Gejolak Sosial

9 Cara Mengembangkan Kekebalan Emosional Yang Tahan Uji – Daya Tahan Emosi (Imunitas Emosional) Yang Kuat Tapi Lembut

Cara Mengembangkan Kekebalan Emosional Yang Tahan Uji – Daya Tahan Emosi (Imunitas Emosional) Yang Kuat Tapi Lembut

Kekebalan adalah keadaan (sifat, hal) kebal; daya tahan. Sedangkan kebal adalah (1) tidak mempan senjata; tidak dapat terlukai oleh senjata; (2) tidak dapat terkena sakit; tahan terhadap penyakit; (3) tidak dapat dituntut dalam perkara; (4) tidak mempan oleh caci maki; tidak malu lagi biarpun dicaci maki; tebal kulit (KBBI Offline). Merupakan kemampuan daya tahan sisi emosional seseorang ketika mengalami pergolakan pribadi maupun gejolak sosial.

Daya tahan emosi sama dengan sistem imun tubuh manusia yang terus berkembang

Saat masih bayi, daya tahan tubuh (fisik) sangatlah rapuh sehingga besar kemungkinan mengalami sakit kedepannya. Orang tua dengan setia dan sungguh-sungguh menjaga agar sebisa-bisanya sikecil jangan sampai mengalami sakit-penyakit. Sekalipun demikian, sudah pastilah semua dari kita yang membaca tulisan ini, pernah sakit ketika masih kecil dahulu. Bahkan kami sendiri mengakui bahwa dahulu menjadi seorang anak yang penyakitan (dikit-dikit sakit). Ini adalah bagian dari proses belajar, dimana sistem imun berusaha mengenali dunia luar, memetakannya dan merangsang pembentukan suatu antibodi untuk melawan kuman pembawa penyakit. Demikian jugalah dengan sistem imun emosional manusia.

Kekebalan emosional bertumbuh dari nol begitu manusia dilahirkan

Harus diketahui bahwa sejak masa janin hingga menjadi bayi lalu balita dan anak, manusia tinggal dalam kenyamanan hidup yang sangat kondusif karena dijaga ketat oleh orang tua. Kenyamanan hidup semacam ini, mendorong kita untuk memiliki mental yang rapuh sehingga bertemu masalah sedikit saja (sekalipun sebenarnya kita hanyalah korban dari fitnah, bully, penghinaan dan ejekan lainnya) pastu sudah membuat diri ini sakit hati, mungkin beberapa menangis tersedu-sedu. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, masalah demi masalah yang datang melatih mental ini menjadi lebih kuat sehingga dapat bertahan ditengah kerasnya hidup (ujian kehidupan).

Berani keluar dari zona nyaman untuk menguji diri sendiri

Dalam hidup ini terkadang kita harus berani ambil resiko lalu keluar dari zona nyaman. Misalnya, kita sudah tahu sikawan ini tidak ada ramah-ramahnya namun tetap menyambutnya dengan lembut. Ini jelas beresiko dicuekin namun dibalik aksi heroik ini cerdaslah juga dalam memberi perhatian. Pastikan dia mendengarkan kata-kata anda, misalnya saja dengan menyentuhnya, tidak menyampaikannya saat dia sedang berkomunikasi serius dengan orang lain dan lain sebagainya. Dibalik semuanya itu, jangan takut diabaikan melainkan jika mereka masih tidak merespon, tetap positif lalu lanjutkanlah aktivitas anda. Tumbuh kembangnya mental anda sangat tergantung dari konsistensi, kebiasaan dan budaya hidup positif yang ditekuni.

Jaman sekarang, sudah jarang orang yang mau bermasalah dengan sesamanya sebab tidak ada lagi yang harus diperebutkan/ dilombakan/ disaing-saingi di dalam kesetaraan. Sebab itu, baik bagi anda untuk menguji diri sendiri dengan cara tekun dan konsisten berbuat baik kepada sesama manusia. Salah satu kebaikan yang sangat mudah diaplikasikan kepada siapapun termasuk orang yang tidak dikenal adalah ramah tamah. Senyum, sapa dan sentuh merupakan cepat dan praktis untuk menguji diri sendiri dengan demikian sistem imunitas emosional anda terus tumbuh dan berkembang. Tekuni itu, biasakan diri sehingga menjadi budaya yang mendatangkan kepuasan tersendiri. Semua pergumulan hidup ini akan (1) merangsang kecerdasan intelektual dan (2) emosional yang dimiliki sehingga (3) mampu mengendalikan diri, (4) tetap tenang dalam kesulitan, (5) bertahan dalam pencobaan dan (6) juga lembut dalam bersikap.

