Gejolak Sosial

+10 Dualisme Kehidupan – Kelebihan Sama Dengan Kelemahan, Setiap Orang Merasakan Hal Yang Sama, Tuhan Itu Adil

Dualisme Kehidupan – Kelebihan Sama Dengan Kelemahan, Setiap Orang Merasakan Hal Yang Sama, Tuhan Itu Adil

Kita sering cemburu kepada orang lain karena merasa apa yang dialaminya lebih hebat dari apa yang kita rasakan. Dugaan yang berwujud prasangka buruk itu seperti borok yang jika disentuh sedikit pasti reaksinya mengeluh, bersungut-sungut, marah-marah bahkan berlaku kekerasan kepada orang lain. Apabila anda terus memelihara pikiran semacam ini maka hati tidak tenang dan cenderung kacau balau. Akhirnya, pekerjaan yang ditekunipun tidak kunjung selesai dan gagal mencapai tujuan akhir.

Pengertian

Dualisme adalah (1) paham bahwa dalam kehidupan ini ada dua prinsip yang saling bertentangan (seperti ada kebaikan ada pula kejahatan, ada terang ada gelap); (2) keadaan bermuka dua, yaitu satu sama lain saling bertentangan atau tidak sejalan (KBBI Offline). Menurut kami ini adalah dua hal yang saling bertentangan tetapi turut mendukung satu sama lain dimana semua dampaknya tergantung dari  waktu, tempat dan cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Hidup manusia dalam dualisme

Harap dipahami bahwa hidup ini penuh dengan dualisme, ada sisi positif dan negatif, ada yang baik dan buruk, ada kelebihan dan kelemahan. Semunya ini bertujuan untuk menciptakan keseimbangan personal sehingga secara sosial akan terbentuk kebersamaan yang lebih baik antara komponen masyarakat. Artinya, di dalam diri seorang manusia hidup dan berkembang sepasang metode yang saling berlawanan sekaligus mendukung satu sama lain.

Dimana ada kelemahan disitu ada kelebihan tetapi orang yang manipulatif menyembunyikannya

Mari ambil saja contohnya, saat seseorang memiliki kelebihan di dalam dirinya maka dibalik kelebihan itu selalu ada kelemahan yang menyertainya. Seseorang unggul dalam hal ini dan itu tetapi disisi lain dalam kehidupan iapun lemah disana-sini. Sebenarnya, Tuhan itu adil memberikan sesuatu kepada masing-masing orang. Hanya saja manusia pintar-pintar memanipulasi kehidupannya sehingga kelemahannya tersebut tidak tampak dengan jelas di mata orang lain. Terlebih ketika mereka memiliki uang, kekuatan dan kekuasaan yang lebih dari orang lain.

Seseorang bukan tidak punya kelemahan, mereka hanya pintar menyembunyikannya

Manusia jaman sekarang memang pintar-pintar, menyatakan kelebihannya kepada semua orang tetapi kelemahannya berusaha ditutupi dengan berbagai-bagai cara. Salah satu cara yang sering mereka terapkan adalah dengan senantiasa memanfaatkan uang, relasi, kekuasaan dan teknologi. Ini lebih tepat jika disebut sebagai pelarian. Misalnya, seorang anak memiliki kelebihan tetapi dibalik semuanya itu ia selalu bermasalah dengan saudaranya di rumah. Untuk menutupi keadaan tersebut, iapun lebih banyak menghabiskan waktu di rumah teman-temannya bahkan tidurpun di luar (di rumah orang lain). Keadaan ini seolah membuat hidupnya terlihat sempurna. Tetapi kebiasaannya tidur di rumah orang lain cenderung membuatnya lupa makan (makan tidak teratur). Akhirnya, iapun mengidap maag kronis yang membuat hari-harinya lebih menderita.

Dibalik kelebihan yang kami miliki termuat kelemahan yang besar. Sebenarnya, kami sendiri bisa menyembunyikan kekurangan ini dengan cara terus saja diam-diaman tanpa ekspresi seharian. Akan tetapi kami tidak mau memilih jalan manipulasi melainkan bertekad untuk memikul salib. Dalam kelemahan kami, hobi pulak tersenyum dan tertawa sehingga makin menconglah muka ini. Kamipun apa adanya saja, terserah orang mau bilang apa yang penting menghibur diri sendiri juga sekaligus berharap semoga ada yang terhibur.

