Kepribadian

+10 Kunci Pelajaran Hidup Adalah Tekanan, Rasa Sakit & Penderitaan – Berhenti Sedih Sungut-Sungut Saat Itu Menghampiri Anda

Kunci Pelajaran Hidup Adalah Tekanan, Rasa Sakit & Penderitaan – Berhenti Sedih Sungut-Sungut Saat Itu Menghampiri Anda

Dimana-mana di seantero bumi ini ada pelajaran terselip-selip. Namun, tidak semua orang memahaminya dan tidak semua orang mamberi waktu untuk menanggungnya. Didikan yang kami maksudkan tidak hanya diperoleh dari bangku sekolah atau perkuliahan tetapi di semua tempat yang kita kunjungi. Biasanya berupa tulisan, gambar, suara dan video (audio visual) juga termasuk dalam hal ini adalah adegan langsung tanpa skenario yang terjadi di sekitar kita. Aksi tanpa kamera dan tanpa sutradara tersebut bisa dilakoni oleh siapa saja. Saat oknum yang lagi casting sedang asyik dengan urusannya sendiri maka kita yang menyaksikannya mencoba menggali makna di balik semuanya itu.

Belajar itu tidak hanya bisa dilakukan dengan membaca buku saja. Sebab di sekitar kita, sungguh ada banyak hal seru lainnya yang siap untuk dibaca. Persoalannya sekarang adalah, apakah anda mengenali, memahami dan berkenan untuk mempelajari semuanya itu? Sebelum mencerna pahit-manisnya hidup ini, alangkah lebih baik jikalau kita telebih dahulu membersihkan wadah hati masing-masing. Hati yang masih tercemari oleh rasa benci, sombong, iri hati dan dendam beresiko tinggi memperkeruh sudut pandang sehingga memaknai segala sesuatu secara negatif (berpikir negatif). Mereka yang bisa membersihkan wadah hatinya akan dimampukan untuk mengekstrak ilmu pengetahuan dari setiap peristiwa yang berlangsung.

Pengertian

Apa itu pelajaran hidup? Wiyata kehidupan bisa dianggap ada dan bisa juga dianggap tidak ada oleh tiap-tiap orang. Ekspresi yang berbeda tersebut timbul karena pemahaman masing-masing individu sangat beragam. Belum lagi soal arah pembelajaran tersebut bisa digiring ke sisi positif dan mungkin juga digiring ke sisi negatif. Oleh karena itu, pelajaran hidup adalah segala peristiwa yang dapat dipahami oleh seseorang, baik yang dialami langsung maupun tidak langsung dimana semuanya itu dapat mengarah kepada kebaikan maupun kepada keburukan. Sejak kapan seorang manusia mengalami hal-hal tersebut? Dan aapakah piwulang tersebut hanya bisa dicerna lewat kata-kata?

Defenisi – Pelajaran/ wiyata/ piwalang adalah segala peristiwa yang dapat dipahami oleh seseorang, baik yang dialami langsung maupun tidak langsung dimana semuanya itu dapat mengarah kepada kebaikan maupun kepada keburukan.

Amati sekeliling anda secara seksama maka akan menemukan banyak keunikan dan lebih banyak lagi hal yang diulang-ulang. Lewat semuanya itu, kita bisa menerjemahkannya dari berbagai sudut pandang. Hanya saja, kiranya penilaian tersebut terbebas dari iri hati, kesombongan, kebencian dan dendam agar seburuk-buruknya peristiwa tersebut masih bisa digali sisi positifnya. Justru manusia cerdas mampu memetik manfaat ditengah gencarnya gejolak kehidupan. Pada tahapan ini, perkembangan kecerdasan akan bergeser kepada kedewasaan yang berpotensi membendung kebijaksanaan. Itulah target dari setiap masalah kehidupan yang mendatangi kita, yaitu membentuk diri menjadi pribadi yang bijak dari waktu ke waktu.

