Gejolak Sosial

10 Manfaat Kenikmatan Duniawi – Beroleh Gemerlapan Duniawi Bukan Jaminan Kebahagiaan

Manfaat Kenikmatan Duniawi - Beroleh Gemerlapan Duniawi Bukan Jaminan Kebahagiaan

Manusia begitu naif untuk mengakui eksistensi kehidupannya di dunia ini. Kita telah ribuan tahun hidup di dunia yang fana ini namun masih banyak orang yang tidak mampu memahami dirinya sendiri dan orang lain juga lingkungan alamiah disekitarnya. Akibat kenaifan ini, kita cenderung berlelah untuk sesuatu yang sebenarnya tidak ada harganya yang pada akhirnya menggiring hari yang akan datang kelak dalam kebinasaan yang tidak pernah berakhir/ abadi atau lebih keren lagi bila disebutkan sebagai neraka.

Ada begitu banyak orang cerdas di sana dan di sini, di belahan bumi yang ini dan yang itu tapi sayang kecerdasan mereka tidak digunakan untuk menyelesaikan masalah melainkan merekalah si pembuat masalah itu. Entah apa yang terjadi kepada orang di zaman sekarang, seolah mereka berteriak maling padahal dia sendirilah yang melakukannya secara diam-diam. Kita telah dibutakan oleh indra dengan lebih cenderung untuk menginginkan sesuatu yang lebih menarik secara fisik lalu mengabaikan nilai-nilai yang benar yang terkandung didalamnya.

Kita merasa bahwa hidup ini berorientasi pada indra, menganggap segala sesuatu akan dapat diselesaikan jikalau mata, telinga, hidung, lidah dan kulit terpapar oleh hal-hal yang indah. Dari sinilah awal dari penyimpangan itu, dimana orang-orang tidak mengerti bahwa manusia terdiri dari dua komponen kehidupan. Sadarilah bahwa kita bukanlah hasil teknologi: komputerisasi atau robotik melainkan manusia adalah ciptaan yang alami dan organik.

Setiap dari kita harus mampu mamahami fakta bahwa diri ini terdiri dari dua komponen utama yaitu fisik dan roh. Secara fisik, kehidupan ini sangat dipengaruhi oleh indra dan apa yang kita citrakan dari lingkungan sekitar. Tetapi secara rohani, kehidupan ini lebih dipengaruhi oleh pola pikir (mindset) dan hati yang semuanya termuat dalam struktur yang kompleks dari otak. Kedua komponen ini pada dasarnya saling bekerja sama untuk membentuk figur kepribadian seorang manusia.

Sebagai manusia, sudah seharusnya kita tidak memandang diri ini secara egois lalu lebih menekankan kehidupan pada kepuasan indra. Sebaliknya, kitapun tidak bisa memahami kepribadian semata-mata hanya dalam konteks kepuasan hati (kepuasan roh) yang dimiliki. Melainkan harus selalu ada kerja sama antara kedua komponen ini sehingga menghasilkan suatu rasa yang 100% menarik menurut indra dan 100% juga membuat hati terpukau.

Bila ada kerja sama yang baik antara indra dan hati yang dimiliki maka selanjutnya yang kita perlukan akan lebih mudah dipahami dan dimaklumi. Sebab indra yang identik bahkan dekat dengan hawa nafsu harus dikendalikan oleh hati/ pikiran/ roh yang dipenuhi oleh kebenaran. Bila kita tidak mampu mengendalikan rasa akan gemerlapan dunia ini secara hati-hati maka ada kecenderungan menjadi liar lalu terus saja menginginkan hal-hal yang lebih dan lebih lagi.

Komponen utama kehidupan seorang manusia

 

Manfaat positif dari kenikmatan duniawi

Selama anda mampu menundukkan fisik di bawah kendali kebenaran roh maka selama itu pula kita mampu menikmati dunia ini secara maksimal, terserah besar-kecil wujudnya. Selama anda mampu mengendalikan diri dengan tetap berpikir positif terhadap semua hal yang diterima (jauh dari sungut-sungut, mengeluh dan menyalahkan orang lain) maka selama itu pulalah hati tetap bahagia menikmati hidup apa adanya. Berikut beberapa dampak baik dari gemerlapan duniawi yang dapat dimaknai secara baik.

