Lingkungan

9 Faktor Yang Memperpendek Umur Bumi – Menakar Umur Dunia Tempat Kita Berpijak

Faktor yang memperpendek umur bumi - menakar umur dunia ini

Umur bumi ditentukan oleh keseimbangan pemanfaatan energi yang dilakukan oleh makhluk hidup di dalamnya. Sebenarnya secara default proses itu telah mencapai titik keseimbangan sehingga semua makhluk di dalamnya mendapat jatah energi (untuk dikonsumsi) yang pas dimana semuanya berputar-putar sehingga terjadilah keseimbangan itu. Akan tetapi manusia dengan segala kecerdasannya telah menjadi liar terlebih jika itu disertai oleh sikap yang serakah. Jika sifat cerdas nan rakus ini dipelihara niscaya dapat memperpendek umur bumi.

Manusia dianugrahkan akal & pikiran untuk beraktualisasi mengembangkan dirinya untuk bermanfaat bagi penciptanya dan bagi sesama. Dengan semua kecerdasan yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa maka kita bisa melakukan banyak hal dalam hidup ini. Aktivitas berpikir untuk menghasilkan inovasi dan kreativitas dapat menembak ke segala arah. Itu seperti roda berputar yang tanpa kemudi bahkan jalur-jalur yang dilaluinya kadang diluar batas kemampuan manusia yang disebut dengan imajinasi.

Aktivitas berpikir untuk menghasilkan ide-ide cemerlang tidak terkalibrasi oleh tools apapun. Tidak ada sebuah indikator yang dapat mengukur capaian pola pikir seseorang saat ia terus belajar. Artinya daya pikir tidak ada batasnya. Anda bisa melakukan ini dan itu, memiliki ini dan itu, juga melakukan hal-hal yang luar biasa lainnya. Semuanya dapat diwujudkan hanya dengan berimajinasi. Akan tetapi, harap diingatlah bahwa anda tidak mungkin (mustahil) mewujudnyatakan semua yang telah dipikirkan itu. Sebab dunia yang kita tempati memiliki sumber daya yang terbatas. Mungkin juga masih bisa direalisasikan akan tetapi coba bayangkan bagaimanakah dan seberapa lamakah anda menemukan/ membuat pengganti dari semua sumber daya yang telah digunakan itu?

Sehebat-hebatnya manusia dengan segala kegemilangannya hanyalah seorang konsumen sejati. Bisanya Cuma menggunakan apa yang sudah disediakan oleh alam. Bagusnya hanya menghancurkan lekak-lekuk bumi untuk dijadikan sebagai sesuatu sesuai keinginannya. Kreativitasnya kebanyakan membakar banyak sumber daya untuk dilepaskan secara bebas ke udara/ ke lingkungan sekitar. Lama kelamaan kebiasaan yang suka berfoya-foya dengan energi mendorong habisnya energi yang terikat itu sedangkan proses pembentukannya secara alami sangat lambat. Cara manusia memanfaatkan hasil bumi terlalu cepat (terlalu rakus) sedangkan alam mengikat energi itu dengan susah payah dan sangat lambat (membutuhkan waktu bulanan, tahunan, puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun).

Pemanfaatan energi yang sudah terikat dan siap digunakan (seperti bahan pangan, minyak bumi dan sumber daya alam lainnya) harus diiringi dengan kemampuan lingkungan untuk menghasilkannya kembali. Memang secara alamiah lingkungan mampu mengikat energi tersebut namun semuanya butuh proses dan butuh waktu yang tidak sedikit. Bahan pangan seperti beras dan tanaman palawija lainnya, net-netnya membutuhkan waktu 3 bulan sampai ia menghasilkan bulir untuk dikonsumsi oleh manusia. Padahal untuk mengkonsumsinya hanya membutuhkan beberapa puluh/ ratus orang saja dalam waktu 5 menit saja. Coba bayangkan korelasi antara 129.600 menit (3 bulan) dengan 5 menit saja. Bukankah ke dua hal ini memiliki perbedaan yang sangat jauh.

Teori A

Apabila keseharian manusia melepaskan energi matahari (lewat aktivitas sehari-hari) tidak diimbangi dengan kemampuan lingkungan untuk menangkap kembali energi tersebut niscaya energi yang terlepas itu terus menumpuk di udara sehingga suhu meningkat drastis. Bahkan jika keadaan ini terus berlanjut maka ancaman gelombang panas akan membunuh setiap makhluk hidup didalamnya. Pada akhirnya semua kejadian ini mempercepat proses pemanasan global sehingga dalam waktu beberapa ratus tahun lagi bencana alam yang terjadi akan mendorong bumi ke dalam akhir zaman/ kiamat.