Kunci wiyata hidup adalah kejadian penting yang mengembangkan dan memajukan kepribadian seseorang menjadi dewasa bahkan mampu menggali kebijaksanaan untuk memotivasi setiap aktivitas yang dilakoni.

Faktor penyebab tekanan, rasa sakit dan penderitaan adalah sumber pelajaran hidup

Bagi siapa pun yang hidup dalam kenyamanan dan kemudahan yang terkesan lebay, ketahuilah bahwa jalan hidup yang sedang digeluti beresiko tinggi melemahkan tingkat kecerdasan otak kita. Semakin santai dan semakin diam seseorang dalam menghabiskan harinya maka kian tipislah tingkat kewaspadaan diri. Gejala paling umum setelah semuanya itu adalah penyakit lupa. Orang yang melupakan hal-hal penting dalam hidupnya sedang mendekat ke arah titik nadir kehidupan. Oleh karena itu, mulailah ambil berbagai kemelut yang terjadi di sekitar sehingga dapat meningkatkan kecerdasan, kedewasaan dan kebijaksanaan yang dimiliki. Berikut ini akan kami utarakan beberapa alasan mengapa kesesakan dan penderitaan kita sangat dianjurkan/ disarankan untuk dipelajari.

  1. Saat baru lahir setiap bayi menangis.

    Rasa sakit pertama yang dialami oleh tiap-tiap manusia adalah tepat saat menghirupkan nafas di atmosfer bumi ini. Paru-paru yang baru terbuka pertama kali seperti disobek oleh udara. Penurunan suhu yang terjadi cepat dan tiba-tiba membuat kulit seperti ditusuk jarum. Faktor-faktor itulah yang menimbulkan kesakitan yang dipelajari dengan tangisan sehingga berangsur-angsur menjadi terbiasa.

  2. Mau bangun pagi, dipaksa-paksa.

    Tubuh kita jelas sangat menyukai kenyamanan. Waktu istirahat bila perlu sampai kesiangan bahkan seharian penuh. Akan tetapi, harus masuk sekolah di pagi hari tanpa terlambat. Bertahun-tahun bangun di awal pagi, ada juga beberapa kali dimana kita telat bangun. Rasanya mata berat sekali untuk terbuka. Duduk sebentar saja, mata dan kepala langsung jatuh. Memang sakit mengejar ilmu pengetahuan, belum lagi kalau hati berubah jengkel karena dikejutbangunkan.

  3. Sewaktu mandi, dinginnya minta ampun.

    Bagi mereka yang kulitnya dimanja-manja, mandi pakai air hangat di waktu subuh. Akan tetapi, bagi yang mau belajar menyelami cuaca, pasti berani mandi pakai air dingin. Mandi dingin-dingin dikala subuh memang buat menggigil. Penderitaan ini akan berakhir saat fisik dan mental bisa beradaptasi.

  4. Berdiri pun kaki capek.

    Manusia awam adalah penggila duduk. Lihat saja tahta kerajaan masa lampau, dihias singgasana indah. Betapa gilanya orang-orang jadul terhadap aktivitas duduk. Tapi mereka yang paham bahaya akibat duduk berlebihan akan memberikan lebih banyak waktu untuik berdiri dan berjalan kaki. Ketika upacara penaikan bendera, kaki tertekan oleh berat badan. Rasanya pegal dan kebas bahkan teman sebelah jadi pingsan. Namun, kita terus berlatih dan membiasakan diri sehingga kaki terbiasa menahan tekanan berat badan.

  5. Ketika berjalan-jalan, keringat mulai menetes.

    Luar biasa anak-anak yang berjalan kaki setiap ke sekolah. Ini bukan hanya kesempatan untuk melatih ketekunan otak saja melainkan kesempatan juga untuk melatih ketekunan otot. Lelah dan capek bukan lagi menjadi masalah yang menekan pikiran melainkan menjadi tampolin semangat untuk bercanda gurau dengan teman-teman seperjalanan.