Orang lain bisa menyembunyikan kelemahannya dengan cara membuat dirinya senang dengan materi. Lihatlah orang-orang diluar sana melarikan diri dari kesusahan hatinya dengan duduk-duduk sambil minum tuak/ arak sampai mabuk di warung remang-remang. Ia tertawa dengan teman-temannya dengan suara keras bahkan kadang terbahak-bahak seolah-oleh hidupnya sempurna. Padahal dibalik tawanya itu ada kesedihan mendalam yang disembunyikan dengan rapi agar orang lain tidak mengetahuinya. Tapi apakah dengan melakukan hal ini maka semua masalah selesai? Paling juga menumpuk-numpuk hingga suatu saat kelak akan mendorongnya dalam suasana stres bahkan depresi dengan dampak yang besar (merusak).

Pada dasarnya, Tuhan itu adil. Ia telah memberikan/ mengizinkan kepada kita masalah bersamaan dengan solusinya. Hanya saja kita perlu untuk mencari solusi itu dengan sabar, kerja keras dan bertekun. Ia juga memberikan kepada kita kebahagiaan satu paket dengan kesedihan. Saat anda berkeputusan untuk mengambil rasa senang itu maka tunggu saja rasa sedihnya akan menghampirimu suatu saat kelak. Sehingga setiap orang memiliki kadar rasa yang sama dengan orang lain dimana tidak ada yang merasa lebih baik dari sesamanya (lebih sempurna). Oleh karena itu, bersyukurlah atas hidupmu dan tidak perlu membandingkannya dengan orang lain sebab mereka juga memiliki kesusahan hati sendiri-sendiri. Camkanlah bahwa orang yang kelebihannya benyak maka cenderung banyak juga masalahnya, terkecuali jikalau ia pandai-pandai menyembunyikannya (manipulasi).

Dualisme menciptakan keseimbangan hidup

Sadar ataupun tidak faham dualisme merupakan pertentangan di dalam persamaan yang pada akhirnya menciptakan keseimbangan hidup. Demikianlah seharusnya hidup ini berjalan dalam posisi yang setara satu sama lain. Bukan berarti bahwa yang satu menguasai yang lain atau yang lain menguasai yang satu. Prinsip ini lebih dekat kepada kesejajaran hidup. Ada yang mengatakan bahwa “untuk menciptakan keseimbangan maka anda harus terus bergerak”. Jadi, kami sendiri  tidak mengerti akan batasan dari dualisme sikap ini. Intinya adalah ada manfaatnya dan tidak ada hukum yang berlaku menentang hal tersebut.

Untuk mencapai keseimbangan maka dibutuhkan pengalaman berupa latihan try and error sehingga membuatmu mampu belajar untuk menciptakan keseimbangan sendiri. Andapun  bisa berbagi pengalaman dengan orang lain bagaimana ia menghadapi dualisme yang selalu muncul dalam kehidupannya. Selain itu, media informasi yang ada juga turut membantu memberi referensi. Misalnya dalam sebuah film, pastilah tokoh utama selalu diperhadapkan dalam situasi semacam ini, lalu bagaimana dia menentukan pilihan? Ini yang perlu anda cari tahu saat menonton beberapa chanel TV, sinetron, film dan lain sebagainya. Simak, Keseimbangan hidup.

Macam-macam dualisme

Kehidupan manusia di bumi penuh dengan dualisme. Kita bisa melakukannya bersama-sama tapi terkadang hanya perlu memilih satu diantaranya. Harus belajar untuk menjadi bijak agar andapun mampu mengambil keputusan dan pilihan yang tepat pada waktunya. Berikut ini contoh-contoh dualisme yang kerap kali kita alami  saat menjalani hidup.

