain di luar sana bahkan yang tidak dikenalnya sekali pun.

Mereka yang bekerja menegakkan hukum/ peraturan di dalam suatu organisasi perlu juga membenci kaum keluarganya sendiri. Sehingga saat orang dalam keluarganya terjerat suatu aturan, dia tetap bersikap netral menegakkan keadilan tanpa pandang bulu.

2. Ketika menikah.

(Kejadian  2:24) Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

Sumber: Alkitab

Kebencian kepada orang yang kita cintai, baik terhadap bapa, ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan menjadi nyata saat kita menikah. Rasa ini diekspresikan dengan memisahkan diri dari rumah keluarga untuk tinggal serumah (milik sendiri maupun kontrakan) dengan istri/ suami. Baik saat di rumah orang tua maupun saat di rumah sendiri tetap terjalin komunikasi yang baik antar anggota keluarga. Rasa kesal tersebut lebih banyak diekspresikan dengan jauh-jauhan satu sama lain tanpa kehilangan cinta di dalam hati.

3. Saat melakukan kesalahan.

Orang yang mencintai dan menyayangi ayah, ibu, abang, kakak dan adiknya cenderung besar keinginan hati untuk mengetahui duduk permasalahan yang sesungguhnya. Kita penasaran, apakah ini benar-benar kesalahan mereka atau hanya salah paham atau bisa jadi merupakan kesalahan orang lain di sekitarnya. Saat mereka memang salah maka katakanlah salah. Hindari membela terus dengan membenarkan apa yang jelas salah. Rasa cinta yang besar terhadap kaum keluarga sendiri membuat mata hati kita menjadi buta lalu membela-belain orang yang jelas-jelas bersalah.

Pada posisi ini, kita harus menanggalkan rasa cinta yang besar dengan membenci orang yang harusnya disayang lalu membela apa yang benar. Menyatakan benar pada perkara yang benar dan menyatakan salah pada perkara yang salah. Bila perlu anjurkan untuk meminta maaf lalu memperbaiki kesalahannya.

4. Saat menanggung hukuman.

Ketika bapa, ibu,saudara laki-laki dan perempuan bahkan suami/ istri sendiri sedang menjalani masa hukuman. Berhenti meringankan beban mereka sebab setiap kesalahan yang dilakukan pasti ada ganjarannya untuk menciptakan efek jera. Jika kita membela mereka yang terhukum dengan menyewa pengacara handal untuk meringankan hukuman yang harus dijalaninya. Perasaan semacam ini juga menimbulkan kesan gengsi dimana tidak rela hati dan merasa malu jika keluarganya dihukum.

Oleh karena itu, pada momen tertentu ketika bapa atau ibu atau kakak laki-laki atau adik perempuan atau suami atau istri sendiri di hukum karena pelanggarannya, biarkanlah itu. Di waktu-waktu seperti ini hindari mempertajam rasa cinta di dalam keluarga melainkan bencilah orang yang terhukum tersebut agar mau menanggung hukumannya. Kebencian kita memungkinkan orang terdekat tersebut untuk bersikap mandiri mempertanggung jawabkan sendiri apa yang menjadi kesalahannya. Berharap agar lewat semuanya itu dia segera insaf dan tidak berbuat jahat lagi. Sebaik-baiknya dukungan dari kita, itu hanya dukungan moril: mudah-mudahan dia mampu menanggung semuanya dengan sabar, ikhlas dan rendah hati.

5. Sewaktu mengalami ujian sosial.

Ujian kehidupan itu sudah sewajarnya terjadi dalam setiap langkah kaki ini. Rasa cinta yang besar terhadap ibu, bapa/ ayah, saudara laki-laki, saudara perempuan dan istri/ suami sendiri bisa saja membuat kita membela-belain mereka. Terlebih ketika orang tua melihat anak-anaknya sedang diuji oleh teman-temannya. Ada hasrat untuk memihak kepada anak dan mungkin sedikit kesal hati lalu memarahi teman yang suka membuat masalah dengannya.

Tekanan penderitaan yang dialami kaum keluarga sendiri di masa-masa sulit tidak bertujuan untuk melemahkan mereka. Memang rasa sakit tersebut seolah-olah sangat melukai hatinya tetapi mereka yang belajar dari masa-masa sulit dalam hidupnya akan beroleh kekuatan hati dan kebijaksanaan alam semesta.

Pada momen semacam ini, sebaiknya kita membenci orang yang kita sayangi tersebut. Membiarkan mereka menghadapinya agar bisa belajar mandiri dalam segala sesuatu. Sebab Tuhan Yesus Kristus sendiri mengalami pencobaan hidup dan mampu bertahan hingga akhir. Maka sudah seharusnya kita merelakan orang-orang terdekat diuji oleh orang lain tanpa niat membela-belain secara berlebihan. Juga tidak melakukan intimidasi dengan menakut-nakuti/ melarang/ mengancam orang yang suka mencobai kaum keluarga sendirl.

6. Ketika mereka memiliki rencana yang salah/ tidak benar.

Besarnya rasa sayang di dalam keluarga, baik kepada ayah, ibu, anak-anak, saudara laki-laki, saudara perempuan, suami/ istri bisa saja membuat kita terbawa dalam kesalahan mereka. Kita sudah tahu bahwa ada yang kurang tepat dari rencana kehidupan yang dibuatnya lalu ikut-ikut saja membela karena dia orang paling dekat di dalam keluarga.