  6. Saat duduk bangku guru/ dosen pasti memberi tekanan.

    Mengikuti pelajaran/ mata kuliah diiringi dengan wejangan positif dari tutor. Tentu saja ada berbagai tekanan yang diarahkan untuk kebaikan muridnya. Belum lagi kalau si murid suka tidak tepat waktu menyelesaikan tugas rumah, tekanan yang diberikan akan semakin kuat. Mereka yang mau belajar dari kesalahannya pasti berubah positif tetapi orang yang kurang tanggap terus jatuh di lubang yang sama.

  7. Rajin menulis, tangan kebas.

    Tekanan pun menghajar tangan saat menulis tekun. Rasa lelah pada pergelangan akan menyusahkan hati walau hanya sejenak. Berhenti sedikit mengambil jeda lalu mulai lagi. Pandai-pandai mengatur timing, kapan harus menulis dan tidak memaksakan diri bila sudah waktunya istirahat. Semua ini bisa dipelajari lewat pengalaman yang dijalani.

  8. Rajin membaca, mata sakit.

    Ayo terus membaca untuk menimba lebih banyak ilmu dari berbagai bahan bacaan yang berkualitas. Semakin serius membaca karena bahannya sesuai selera, waktu yang dihabiskan pun berlalu dengan cepat. Terus-menerus membaca saking asyiknya, malah menciptakan rasa sakit yang baru di sekitar mata. Karena terlalu serius, kerap lupa meminum air, mengedipkan mata dan waktu istirahat. Namun mereka yang bisa mempelajari efek samping yang dialaminya akan mulai mengubah diri.

  9. Mengerjakan latihan, tugas di rumah dan ulangan/ ujian: ada yang tidak terjawab pusing.

    Tugas-tugas tidak semuanya mudah. Ada yang cocok dengan kapasitas kita dan ada yang lebih berat. Kemauan kuat untuk belajar membuat kita belajar agar tidak sampai stres berat. Terkadang jawaban bisa disekongkolkan dengan kawan yang smart atau bisa juga dengan menjawabnya apa adanya/ semampunya saja. Saat tekanan di belakang meja bisa dihadapi maka ini akan mempersiapkan kita untuk menghadapi penderitaan lainnya.

  10. Dalam masalah, hidup terinjak-injak.

    Kebanyakan dari masalah yang dihadapi, tujuan utamanya adalah merendahkan kita. Mereka yang selalu merasa lebih baik dari orang lain akan terjatuh sangat keras karena perkara ini. Akan tetapi, saat masalah tersebut menimbulkan serangkaian rasa sakit secara berulang-ulang, kita pun mulai belajar. Kita mempelajari pola bahwa penyangkalan diri dapat membantu menurunkan tingkat keangkuhan yang sudah ada tanpa diajari sebelumnya. Menyangkal diri adalah awal dari pembelajaran agar tabah menghadapi tekanan yang menginjak-injak kehidupan ini.

  11. Keinginan banyak yang tidak terwujud.

    Saat masih muda belia, kita menginginkan hampir semua hal yang dilihat dan didengar. Suatu hawa nafsu yang sangat berlebihan dan liar. Karena kita belum paham cara mengendalikan hawa nafsu dan kurang tanggap dengan sandiwara pertelevisian. Mereka yang pikirannya telah terbuka dengan menurunkan intensitas hawa nafsu, akan menemukan kelegaan. Mengingini itu sah-sah saja tetapi yang belajar untuk tidak memaksakan kehendaknya melainkan pasrah terhadap keputusan Tuhan akan menemukan kebahagiaan sekali pun yang diingini tidak kunjung ketemu.

