Gejolak Sosial

Perang Dunia III, Cara Mencegahnya – Keserakahan Kapitalis Membakar Bumi (The Peak Of Global Warming’s World War 3)


Perang Dunia ke tiga, Cara Mencegahnya - Keserakahan Kapitalis Membakar Bumi (The Peak Of Global Warming's World War 3)

Kesetaraan adalah sebuah tujuan yang menyakitkan untuk kehidupan beberapa orang terutama bagi mereka yang selama ini mencicipi kenyamanan dan kemewahan dari sistem kapitalisme yang sedang berlangsung hingga saat ini. Orang-orang ini hanya melihat materi dan kenikmatan duniawi sebagai dewa yang harus dimiliki, dipuja dan dibanggakan semur hidupnya. Saat mereka terluka dan tersakiti maka akan melarikan diri lalu mengadu sambil mencari penghiburan dari sang dewa – materialis yang dimiliki, dikumpulkan dan telah disimpan selama hidup di dunia ini.

Materi hanya kefanaan yang akan melemahkan manusia itu sendiri

Saking sesatnya kehidupannya, mereka menyetarakan kebahagiaannya dengan jumlah materi/ uang/ kekayaan yang dimiliki. Mendengar gelontongan angka-angka yang berderet itu hatinya berdecak kagum, terpesona sekaligus pusing tujuh keliling. Ia merasa bahwa kenyamanan yang dialaminya adalah sesuatu yang mampu menggiringnya dalam kebahagiaan kekal – selamanya. Sayang, perkiraannya tidak sepenuhnya benar.

Tahukah anda bahwa sehebat, setinggi, seluas, semewah dan semegah apapun gemerlapan duniawi yang anda miliki adalah sebuah kesalahan sistem. Sebab pada dasarnya materi tidak mampu menyentuh hati, pikiran dan emosi namun bisa menjadi alat untuk melakukan/ mengerjakan sesuatu yang hanya memuaskan indra. Lagipula, kita membutuhkannya terus menerus (harus ada setiap waktu) sehingga benar-benar akan menguras sumber daya (uang yang dimiliki). Namun hawa nafsu yang terlalu berlebihan akan menggunakannya tanpa kontrol/ kendali sehingga bisa membuat kecanduan, over dosis, penyakitan bahkan kematian. Belum lagi bencana moral (memburuknya kepribadian) yang dihasilkannya seperti : kemalasan, manja, keras kepala, susah diatur, kesombongan, iri hati, amarah dan kekerasan yang melemahkan mental anggota keluarga sendiri.

Bagan pengaruh buruk materi dan kenikmatan duniawi

Kenikmatan duniawi merusakkan kehidupan alamiah

Pada dasarnya semua kemewahan, kemagahan, keindahan dan gemerlapan dunia yang ada saat ini menghasilkan dua efek yang sangat kentara, yaitu ada sisi baiknya dan ada pula sisi buruknya. Sisi baiknya adalah kebanggaan dan kesenangan sesaat sedangkan sisi buruknya adalah limbah dan emisi. Mengapa kesenangan itu sesaat (5 detik, 5 menit, 5 jam, 5 hari, 5 bulan, 5 tahun saja)? Karena rasa yang ditimbulkannya hanyalah sementara kemudian untuk memunculkannya lagi harus kembali dibeli. Jadi jika ingin mengisi lubang dihati dengan gemerlapan hidup, harus memiliki uang yang banyak dan terus-menerus ada. Sebab lubang di hati ini selalu hampa dan kosong sehingga harus terus-menerus diisi agar hati damai, penuh kelegaan dan selalu bahagia. Jadi, sekarang anda hendak mengisinya dengan materi atau dengan senantiasa fokus kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian?

Fokus Berpikir Manusia Agar Hidup Lebih Berkualitas

Tahukah anda bahwa setelah menikmati sisi baik dari materi lalu siapakah yang menikmati sisi buruknya? Semua emisi karbon dan limbah yang dihasilkan akan mengotori lingkungan: mencemari udara, air dan tanah. Akibatnya, suhu udara menjadi panas bahkan di malam haripun panas, hujan tidak turun-turun, kekeringan dimana-mana, banjir, tanah longsong, banjir bandang, angin topan, angin puting beliung dan lain sebagainya. Semua bencana ini akan menjadi indikator kerusakan lingkungan sehingga kenyamanan yang biasanya dihasilkan lingkungan akan lenyap begitu saja.

Gemerlapan dunia membuat yang gratis menjadi berbayar

Sudah saatnya kita membebaskan diri dari materi lalu berkata CUKUP. Sebab materi dengan segala kenikmatan yang ada didalamnya terlalu fana untuk menyentuh hati manusia. Semua gemerlapan itu hanya akan menarik bumi ini dalam keterpurukan karena emisi karbon dan limbah yang dihasilkan olehnya. Maka terjadilah polusi udara, pencemaran tanah dan air yang mendorong kerusakan lingkungan alamiah. Pada akhirnya, kebutuhan yang terpenuhi, kenyamanan, keindahan dan pesona yang biasanya diperoleh dengan gratis akan diperdagangkan kepada masyarakat.

