Konflik Vertikal

10 Alasan Pahlawan Tidak Ada Zaman Sekarang – Orang Yang Digaji Tenaga Upahan Adalah Pekerja Biasa Pada Umumnya

Alasan Pahlawan Tidak Ada Zaman Sekarang – Orang Yang Digaji Tenaga Upahan Adalah Pekerja Biasa Pada Umumnya

Hero sandiwara lebih pantas dipahlawankan daripada pahlawan di dunia nyata

Apa sih arti pahlawan? Kami bahkan berpikir berulang kali, “siapa juga yang mau jadi wirawan zaman sekarang? Lantas, kami pun melihat berbagai film Super Hero yang dibuat oleh orang Amerika. Yang kami temukan adalah super hero-nya film jauh lebih layak/ lebih pantas/ lebih baik dari kepahlawanan manusia dalam dunia nyata. Mengapa kami katakan demikian? Sebab sehebat-hebatnya seorang hero pasti identitasnya tidak diketahui orang banyak. Dan kenyataan kedua dari seorang pahlawan besutan Marvel adalah sehebat-hebatnya kepahlawanan seseorang, tidak pernah dia digaji karena kebaikan tersebut. Lah… Zaman sekarang banyak orang yang ngaku-ngaku atau ingin diakui sebagai pahlawan tetapi nyatanya gajinya tinggi dan jabatannya besar, bahkan asetnya tidak habis dari generasi ke generasi. Apakah mereka pantas untuk gelar tersebut?

Wirawan di dunia nyata hanya pandai menipu orang lain lalu dianggap sudah hebat sekali

Kami hanya tertawa cengengesan karena di suatu negeri sekelompok orang diangkat gelar sebagai pahlawan tetapi kenyataannya dia dapat bayaran yang sangat besar tiap bulannya. Plus jabatannya tinggi-tinggi dan kedudukannya di dalam masyarakat disanjung-sanjung tetapi pekerjaan nihil. Mengapa kerjanya nihil? Karena hanya pandai bersandiwara menipu orang lain dengan memanipulasi informasi. Bukan hanya sampai di situ saja, anak-cucunya pun turut mendapatkan warisan yang sangat besar ditambah lagi kehidupan mereka dijamin oleh negara. Lantas, bodohnya kita sebagai masyarakat memuja-muji oknum tersebut sebagai pendekar sakti mantra guna.

Orang-orang duniawi lebih suka jadi preman daripada jadi wirawan

Buka mata anda lebar-lebar kawan maka akan menyadari bahwa di negeri tersebut kebanyakan orang tidak bermental pahlawan tetapi preman. Para preman yang tersistem tersebut secara bersama-sama melakukan konspirasi menyebar kepalsuan, kebodohan dan kesesatan di seantero negeri. Lantas, setelah pekerjaannya selesai, mereka malakin negara ini sehingga dapat royalti kekayaan dan jaminan hidup secara turun-temurun. Apakah preman-preman ini pantas disebut sebagai pahlawan? Tolong setiap dari kita berpikir logis, jikalau demikian kehidupan oknum tersebut maka tidaklah pantas untuk dipahlawankan (dinobatkan sebagai). Sebab seberapa pun besarnya jasa yang diberinya sudah dituai sepenuhnya bahkan melimpah-limpah lewat semua royalti: pendapatan dan fasilitas negara yang diterimanya.

Pengertian dan pendekatan

Kembali lagi berkisah tentang kepahlawanan di dalam dunianya orang-orang Marvell. Satu hal yang mereka lakukan adalah membantu orang lain tanpa menuntut apa-apa, bahkan ucapan terimakasih pun kadang tidak diumbar oleh orang-orang yang merasakan jasa-jasanya. Artinya, mereka yang dianggap sebagai pahlawan sama sekali tidak diupah oleh siapa pun karena kemurahan hatinya. Itu murni sebagai suatu jasa kebaikan yang dilakukan dengan setulus hati tanpa pandang bulu. Bisa dikatakan bahwa pahlawan adalah orang yang melakukan kebaikan kepada siapa pun tanpa menerima upah dari pekerjaannya tersebut. Sedang menurut KBBI Luring, ini merupakan orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.

Defenisi – Pahlawan adalah orang yang melakukan kebaikan kepada siapa pun tanpa menuntut dan tanpa menerima upah apa-apa dari kepahlawanannya.

