Konflik Batin

10 Alasan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa – Kebanyakan Pahlawan Bukan Pahlawan Tapi Pelopor

Alasan Pahlawan Sejati Tanpa Tanda Jasa – Kebanyakan Pahlawan Bukan Pahlawan Tapi Pelopor

Keinginan akan uang otomatis mengusir jiwa satria (kepahlawanan) yang tulus

Apa-apa di dunia ini tidak pernah jauh-jauh dari masalah uang dan uang lagi. Seolah tidak ada sesuatu yang dilakukan kalau bukan demi uang. Keadaan ini jelas sangat tragis karena jiwa kepahlawanan otomatis terkikis oleh materi. Artinya, orang-orang mulai merasa tidak perlu berkorban bagi sesamanya toh dia punya duit maka semua ada. Padahal, tidak semua kebaikan dapat dibayar dan diundang pake duit, terkadang selebaran ini malah membuat kebaikan tersebut menjemukan untuk dilakukan. Seolah-olah kita kehilangan semangat yang membuatnya semakin tenggelam dan terlupakan.  Istilah rohani untuk keadaan ini adalah “kasih yang telah menjadi dingin.”

Sejak kapan wirawan dapat gaji dan tunjangan hari raya?

Dunia ini memang terbalik-balik ya? Ada orang yang berjuang dengan luar biasa hingga mati di medan perang tetapi namanya tidak dikenang sama sakali. Di sisi lain ada kelompok yang menyebut dirinya petinggi, pemimpin, ketua; yang kerjaannya cuma duduk-duduk saja di kantornya, kemana-mana pake kendaraan mewah tapi pas matinya dianggap sebagai pahlawan. Memang tragis sistem bermasyarakat pola kapitalis. Hanya orang-orang atas saja yang ditinggikan dan dipuja-puji. Sedang orang yang merasa dirinya besar tersebut tidak ada apa-apanya kalau orang-orang kecil mengorbankan segalanya demi dia. Tragisnya lagi, mereka yang dibesar-besarkan itu beroleh pendapatan luar biasa tinggi dengan fasilitas berkelas lebih dari orang-orang lain yang siap berkorban demi dia.

Heroisme kapitalis hanya menguntungan dirinya dan kelompoknya

Pembentukan gelar pahlawan yang mengikuti gaya kapitalisme sungguh-sungguh tidak wajar. Orang-orang atas yang pengorbanannya hanya lewat kata-kata dan tanda tangan saja, lenggak-lenggok sana sini di atas perjuangan pihak lain yang berlelah sampai keringatan lecet sana-sini. Sedang yang berkedudukan tinggi duduk-duduk santai, seharian bicara terus, entah apa saja, kebanyakan malah kurang memahaminya. Menggunakan kata-kata provokatif dengan intonasi yang memukau. Kata-katanya saja yang banyak, padahal yang dibicarakan mutar-mutar di situ-situ saja. Tiba pembagian jarahan, mulut kantongnya paling besar menyedot lebih dari yang dibutuhkan. Sedang pihak lainnya hanya dapat remeh-remah bahkan ada yang sama sekali tidak kebagian karena terlupakan tewas di medan perang.

Hidupnya mewah tapi masih banyak rakyatnya yang miskin, malah dijadikan wirawan

Pahlawan kejam ini sangat ironis: ketika dia dan keluarga hidup mewah-mewahan, di sana-sini masih banyak rakyatnya yang kekurangan. Mereka mendapat dukungan/ topangan luar biasa karena tangannya bersentuhan langsung dengan pusat pengelolaan sumber daya. Lagi pula dialah yang mengatur semuanya, sampai angka-angkanya pun bisa dikendalikannya. Jadi, sudahlah pasti bahwa dia dan kelompoknyalah yang menentukan porsi tiap-tiap orang. Tentu saja rasa egoisnya secara tidak langsung menempatkan haknya lebih tinggi dari orang lain. Padahal pekerjaan yang dilakukan hanya datang, duduk, teken, cuap-cuap, sok-sok’an lalu pulang. Sedangkan mereka yang berada di bawahnya kerja susah-susah sampai lelah keringatan. Lalu dengan semua kemewahan dan kenyamanan tersebut menuntut agar dirinya dinobatkan sebagai pahlwan….

