Gejolak Sosial

Keadilan Sosial Adalah Mutlak Untuk Indonesia Yang Lebih Baik – Negara Yang Murah Hati Menjunjung Tinggi Kemanusiaan dan Perbedaan

Keadilan Sosial Adalah Mutlak Untuk Indonesia Yang Lebih Baik

Kristen sejati – Keadilan sosial adalah isu yang sangat hangat dibicarakan di seluruh Indonesia saat ini. Bahkan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta dalam pemilu 19 April 2017 yang lalu menghembuskan isu tersebut sehingga membantu kemenangannya untuk DKI I. Ini memang sudah sepantasnya sebab selama ini sumber daya yang besar hanya jadi makanan kunyahan orang-orang yang duduk dipemerintahan (eksekutif) dan koleganya (legislatif dan yudikatif). Sayang, berkat yang besar itu kini telah membawa sial dalam kehidupan mereka sebab rasa bersalah karena jeritan rakyat menghantui malam-malam yang mereka lalui bahkan dalam setiap hembusan nafasnyapun hal tersebut akan terasa mengganjal dan membuat tangan dan kaki gemetaran.

Sistem kapitalis (oknum) merusak manusia dan merusak lingkungan

Penumpukan sumber daya dikalangan orang-orang tertentu saja pada awalnya akan membuat mereka terlihat senang dan waw…. Akan tetapi lama kelamaan kekayaan mereka (oknum) akan membuatnya (dan keluarganya juga) tenggelam dalam kenyamanan yang berujung pada sifat

  • manja,
  • materialistis,
  • menggilakan pujian,
  • ingin dihargai,
  • ingin dihormati,
  • tinggi nafsu terhadap popularitas,
  • tidak mau diganggu dan
  • lebih suka menyendiri.

Belum lagi masalah lingkungan yang mereka timbulkan karena pemborosan sumber daya tersebut, seperti dihasilkannya sampah lebih banyak, dirusaknya hutan, pencemaran tanah, air dan udara, merugikan orang lain, menggiring sekelompok orang untuk berbuat jahat (mencuri, menjadi pekerja seks dan menjadi preman). Pada akhirnya, kapitalis yang moralnya bobrok akan menyeret lebih banyak orang dalam dosa dan lingkunganpun terdegradasi.

Sistem kapitalis yang membodohi orang lain demi uang sudah tidak relevan dan membuat kita tidak akan pernah maju

Sistem kapitalis tidak suka bermurah hati. Mereka akan mengangkat orang yang dianggapnya pantas dan merendahkan orang yang dianggapnya murahan. Bahkan bisa dikatakan bahwa orang-orang ini hampir tidak punya hati. Yang semakin diperparah dengan keserakahan. Sebab mereka mengaburkan kebenaran lalu membiarkan orang lain terperosok ke dalam jurang yang dalam. Ending-nya, mereka akan datang bak super hero (pahlawan super) yang menawarkan pertolongan untuk orang-orang tersebut. Padahal sempat jatuh korban jiwa alias selalu ada pihak-pihak tertentu yang dikorbankan. Kapitalis akan terus menerus bertambah-tambah kaya raya sedangkan yang miskin tetap miskin.

Para ilmuan licik (oknum) telah mengaburkan ilmu pengetahuan yang benar sehingga dengan belajar saja manusia tidak akan pernah pintar karena kepandaiannya hanya mampu mengurai hal-hal yang berbau fiksi (khayalan) semata. Keserakahan orang-orang cerdas melegalkan mereka untuk menjadi kapitalis atas seluruh negeri. Sehingga seluruh sumber daya ditampung terus olehnya sedang dengan sumber daya yang besar itu, iapun dapat bertindak semena-mena bahkan termasuk melakukan/ membiayai perbuatan menyimpang.

Bila perekonomian Indonesia dibangun atas dasar mengkaburkan kebenaran maka ada kecenderungan negeri ini akan mengalami stagnasi. Sebab hanya berkutak (terlena) untuk membodoh-bodohi orang lain. Padahal mungkin saja dari antara 0rang-orang yang dibodohi tersebut terdapat pribadi-pribadi pembaharu yang dapat mendatangkan perubahan besar dalam kehidupan umat manusia. Oleh karena itu, ungkapkan kebenarannya maka biarkan orang lain mengembangkannya sebab saat kita bergotong royong akan lebih banyak dihasilkan ide-ide baru yang membangun.

Kapitalis hanya mementingkan diri sendiri tetapi kebersamaan membuat semua orang sejahtera

Selama kapitalis berkuasa atas negeri ini maka selama itu pula kehidupan kita seolah di tawan oleh kepentingan mereka sehingga terus menerus diperbudak oleh kepentingan sempit tersebut. Oleh karena itu,  kami selalu berusaha untuk menggiring semua orang dalam pengertian, nikmat, kasih dan pengetahuan yang sama dengan apa yang dirasakan oleh diri sendiri (kesetaraan). Pola yang sama akan menjadi sebuah pedoman bagi orang lain sehingga mereka turut dalam kebahagiaan yang sedang berlangsung. Pada akhirnya, semua nikmat yang tersedia tidak hanya  dirasakan oleh diri sendiri atau kalangan terntentu saja melainkan juga semua orang turut dalam sukacita yang sama.