Faktor penyebab jaman sekarang bahkan zaman dahulu pun yang namanya pahlawan tidak ada

Satu-satunya pahlawan sejati dalam kehidupan kita adalah Yesus Kristus sebab diri-Nya sama sekali tidak diupah untuk setiap kebaikan yang telah diberikan. Dia juga tidak memiliki keturunan sehingga tidak ada anak-cucunya yang menerima royalti besar dari pemerintah mana pun. Teori-teori yang diungkapkan-Nya pun tak bercacat, semuanya bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bisa dikatakan bahwa tidak ada pejuang yang sehebat dia dahulu dalam hal kebijaksanaan dan mukjizat yang menyertainya. Berikut ini akan kami jelaskan alasan mengapa tidak ada pejuang duniawi yang pantas dipuja-puji, baik dari zaman dahulu, sekarang maupun nanti.

1. Mereka mendapatkan gaji dari kepiawaiaannya lebih dari yang lain.

Coba hitung sampai berapa pahlawan yang anda kenal sejak dari zaman sekolah dasar dahulu? Pasti ada banyak kan? Masalahnya adalah kebanyakan dari orang-orang tersebut digaji penuh oleh negara. Artinya, jasa-jasa yang dia berikan tidak disebarkan secara gratis melainkan beroleh upah penuh bahkan meluap-luap melebihi pendapatan kebanyakan orang di zamannya. Jadi, menurut anda masih layakkah orang-orang tersebut dianggap sebagai pajuang tanpa tanda jasa padahal gaji yang didapatnya tinggi-tinggi?

Pendapatan selangit melebihi rata-rata pasti diiringi dengan resiko pekerjaan yang tinggi pula. Gaji tinggi bisa juga memaksanya mempertaruhkan nyawa, bukankah semuanya itu adalah resiko pekerjaan yang tantangannya bertingkat-tingkat sesuai upahnya? Makanya, berhenti mengiming-imingi penghasilan super gede sebab bisa jadi resikonya adalah nyawa taruhannya.

2. Mereka mendapatkan fasilitas yang lebih baik dari kebanyakan orang.

Heran kami…. Mengapa pula para pembesar yang hidup dalam kenyamanan dan kemewahan tersebut masih dianggap sebagai pahlawan. Padahal di zamannya masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan penghidupan yang layak. Mereka hidup dalam hunian yang berfasilitas serba megah, di atas rata-rata orang lain pada umumnya. Mereka sudah mendapatkan upahnya lewat semua fasilitas tersebut, mengapa pula kita memuja-mujinya sebagai pejuang tanpa tanda jasa?

Lalu bagaimana masalah penderitaan yang mereka alami? Kami rasa itu sudah sewajarnya sebab setiap pekerjaan ada resikonya. Kulitnya tidaklah sampai tercabik dan bilur-bilurnya tidak sampai terlepas lewat penderitaan tersebut. Sekali pun mereka di buang ke daerah lain, kebutuhan hidupnya pastilah terjamin.

3. Mereka ditempatkan pada jabatan penting dalam pemerintahan.

Orang yang dianggap memiliki jasa besar, biasanya akan direkrut oleh pemerintah pada masanya. Orang-orang ini akan ditempatkan di lokasi strategis sehingga beroleh penghidupan yang lebih besar pada masanya. Sedang di seluruh negeri, masih banyak anggota masyarakat yang hidupnya tidak layak, tertindas dan miskin. Bayaran yang tinggi jelas akan membuat kemampuan mereka membeli semakin baik. Uang akan dibelanjakan untuk membeli barang dan jasa yang tersedia di zamannya secara berlebihan. Bila anda sempat memperhatikan ke sekitar bahkan ke dalam rumahnya akan menemukan betapa mewahnya. Tentu saja kemewahan itu dibandingkan dengan kehidupan orang-orang pada masanya bukan pada masa kini yang jauh lebih maju pesat.

4. Anak-cucunya mendapatkan fasilitas dan jaminan hidup yang lebih baik dari kebanyakan orang.

Jika seseorang sudah dikatakan sebagai anak pahlawan, pasti pemerintah sibuk memerhatikan mereka secara khusus. Jika dimungkinkan akan diberikan satu kursi istimewa sebagai pejabat pemerintah. Pentingnya adalah perhatian pemerintah tidak akan pernah berpaling dari orang-orang tersebut.