Ketika kapitalis makmur ingin jadi hero

Kekuatan kapitalis dalam mengendalikan masa sangat baik. Lantas dia pun menaikkan rating keinginannya. Belum cukup baginya penipuan yang dijalankan, gaji yang diterima, fasilitas yang diperoleh dan hal-hal berkelas lainnya yang dinikmati. Mau pulak dia dijadikan sebagai pahlawan. Entah ini diperoleh berdasarkan hasil hitung-hitungan jasa moyang kapitalis atau dari tong sampah tetangga sebelah. Bagaimana bisa, orang yang selalu dapat gaji dan tunjangan lainnya tiap awal bulan malah dianggap paling besar andilnya. Bukannya jasa yang diterimanya juga sangat-sangat besar? belum lagi soal fasilitas, biaya perjalanan, tunjangan anak, istri/ suami, tunjangan hari tua dan lain sebagainya. Orang-orang seperti ini tidak layak menerima gelar tersebut.

Yang dipahlawankan itu seharusnya tidak pernah menuai hanya menabur!

Sejak kapan pahlawan terima gaji tiap bulan? Coba amati berbagai acara televisi yang bertemakan kepahlawanan, apakah mereka hidup dengan dibayarkan jasanya oleh orang-orang yang mereka bantu? Sekali pun dalam acara televisi ada pahlawan yang diberikan bayaran oleh orang yang merasakan kebaikannya, tetapi di dunia nyata hal semacam ini tidak ada. Sebab ada hukum tabur-tuai yang menentukan apakah seorang memiliki ciri kepahlawanan yang sesungguhnya. Seharusnya, mereka yang dipahlawankan melakukan kebaikan tanpa mengharapkan apa-apa dan tanpa menerima apa-apa. Kalau orang yang berbuat baik digaji maka mereka sama saja dengan karyawan/ pegawai biasa yang jelas-jelas menerima balas jasanya tiap-tiap bulan.

Pekerja yang memiliki bakat unik adalah pelopor bukan pahlawan

Setiap profesi terus berkembang menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Kekuatan perubahan ini tentu saja tidak terjadi dengan sendirinya melainkan melalui suatu permasalahan pelik yang datang tanpa diduga sebelumnya. Lantas, ada beberapa orang yang memiliki pengetahuan luas dan memberikan beberapa tahapan berupa langkah-langkah untuk menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi. Sedang orang tersebut sama juga dengan pekerja lainnya, sama-sama memiliki gaji dan tunjangan dalam kisaran tertentu. Bahkan setelah langkah-langkah cermat dan terstruktur yang didatangkannya, organisasi/ profesi tempatnya bekerja lebih memperhatikannya lagi. Posisinya diangkat menjadi lebih tinggi: gaji dan fasilitas yang diperoleh pun jauh di atas rata-rata. Oknum semacam ini merupakn pelopor dalam tugas dan bukannya pahlawan. Sebab dirinya pun mendapatkan suply sumber daya yang memadai bahkan melebihi kebutuhannya (bisa digunakan untuk membeli kemewahan dan kenyamanana lebay) atas jasa-jasa yang diberikan.

Pelopor adalah karyawan/ pegawai tertentu yang melakukan perubahan yang sangat signifikan dalam suat organisasi/ sistem bermasyarakat.

Lain lagi bila disebut sebagai pahlawan profesi yang pantas diberi mendali penghargaan ini-itu. Tentu saja jasa besar dalam setiap tugas akan dibarengi dengan bayaran yang tinggi. Di dalam masyarakat kapitalis, biasanya oknum tertentu yang memiliki jasa besar akan ditempatkan pada jabatan strategis. Tentu saja, posisi semacam ini memiliki banyak keunggulan bila ditinjau dari berbagai aspek. Di antara semua hadiah tersebut, yang paling menonjol adalah gaji, tunjangan dan fasilitas luar biasa yang diterima. Para pelopor ini tidak pantas lagi diberikan mendali penghargaan ini dan itu sebab posisi yang ditempatinya kenyang dengan sumber daya sistem Bahkan saking banyaknya, gaji satu bulan, bisa dipakai sampai dua-tiga bulan ke depan. Terkecuali bagi orang yang besar jasanya dalam suatu sistem/ organisasi/ profesi namun tidak memiliki jabatan apa pun, gaji dan tunjangan yang diterimanya juga sama dengan karyawan biasa. Orang-orang seperti inilah yang pantas mendapatkan mendali penghargaan organisasi. Sayang, kemungkinan besar keadaan ini hanya terjadi di zaman sosialis belaka. Sedang dalam masyarakat kapitalis, jasanya yang besar langsung diikuti oleh bayaran kelas tinggi.