Mereka yang imunitas emosinya rendah akan terseleksi

Sayang, beberapa orang tidak mampu bertahan di tengah pencobaan yang begitu banyak (mengalami seleksi sosial). Mereka malah terlalu tenggelam dalam emosinya lalu lari dari kenyataan, larut dalam kepahitan rasa, melakukan kesalahan fatal, merugikan orang lain dan diri sendiri hingga akhirnya tersisih dari kehidupan sosial (masuk panti rehabilitasi sosial atau masuk lembaga pemasyarakatan (lapas – penjara)). Oleh karena itu, (1) biarkan diri anda tertekan mulai dari sekarang, (2) ikhlaskan diri mengalami pergumulan hidup dan (3) terima semua apa adanya lalu (4) bertahanlah di tengah pahitnya rasa sakit sambil (5) tetap melanjutkan kebiasaan baik yang ditekuni setiap hari (misalnya belajar, bekerja, berolahraga dan sebagainya). Jangan kasihmu kendur karena rintangan hidup. Sebab semuanya itu, akan mendatangkan kebaikan di dalam dirimu.

Anda harus hidup bergaul dengan sesama dan biarkan ujian itu datang dengan sendirinya

Karena begitu pentingnya ujian sosial ini, maka hidup bersosial/ berbaur/ bergaul dengan orang lain sangat dibutuhkan. Anda tidak bisa mengasah diri sendiri melainkan setidaknya ada dua orang yang terlibat yakni “besi menajamkan besi”. Utuk membuat sebilah pedang menjadi tajam, dibutuhkan batu asah : untuk membuat diri ini lulus uji maka kita perlu dekat-dekat dengan sesama manusia. Di dalam kedekatan dengan sesama inilah kita masing-masing saling mengasah potensi yang dimiliki lewat perbedaan, ujian komunikasi, kekhilafan dan kesalahan yang dilakukan. Akan tetapi, biarlah itu terjadi secara otomatis, sebaiknya HINDARI MERENCANAKAN UNTUK MENGUJI ORANG LAIN. Sadarilah bahwa hal-hal yang direncanakan menimbulakan banyak dosa dan rasa bersalah. Oleh karena itu, apapun yang anda lakukan biarkan semuanya mengalir seperti air.

Selalu pegang pelipur lara terbaik sedunia

Ingat kuncinya adalah “jadilah garam dan terang bagi dunia ini”. Jika anda menemukan kebermanfaatan diri sendiri di hadapan Sang Pencipta dan juga untuk menyatakan kebaikan (kasih-Nya) kepada sesama manusia maka kedua hal ini sudah lebih dari cukup sebagai penghibur hatimu. Ingat bahwa kita semua diciptakan sehingga sudah otomatis hasrat di dalam hati ini yang kami sebut sebagai nafas kebenaran menjadi tujuan hidup kita. Yakni ketika disegala waktu dan situasi kita selalu terhubung dengan Sang Pencipta dalam doa, firman dan nyanyian pujian bagi kemulian nama-Nya.

Kemudian kebermanfaatan bagi sesama kita landaskan untuk menyatakan kasih Tuhan kepada dunia ini dimulai dari hal-hal kecil. Misalnya ramah-tamah kepada setiap orang yang dikenal dan yang memandangmu dengan serius, menjadi pendengar yang baik, selanjutnya silahkan berbuat baik (berbagi kasih) kepada sesama sesuai dengan potensi dan sumber daya yang dimiliki. Pada dasarnya setiap kali anda bergaul dengan orang lain pasti ada juga kesempatan untuk menjadi bermanfaat, setidak-tidaknya dalam hal komunikasi (ramah tamah, pendengar yang baik) maupun dalam hal tindakan sehari-hari (dalam study dan pekerjaan yang dilakukan bersama).

Cara mengembangkan kekebalan emosi yang kuat tapi lembut

Seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa anda harus “cari cari masalah dengan orang lain”, sebab lewat semuanya itulah kita belajar lebih. Ujian kedewasaan tidaklah sama dengan ujian tertulis saat anda sekolah atau kuliah. Melainkan hal ini LEBIH BAIK PRAKTEK DARIPADA TEORI. Semua yang kami tulis sampai larut malam disini akan menjadi sia-sia jika anda “tidak ingin bermasalah dengan orang lain alias melewati jalur aman alias tetap dalam zona nyaman”. Berikut ini beberapa cara mengembangkan sistem imun emosional yang lebih baik dari hari ke hari.