Teori B

Manusia dan hewan turut melepaskan molekul yang berisi karbon ke udara. Sedangkan mesin-mesin berteknologi tinggi turut melepaskan senyawa karbon dan senyawa logam berat dalam setiap aktivitasnya. Semua senyawa ini akan menumpuk dan menggumpal di udara. Berhubung karena memiliki massa yang lebih besar daripada massa udara bersih (oksigen), maka semua jenis polutan ini akan menumpuk di atmosfer paling bawah dimana manusia hidup. Gas pencemar ini membuat masa jenis udara meningkan dimana beratnya lebih tinggi daripada udara bersih. Artinya kerapatan udara semakin tinggi karena kandungan polutan sehingga menahan lebih banyak panas matahari. Akibatnya, suhu udara meningkat tajam bahkan di malam hari juga masih terasa gerah. Keadaan ini menyebabkan timbulnya bencana gelombang panas yang hampir membakar segala makhluk hidup yang ada didalamnya.

Jika keadaan ini terus berlanjut dimana tumpukan udara kotor terus-menerus bertambah di lingkungan maka manusia tidak bisa lagi keluar rumah. Sepanjang hari harus terus berada di dalam gedung tertutup yang dilengkapi dengan AC dan penyaring udara lainnya. Keadaan ini membuat ketergantungan manusia akan minyak bumi menjadi sangat tinggi. Akibatnya cadangan minyak lebih cepat habis bahkan hanya tinggal beberapa lagi. Akhirnya, terjadi perebutan sumber daya yang menyebabkan perang besar hingga timbullah kiamat di wilayah perang tempat kejadian itu berlangsung.

Faktor yang menyebabkan pendeknya umur bumi

Pemanasan global adalah beban semua orang yang hidup di dunia ini. Sebab dunia ini adalah rumah bagi kita dan anak cucu kita. Oleh karena itu baiklah setiap dari kita mengetahui apa-apa saja yang beresiko mendorong pendeknya umur bumi ini. Berikut ini akan kami jelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut.

  1. Hawa nafsu yang sesat dan tidak terkendali – Keserakahan.

    Keadaan ini berhubungan erat dengan dosa dan pelanggaran manusia. Saat kesombongan mengiringi kemakmuran seseorang niscaya pikirannya menjadi sesat. Ia tidak lagi mengenal siapa pencipta-Nya lalu menindas orang yang lebih lemah darinya. Keadaan ini suatu saat akan mengundang murka Tuhan yang mendorong proses pemurnian/ pembersihan berupa kekerasan langsung.

    Keserakahan merupakan sifat menampung semua sumber daya yang ada padahal di bagian-bagian bumi yang lain masih ada orang yang kekurangan. Sikap ini membuat beberapa orang merasa masih belum cukup dengan semua kelimpahan yang ia miliki. Bahkan iapun masih menginginkan milik orang lain. Lalu mewujudkan keinginannya itu dengan menghalalkan segala cara. Sadarilah bahwa sikap seperti ini suatu saat akan mendatangkan bencana bagi semua orang yang bersalah. Tuhan memiliki jalan-Nya sendiri untuk memurnikan/ mensucikan manusia yang serakah.

  2. Kesombongan vs iri hati.

    Pertarungan antara kesombongan dan iri hati telah terjadi sejak zaman dahulu kala. Ketika ada orang yang bersikap sombong maka orang lain akan iri lalu melakukan hal yang sama. Demikian jugalah dengan dunia yang ada saat ini. Kesombongan kalangan atas hanya membuat orang-orang di negara ini turut mengejar kekayaan dan kemewahan materi yang beresiko tinggi meningkatkan pencemaran lingkungan.

    Sifat sombong adalah sebuah momok yang menyeramkan dan membuat manusia bak hewan buas di alam liar yang melakukan segala sesutu dengan semena-mena karena mereka diri sudah hebat. Sikap angkuh adalah sebuah batu sandungan yang membuat seseorang tidak peduli dengan sesama termasuk dengan lingkungan sekitar.

    Ketidakpedulian ini membuat seseorang melegalkan segala cara untuk mewujudkan rencananya. Menekan lingkungan, menyisihkan pohon-pohon, membunuh hewan liar untuk meraih semua cita-citanya melebarkan sayap sampai ke ujung dunia. Keangkuhan untuk menguasai ini dan itu bahkan menguasai dunia adalah awal bencana yang dimulai dengan menyisihkan lingkungan alamiah sebagai penjaga kehidupan (The Guardian).

  3. Kecerdasan.

    Kemampuan berpikir yang tidak terbatas membuat manusia bisa melakukan apa saja. Apabila pikiran tidak tenang niscaya seseorang akan menjadi liar dalam bertindak untuk mewujudkan cita-citanya tersebut. Kecerdasan membuat manusia mampu mengeksploitasi berbagai-bagai kekayaan alam di sekitar kita. Namun harap berhati-hati karena eksplorasi secara berlebihan akan mengganggu ekosistem alami, menimbulkan bencana sehingga memperpendek umur bumi.