Mendali penghargaan bagi karyawan/ pegawai tertentu yang besar jasanya dalam kemajuan organisasi/ profesi/ sistem bermasyarakat hanya dapat diperoleh jika dia tidak diupah lebih karena melakukan kebaikan tersebut (ada kesetaraan walau pun kontribusi tinggi). Bila jasanya besar sedang gaji & tunjangannya juga lebih tinggi dari karyawan pada umumnya: itu impas dan tidak perlu diberi mendali penghargaan.

Faktor penyebab pahlawan selalu tanpa tanda jasa

Biasanya orang yang dipahlawankan memiliki keistimewaan tertentu di dalam dirinya. Ada sesuatu yang berbeda dalam perannya mengembangkan dan memajukan sistem tanpa mengabaikan siapa pun. Kami tidak bisa membayangkan, apa jadinya seorang yang mengaku-ngaku pahlawan tetapi ternyata menuntut upah tertentu atas setiap angkara murka yang berhasil diantisipasi/ dicegah/ diatasi/ diselesaikannya. Berikut beberapa alasan yang kami ajukan mengapa kepahlawanan seharusnya tidak menuntut apa-apa.

1. Pahlawan sejati dari selama-lamanya sampai selama-lamanya adalah Allah sendiri.

(Keluaran 15:11) Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu, menakutkan karena perbuatan-Mu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban?

Siapa lagi pahlawan kita kalau bukan TUHAN Allah semesta alam yang bersemayam dalam tahtah kemuliaan dari dulu, sekarang dan selamanya? Dengan keperkasaan yang luar biasa, roh-Nya mengaktifkan benih alam semesta sehingga jadilah matahari yang dikelilingi oleh planet-planet. Lalu terciptalah bumi, bulan dan bintang: beberapa di antara sekian banyak planet yang mengelilingi sang surya dan dapat kita amati oleh panca indra yang dimilik. Kepahlawanannya lebih lagi karena Allahlah yang menciptakan segala sesuatu termasuk manusia (kita).

2. Pahlawan sejati yang memberi pedoman hidup yang benar adalah Yesus Kristus.

(Yohanes  14:6) Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Dari sejak pertama sekali manusia diciptakan, Yang Maha Mulia mengehendaki agar kita mengenal dan memilih untuk berjalan dalam kebenaran. Sayang sekali, kebenaran yang kita ekspresikan sungguh jauh dari harapan Tuhan. Justru kehidupan sosial di dalam masyarakat selalu saja terjebak dalam arogansi (kesombongan), manipulasi dan keserakahan yang berangsur-angsur menyebabkan seleksi alam (bencana alam) dan seleksi sosial (bencana kemanusiaan). Tanpa kebenaran hakiki maka bisa dipastikan bahwa kehidupan umat manusia akan berputar-putar di sekitar itu saja dan akan diakhiri oleh berbagai-bagai bencana.

Itulah mengapa Tuhan Yesus Kristus turun ke dunia untuk mengajarkan kepada kita, bagaimana cara hidup dalam kebenaran sehingga umat manusia dapat hidup dari generasi ke generasi dengan angka bencana yang sangat minimal. Solusi yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus, tidak jauh-jauh dari kebenaran hakiki (mengasihi Allah seutuhnya), tiga syarat mengikut Dia (menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti jalan hidup-Nya) dan tiga pencobaan yang dialami Tuhan Yesus Kristus sendiri (tidak candu terhadap kenikmatan duniawi, tidak candu terhadap kemuliaan duniawi, tidak mencobai Allah). Sedang Yesus Kristus itu sendiri adalah jalan kepercayaan yang mengantarkan kita kepada Bapa.

Yesus Kristus adalah pahlawan semua orang yang percaya kepada-Nya. Bahkan lebih lagi, sebab Dialah yang rela berkorban nyawa untuk membebaskan kita dari setiap pelanggaran yang pernah, sedang dan akan diperbuat.

3. Pahlawan sejati yang tak terlihat dan teraba namun selalu ada adalah Roh Kudus.

(Yohanes 14:16-17) Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.

Roh Kudus adalah pahlawan yang menyertai orang percaya dimana pun, kapan pun dan apa pun yang sedang dilakukan dalam hidup ini. Tidak ada jarak yang signifikan antara Roh Allah dengan hati/ pikiran kita. Penolong tersebutlah yang memberikan kita kebahagiaan, kedamaian, ketenteraman, kebijaksanaan dan inspirasi. Hanya saja, syaratnya adalah kita harus memenuhi wadah pikiran dan kehidupan ini dengan hal-hal yang positif. Menyibukkan diri dengan hati yang selalu tertuju kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian untuk kemuliaan nama-Nya. Serta mengasihi sesama dengan adil layaknya diri sendiri di sela-sela pelajaran dan pekeraan yang ditekuni.

