Gejolak Sosial

Biarkan Mereka Berfantasi Dalam Hawa Nafsu dan Harapannya


Biarkan Mereka Berfantasi Dalam Hawa Nafsu dan Harapannya

Selama hidup di dunia ini, kita bertemu dengan orang-orang yang berbeda dari waktu ke waktu. Keadaan ini membawa diri ini dalam persoalan, bisa saja berdampak baik atau buruk yang sekaligus menambah pengalaman  Disaat pengalaman terus bertambah maka disitulah hidup ini semakin baik dari hari ke hari. Sadarilah bahwa tidak ada gunanya membaca, melihat dan mendengar banyak bila tidak dipraktekkan sama sekali. Apa yang telah dibaca akan menjadi sia-sia dan berlalu begitu saja karena terlupakan di dalam memori.

Berhubungan erat dengan memori yaitu otak masing-masing orang. Setiap manusia memiliki kapasitas yang berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan sikap: tutur kata dan perilaku. Salah satunya hal yang membawa perbedaan besar adalah fantasi setiap manusia. Ini lebih bagus bila kami ucapkan sebagai imajinasi. Bisa juga didekatkan pada sesuatu yang disebut sebagai khayalan. Disinilah orang-orang banyak terjebak karena tidak mampu membedakan antara fantasi dan kenyataan.

 Anda harus mampu membedakan antara pikiran yang sedang berimajinasi dengan yang sedang fokus pada sesuatu kisah-kisah nyata kehidupan. Bila tidak mampu membedakan ke dua hal ini maka ada kecenderungan seseorang mengalami bias pengertian sehingga cenderung tenggelam dalam mimpi-mimpi yang tidak jelas. Orang-orang semacam ini mungkin mampu menghasilkan sebuah karya. Tetapi kembali lagi, baik kisah fantasi/ fiksi dan yang menyimpang lainnya tetap saja harus bisa dihubung-hubungkan dengan realitas yang terjadi di masyarakat.

Kita hidup dalam realitas tetapi pikiran ini dibentuk oleh persepsi masing-masing orang. Ada banyak opini tentang kehidupan, kami sendiri sudah mengeluarkan lebih dari 500 sudut pandang selama menjadi blogger, entah itu baik ataupun buruk, benar ataupun salah. Pada dasarnya, itu hanyalah opini semata yang tidak begitu menarik untuk dibahas bersama-sama. Tidak tertutup kemungkinan hal tersebut tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi karena telah ditaburi dengan berbagai aspek imajinatif.

Hawa nafsu adalah pengganggu dalam pikiran manusia. Hasrat yang bisa membawa kemalangan bukan saja kepada penggunanya melainkna juga kepada tangannya. Manusia yang tidak mampu mengendalikan diri akan diseret oleh hawa nafsunya pada hal-hal yang tidak baik. Sedangkan orang yang bisa hidup bebas dari tekanan, bebas dari rasa takut, bebas dari materi dan bebas dari seks akan menemukan improvisasi sejati. Ini tidak hanya berbicara masalah karya (menghasilkan sesuatu) melainkan juga kesempatan untuk hidup dalam kedamaian, ketentraman dan kebahagiaan yang sifatnya terus-menerus.

Sayang, ketidakmampuan seseorang untuk mengendalikan hawa nafsu bisa membuat mata kabur terhadap kebenaran. Keinginan yang banyak membuat kapasitas otak berkurang sehingga hanya menyisakan sedikit bagian saja untuk membahas-bahas hal yang baik. Jika kapasitas otak anda lebih banyak di dedikasikan untuk hal-hal yang salah dari pada hal yang baik maka bagaimana mungkin kita berharap sikap anda menjadi baik adanya?

Harapan adalah sebuah keyakinan di masa depan. Ada orang yang mengatakan bahwa memiliki harapan di dunia ini adalah sebuah kesalahan besar. Beberapa orang menyebutnya sebagai cita-cita karena semakin besar sebuah cita-cita maka semakin besar pula dampak kecewa yang timbul jikalau hal tersebut tidak benar-benar terjadi. Oleh karena itu, baik bagi anda untuk tidak mengharapkan apa-apa dalam dunia yang fana ini melainkan taruhlah harapanmu kepada akhir dari perjalanan hidup manusia, yaitu Surga. Sadarilah bahwa diakhirat kelak “setiap orang percaya  pasti masuk Surga” (bukan kami yang mengatakannya tetapi Tuhan Yesus Kristuslah yang menjanjikannya)

Bila hawa nafsu ini tinggi maka pikiran cenderung dipenuhi olehnya. Mulailah imajinasi ini bermain-main untuk membuatmu terlena (walau hanya sejenak). Lalu kita menjadikan keinginan yang jelas-jelas kurang tepat menurut falsafah kebenaran menjadi cita-cita tertinggi alias harapan. Awalnya hal semacam ini memang jelas saja membuat hari ini bisa dilalui dengan penuh semangat. Akan tetapi bagaimana dengan besok, dua-tiga hari ke depan? Terlebih ketika anda menyadari bahwa hal tersebut tidak kunjung terjadi? Bukankah ini akan menjadi sebuah sumber kekecewaan yang berujung pada ketidakpuasan hidup.

Rasa haus yang tinggi seputar fantasi keinginan duniawi menggiring seseorang untuk kehilangan kesadaran diri hingga membuatnya kehilangan akal sehat. Perilaku dan perkataan merekapun tidak lagi mencirikan orang-orang yang benar melainkan lebih mengarah ke daerah abu-abu. Apa yang mereka lakukan sudah tepat benar atau tidak? Siapa yang tahu? Sebab mungkin saja mereka adalah orang yang  munafik, lain di lidah, lain pula tingkah lakunya. Tingkah lakunya aneh dan cenderung berlebihan. Kami sendiripun hendak menegur orang-orang semacam ini  tetapi hati kecil kami berbisik, “biarkan saja, ia terlena oleh hawa nafsu, imajinasi dan khayalannya” nanti pas jatuh akan sadar juga.

Sebenarnya, bukan kami tidak mau menegur mereka. Ini sudah terlalu sering dilakukan walau tidak secara langsung. Sebab, rata-rata mereka adalah orang yang lebih dewasa. Kami menegur dalam ranah media sosial semacam ini. Pasti mereka telah membacanya lewat tulisan-tulisan ini walau hanya menyinggungnya secara general (tidak spesifik). Lagipula mereka bisa mengoreksi diri sendiri sehingga dimungkinkan untuk berubah sendiri (auto repair). Kami juga tidak berniat untuk membiarkannya begitu saja karena apa yang mereka lakukan sifatnya recehan. Oleh karena itu semuanya kami pasrahkan kepada Tuhan, biar waktu yang menyadarkan mereka sebab manusia bukanlah hakim di dunia ini.

Dalam konsep perubahan sosial yang sederhana terdapat dua garis besar untuk mewujudkannya: begitu di tegur langsung sadar atau jatuh dulu, merasakan sakit baru sadar. Ada banyak orang yang sadar akan kesalahannya begitu di tegur oleh orang lain, media tertentu (hasil membaca, mendengarkan dan menonton). Tetapi tidak jarang juga ada yang keras kepala dan tidak mau mendengar siapa-siapa. Ingatlah untuk tidak perlu memaksakan kebenaran melainkan biarkan hal yang benar itu menemukan jalannya sendiri. Kelak dia akan jatuh karena fantasi yang penuh hawa nafsu dan kecewa akan harapan yang tidak kunjung terwujud maka saat itulah ia teringat untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Salam realistis!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.