  12. Orang-orang terdekat pun bisa melakukan kesalahan dan menyakiti.

    Hidup ini penuh dengan anomali yang tidak bisa diprediksi. Hal tersebut justru baik adanya agar kita selalu siap menghadapi segala kemungkinan tanpa mengesampingkan nilai-nilai yang benar. Ketika pihak-pihak tertentu mendatangkan berbagai godaan, kita diajar untuk mengedepankan kasih, keikhlasan, kerendahan hati dan niat untuk memaafkan. Gunakan pengabaian dengan bijaksana. Hadapilah semuanya itu dengan mengabaikan hal-hal yang salah yang mereka ekspresikan namun tidak benar-benar abai terhadap orangnya. Pada momen ini gunakan pengabaian parsial.

  13. Ketika bekerja, tubuh lelah.

    Segala jenis pekerjaan yang dilakukan pasti memiliki kelelahan tertentu. Para pekerja lepas di luar ruangan lebih banyak menghabiskan waktu untuk menekan otot-ototnya. Sedang para pekerja kantor di dalam ruangan lebih banyak menghabiskan waktu untuk menekan otaknya. Bila seseorang bekerja terlalu berat maka resiko mengalami kecelakaan kerja lebih tinggi. Mereka yang menyadari kelelahannya akan beristirahat menurut waktu yang disepakati bersama.

  14. Di dunia kerja, pemimpin memberi tekanan.

    Sadarilah bahwa dimana pun kita berada dan berkumpul maka di sanalah besar kemungkinan terjadi tekanan. Memang kebanyakan dari tekanan yang kita alami di dunia kerja sifatnya lebih terstruktur. Semuanya itu telah tertuang dalam dokumen tertentu, ada yang menyebutnya protap dan ada pula yang menyebutnya SOP. Tanpa sadar, semua instruksi yang terdapat dalam dokumen ini memberi tekanan pada tanggung jawab masing-masing. Tentu saja, kalau kita lalai terhadap hal tersebut, ketua tim pasti akan menekan kita dengan kembali mengingatkan aturan mainnya.

  15. Jika salah direndahkan teman.

    Kekhilafan kita sering sekali menjadi bahan pergunjingan di antara rekan. Semakin fokus pikiran terhadap asumsi tersebut maka semakin tertekan jiwa ini. Tawa mereka pun membuat hati merana. Namun orang yang mau belajar ikhlas akan merasa tenang. Terlebih lagi ketika tekad sudah bulat untuk senantiasa memfokuskan hidup pada hal positif (fokus Tuhan, belajar dan bekerja).

  16. Selisih pendapat, kata-kata kasar.

    Kita harus maklum dengan yang namanya perbedaan pandangan/ pendapat. Tiap-tiap orang bisa saja memiliki opini yang berbeda tentang sesuatu. Bukan berarti bahwa setiap perbedaan tersebut harus ditentang. Bisa jadi, perbedaan tersebut sebagai masukan untuk lebih mencerahkan pemahaman kita terhadap sesuatu. Namun, kadang ada juga kawan yang masih kurang dewasa sehingga saat memberi tanggapan semprot sana-sini dengan kata-kata kasar. Ini adalah kesempatan untuk mempelajari sifat pengertian, sabar, ikhlas dan penuh maaf.

  17. Saat berbuat baik, kita belajar berkorban.

    Sadar atau tidak, saat kita berbagi kasih kepada sesama, bisa jadi itu merupakan tindakan mengamalkan sebagian dari hak kita kepada orang lain. Mereka yang belum terbiasa mengorbankan miliknya untuk membantu sesama, bisa jadi merasa rugi sehingga hati setengah-setengah saat memberi. Pengorbanan ini identik dengan penderitaan, hanya orang yang sudah terbiasa melakukannya dengan sukacita penuh. Sedang mereka yang tidak terbiasa menderita kerugian akan berkorban dengan canggung karena dilakukan tanpa ketulusan.

