Gejolak Sosial

Harga Diri dan Penghormatan Tidak Ada Melainkan Lakukanlah Hal Yang Benar


Harga Diri dan Penghormatan Tidak Ada Melainkan Lakukanlah Hal Yang Benar

Evolusi sosial telah berlangsung lama. Masyarakat tidak lagi berada dalam strata sosial yang berbeda-beda seperti pada zaman kerajaan. Kekuasaan seseorang ditentukan oleh kekuatan dan strata sosial yang di embannya. Semakin tinggi kelasnya maka semakin dihormati dan dihargai akan tetapi semakin rendah stratanya maka semakin tidak dianggap dalam artian sebagai rakyat jelata. Perang dan pertumpahan darah berkecamuk dimana-mana untuk memperebutkan kekuasaan. Bukan kelas bawah yang memicu perang melainkan masyarakat kelas atas berdarah birulah yang selalu menggerakkan semua orang untuk menabuh genderang perang.

Sistem kerajaan jaman dahulu hampir sama dengan kekuasaan raja rimba

Dalam hutanpun demikian, binatang yang lebih kuat berkuasa sedangkan yang lemah dalam spesiesnya menjadi hamba yang beberapa haknya diserobot oleh penguasa. Semua harus tunduk dan menyembah kepada sang raja. Setiap upaya yang menunjukkan pembangkangan akan dikendalikan dengan otot, cakar dan gigi yang tajam. Kerasnya kehidupan rimba hampir sama dengan sistem kerajaan jaman dahulu yang identik dengan penghargaan dan penghormatan yang berlebihan terhadap pemimpinnya. Istilah kerennya “paduka raja adalah segalanya”.  Oleh karena itulah selalu timbul peperangan yang memakan korban jiwa untuk memperebutkan harga diri dan penghormatan.

harga diri dan kehormatan terlalu fana tetapi lakukanlah kebenaran

Hewan bisa juga gila hormat ya….

Dimana ada aksi disitu ada reaksi. Sadarilah bahwa kebiasaan seperti ini sangat primitif dan berpotensi menimbulkan gesekan sosial di lapangan. Mereka yang berasal dari kalangan atas cenderung mempertahankan itu dengan cara-cara yang penuh kekerasan dan tidak halal. Tidak hanya itu saja, orang yang merasa dirinya memiliki kekuatan otot, pedang dan senjata akan beramai-ramai memperebutkan ini. Sehingga tatanan masyarakat menjadi sangat tidak kondusif, tidak ada damai dan kekacauan dimana-mana. Pada akhirnya, yang mengalami kerugian besar adalah masyarakat luas (kalangan bawah) yang tidak tahu apa-apa.

Kehormatan dan harga diri tidak ada

Hanya hewan yang memaksa pihak lain menyembah….

Pentingkah harga diri dan penghormatan

Beberapa orang menganggap harga diri dan penghormatan dari orang lain sangat penting. Mereka merasa lebih percaya diri ketika orang-0rang melakukan hal ini. Bukan itu saja, mereka juga menganggap bahwa kedua hal ini menyenangkan hati yang membuat mereka bisa tersenyum lebar dan lebih percaya diri. Padahal ini merupakan sesuatu yang fana : orang ini menghargai kita tapi orang yang itu tidak; seseorang menghormati kita akan tetapi yang lainnya tidak. Mengapa kita harus memaksa mereka untuk melakukannya dengan kuasa otot, pedang dan senjata yang dimiliki.

Tidak ada takaran pasti tentang batas-batas harga diri dan penghormatan

Alangkah lebih baik bagi kita bila tidak menuntut untuk dihargai dan dihormati oleh orang lain. Sebab kedua hal ini sangat tidak dapat diukur dengan standar apapun. Orang meludah di depan kita pasti merasa diri tidak dihargai, seseorang khilaf melakukan sesuatu di depan kita (salah melayani) merasa tidak dihormati, ada orang yang tiba-tiba memotong percakapan kita merasa tidak dianggap, seseorang tidak menjawab pertanyaan kita menjadi lemah hati dan masih banyak lagi hal-hal yang sebenarnya terlalu kecil untuk menghinakan diri ini.

Tertawa kecil dari seseorang bisa saja membuat diri ini merasa dihina sehingga menimbulkan kebencian yang dapat menimbulkan amarah yang hebat. Suara berisik dari seseorang sudah melemahkan hati sehingga pekerjaan tidak kunjung selesai. Kita merasa kurang dihargai dan dihormati oleh orang lain maka hati menjadi panas lalu dendam bergelora. Bila kita memaksakan keinginan seperti ini, apa bedanya diri ini dari binatang di luar sana yang mengharuskan temannya sendiri untuk menghormatinya. Padahal kitalah yang salah, mengapa menggantungkan harga diri dan penghormatan pada hal-hal recehan seperti itu?

