Gejolak Sosial

7 Cara Mengendalikan Indra – Berpuasa Membatasi Indra Mengendalikan Diri Agar Tidak Mudah Terpengaruh

Cara Mengendalikan Indra - Berpuasa Membatasi Indra Mengendalikan Diri Agar Tidak Mudah Terpengaruh

Puasa adalah waktu yang dikhususkan oleh seseorang untuk membatasi apa yang masuk ke dalam tubuh (baik pencernaan maupun otak) sedangkan aktivitas sehari-hari normal seperti biasanya, namun untuk beberapa situasi orang yang berpuasa juga membatasi diri untuk tidak melakukan hal-hal tertentu. Merupakan kebiasaan yang sudah ada sejak zaman dahulu kala (sebelum masehi). Dahulu seseorang yang sedang bersedih hatinya memiliki kecenderungan untuk tidak makan selama beberapa waktu lamanya. Selain sebagai sebuah pertanda rasa sakit berpuasa juga banyak dihubung-hubungkan dalam upacara spiritual.

Ancaman dibalik kebebasan

Dunia ini penuh dengan kebebasan yang terpimpin. Terlebih lagi soal menikmati hidup dimana setiap dari kita bisa melakukannya sesuai dengan kehendak sendiri dimana besar kecilnya itu sangat tergantung dari sumber daya yang dimiliki. Bahkan kami dapat menegaskan bahwa pemanfaatan internet di dalam genggaman tangan sendiri  membuat kita lebih leluasa melihat apapun disana tanpa ada yang mengusik dan merintang aktivitas tersebut. Ketika jaringan dan teknologi berada di bawah kendali kita maka ini adalah kebebasan mutlak yang sangat dekat dengan kehidupan pribadi.

Sadar atau tidak, dimana ada kebebasan maka disitu syarat dengan pelanggaran. Seperti kata orang, “Dimana tidak ada pengawas maka disanalah pelanggaran banyak terjadi”. Tapi, “Orang yang tidak dapat mengendalikan diri, ada yang mengawasipun tetap melakukan pelanggaran”. Ada masa dimana kita tidak lagi seperti anak-anak yang terus menerus diawasi oleh orang lain. Saat sudah dewasa maka diri sendirilah yang menjadi kontrol lalu mengawasi setiap apa yang keluar dari dalam dan juga apa yang masuk. Lebih tepatnya, hal ini dilakukan oleh otak. Ada sisi yang harus di pertimbangkan matang-matang sebelum di lakukan dan ada pula yang tidak perlu pertimbangan lagi melainkan otomatis karena hasil dari kebiasaan. Jadi kebiasaan kita untuk membebaskan indra menikmati hidup telah nyata membuat tingkat kewaspadaan dan kontrol diri sendiri menurun/ berkurang.

Masih kanak-kanak, keadaan hati dapat dicemari oleh lingkungan

Apa yang ada di dalam terhubung dengan apa yang ada di luar demikian sebaliknya apa yang dicitrakan di luar berhubungan erat dengan apa yang dipikirkan dalam hati. Kelima indra kita adalah penghubung hidup antara suasana lingkungan sekitar dengan suasana hati. Saat masih anak-anak, kondisi hati sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sekitar. Setelah dewasa kita mulai belajar untuk mengendalikan diri lalu mencoba untuk tidak terseret arus situasi yang entah mengarah kemana.

Apa yang masuk tidak berbeda dari apa yang keluar

Sadar atau tidak, terkadang indra kitalah yang merusak kehidupan ini. Mereka yang menderita berbagai keterbatasan di luar sana justru lebih mampu mengendalikan diri dibandingkan dengan orang normal. Misalnya saja, orang yang buta cenderung lebih lihai mengendalikan diri ketimbang mereka yang masih muda yang membiarkan matanya untuk hal-hal/ adegan yang menggoda. Keadaan ini membuktikan bahwa sikap yang diekspresikan tidak jauh-jauh dari apa yang selama ini kita nikmati di luar sana. Oleh sebab itu, berhati-hatilah sebelum menikmati apapun itu agar suasana hati tidak semakin keruh. Apabila hal-hal yang sedang anda saksikan membuat hati keruh, lebih baik beranjak dan keluar dari situasi tersebut.

Ketika indra berkuasa

Keadaan di atas menandakan bahwa indralah yang mengendalikan pikiran sehingga ekspresi kitapun kepada dunia sangat tergantung dengan sugesti yang diterima. Seperti contoh, orang lain marah, kita marah juga; orang lain mengeluh, susah juga; situasi lingkungan mengusik, kita jengkel sendiri; keadaan sekitar tidak menyenangkan, kita bosan sendiri; saat difitnah oleh orang, kita jadi sedih; saat dibully oleh orang lain, hati terasa sakit; ketika dipermainkan oleh orang lain, kita jadi stres bahkan depresi. Inilah yang saya sebut sebagai “indra menjadi pengendali pikiran kita”.

Akhirnya kita di bawah pengaruh orang lain

Apabila hal ini terus terjadi maka suasana hati sangat mudah bersedih, sehari-hari menjadi galau, suntuk terus sehingga resiko stres dan depresi meningkat. Hidup kita akan dipermain-mainkan oleh situasi dan kehendak orang lain. Pikiran tidak lagi jernih dan hidup menjadi tidak berfaedah sebab orang yang ini memuji sedangkan orang yang lain mengejek. Situasi seperti ini membuat kita bingung sendiri (pusing tujuh keliling) sehingga tidak tahu harus berbuat apa. Pada akhirnya, kita akan terbawa arus situasi, entah itu dalam kesedihan, kesenagan, pelanggaran dan perbuatan menyimpang. Ingatlah bahwa orang lain bisa mengikat indra ini oleh apapun juga, mungkin oleh sugesti, perintah bahkan hipnotis. Bila kehilangan kendali niscaya kita akan jatuh dalam pengaruh orang lain.