  18. Saat menunggu, kita belajar sabar.

    Ketika keinginan muncul dari dalam hati, kita langsung menanggapinya dengan mencari dan memenuhi hasrat tersebut. Akan tetapi, di dalam banyak situasi yang mendewasakan, ada proses menunggu sesaat sebelum mewujudkan suatu keinginan. Orang yang mau menunggu pandai menekan keinginannya sehingga tetap waras dan jauh dari stres. Keadaan ini sekaligus melatih kita untuk selalu bersiap, manakala apa yang kita inginkan tidak kunjung terkabulkan. Sebab hidup ini bukan kita yang mengatur, masih banyak orang di atas kita dan masih ada Tuhan yang memedulikan diri ini.

  19. Dalam sakitnya ejekan kita belajar abai.

    Orang lain bisa saja secara tidak sengaja melakukannya, lantas kita langsung merasa bahwa itu adalah intimidasi. Sesungguhnya suatu ejekan bisa saja timbul akibat anomali zaman yang mendatangi tiap-tiap orang secara acak. Oleh karena itu, sesakit-sakitnya diejek orang berusahalah untuk tetap ikhlas, rendah hati, memaafkan dan tetaplah jadi orang positif (ramah) terhadap lawan-lawan yang dihadapi. Terkadang dalam hidup ini, lebih baik bagi kita untuk mengejek diri sendiri – menyangkal diri sebelum orang lain melakukannya.

  20. Di tengah gangguan sosial, indra ke otak dipaksa menyesuaikn diri.

    Mereka yang bertahan dari gangguan indra dengan cara memasang tembok-tembok pelindung nan mewah dan kokoh bagi diri sendiri akan meninabobokan otaknya. Sebab gejolak yang timbul melalui panca indra, pertama-tama akan mengacaukan hati. Namun orang yang mau belajar dan membiarkan dirinya disesakkan oleh gangguan kebisingan lama kelamaan akan mampu menyesuaikan diri terhadapnya. Hati mulai belajar untuk melepaskan dan merelakan semuanya sehingga lama-lama menjadi terbiasa engan hal tersebut. Semua ini soal adaptasi.

  21. Sewaktu mengasihi musuh, kita belajar rendah hati, ikhlas dan berkorban serta penuh maaf.

    Siapa pun yang ada di sekitar kita berpotensi menjadi musuh bebuyutan (tidak tertutup kemungkinan orang terdekat juga). Mereka yang baru belajar memaklumi akan merasakan keberatan yang terkadang membuat jiwa menderita. Keadaan ini terjadi karena masih tingginya keegoisan dan arogansi di dalam hati. Saat kita terus merasa lebih baik dari sesama, rasanya memaafkan itu masih berada di luar jangkauan. Akan tetapi, saat merasa bahwa diri sendiri pun pernah melakukan kesalahan yang sama, bedanya hanya terletak dari segi waktu dan bentuknya saja. Artinya, mengasihi musuh seperti mengasihi diri kita yang dulu yang penuh dengan khilaf dan kerap membuat orang lain jengkel.

  22. Dan lain sebagainya, silahkan cari sendiri.

Kesimpulan

Bahan pembelajaran hidup yang terdapat di sekitar, tersebar luas! Kita akan beroleh petuah dari berbagai aspek kehidupan asalkan mau lebih mengamati, mencermati dan merenungkan berbagai peristiwa tersbut. Gunakan ke lima indra untuk mengelola segala informasi yang tersedia, bandingkan dengan standar kebenaran hakiki dan pengalaman di masa lalu dalam berbagai bentuk. Pelajari semuanya itu dengan seksama, bila perlu buatlah jurnal sederhana untuk mengurutkan dan menuliskan makna dari berbagai peristiwa yang di alami hari lepas hari. Sehingga lewat berbagai usaha tersebut, kita diajar untuk lebih kritis, selektif dan dewasa hingga beroleh kebijaksanaan semata-mata demi menyemangati diri sendiri.

Salam, Tekanan adalah gaya hidup kita,
Ras sakit adalah makanan hari-hari,
Penderitaan adalah petualangan kita,
Selidiki semampunya sampai mengerti,
Agar hidup semakin dewasa & bijaksana
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.