Lagi-lagi perumpamaan tentang keadilan sosial yang datangnya daripada Tuhan

Perhatikanlah baik-baik perumpamaan yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-muridnya, termasuk kita dalam Matius 20:1-16, demikianlah bunyinya :

 “Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.”

Tuhan adalah Allah yang sangat adil

Simaklah baika-baik perumpamaan di atas dan anda jelas akan menemukan bahwa TUHAN ITU SANGATLAH ADIL. Ia tetap mengupah orang sama sekalipun diantara para pekerja tersebut terdapat yang hanya bekerja satu jam saja. BEGINILAH SEHARUSNYA NEGARA MENGGAJI SEMUA ORANG SAMA RATA. Jikalau pemerintah adalah utusan Tuhan dan bukan menjadi bagian dari kapitalis yang membodoh-bodohi bangsanya sendiri maka sudah seharusnya pemerataan pendapatan diperjuangkan oleh semua kalangan masyarakat. Dengan demikian mari menyatakan bahwa bangsa Indonesia adalah negara yang percaya tentang adanya Tuhan yang lebih tinggi dan lebih berkuasa atas kita (sila pertama Pancasila).

Pemerataan sumber daya uang (penggajian) adalah kunci kemajuan bersama tanpa harus mengorbankan yang lainnya

Tanpa pengendalian dan pemerataan sumber daya maka orang yang pintar-pintar akan bekerja lebih giat dari sesamanya untuk menghasilkan uang dan uang. Kemudian uang yang telah mereka hasilkan tersebut akan dijadikan sebagai bahan pengacau yang akan menimbulkan gejolak dan menyababkan jatuhnya korban yang tidak sedikit. Belum lagi masalah kejahatan dan kerusakan lingkungan yang mereka timbulkan oleh karena memiliki uang yang terlalu banyak. Lagi pula semua uang yang melimpah itu menggiring mereka untuk menjadi egois dan cenderung antisosial.

Pemerataan pendapatan tidak hanya bermanfaat untuk mengendalikan hawa nafsu dan keserakahan manusia. Melainkan hal ini juga akan menjadi sebuah cara untuk menciptakan stabilitas keamanan nasional luar dalam. Di dalam keadilan sosial ada yang namanya kebersamaan yang diwujudkan dalam tindakan kerja sama (gotong royong) antara satu dengan yang lainnya. Kebiasaan bergotong royong inilah yang akan memajukan seluruh komponen bangsa, bukan hanya kalangan tertentu saja melainkan seluruh umat akan mencicipi rasa adil yang sama dan setara.

Perbedaan itu selalu ada (manusiawi) justru di sanalah kita hadir untuk saling melengkapi satu sama lain sehingga ada keseimbangan

Manusia dilahirkan dengan bakat yang berbeda-beda. Ada yang terlahir sebagai pribadi yang memiliki otot dan tulang yang kekar tetapi ada pula manusia yang terlahir untuk memiliki otak yang kuat: inilah yang kami sebut manusiawi. Jika kita menakar kemampuan satu-satu orang dengan mengapresiasikannya secara berbeda-beda maka apa bedanya perilaku ini dengan yang namanya “menghakimi orang lain”. Padahal Tuhan sendiri telah melarang agar kita tidak saling menghakimi melainkan pembalasan 100% merupakan hak Tuhan.

Harus di pahami bahwa dunia ini syarat dengan perbedaan. Bahkan diantara manusia yang kembar siam saja pasti ada hal-hal yang berbeda. Jika dari fisiknya sama maka hal tersebut akan menjadi kentara dari sifat-sifat yang diekspresikan satu sama lain. Setiap orang menjalankan peran yang berbeda dengan yang lainnya dimana dengan peran tersebut ia menyatakan kasih Allah (kebaikan hatinya – bermanfaat) kepada sesama. Tidak ada pertentangan yang harus dipermasalahkan dalam setiap perbedaan yang terjadi karena justru disanalah kita saling melengkapi satu-sama lain sehingga terciptalah sebuah sistem yang sempurna dan seimbang.

Oleh karena itu, pemerintah harus mampu memutar dan membagi sumber daya yang ada. Apa-apa saja yang dapat diperbaharui harus sedapat mungkin dicicipi oleh seluruh rakyat banyak. Jikalau ini tidak dimungkinkan untuk serentak maka bisa dibagikan secara bergilir sehingga semua orang bisa menikmatinya pada waktu-waktu tertentu. Pada akhirnya, sosialis bukan masalah uang melainkan bagaimana agar semua orang mendapatkan jatah yang sama untuk setiap sumber daya yang ada. Tidak hanya sistem penggajian yang harus disetarakan melainkan kekuasaan juga harus diserahkan/ dikembalikan di tangan masyarakat (domokrasi rakyat) dan di dalam kehendak Tuhan (demokrasi Tuhan) sehingga sempurnalah demokrasi sosialis milik Indonesia.

Salam demi Indonesia yang lebih baik….

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s