  1. Antara kebaikan atau kejahatan bukan melakukan dosa.

    Di dalam hidup ini tidak hanya ada kebaikan melainkan ada juga yang namanya kejahatan. Jahat yang kami maksudkan disini bukanlah sampai bunuh-bunuhan melainkan lebih dekat kepada suatu ekspresi yang berlebihan. Semua orang memiliki hal ini dalam hatinya hanya saja kadarnya berbeda-beda. Biasanya kadar tersebut tergantung dari pengaruh sistem keadilan dan reaksi yang kita berikan. Umumnya, semakin buruk keadilan sosial maka semakin besar pula aksi kejahatan yang terjadi. Lagipula semakin agresif reaksi yang diekspresikan saat menanggapi sesuatu, maka semakin buruk pula dampaknya pada diri sendiri. Terlebih ketika kita cenderung tidak mau mengalah, bersabar dan bersikap lembut (santun). Apabila anda mengimani hal-hal yang lebay di sekitar (gejolak, gangguan) sebagai sesuatu yang bermanfaat, maka bisa jadi akan mengantarkanmu pada hati yang lebih tabah di segala waktu.

    Harap diingat bahwa dualisme sama sekali tidak melegalkan dosa. Jangan sampai anda melakukan kejahatan dan aksi yang merugikan sesama demi alasan prinsip ini. Ingatlah bahwa selalu ada hukum yang berlaku antara manusia di dalam negara ini. Prinsip dualisme bukan bertujuan untuk meniadakan kebenaran alias tidak ada hubungannya dengan kebenaran. Artinya, yang benar tetaplah benar sampai kapanpun itu. Sebab hal yang benar lebih menekankan pada sikap sedangkan paham dualisme ini lebih berkaitan kepada prinsip. Suatu wawasan yang mencoba menyibak fakta kehidupan agar kita lebih mampu menerima kenyataan apa adanya (tidak perlu melawan sesuatu yang selalu ada). Ini seperti fakta tentang keberadaan iblis di tengah dunia untuk menguji dan menyesatkan sebanyak-banyaknya manusia. Dualisme berbicara tentang yang biasa-biasa saja dan yang lebay. Yang biasa itulah kita sedangkan yang lebay adalah cara situasi untuk menguji hati ini.

  2. Saat sedih dan saat tertawa.

    Manusia tidak hanya membutuhkan tawa (kesenangan) dalam hidup ini, terkadang dibutuhkan tangisan (kesedihan) untuk membuat kita menjadi pribadi=pribadi yang kuat dari dalam hati. Oleh karena itu, apapun yang anda alami dalam hidup sehari-hari, jangan biarkan hal tersebut membuat hati terlalu lama galau tidak karuan. Anggaplah bahwa keadaan tersebut sudah sepantasnya terjadi sehingga pikiran lebih lega menerima semua apa adanya dan galaupun segera berlalu.

  3. Mau tampil sempurna atau penuh kekhilafan.

    Dalam beberapa moment penting, kita perlu tampil sempurna, misalnya dalam hal penggunaan busana. Selalu tampil sempurna itu tidak baik, terkadang kita butuh ketidaksempurnaan untuk melatih kemampuan fokus, kesabaran dan mental. Kita masih hidup di dunia yang fana dan penuh dengan kekurangan di sana dan di sini. Wajar saja ketika anda menyaksikan suatu hal yang ditampilkan penuh dengan kekurangan. Ini sekaligus sebagai tantangan bagi anda, bagaimana menyikapinya? Sudah otomatis, mereka yang tidak sabar akan dipenuhi dengan kebencian, umpat, cemooh, ejekan, dendam dan amarah saat itu juga. Akan tetepi, orang sabar selalu bisa menerima semua apa adanya dan menganggap hal itu sebagai ujian untuk meraih taraf kekuatan mental yang lebih baik.

  4. Antara kepeduliaan dan pengabaian.

    Terlalu sayang terhadap seseorang adalah tidak baik. Terkadang kita perlu sikap tegas dan tega untuk membiarkan seseorang menghadapi masalahnya sendiri. Kita bisa sayang kepada kaum keluarga sendiri, memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, membuat makanan untuk dikonsumsi, membeli ini-itu untuk keperluan lain-lain dalam berbagai bidang. Kepedulian macam itu baik adanya. Akan tetapi sikap yang terlalu peduli dengan masalah anak cenderung membuat orang tua menjadi over protektif sehingga melarangnya untuk ini dan itu yang bisa berimbas pada hilangnya kreativitas anak dalam menyelesaikan masalahnya sendiri. Orang tua yang terlalu hiperprotektif juga menyebabkan anak manja dan tidak pernah dewasa.