Masuk di bawah pengaruh orang lain adalah hal terburuk yang pernah ada. Sebab di saat seperti ini, kita menjadi orang lain. Identitas dan kepribadian sendiri hilang. Keadaan ini mendatangkan kerugian bagi kita sedangkan orang lain bersenang-senang di atas penderitaan yang di alami. Oleh karena itu, penting banget untuk meletakkan pikiran di atas semua indra yang dimiliki. Artinya suasana di luar jangan mudah mempengaruhi diri ini melainkan berpikirlah setelah melihat, mendengar, membaui, meraba dan mengecap sesuatu. Jangan mengambil keputusan secara terburu-buru sebab terlalu cepat membuat kita tidak sempat berpikir matang-matang sehingga terjadilah ketelodoran/ kekhilafan/ kesalahan.

Sekali lagi, saat masih kecil indra sangat mempengaruhi rasa dalam hati

Saat masih kecil, indra kita ada di atas sedangkan hati terletak di bawah. Kita menganggap bahwa manusia hanya memiliki 5 colokan. Kalau diumpamakan kelima indra adalah colokan. Jadi, kita hidup karena colokan tersebut digunakan. Apakah itu berkekuatan 5 Watt, 10 Watt, 18 Watt atau 65 Watt. Jadi apa yang diserap oleh mata, telinga, hidung, kulit dan lidah sangat menentukan seberapa baik atau seberapa buruk, seberapa senang atau seberapa sedih, seberapa berat atau seberapa ringan kehidupan kita.

Selengkapnya, Betulkah perkataan lebih tajam dari pedang?

Stabilizer mengendalikan kelebihan dan menutupi kelemahan

Tapi ada satu yang kita lupakan. Memang benar kita memiliki 5 colokan tapi ada satu stabilizer-nya yakni pikiran. Selama kita dapat berpikiran jernih maka selama itu pula tegangan indra dapat dikendalikan. Apabila tegangannya tidak dapat dikendalikan niscaya ekspresinyapun akan berlebihan (lebay – over akting). Bisa saja hal itu berupa marah-marah, sok-sok-an, belagu, hiper, terlalu hingga akhirnya stres sendiri dan depresi.

Semua indra penuh dengan hawa nafsu

Perhatikan gamber di atas, indra selalu lebih kecil dari pikiran. Akan tetapi bila colokannya lebih besar daripada stabilizernya artinya hawa nafsunya besar. Keinginan yang terlalu tinggi bersifat memaksa sehingga jika hal ini tidak terpenuhi terdapat kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang menyimpang. Oleh karena itu kita harus mampu membatasi keinginan indra agar hidup ini lebih positif. Salah satu cara untuk membuat indra tidak berkuasa atas hidup kita adalah dengan membatasi penggunaannya dengan cara membatasi penggunaannya.

Puasa membatasi hawa nafsu, sehingga kita mampu mengendalikan diri.

Menahan lapar dan haus adalah salah satu cara mengendalikan hawa nafsu terhadap makanan. Keinginan untuk terus menerus makan tanpa batas akan menarik hawa nafsu yang lainnya. Membiarkan lidah berkuasa dalam hidup ini membuat kita kehilangan pengendalian diri dan cenderung menyimpang dari norma yang berlaku di masyarakat. Oleh karena itu baik bagi setiap orang untuk mulai belajar melakukan puasa.

Saat berpuasa otak dipaksa untuk tidak melakukan hal-hal tertentu yang notabene sudah menjadi kebiasaan. Praktek ini adalah salah satu sarana untuk menghancurkan kebiasaan selama ini termasuk kebiasaan buruk. Hidup menjadi lebih baik bila otak berkuasa dalam keseharian kita. Akan kami ulangi kembali, berpuasa mengajari kita untuk mengendalikan lidah secara tidak langsung hal ini mengubah kebiasaan kita sehingga kebiasaan yang lainpun dengan mudah dapat kita kendalikan.

Cara mengendalikan mata, telinga, hidung, lidah dan kulit

Sebelum kelima colokan ini menguasai hidup kita sebaiknya upayakan pikiran untuk mengambil alih lebih dahulu. Jika kita kehilangan akal pikiran sendiri (akal sehat – logika) maka habislah hidup ini pada sesuatu yang sia-sia. Sebelum itu terjadi mari belajar mengendalikannya.

  1. Miliki standar kehidupan.
  2. Berpikir sebelum bertindak.
  3. Berpuasa. Puasa itu indah, kami telah mencobanya. Kalau mau sukses harus ada aktivitas yang positif di setiap detik yang di lalui.
  4. Selektif dan kritis menyerap informasi. Hindari menggunakan sembarangan kelima organ ini.
  5. Abaikan informasi yang tidak bermutu lalu alihkan konsentrasi pada sesuatu yang lebih berguna (positif).
  6. Lakukan segala sesuatu dengan hati-hati, jangan terburu-buru melainkan pelan-pelan saja.
  7. Jaga pergaulan tetap di jalur yang baik & benar sebab pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.

Jika pikiran tidak lagi bekerja artinya pertimbangan tidak ada sehingga sikap cenderung amburadur. Sebelum hal itu terjadi alangkah lebih baik jika anda mulai belajar untuk berpuasa.

Salam santai aja bro….

2 replies »

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.