Roh Kudus adalah pahlawan kita, yang tak terlihat tetapi manfaat yang dianugerahkan-Nya luar biasa. Bahkan lebih lagi, karena suasana hati yang sangat baik di dalam persekutuan dengan Roh tidak bisa kita dapatkan dimana pun di dunia ini.

4. Hukum tabur-tuai berlaku namun pahlawan tidak menuai (memberi tapi tak menerima apa-apa).

Ini bukan cuma sekedar spekulasi, pepatahnya juga ada, yang berbunyi demikian “… pahlawan tanpa tanda jasa…” Ini tidak hanya berlaku di Indonesia melainkan dimana-mana di seluruh dunia, hero tidak pernah menerima sepeser pun dari orang-orang yang ditolongnya. Orang yang menerima jasa dari apa yang dilakukannya bukanlah seorang wirawan melainkan hanya seorang karyawan/ karyawati biasa yang nyales kemana-mana.

Orang yang menabung banyak jarahan dari sekian banyak tindak-tanduknya yang heroik bukanlah seorang wirawan. Melainkan mereka sama seperti kita, bekerja dan bekerja demi beroleh sesuap materi. Ada beberapa orang yang dianggap hero tapi ternyata dirinya menerima gaji paling tinggi dan konspirasi yang dilakukannya merugikan banyak pihak. Seharusnya, oknum semacam ini diberi gelar sebagai pelopor saja sebab upah atas kebaikannya telah diterima penuh di zamannya bahkan sampai saat ini pun keturunan mereka masih berjaya di negeri.

5. Pahlawan yang dibayar tinggi adalah preman.

Sadarilah bahwa menjadi gagah perkasa itu tergantung dari sudut pandang masing-masing orang. Saat keberaniaannya digunakan untuk menggagahi dan mengendalikan orang lain maka kepahlawanan semacam ini sudahlah sesat. Dengan semua kekuatan, senjata dan sumber daya yang dimilikinya, mereka bisa menyesatkan dan memeras kehidupan orang lain secara perlahan tapi pasti. Mengangkat dirinya sendiri sebagai pimpinan tertinggi yang layak beroleh bagian besar dibanding yang lainnya. Wirawan semacam ini tidak memikirkan kepentingan orang lain melainkan mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok di atas kepentingan masyarakat luas.

6. Wirawan yang digaji adalah karyawan/ pegawai.

Orang yang menabur dan juga menuai sama seperti manusia pada umumnya. Petani dan kami sendiri pun melakukan hal tersebut: bekerja keras dengan tekun semata-mata untuk beroleh uang demi memenuhi kebutuhan perut dan kebutuhan lainnya. Akan tetapi, pahlawan sejati tidak makan dan minum dari kebaikannya sebab semua yang dibutuhkannya sudah ada tersendiri. Ia berkorban dengan cuma-cuma tanpa menuntut apa-apa dari orang-orang yang diayaninya.

7. Pahlawan melayani tanpa dilayani.

Seorang wirawan adalah pribadi yang istimewa dari yang lainnya. Yang mereka geluti hanyalah memberi tanpa mau menerima apa-apa dari kebermanfaatan yang mereka datangkan. Mereka tidak butuh uang kita untuk membalas jasa-jasanya sebab yang mereka telah lakukan jauh lebih besar dari semua pemberian kita. Sekali pun mereka meneri sesuatu dari orang yang dilayaninya, yang menikmatinya adalah bawahannya (bukan wirawan utama). Jadi tanda jasa yang kita berikan akan sampai ke hadapan mereka namun yang menikmatinya adalah kita dan semua orang yang berada di bawahnya.

8. Pahlawan mengutamakan kepentingan semua orang (bersama) di atas kepentingan pribadi/ kelompok.

Hero hanya akan bergerak berdasarkan kepentingan semua orang. Sebab mereka ada untuk membantu orang-orang yang sedang kesulitan menghadapi masalahnya sedang dirinya sendiri tidak bermasalah. Bagi mereka jasa itu tidaklah penting, yang terpenting adalah bagaimana caranya agar semua orang hidup rukun dalam kebersamaan dan damai sejahtera. Pahlawan tidaklah memiliki kepentingan pribadi (agar dipuji atau dimuliakan orang lain) sebab dirinya adalah miliknya sendiri dan mampu memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Jika ada yang memuji dan mengucapkan terimakasih kepadanya, itu berdasarkan kemauan pribadi lepas pribadi (bukan karena paksaan).