  1. Komitmen yang bulat.

    Anda harus memiliki visi yang sesuai bila perlu sama dengan visinya Tuhan. Bila anda memiliki tujuan yang berbeda dengan kehendak-Nya maka adalah mustahil dapat terjadi sinkronisasi yang langgeng saat anda memanggil dan menyebut nama-Nya dalam doa, firman dan puji-pujian.

    Miliki tekad yang bulat untuk menjadi seorang manusia yang tahan uji tapi tetap baik kepada siapapun. Saat kondisi sedang memburuk (hati sedang galau dan sedih) ingat-ingatlah dengan komitmen yang telah anda ambil sejak dari awal sehingga kesedihan/ kegalauan itu dapat terkikis dan diredam bahkan tenggelam seiring berjalannya waktu.

  2. Bertekun dalam kebenaran sejati.

    Yang pertama, selain memiliki visinya Tuhan, andapun harus selalu memusatkan pikiran kepada Yang Maha Kuasa. Pikiranmu adalah pengendali seluruh tubuh. Baik tidaknya sikap: perilaku dan perkataan ditentukan oleh isi hatimu. Upayakan untuk selalu terhubungan dengan Yang Maha Kuasa, seolah Ia disisimu. Bercakap-cakaplah dengan-Nya dalam doa, firman dan nyanyian pujian.

    Yang kedua, ini selalu sejalan dengan yang pertama. Tidak pernah keduanya saling bertentangan. Oleh karena itu dimanapun dan kapanpun dalam kehidupan ini, mari menyatakan kasih Tuhan dengan menjadi bermanfaat bagi sesama. Ini dapat kita lakukan di dalam keluarga, sekolah (pendidikan yang ditempuh), pekerjaan (apa yang dilakukan bermanfaat untuk sistem) dan dimanapun berada yang dimulai dari hal-hal yang kecil.

  3. Menjadi bahagia dalam segala waktu dan sikon (situasi dan kondisi).

    Anda harus menjaga kebahagiaan di dalam hati. Jangan biarkan kenangan buruk di masa lalu menghantui pikiranmu terus menerus. Perlu juga menghilangkan kekuatiran tentang masa depan dari dalam pikiran sendiri. Hindari berkutak (fokus) pada masalahmu melainkan temukan solusinya. Daripada anda memusatkan perhatian pada masa lalu, masa depan dan pada masalah maka lebih baik jikalau anda memusatkan perhatian kepada Tuhan dalam nyanyian puji-pujian baik lewat alat musik, mulut juga di dalam hati sendiri.

    Jangan biarkan hatimu keruh oleh masalah (misal fitnah, penghinaan dan bully). Melainkan anda harus mampu kembali merefresh (mengatur ulang) mindset sehingga bahagia dan ketenangan di dalam hati kembali lagi. Misalnya dengan mengatakan : “(1) hal itu sudah seharusnya terjadi, (2) saya pantas mendapatkannya, (3) bersyukur buat semuanya itu, (4) kuatkan hatiku ya Tuhan”. Sugesti-sugesti semacam ini dapat menenangkan hati anda. Akan tetapi, dibalik semuanya itu tergantung dari kebiasaan selama ini. Semakin terbiasa semakin baik pelaksanaannya.

    Kebahagiaan di dalam hati sangat menentukan kemampuan anda untuk bisa kembali positif ketika mengalami kesulitan sehingga siap sedia untuk menyambut kesulitan yang lainnya. Jika anda tidak mampu berbahagia dalam artian tidak mampu berbersihkan hati dari rasa kesal (belum dimaafkan) maka rasa sakit itu akan tetap ada bahkan menumpuk-numpuk di dalam hati ini hingga suatu saat meledak sampai menimbulkan amarah dan perilaku yang syarat dengan kekerasan.

  4. Keluar dari zona nyaman.

    Saat kami mengatakan untuk keluar dari rasa nyaman, bukan berarti juga anda harus ramah kepada seseorang yang bahkan tidak melihatmu sama sekali. Bijaklah dalam bersikap tetapi khusus bagi mereka yang sengaja mempermain-mainkanmu maka ada kalanya anda membiarkan diri untuk dipermainkan dan juga ada kalanya anda menghindarinya, semuanya tergantung dari suasana hati. Jika hatimu sedang bahagia maka hadapi dengan kerendahan hati. Akan tetapi jika suasana hati lagi tidak stabil maka anda berhak untuk mengabaikan dan menghindarinya.

  5. Kuatkan hati tetapi lembutlah dalam bersikap.

    Kekuatan hati berhubungan erat dengan kemampuan mempertahankan kekuatan dan kebahagiaan di dalam hati dalam segala situasi (lihat point 3 tentang menjadi bahagia). Kelembutan itu dimulai dari sikap yang ramah dan harus dibiasakan. Jika belum dibiasakan maka saat situasi memburuk kelembutan itu akan raib di telan buruknya situasi. Akan tetapi ketika anda telah membiasakannya niscaya di dalam dapur pencobaan sekalipun, sikap tetap lembut kepada sesama.