  5. Ada saatnya menikmati hidup ada saatnya memberi manfaat.

    Tidak baik untuk terus-menerus menikmati hidup, kita perlu juga bekerja demi kebaikan orang lain. Saat menikmati hidup berarti orang lain memberi manfaat untuk kita nikmati. Bila keadaan tersebut terus berlangsung dalam waktu yang lama, bisa disimpulkan bahwa diri ini terlalu santai menjalani hidup dan cenderung lebih suka malas-malasan. Lagi pula menikmatinya tanpa henti (nonstop) adalah tidak baik bagi kesehatan fisik & mental. Hal ini dikarenakan tubuh yang overdosis dan psikis yang tertawan oleh rasa jenuh. Oleh karena itu, hindari menikmati hidup terus melainkan harus ada juga waktu dimana anda beraktivitas memberi manfaat kepada orang lain, baik lewat pelajaran maupun pekerjaan yang ditekuni.

  6. Antara ramah atau cuek.

    Menjadi orang yang ramah itu baik adanya namun dibalik semuanya itu kitapun butuh sikap cuek dalam kondisi tertentu. Dengan bersikap ramah-tamah maka kita berusaha menantang diri sendiri apakah mampu menghadapi kenyataan yang terkadang berbeda jauh dari harapan. Bila anda mampu mengimani sikap ramah maka ini bisa jadi salib tersendiri untuk melatih kecerdasan mental (kecerdasan emosional).

    Ramah disegala lini kehidupan jelas tidak baik, ada waktunya juga untuk mengabaikan dan acuh tak acuh terhadap situasi yang sedang berlangsung karena orang lain memperlakukan kita dengan buruk. Abaikan perlakuan buruk yang diekspresikan seseorang tetapi tetap ramah menanggapi perkaranya. Ini baru dapat kita lakukan saat mampu memaafkan kesalahan tersebut lalu membalasnya dengan kebaikan yang dimulai dari sikap yang santun.

  7. Saat bekerja dan dalam diam.

    Bekerja terus-menerus itu tidak baik, kadang kala kita perlu berdiam diri untuk menenangkan hati. Bekerja itu penting untuk mengantarkan kita pada kebermanfaatan hidup. Aktivitas ini erat kaitannya dengan kaki, leher, punggung dan tangan yang terus bergerak atau setidak-tidaknya matalah yang terus bergeser dari sisi kanan ke kiri (sebaliknya). Pada waktu-waktu khusus ada baiknya bila kita mengambil posisi tenang dan tidak melakukan apa-apa, bukan untuk tujuan bermalas-malasan melainkan hanya sekedar istrahat lalu mengambil bebeerapa menit yang ada untuk berdiam diri sambil memfokuskan pikiran untuk mengucap syukur dan memuji-muji Tuhan di dalam hati.

  8. Dimana ada keuntungan maka disitu ada kerugian.

    Kita mengetahui bahwa saat melakukan ini dan itu, ada beberapa manfaat yang diperoleh. Beberapa hal bisa memberi manfaat yang lebih sehingga memberikan keuntungan yang dapat dihitung dalam rupiah. Orang lain yang melihat penghasilan tersebut pasti berdecak kagum. Namun dia tidak mengetahui di balik semuanya itu ada hal-hal yang harus dipenuhi seperti biaya belanja istri, uang sekolah anak, biaya lain-lain sehngga pemasukan sama dengan pengeluaran. Mungkin saja gaji tersebut tidak habis hari ini, tetapi mungkin seminggu atau dua-tiga bulan bahkan satu tahun ke depan, siapa tahu beban besar yang tak terduga terjadi.

  9. Ada saatnya santun dan ada saatnya keras (tegas).

    Dalam segala waktu kita perlu santun bertutur sapa kepada orang lain. Ini baik untuk melatih diri merendahkan hati sembari memberi manfaat bagi kehidupan sesama. Di saat-saat itulah kita bisa memilih untuk cenderung bersikap santun karena kata-kata ini lebih banyak melayani orang lain dibandingkan dengan perilaku. Perbuatan baik hanya dapat dilakukan sekali-sekali akan tetapi tutur kata yang santun dan sopan bisa diterapkan kapan pun dan dimana pun berada.