Dalam masa-masa seperti ini, kita perlu membenci orang-orang dalam keluarga sendiri dengan menyatakan apa yang kita tahu sekali pun hal tersebut berpotensi menyinggung perasaan mereka. Mimpi yang tidak masuk akal bisa saja dibawa-bawa di dunia nyata, kita perlu menjelaskan perbedaan antara realita dan imajinasi. Rencana kehidupan yang kurang tepat, disarankan untuk diperbaiki atau bila perlu dibatlkan saja karena alasan tertentu. Atau walau pun memberikan dukungan tetaplah ingatkan mereka agar bersiap-siap untuk hasil yang terburuk sekali pun.

7. Bila mereka mengajak kita melakukan kejahatan.

Jangan karena rasa cinta yang besar, kita mau-mau saja disetir oleh ayah, ibu, kakak, adik dan pasangan hidup (kalau ada) untuk menuju ke hal-hal yang jahat. Bila kita mampu memahami maksud hati mereka sebaiknya singkirkan rasa kasih yang mesra lalu mulailah membenci. Sebab yang namanya kejahatan tidak pernah berakhir. Artinya, setelah melakukan kejahatan yang satu akan terdorong niat hati untuk melakukan kejahatan lainnya. Satu dosa bisa menjadi pintu untuk melakukan lebih banyak dosa lainnya.

8. Ketika menjalankan pekerjaan tertentu.

Saat menjalani profesi tertentu, kita diharuskan untuk melayani masyarakat sebaik-baiknya. Ketika rasa cinta kepada kaum keluarga (ayah, ibu, anak-anak), saudara/ kerabat tertentu sangat besar mka kita cenderung tebang pilih saat melayani. Oleh karena itu, dalam mengemban profesi apa pun yang berhubungan langsung dengan pelayanan kepada masyarakat luas. Alangkah lebih baik jika setiap karyawan/ pegawai membenci kaum keluarga/ kerabatnya sendiri agar bersikap netral dalam menjalankan tugasnya.

9. Saat menempuh pendidikan/ mencari pekerjaan di luar daerah.

Cinta kepada kenyamanan dan kehangatan di dalam keluarga sendiri membuat kita betah berlama-lama disamping orang tua. Saat ada pilihan hidup untuk menempuh pendidikan di daerah lain, rasa cinta kepada keluarga bisa menjadi penghambat yang membuat cita-cita terhenti. Oleh karena itu, mulailah membenci orang tua demi meraih mimpi yang dimulai dengan keluar dari zona nyaman. Rasa benci yang terkendali ini membuat seseorang mampu meninggalkn mama-papanya untuk meraih cita-citanya.

Sama halnya ketika ada panggilan kerja untuk melayani masyarakat di luar daerah. Bila terlalu cinta dengan kehangatan yang dirasakan di dalam keluarga, bisa meningkatkan kekuatirn sehingga tidak ingin jauh-jauh. Besarnya rasa was-was seolah membatasi jangkauan kita sehingga enggan untuk memasuki wilayah baru yang terasa asing. Akan tetapi, dengan membenci kenyamanan dan kehangatan cinta yang diberikan oleh orang tua, bisa menjadi salah satu faktor pendukung untuk mendorong kita melalang buana hingga ke luar daerah untuk melayani.

10. Membenci nyawa berarti membenci diri sendiri alias menyangkal diri.

(Lukas  9:23) Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harusmenyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.

Sumber: Alkitab

Nyawa berarti seluruh hidup kita sehingga nyawa bisa diartikan sebagai diri sendiri. Untuk membenci diri sendiri dimulai dari kebiasaan menyangkal diri. Aktivitas ini sangatlah bermanfaat untuk merendahkan hati yang cenderung meninggi oleh pengaruh kedagingan. Sifat egois, arogansi, kebencian, dendam, amaran dan lain sebagainya, dapat diredam dengan cepat lewat penyangkalan diri sendiri. Orang yang mampu merendahkan dirinya berarti meninggikan Tuhan di atas segala sesuatu.

Kesimpulan

Kebenaran yang dilakukan tidak pada momennya membuat hal tersebut terasa canggung. Kita perlu belajar memahami dan menemukan timing yang tepat dalam mengekspresikan sikap. Demikian juga halnya dengan kebencian, ada waktunya dimana kita membenci bapa, ibu, saudara laki-laki, saudara perempuan dan suami/ istri bahkan diri sendiri. Akan tetapi, walau kita membenci orang-orang terdekat di dalam keluarga bukan berarti membencinya secara keseluruhan/ sepenuhnya/ totalitas. Melainkan rasa benci ini hanya diekspresikan sebagian (parsial) dan sangat terkendali. Di atas semuanya itu, tetap pertahankan kebiasaan baik saling berbagi kasih di dalam keluarga. Sekali pun sedang benci-bencian tetap jugalah ramah-tamah satu sama lain. Ingatlah bahwa Sang Pencipta telah menganugerahkan tutur kata yang melimpah-limpah di dalam hidup ini. Jadi, jangan sia-siakan itu dengan bersikap abai dan acuh tak acuh melainkan layanilah orang lain lewat kata-kata positif. Bukankah itu dapat senantiasa dibagikan sesuai momen yang dihadapi?

Salam, Bencilah orang lain
Bencilah yang jahat dalam dirinya
Tetapi jangan membenci orangnya
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.