Kala kerusakan lingkungan merajalela maka kemampuannya untuk memperbaharui sumber daya alam akan menurun bahkan tidak ada sama sekali. Semua yang telah terpakai oleh manusia tidak dapat diganti ulang terlebih ketika hutan dan pepohonan telah di babat habis lewat pembangunan kawasan pertanian, perumahan mewah dan industri.

Kenyamanan yang alamiah biasanya disediakan gratis oleh lingkungan, seperti udara yang sejuk, air hujan yang selalu turun, air minum yang gratis, bahan pangan yang tumbuh subur, pemandangan alam yang indah dan sebagainya. Semua keindahan alamiah yang biasanya diperoleh dengan gratis ini akan beralih secara tersistem lewat destruksi alam yang terus-menerus berlangsung dari hari ke hari. Kini untuk merasakan semua kenyamanan ini, kita harus membelinya dari para kapitalis, mulai dari air (air mineral yang dijual), kesejukan (jualan kipas angin atau AC), keindahan (pemandangan alam di hutan buatan yang berbayar) bahkan oksigenpun di jual secara komersial.

Indonesia saat ini dalam lingkaran pemanasan global

Ketidakadilan sosial yang terjadi saat ini membuat sumber daya uang menumpuk di satu dua orang kapitalis saja. Merekapun menggunakan uang tersebut secara berlebihan untuk membeli ini dan itu, menggunakan ini dan itu, memakai ini dan itu sehingga emisi karbon dan sampah yang terus menumpuk-numpuk di lingkungan. Keadaan ini semakin diperparah oleh karena tidak adanya badan yang mengawasi emisi karbon yang dihasilkan dari dampak pembangunan.

Indonesia terdiri dari dua kelas masyarakat, yaitu kalangan atas (para kapitalis dan penguasa juga semua koleganya) dan kalangan bawah yang terdiri dari rakyat jelata yang tidak tahu apa-apa. Masalahnya sekarang adalah bangunan yang letaknya di lantai atas yang diduduki para kapitalis dan penguasa hanya memuaskan hawa nafsu belaka. Mereka hanya mementingkan diri sendiri dan tidak peduli dengan dampak lingkungan yang timbul dari kemewahan pribadi yang dinikmati.. Sedangkan bangunan bawahnya yang ditempati oleh rakyat jelata (ekonomi menengah ke bawah) sangat membebani mereka. Sumber daya yang diboroskan oleh kalangan atas demi kenikmatan sesaat telah menyebabkan pencemaran udara, pencemaran tanah dan air.

Pada akhirnya semua kerusakan lingkungan ini membuat rakyat jelata tidak dapat lagi hidup tenang dan nyaman, di malam dan siang hari tidur kepanasan, sumber air menipis, air bersih dikomersialkan, hujan tidak lagi turun, kekeringan, kelaparan, bencana alam dan lain sebagainya. Tapi lihatalah orang-orang yang memiliki dana besar, kapitalis, penguasa dan para konco-konconnya duduk elok dengan nyaman dikursinya masing-masing.

Jadi, bisa dikatakan bahwa semua kemajuan pembangunan di negeri ini hanya menguntungkan orang-orang berduit sedangkan mereka yang hidup bertahan dalam lingkungan alamiah (rakyat kecil) akan tertindas bahkan terseleksi oleh anomali cuaca dan bencana alam yang terus terjadi hari lepas hari.

Sumber daya yang langka akan menjadi bahan rebutan – Perang Dunia III

Minyak mentah sebagai sumber energi terbesar di bumi ini akan habis pada waktunya. Ditambah lagi ketika energi terbarukan belum ditemukan sehingga mendorong konsumsi mutiara hitam terus saja meningkat dari tahun ke tahun. Belum lagi masalah pemborosan sumber daya yang terus menerus dilakukan oleh kalangan atas semakin mengurangi cadangan minyak yang ada saat ini.

Pada waktunya nanti, ketika cadangan energi Indonesia bahkan dunia mulai habis maka negara-negara di dunia akan kebakaran jenggot. Semua pemerintahan yang ada akan mempertahankan sisa ladang minyak yang masih tertinggal. Negara yang memiliki kekuatan militer yang kuat akan merebut sumber daya yang masih tersisa dari negara-negara kecil yang lemah di sekitarnya. Inilah yang menjadi awal dari Perang Dunia III yang melibatkan kekuatan otot, senjata dan teknologi yang dimiliki.

Bukan tidak mungkin lagi bahwa kekayaan sumber daya alam dan energi (mutiara hitam) yang menipis membuat para pemimpin dunia banting setir. Mereka memanfaatkan teknologi, senjata dan alat perang lainnya untuk merebut ladang minyak yang masih tersisa dari negara tetangganya. Perang dunia ke tiga akan terjadi di tengah krisis energi, anomali cuaca dan bencana alam yang terjadi dimana-mana. Ribuan bahkan jutaan orang akan dikorbankan dan bukan itu saja kerugian dari sisi materipun (uang) melambung tinggi juga akan timbul kerusakan lingkungan akibat hantaman senjata diamana-mana.