Menjadi orang yang dihargai dan dihormati adalah fatamorgana

Harga diri dan hormat asalnya dari luar diri sendiri. Sadarilah bahwa kita tidak mampu sepenuhnya mengendalikan apa yang ada diluar diri ini. Anda tidak mungkin memerintahkan bahkan memaksakan orang lain agar menghormati dan menghargaimu. Pemaksaan kehendak akan berujung pada gesekan sosial (perkelahian/ pertengkaran, setidaknya bertengkar mulut). Padahal satu-satunya yang dapat memaksa manusia di zaman sekarang ini hanyalah hukum dan peraturan yang berlaku di masyarakat.

Mengharapkan penghargaan dan penghormatan dari orang lain adalah tindakan yang beresiko tinggi membuat anda kecewa. Sebab anda tidak bisa mengatur semua orang bahkan seorang pemimpinpun tidak diperbolehkan mengatur seluruh kehidupan bawahannya. Kedua hal ini berada dalam kehendak bebas manusia. Sehingga dalam penerapannya terdapat perbedaan antar individu: ada yang melakukannya namun tidak dapat dipungkiri bahwa ada juga yang menganggapnya tidak ada (omong kosong).

Ketergantungan dengan apa yang diberikan oleh orang lain dan dunia ini menandakan bahwa anda rentan terhadap kekecewaan, kesedihan dan mudah bersikap kasar karena yang satu menghargai dan yang lainnya acuh tak acuh. Oleh karena itu, berhenti berharap dan mulailah ambil kebahagiaanmu dengan cara melakukan tindakan yang benar dan memberi manfaat kepada orang lain.

Mampu bermanfaat bagi sesama adalah saat anda mendatangkan kebaikan dalam kehidupan seseorang. Semua yang anda lakukan adalah bagian dari membahagiakan orang lain. Jika anda mampu membuat orang lain senang alhasil anda sendiripun akan bahagia melihatnya. Mulailah ambil kebahagiaanmu dengan cara memberi dan membagikan kebaikan semampunya kepada lebih banyak orang.

Simak juga, Cara aktif mencari kebahagiaan

Mari menjadi manusiawi

Mari sadarkan hati nurani kita. Tuhan saja tidak pernah memaksa kita untuk menghormatinya melainkan Ia Yang Dahsyat itu menginginkan kerelaan hati umat-Nya. Jadi mengapa sekarang kita menuntut saudara sendiri untuk lebih menghargai dan menghormati diri ini hanya karena uangnya lebih kecil dari uang kita, pakaiannya lebih kumuh dari kemeja kita, pekerjaannya lebih kecil dari pekerjaan kita, posisinya lebih rendah dibandingkan jabatan kita? Sadarilah bahwa hal-hal seperti ini tidak bisa diukur karena terlalu primitif (kuno). Akan tetapi apabila anda melakukan hal yang benar lalu menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain niscaya hidup menjadi bahagia.

Jangan kerdilkan kepribadianmu hanya demi sesuatu yang tidak penting. Gangguan sosial yang bersifat recehan (yang merendahkanmu) lebih baik diabaikan. Akan tetapi bila sudah merugikan (materi) anda dapat menempuh jalur hukum dengan melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Pertimbangkan baik-baik sebelum melakukannya dan jangan terkedan membesar-besarkan masalah sepele. Sebab lewat masalah inilah Tuhan hendak memurnikan kita dari segala hawa nafsu, kekerasan dan kejahatan yang sesungguhnya.

Baiklah kita melakukan apa yang ingin orang lain lakukan kepada diri ini tapi jangan memaksakannya. Lakukan apa yang menurut pemahaman sendiri baik, terserah bagi orang lain hendak membalasnya dengan perbuatan yang sama atau malah diam saja, itu pilihannya!. Upah kebaikan itu sudah disimpan dengan aman di sorga. Lagipula seorang manusia tidak mau (takut) melakukan sesuatu yang dirasanya sakit pada diri sendiri. Jika seseorang menyakiti yang lainnya niscaya akan timbul rasa bersalah yang membuat mereka segan untuk melakukannya lagi.

Selengkapnya, Kebenaran adalah penghiburan dan kekuatan kita

Daripada mengejar harga diri dan penghormatan lebih baik bagi kita untuk fokus melakukan hal yang benar yang mendatangkan manfaat bagi orang lain. Menjadi bermanfaat tidak harus besar namun dapat dilakukan dengan cara yang sederhana, misalnya ramah tamah, menjadi pendengar yang baik, menambah pengetahuan sesama dan lain sebagainya.

Kebenarannya adalah, hargai orang lain namun jangan memaksanya untuk menghargai anda, karena terkadang tempat anda menabur tidak sama dengan tempat menuai. Ingatlah dimana ada kebenaran maka disanalah hubungan kita dengan Tuhan diperbaiki dan disana jugalah relasi dengan sesama semakin langgeng. Lagipula dengan melakukan sesuatu yang benar (bermanfaat bagi Tuhan dan manusia), diri ini dihiburkan dan dikuatkan dan dibahagiakan lewat semuanya itu.

Telusuri juga, Bahagia yang sederhana

Salam hidup damai!

6 replies »

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s