  6. Biasa saja dalam bersikap (datar) alias tidak sombong.

    Sikap yang tinggi hati cenderung menolak ujian kehidupan yang dialami. Mereka merasa tidak pantas diuji oleh orang lain lalu menolaknya sampai melakukan aksi balasan dengan berbuat hal yang sama (menguji orang yang mengujinya). Hasratnya untuk balas dendam sangatlah tinggi. Jika anda mulai merasakan hal-hal semacam ini dalam hatimu maka segera kikis, tekan bahkan hancurkan rasa sombong itu agar tidak sampai mengeraskan hatimu sehingga berujung pada aksi balas dendam yang syarat dengan kekerasan dan anarkisme. Jika kesombongan masih bercokol di dalam hati maka sulit sekali menerima ujian dari orang lain. Hanya orang-orang yang rendah hatilah yang membiarkan dirinya untuk ditempa oleh situasi yang sulit.

  7. Tenang dan santai menjalani hari.

    Ketenangan hati adalah bebas dari rasa bersalah. Inilah permulaan yang menjadi dasar yang teguh untuk membuat hati tenang. Jika anda masih tetap tidak mampu menenangkan hati berarti anda telah berbuat khilaf selama ini. Oleh karena itu, ada baiknya jikalau membersihkan semua unek-unek itu terlebih dahulu dengan menyampaikan maaf kepada Tuhan dan juga kepada siapa anda bersalah. Hati yang tetap tenang juga berhubungan dengan kemampuan untuk berkonsentrasi ditengah keadaan yang sukar. Jangan biarkan pikiranmu kosong melainkan selalu isi hatimu dengan berbagai-bagai hal yang positif. Misalnya fokus kepada Tuhan, ilmu pengetahuan, pelajaran di sekolah, pelajaran di bangku kuliah, pada tulisan/ buku tertentu.

    Sikap ini juga berhubungan dengan kecepatan dalam mengerjakan segala sesuatu. Setiap orang memiliki kecepatan sendiri-sendiri dalam bekerja. Hal ini jauh dari kata tergesa-gesa melainkan semuanya dilalui dengan santai dimana setiap tapak kaki yang dilangkahkan dapat dinikmati, bukan saja oleh badan (fisik) melainkan juga oleh hati.

  8. Hiduplah mengalir seperti air.

    Hidup seperti air itu apa adanya, tidak lebih dan tidak kurang. Hindari memaksakan kehendak kepada orang lain melainkan cukup diingatkan saja. Satu-satunya yang dapat memaksa adalah hukum.

    Ikuti arus pergerakan sosial dilingkungan sekitar anda namun jangan hanyut diseret oleh hal-hal yang tidak baik yang ada disana.

    Bercampurlah dalam riuhnya suasana yang dihadapi namun hindari terlarut untuk turut ikut dalam kejahatan yang mereka lakukan dan katakan.

  9. Konsisten menekuni semuanya itu hingga menjadi budaya.

    Aktivitas yang diulang-ulang akan menjadi rutinitas. Saat utinitas yang dilakukan terus menerus akan menjadi kebiasaan. Ketika kebiasaan ditekuni dengan penuh kesungguhan maka akan menjadi budaya yang mendatangkan kepuasan tersendiri.

    Jika anda sudah membudayakan hal-hal yang baik dalam keseharian ini maka tanpa harus diingatkanpun kebaikan itu akan keluar dengan sendirinya (otomatis). Bahkan di dalam tekanan/ kesulitan sekalipun kebiasaan baik itu tetap dilakukan. Sikap yang konsisten adalah perilaku dan perkataan yang telah membudaya sehingga untuk melakukannya tidak butuh perintah melainkan terjadi begitu saja secara otomatis.

Saat masih kecil kekebalan emosional anda berada dalam taraf terendah (nol). Namun seiring berjalannya waktu maka ada banyak pergumulan yang dialami baik oleh karena kesalahan sendiri, kesalahan orang lain maupun yang tidak disengaja. Oleh karena itu, (1) biarkan diri anda tertekan mulai dari sekarang, (2) ikhlaskan diri mengalami pergumulan hidup dan (3) terima semua apa adanya lalu (4) bertahanlah di tengah pahitnya rasa sakit sambil (5) tetap melanjutkan kebiasaan baik yang ditekuni sehari-hari. Niscaya imunitas emosi anda akan menjadi lebih baik

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s