Sedang anak-cucu pejuang tersebut beroleh warisan yang jumlahnya luar biasa dari moyangnya. Beredar rumor bahwa saking banyaknya harta yang diwariskan tersebut, tidak akan pernah habis hingga beberapa turunan (bisa sampai tujuh turunan). Lah lantas dari mana harta kekayaan para pejuang kemerdekaan ini? Mereka seolah-olah disihir secara ajaib lalu memiliki miliaran rupiah, dolar dan emas batangan pun ada. Inilah yang diwariskannya kepada keturunannya. Bandingkan saja kehidupan orang-orang tersebut dengan masyarkat biasa, pastilah mereka berada di atas rata-rata.

Dari sinilah kita paham bahwa di negeri ini ada beberapa orang yang ngaku-ngaku sebagai pahlawan tetapi ternyata malakin pengusaha (dalam negeri atau luar negeri) bak preman minta jatah.

5. Mereka juga melakukan kesalahan kecil sampai besar di masanya.

Kepahlawanan mereka pun bukan semuanya sempurna putih seperti susu. Bahkan telah terbukti secara logika bahwa beberapa diktator yang mulia melakukan konspirasi untuk menyingkirkan musuh-musuhnya. Perebutan kekuasaan semakin alot karena di negeri tidak ada keadilan sosial. Yang merasa kaya dan berkuasa akan mengusahakan kepahlawanannya sendiri. Konspirasi demi konspirasi melibatkan banyak pihak sehingga telah merugikan masyarakat dimana-mana. Itu hanya kesalahan besar, belum lagi tindakan kesewenang-wenangan yang lainnya.

6. Mereka memiliki kelemahan (bukan manusia dengan kekuatan super).

Orang-orang ini manusia biasa kok, sama seperti kita, mereka pun tidak sakti mantra guna bak penyihir yang bawa sapu kemana-mana untuk menyelesaikan masalahnya. Hari-hari yang mereka lalui pun terkesan biasa saja. Bahkan kebanyakan peraturan yang mereka hasilkan di zamannya adalah hasil meniru dari negara-negara lain yang sudah maju terlebih dahulu seperti Belanda, Amerika, Inggris dan lain sebagainya. Tentu saja hal ini dilakukan dengan sedikit pengubahan bentuk menurut adat orang timur.

7. Apa yang dilakukannya hanya berdampak di zamannya sedang hal tersebut tidak digunakan zaman sekarang.

Sebesar-besarnya jasa seorang pahlawan, itu hanya berlaku di zamannya. Sedang di zaman sekarang teori-teori yang mereka gunakan kurang relevan atau setidaknya kurang jelas untuk diterapkan di dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, untuk apa pahlawan kuno ini masih dipuja-puji hingga sekarng? Jika dia dahulu berjuang dengan gigih maka dia berjuang untuk orang-orang di masanya. Apa yang pernah diungkapkan pun terkadang ngambang dari kenyataan yang berlangsung di dalam masyarakat modern saat ini.

Orang-orang tersebut hanya membela atau memperjuangkan kehidupan sebagian orang saja di dekatnya (keluarga, kerabat, sahabat) yang mungkin bisa di hitung dengan jari. Jadi, sekali lagi kami katakan bahwa orang-orang ini bukanlah pahlawan yang mengusahakan damai sejahtera bagi semua orang melainkan hanya segelintir orang saja yang merasakan dampak kehadiran mereka. Buktinya, di zamannya masih banyak orang yang berada di bawah garis kemiskinan.

8. Mereka telah menuai luar biasa di zamannya, mengapa masih ngotot menjadikannya pahlawan?

Mari gunakan logika berpikir, dimana-mana yang namanya pahlawan itu selalu berlabel “tanpa tanda jasa.” Sedang orang-orang yang kita anggap sebagai pejuang ini ternyata berjuang untuk dompetnya sendiri dan untuk kemakmuran keluarganya. Besar kemungkinan mereka adalah kapitalis terkaya yang memiliki aset dimana-mana. Semua jarahan tersebut diperoleh dari negara dan negaralah yang memakmurkan mereka. Bisa diktakan bhwa jasa-jasa yang mereka lakukan, semuanya demi negaranya sedang warga masyarakat masih banyak yang belum di perhatikan pada masa itu.