Sudah mengertikah anda tentang fenomena keberadaan ISIS yang menguasai timur tengah? Ini adalah contoh kecil saja dimana suatu kekuatan dan kekuasaan entah berantah tiba-tiba menyerang negara-negara penghasil minyak dunia lalu menguasai ladang minyak di tempat tersebut. Bukankah saat ini para tetara ISIS puas-puas menikmati kemakmuran itu. Lihat saja berapakah gaji tentara ISIS di internet maka anda akan tercengang-cengang menyaksikan angkanya/

Cara mencegah Perang Dunia III – The Peak Of Global Warming’s World War 3

Ini penyebab dari perang dunia III adalah KRISIS ENERGI. Seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa kecepatan manusia untuk mengkonsumsi energi tidak sebanding dengan kemampuan lingkungan alamiah untuk memperbaharuinya (menyusun ulang – membangunnya kembali). Ketidakseimbangan inilah yang akan mendorong negeri kita bahkan dunia sekalipun dalam kelangkaan energi yang tidak bisa dihindari lagi sebab “nasi telah menjadi bubur“. Lagipula kalor aktif yang terus-menerus dihasilkan oleh aktivitas manusia terutama mesin telah membuat bumi ini semakin panas (global warming) sehingga muncullah bencana lain yang menyertainya. Lalu bagaimana cara mencegah dan mengatasi hal ini sejak dini? Berikut saran dari kami.

  1. Berbagi informasi dengan negara lain. Agar merekapun tidak terlena lalu hanyut menggunakan energi secara terus-menerus. Kita perlu memberitahukan mereka apa yang kita pahami tentang pemanasan global sehingga merekapun turut bersiap-siaga menghadapi ancamannya. Biar bagaimanapun negara yang kehilangan energi tetap menjadi beban sebagai rasa kepedulian terhadap bangsa lain.
  2. Adanya badan pengawas emisi karbon. Mereka bertugas untuk memperhitungkan berapakah energi dan sumber daya alam yang dapat dikonsumsi dan seberapa besar dampaknya terhadap lingkungan.
  3. Budayakan hemat energi untuk bumi yang lebih hijau dari tahun ke tahun. Energi yang kita konsumsi setiap hari akan melepaskan kalor aktif ke lingkungan sekitar sehingga suhu bumi akan semakin panas untuk ditempati. Jadi budayakan hemat energi untuk mengurangi/ memperlambat laju pemanasan global.
  4. Mengendalikan aktivitas kapitalis untuk menggunakan sumber daya yang berlebihan dengan menetapkan pajak yang sebanding.
  5. Mengembangkan energi terbarukan yang dihasilkan melalui fermentasi bahan-bahan organik menjadi bahan anorganik oleh bakteri dan mikroorganisme lainnya.
  6. Membatasi pemakaian sumber daya dalam jumlah besar terutama pemakaian yang tanpa kompensasi/ kontribusi yang jelas bagi lingkungan sekitar.
  7. Kesetaraan ekonomi adalah awal untuk membagi sumber daya yang ada sehingga tidak terjadi penumpukan uang di tangan oknum tertentu yang membuatnya merasa berhak membangun berbagai fasilitas pribadi yang mewah dan megah.
  8. Mengedukasi masyarakat akan pentingnya keasrian lingkungan sekitar (hutan, tumbuhan hijau dan pepohonan) sehingga merekapun turut menjaganya dari tangan-tangan yang jahil.
  9. Mulailah untuk mengisi lahan-lahan yang masih terbuka dan kosong dengan berbagai-bagai tanaman hijau. Bahkan di rumah-rumahpun dibudayakan untuk menanam beberapa jenis bunga demi lingkungan yang asri dan hijau. Pihak pemerintah perlu menyediakan bibit pohon gratis untuk di tanam oleh masyarakat sekitar.
  10. Budayakan jalan kaki dan menggunakan fasilitas umum. Daripada menggunakan kendaraan pribadi agar bisa mendatangi tempat-tempat dalam jarak menangah sampai sedang biasakan  untuk berjalan kaki sambil berolahraga juga, bukankah ini sangat menyehatkan? Untuk perjalanan yang cukup jauh maka budayakan untuk menggunakan kendaraan umum yang telah disediakan oleh pemerintah setempat.

Kemewahan, kenyamanan dan kenikmatan duniawi yang konsumsi secara pribadi sebaiknya dibatas-batasi. Menempatkan semua ini dalam rumah sendiri adalah sesuatu yang akan anda sesalkan karena dapat membosankan bahkan berpotensi mengganggu kepribadian anggota keluarga. Ada baiknya hal-hal yang mewah dan megah ini dikonsumsi secara masal untuk kebahagiaan semua orang. Penggunaan energi yang mubazir akan mempertipis cadangan minyak bumi yang kita miliki sehingga generasi selanjutnya terancam tidak mampu menikmati semua gemerlapan yang kita lihat saat ini. Oleh karena itu, batasi hawa nafsu terhadap uang sebab materi tidak dapat menyentuh hatimu dan tidak mungkin membahagiakanmu selamanya.

Salam hemat energi!

5 replies »

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s