Gejolak Sosial

Kemajuan Teknologi Merusak Lingkungan Akibat Limbah Dan Emisi Karbon


Kemajuan Teknologi Merusak Lingkungan Akibat Limbah Dan Emisi Karbon

Kemajuan teknologi seolah tidak dapat ditolak oleh siappun. Seorangpun dari kita tidak ada yang tidak menggunakan perangkat berteknologi, dimulai dari komponen terkecil pemantik korek api (mancis) hingga yang paling canggih, pesawat terbang. Semua benda ini telah mengubah kehidupan manusia menjadi lebih baik sekaligus menjadi lebih buruk. Sampai sekarang masih banyak orang yang tidak menyadari bahwa barang-barang berteknologi beresiko merusak bagi kehidupan umat manusia.

Menggunakan segala sesuatu seperti garam

Di dunia ini segala sesuatu seperti pedang bermata dua imbang-imbangan dengan penggunaan garam, tidak ada sama sekali adalah tidak baik tetapi terlalu banyak juga tidak sehat. Setiap orang harus menggunakannya dengan hati-hati agar manfaatnya benar-benar kentara sedangkan dampak negatifnya dapat ditepis. Semakin abai dengan dampak teknologi maka semakin besar bahaya yang ditimbulkannya. Penggunaan yang bertanggung jawab dan tidak lebay akan memperkecil resiko munculnya efek sampingnya.

Cara memanfaatkan teknologi jelas tidak boleh berlebihan. Penggunaan yang tepat dan seadanya menurunkan resiko yang timbul setelah itu. Anda perlu memperhitunglan lagi pemanfaatan yang sedang dilakukan. Jikalau cara-cara manual masih bisa diupayakan maka dahulukanlah hal tersebut. Bila masih dimungkinkan untuk dilakukan dengan metode yang lama maka kerjakanlah itu dengan cara lama jangan maunya yang praktis dan instan saja. Ada kalanya hal-hal yang terlalu cepat (serba instan) tidak baik bagi perkembangan emosional-kepribadian seseorang.

Penggunaannya secara individu semakin meningkatkan sampah : limbah dan emisi karbon

Sikap individualis dalam berteknologi turut memperparah dampaknya terhadap lingkungan sekitar. Saat penggunaan teknologi berharga jutaan dengan emisi dan limbah besar yang dihasilkannya digunakan secara perorangan niscaya degradasi lingkungan akan semakin besar. Ego semacam ini terjadi pada orang-orang yang lebih mementingkan kenyamanan dan menolak hidup bersama dengan orang lain, misalnya tidak mau menggunakan fasilitas umum (bus dan lainnya). Semakin tinggi sikap individualis maka semakin tinggi pula tingkat pencemaran lingkungan.

Keserakahan dan foya-foya (mubazir) akan semakin mencemari lingkungan anda

Sikap tamak dan rakus yang lebih banyak memboroskan sumber daya untuk diri sendiri atau demi sesuatu yang tidak penting juga akan mendorong bumi ini dalam kehancuran. Dorongan keserakahan ini akan semakin menumpuk limbah dan emisi di lingkungan sekitar. Pemborosan sumber daya juga mengakibatkan berkurangnya area hijau demi pembangunan pusat-pusat kemewahan pribadi. Hal-hal semacam ini akan memperkeruh suasana sebab kemampuan bumi untuk menyerap emisi dan mendegradasi limbah akan semakin berkurang.

Bila keadaan ini terus berkembang maka bisa dipastikan bahwa akan terjadi seleksi alam yang berlangsung secara masif dimana bahan-bahan sembako (dan yang lainnya) semakin mahal. Akibatnya, rakyat menengah kebawah tidak dapat lagi hidup dengan tenang dan jauh dari kenyamanan. Hanyalah orang-orang besar, pengusaha, kapitalis dan dekat dengan penguasalah yang akan menikmati indahnya hidup. Rakyat jelata satu per satu akan lewat ditelan bencana alam dan bencana global warming lainnya.