Orang yang bekerja dan dekat dengan negara ini, mereka di sebut sebagai pemerintah. Tragisnya itu, mereka bisa menentukan besaran gaji dan fasilitas yang wajib dan harus diterimanya. Toh yang membuat peraturan adalah dirinya sendiri/ mereka sendiri atau kerabt dekatnya atau sahabat-sahabatnya. Jadi, berapa pendapatannya, semua bisa diaturnya. Lalu kita pun memuja-mujinya sebagai pahlawan ini dan itu, apakah kita terlalu bodoh memahami keadaan tersebut?

9. Tanpa kehadirannya pasti ada orang lain yang dengan senang hati menggantikannya.

Para pembela pahlawan bergaji tinggi tersebut biasanya memiliki alibi bahwa “negeri ini nggak merdeka lho kalau tidak ada di ini – si itu?” Oh ya…? Serius…? Emang si kawan berkorban apa sih saat negara ini didirikan? Adakah hartanya terkuras untuk membangun rumah rakyat? Bukannya malah sebaliknya, hartanya tertimbun-timbun luar biasa hingga diwariskan sampai kepada generasi ke 7 pun tidak akan habis? Semua itu dari mana? Masakan disihir daun-daun itu jadi uang dan batangan kayu menjadi batangan emas?

Kalau pun para pejuang ini tidak ada maka orang lain di zamannya akan dengan senang hati menempati posisinya. Mengapa tidak? Dengan gaji gede, fasilitas elit dan jabatan tersohor seperti itu, siapa yang tidak mau? Jadi jangan kepedean membanggakan kepahlawanan si ini dan si itu. Perannya dalam zamannya tidaklah sebesar yang digembar-gemborkan. Sekali pun mereka berpengaruh, itu hanya berlaku bagi kelompoknya saja sedangkan masyarakat luas tidak dipedulikannya. Walau pun secara ungkapan dan retorika seolah-olah dia begitu cinta dengan rakyatnya tapi bukti nyatanya hampir nihil.

10. Negara menjamin keadilan sosial bagi seluruh warganya.

Jika saja aturannya benar dan adil maka negara beserta undang-undang yang terdapat di dalamnya adalah pahlawan seluruh masyarakat. Sebab berdasarkan peraturan dasar negara alias Pancasila, harus ada “Kemanusiaan yang adil dan beradab” juga “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Jadi, lewat aturan negara saja sudah ternyata jelas bahwa semua manusia Indonsia harus diperlakukan seadil-adilnya. Tidak ada yang dipahlawankan secara luas oleh seluruh masyarakat. Kalau pun ada pahlawan, itu hanya untuk kalangan tertentu saja. Di atas semuany itu, untuk apa juga dinobatkan sebagai pejuang sejati tetapi hidupnya jauh lebih makmur dari rakyatnya?  Itu namanya berjuang untuk diri sendiri!

Kesimpulan

Hampir semua orang bahkan kami pun dapat gaji dari apa yang diperbuat. Sebermanfaat apa pun peran kita di dalam masyarakat, jika masih menerima bayaran atas perbuatan tersebut, tidak pantas untuk dipahlawankan. Kita pun jangan mau dibodoh-bodohi dengan menganggap bahwa oknum tertentu memiliki jasa kepahlawanan. Harap berpikirlah dengan logis, jika memang orang-orang yang berjasa tersebut dibayar tunai maka mereka tidak pantas dipahlawankan. Bila ada jasa-jasa seseorang dalam bidang keahlian/ pekerjaan/ profesi tertentu, kapahlawanannya hanya berlaku dalam bidang tersebut, bukan untuk semua orang. Justru lebih pantas jadi pahlawan, mereka yang kehilangan nyawanya di medan perang demi memperjuangkan sesuatu yang dianggapnya penting (misalnya kemerdekaan). Lah kok yang disanjung-sanjung oknum petingginya yang notabene terima gaji besar, fasilitas mewah, kerjanya banyak duduk dan suka memerintah ini-itu lalu koar-koar unjuk gigi di depan publik?

Salam, Pahlawan apa dapat gaji???
Dimana-mana pejuang sejati
bekerja tanpa tanda jasa materi.
Sedang orang-orang ini
lebih makmur dari rakyat asli.
Upah yang diterimanya
sudah menutupi jasa kepahlawanannya
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.