    Di samping kelembutan itu, pada waktu-waktu khusus kita perlu keras terhadap orang lain terlebih ketika hal tersebut berhubungan dengan kewenangan sendiri. Kerasnya diri ini bukan menyerang mereka melainkan lebih kepada ketegasan untuk tetap berintegritas, konsisten dan terpercaya sehingga mampu memegang teguh prinsip yang diambil. Dalam hal ini, tegas juga bisa berarti bahwa kita berlaku adil saat menerapkan sanksi terhadap siapapun orang yang melanggar peraturan yang berlaku (sekalipun itu saudara sendiri).

  10. Dimana ada keunggulan maka disitu ada kelemahan.

    Kita merasa senang karena lebihnya diri ini bisa dirasakan langsung oleh orang lain. Tertegun bahwa manfaat yang kita tebarkan membuat kehidupan menjadi lebih baik dalam kebersamaan. Tetapi sayang, di sisi lain dengan menggunakan sudut pandang yang berbeda termuat banyak sekali kelemahan yang kita ekspresikan. Bahkan terkadang hal tersebut membuat malu-malu sendiri. Kelemahan dan kekurangan dalam satu pribadi, membuat semuanya impas. Ekspresi rasa senang karena kelebihan sama dengan rasa malu karena kelemahan sehingga orang tersebut tidak menyombongkan diri. Pecayalah bahwa orang yang tidak memiliki kelemahan tetapi hanya kelebihan saja cenderung menganggap dirinya sebagai superman (meninggikan diri di atas sesamanya).

  11. Antara feminim dan maskulin.

    Kami selalu berusaha untuk bersikap maskulin dalam segala waktu dan kondisi. Tabah dan kuat terutama ketika masalah datang menghempaskan kehidupan ini. Pergumulan hidup tidak lagi dianggap sebagai halangan yang tidak mungkin ditembus melainkan sebagai sebuah anak tangga untuk meningkatkan level kecerdasan intelektual dan emosional-sehingga karakter manusia menjadi lebih baik lagi. Terkadang sikap maskulin yang kuat harus dibarengi dengan perilaku feminim yang lembut. Kuatkan hati identik dengan cuek (acuh tak acuh) tetapi feminim erat kaitannya dengan sikap yang lemah lembut yang santun (ramah) kepada semua orang. Kita butuh kedua-duanya seimbang dalam satu pribadi.

  12. Dan masih banyak lagi, silahkan temukan sendiri.

Kebenaran tetaplah kebenaran, kita perlu terpapar dengan dosa agar diri ini diuji menjadi lebih baik lagi. Hari-hari ke depan janganlah juga menjadi orang yang tidak konsisten karena alasan dualisme lalu bermain-main dengan dosa. Tidak bijaklah orang yang terus-menerus jatuh di lubang yang sama dan tidak bijak juga mereka yang berkubang dalam dosa-dosanya. Kesalahan yang terjadi kiranya bukan sesuatu yang direncanakan terlebih dahulu, bukan juga dari hasil melawan suara hati sendiri melainkan terjadi begitu saja (tanpa disadari/ tidak sengaja).

Hidup ini adalah pilihan. Dalam banyak situasi kita diperhadapkan dengan hal-hal yang saling bertentangan tetapi sama-sama memberi manfaat bila digunakan secara tepat, di tempat yang tepat dan waktu yang tepat pula. Terkadang pilihan yang kita buat cukup berani sehingga menimbulkan berbagai dampak yang besar bagi kehidupan umat manusia. Pastikanlah bahwa semua dampak itu akan membawa kepada bingkai yang positif. Pada dasarnya, dualisme yang diterapkan dengan cara-cara yang wajar akan berdampak baik tetapi segala sesuatu yang berlebihan akan merugikan orang lain, diri sendiri bahkan lingkungan sekitar. Lagi, Hidup dalam keseimbangan

Salam keseimbangan hidup!

4 replies »

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.