    Hati-hati dengan imajinasi anda, sebab terkadang hal itu terlalu besar dan terlalu beresiko untuk diwujudkan dalam kehidupan nyata. Lebih baik anda mendorong imajinasi tersebut untuk menghasilkan sebuah karya seni untuk dinikmati oleh banyak orang, misalnya lagu, drama, film, lukisan, seni  rupa dan lain sebagainya.

  4. Teknologi.

    Berbagai teknologi mesin dan komputer telah ditemukan dimana semuanya itu membutuhkan energi untuk menggerakkannya. Apabila pemanfaatan teknologi ini tidak dilakukan secara terpimpin dan tidak ramah lingkungan alhasil energi yang dilepaskan saat menggerakkannya akan memenuhi udara sehingga memepercepat pemanasan global.

    Kecanduan manusia terhadap teknologi telah mencapai titik terburuk sepanjang sejarah sebab teknologi dijadikan budak. Keadaan ini membuat seseorang tidak beraktivitas seharian penuh. Malahan terus tenggelam dalam hawa nafsu sesat-lebay, kebinatangan dan kejahatan lainnya karena aktivitas pikiran nol (pikiran kosong). Secara tidak langsung penggunaan teknologi yang tidak terkendali dan berlebihan (misalnya demi kenyamanan) telah membodohi manusia.

  5. Uang.

    Uang yang terlalu banyak membuat seseorang memiliki keleluasaan tanpa batas untuk melakukan segala sesuatu. Kesempatan ini bisa saja dimanfaatkan untuk merusak bumi dengan dalil untuk kepentingan tertentu. Akibatnya lingkungan alami dikorbankan untuk kepentingan sempit kelompok atau orang tertentu.

  6. Sikap boros.

    Sikap yang menggunakan energi tanpa kendali adalah sebuah batu sandungan yang dapat merusak ekosistem alamiah. Setiap orang harus menggunakannya dengan tanggung jawab penuh. Boros merupakan suatu keinginan untuk menghambur-hamburkan sumber daya yang ada sehingga menyebabkan menipisnya sumber daya. Keadaan ini membuat potensi yang masih tersisa menjadi sangat mahal untuk dimiliki oleh semua orang. Akibatnya, satu orang sejahtera sedangkan yang lainnya merana karena kelaparan.

    Sikap yang seperti inipun suatu saat akan menghabiskan semua sumber daya yang tersisa sehingga energinya dibebaskan ke udara akibatnya pemanasan global dan bencana alampun terjadi.

  7. Maunya kenyamanan dan kemewahan pribadi.

    Keinginan untuk menikmati kemewahan pribadi adalah sebuah awal dari kehancuran bagi lingkungan. Sebab demi mewujudkan suatu kenyamanan dan kemewahan lebay butuh sumber daya yang tidak sedikit menyebabkan kerusakan lingkungan yang besar.

    Kemewahan dan kenyamanan yang bersifat pribadi membuat ketergantungan manusia akan energi minyak bumi sangatlah tinggi. Keadaan ini membuat cadangan BBM bakalan cepat menipis sehingga menjadi bahan rebutan antar negara-negara yang berkuasa saat itu.

  8. Sikap konsumtif yang tidak terkendali.

    Kebiasaan menggunakan segala sesuatu secara berlebihan & terus menerus akan menghabiskan sumber daya dengan cepat. Artinya, semakin banyak energi yang dibebaskan ke udara. Penumpukan ini menyebabkan tingginya suhu permukaan bumi atau dikenal juga sebagai global warming. Sadarilah bahwa pemanasan global yang terus terjadi akan memperpendek umur bumi.

  9. Pembalakan liar, alih fungsi hutan, penebangan pohon besar-besaran.

    Penebangan hutan yang tidak terkendali untuk dimanfaatkan membangun berbagai fasilitas mengandung bahaya laten yang suatu saat akan menyebabkan bencana alam yang memakan korban jiwa.

    Membabat hutan dan menebang pohon juga sama artinya dengan mengurangi kemampuan alam untuk menyerap energi matahari yang terbebas. Artinya suhu permukaan dunia akan semakin naik dari tahun ke tahun dimana akan menimbulkan bencana gelombang panas yang menelan korban tidak sedikit.

    Jika keadaan ini terus berlanjut maka bumi berada diambang kehancuran.

Ingatlah bahwa segala sesuatu yang ada disekitar kita ditujukan untuk hidup yang lebih baik. Tapi bukan dalam arti untuk mencapai hidup yang lebih baik kita dapat merusak lingkungan alamiah. Sebab manusia hanya tahu melepaskan energi sedangkan tumbuhan hijaulah yang mengikatnya kembali. Keseimbangan antara kedua proses ini adalah syarat kunci dari bumi yang panjang umur. Oleh karena itu, alangkah lebih baik bila ekploitasi yang dilakukan terhadap sumber daya alam tidak berlebihan agar anak cucu kitapun kelak masih bisa menikmati indahnya dunia ini.

Salam hijau!

Iklan

1 reply »

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s