9. Jika semua pahlawan dibayar maka orang-orang akan membuat kekacauan yang disengaja lalu menyelesaikannya juga.

Ini adalah analogi terbalik dari kisah kepahlawanan seorang manusia. Saat gelar pahlawan diiringi dengan upah yang luar biasa besar. Bisa dipastikan bahwa setiap orang akan berlomba-lomba untuk memahlawankan dirinya atas sesama. Karena tergiur oleh tingginya upah, beberapa pihak akan melakukan konspirasi untuk memanipulasi masyarakat sehingga terjatuh dalam jurang kepura-puraaan yang mendatangkan kerugian terhadap banyak orang. Pola-pola sengaja menciptakan masalah lalu membuat solusinya merupakan konspirasi yang keji. Demikianlah manusia menggila dengan menghancurkan kehidupan sesamanya akibat hawa nafsu terhadap materi yang tidak terkendali.

10. Pahlawan sistem/ organisasi/ profesi adalah hukum (peraturan dan undang-undang yang berlaku di dalam masyarakat).

Ini jelas sekali. Sebab hukum melayani kepentingan manusia tetapi hukum itu sendiri tidak pernah dilayani. Memang setiap mengadukan perkara ke muka hukum, ada pembayaran ini-itu. Tetapi materi tersebut tidak dinikmati oleh peraturan tetapi para pejabat yang bekerja di bawahnya yang membagi-bagikan dan menikmati hal tersebut di antara mereka.

Wirawan sejati

Dari keterangan di atas bisa kita cermati bahwa sesungguhnya bukan sesama manusialah yang menjadi wirawan kita. Sebab kita begitu fana, syarat kelemahan dan kekurangan juga khilaf dimana-mana. Sekali pun kita memiliki sifat gagah berani di satu sisi namun di sisi lain kita pun membutuhkan peran orang lain untuk menolong diri sendiri dala menghadapi kemelut kehidupan. Akan tetapi Allah tritunggal adalah pahlawan sejati bagi seluruh umat yang percaya. Sebab, Allah yang kita kenal hanya memberi dan memberi lagi demi kebaikan semua orang. Dia tidak pernah menuntut kepada kita untuk memuji atau berterimakasih atas semua itu. Jika ada orang yang memuji dan bersyukur kepada-Nya, hal tersebut dilakukan atas dasar pilihan sendiri dan bukan karena paksaan.

Di sisi lain dalam kehidupan ini, umat manusia telah berhasil menciptakan aturannya sendiri yang memiliki landasan (Pancasila) dan batang tubuh (UUD Dasar) yang terdiri dari hukum perdata, pidana, ketatanegaraan dan lain sebagainya. Undang-undang tidak pernah digaji tetapi kita bisa merasa aman dan damai karena semua orang mengikutinya. Manusia hanyalah pelaksana sedang hukum itu sendiri merupakan kekuatan yang tak berwujud tetapi manfaatnya nyata dalam kehidupan sehari-hari. Jadi hukum jelas sangat cocok untuk dijadikan sebagai pahlawan sejati di antara manusia.

Kesimpulan

Perbuatan satria yang dilakukan oleh manusia memiliki kecacatan karena kita pun memiliki kekurangan dan masih menggantungkan hidup terhadap pertolongan orang lain. Artinya, kepahlawanan manusia sifatnya parsial (sebagian), yakni setiap orang adalah pahlawan bagi mereka yang ada didekatnya (misalnya orang tua, guru dan lain-lain). Daripada menjadikan manusia sebagai wirawan, lebih baik memandang kepada Allah Bapa yang sejak dari semula menolong umat mansia, Firman Allah yang hidup telah turun di tengah-tengah kita dalam pribadi Yesus Kristus. Sedangkan dalam diri masing-masing ada Roh Allah yang senantiaa mewartakan pikiran positif selama hidup fokus kepada Tuhan. Jadi, Allah tritunggal adalah pahlawan sejati bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Sedang di tengah-tengah kita saat ini terdapat hukum sebagai pahlawan tak berwujud namun kiprahnya nyata dalam menjaga stabilitas keamanan, kedamaian dan kesejahteraan yang seadil-adilnya bagi seluruh masyarakat.

Salam, Orang yang dibayar gajinya
merupakan karyawan.
Pertolongan cuma-cuma
datang dari pahlawan
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.