  1. Memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak bisa dipungkiri bahwa kita ini masih dalam wujud materi sehingga sudah otomatis membutuhkan materi setiap hari. Tapi ingatlah selalu bahwa ada dua kompoenen yang harus kita puaskan dalam hidup ini yakni, fisik dan roh. Hanya memenuhi kebutuhan materi saja (fisik-jasmani) berarti hatimu masih hampa karena belum terpuaskan oleh kebenaran.
  2. Menghibur terbatas. Mau diteruskan lagi waktu tidak cukup (masakan liburan terus?).
  3. Menghilangkan stres sesaat. Mau diteruskan lagi jadi gak berefek karena bosan (Masakan nonton televisi/ mendengarkan radio terus menerus?)
  4. Mendatangkan kepuasan sebentar. Mau dilanjutkan lagi uang tidak cukup (masakan jalan-jalan terus tiap hari ke tempat-tempat indah?)
  5. Membuat bahagia sementara. Mau lanjut lagi ntar penyakitan (Masakan makannya dilanjutkan terus sampai obesitas, diabetes, asam urat, darah tinggi dan penyakit jantung?)
  6. Menghabiskan waktu luang kadang-kadang. Mau lanjut terus main gadgetnya hingga mata perih, punggung sakit dan bokong pegal karena kelamaan duduk?
  7. Memberi perhatian kepada orang lain. Emang membagikan materi bisa dilakukan setiap hari? Setiap waktu bahkan setiap saat? Apa nggak habis tuh?
  8. Meningkatkan gengsi untuk pamer kepada orang lain. Kami kerap menyaksikan bahwa beberapa orang menyerang (lebih tepatnya merendahkan) sesamanya lewat kelebihan materi yang dimilikinya.
  9. Memberi rasa aman tapi tidak menjaminnya. Hanya mengamankan fisik saja dalam tembok-tembok yang tebal dan pagar-pagar yang tinggi tetapi belum tentu hati damai terlebih ketika menghadapi ujian kehidupan.
  10. Hidup dalam kemewahan. Tidak tahukah anda bahwa kemewahanmu menyisakan limbah dan emisi karbon bagi lingkungan sekitar dan rakyat banyak?

Mengapa materi begitu fana? Memiliki dampak hanya sesaat saja? Jawabannya adalah bukan materinya yang salah melainkan hati kita cenderung menginginkannya terus  dan terus sehingga muncullah efek samping yang ditimbulkannya berupa penyakit metabolisme (over dosis materi). Bisa dikatakan bahwa hati ini tetap kosong sehingga kita mencari-cari cara agar selalu mengisinya salah satunya dengan materi. Sayang, diri ini tidak bisa terus menerus terpapar oleh materi sebab resikonya tinggi (misalnya menyebabkan penyakit, over dosis hingga kematian).

Janganlah menjadi orang yang kurang cerdas lalu menganggap bahwa selama di dunia ini hanya butuh materi saja agar bisa hidup. Memang benarlah bahwa materi memenuhi kebutuhan hidup ini akan tetapi ingatlah bahwa ada dua komponen dalam dirimu, jasmani dan rohani. Harus ada keseimbangan antara keduanya bahkan seharusnya kebutuhan jiwamulah yang harus terpenuhi lebih dahulu agar indra dapat dikendalikan dan tidak menginginkan hal-hal yang lebay juga aneh. Oleh karena itu ada baiknya bila kita belajar mengasah kemampuan pikiran (jiwa-roh) untuk mengendalikan tubuh sehingga hawa nafsu tidak merajalela lalu membakar kehidupan kita, kehidupan orang lain bahkan bumi inipun terbakar (buktinya sekarang sedang berlangsung pemanasan global).

Salam tundukkan indra di bawah kendali pikiranmu!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s