Permulaannya: saat teknologi merupakan bagian dari gengsi bukan kebutuhan

Keadaan ini diawali dengan terjadinya masa transisi dimana teknologi tidak lagi berfungsi untuk memberi kemudahan melainkan lebih kepada gengsi. Jaman sekarang orang-orang memiliki smartphone bukan karena mereka membutuhkannya melainkan hanya karena terpengaruh oleh trend di masyarakat. Mungkin juga mereka menginginkannya hanya karena sudah tidak tahu lagi uangnya mau dikemanakan (saking kayanya) sehingga benda-benda yang sebenarnya tidak dibutuhkan turut dikoleksi.

Inovasi dengan alasan memutar ekonomi sekaligus menambah sampah

Lihatlah kebiasaan para produsen untuk menghasilkan barang. Mereka terus saja menghasilkan inovasi entah berantah yang sebenarnya hanya beda tipis dengan produk sebelumnya. Perhatikan aneka macam merek dan tipe dari smartphone yang ada di pasarang. Mungkin ada berbagai jenis puluhan sampai ratusan dimana semuanya itu demi persaingan usaha entah berantah. Padahal jika saja para pengusaha mau bekerja sama satu sama lain maka dihasilkan produk yang benar-benar bermanfaat dimana bukan saja sekedar untuk memanas-manasin pasaran melainkan juga manfaatnya jelas meningkat dari sebelumnya.

Budaya konsumtif adalah ancaman bagi keberlangsungan hidup lingkungan hayati

Budaya konsumtif adalah ancaman terbesar di zaman ini. Keinginan manusia yang menyetarakan kebahagiaannya dengan memiliki barang tertentu akan berakibat buruk bagi keberlangsungan hidup di dunia ini. Coba bayangkan jika orang-orang yang memiliki banyak uang membeli ini itu lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Terlebih ketika jumlah mereka (orang kaya) lebih banyak niscaya sampah dan emisi yang dihasilkan lewat proses produksi, distribusi hingga penjualan semakin menjadi-jadi.

Coba perhatikan dan hitung berapa barang-barang elektronik yang anda miliki. Apakah anda bisa menghitung emisi dan limbah yang dihasilkan saat pembuatannya? Tahukah anda berapa jumlah emisi yang dihasilkan saat pemakaiannya? Bisakah anda memperhitungkan seberapa besar pencemaran yang ditimbulkan saat ia menjadi sampah kelak? Bila semuanya ini dikalkulasi ditambah lagi jumlah penggunanya yang juga banyak, bukankah semuanya itu akan mencemari lingkungan tanah, air dan udara?

Kemajuan teknologi merusak lingkungan sekaligus mempercepat kiamat

Saat sampah karbon menupuk di udara maka akan menjadi polutan yang tidak saja berbahaya bagi manusia itu sendiri melainkan berbahaya pula bagi lingkungan alamiah (kematian hewan lain) hingga menyebabkan bencana alam (miskinnya kadar O2, udara menjadi berat/ masa jenis yang lebih besar daripada udara bersih, angin puting beliung, topan, tornado, gelombang panas dan lain sebagainya). Sampah berupa limbah di atas tanah dan di dalam perairan akan menghambat pertumbuhan makhluk hidup (tumbuhan dan hewan) dan memperlambat pembusukan berbagai jenis buangan organisme hidup maupun industri.

Keadaan ini semakin diperparah dengan pembalakan liar sehingga terus saja terjadi bencana (banjir, tanah longsor, banjir bandang, keracunan air, hujan yang tidak penah turun lagi, kekeringan bahkan fuso). Pada akhirnya semua kemajuan di bidang teknologi akan meningkatkan pencemaran lingkungan yang terjadi sehingga mendatangkan kiamat lebih cepat, terutama bagi kalangan bawah (rakyat jelata) yang tidak punya apa-apa. Simak, Pemanasan global membunuh masyarakat luas

Kesimpulan

Penggunaan teknologi yang tidak mengedepankan kaidah-kaidah kebersamaan akan mempercepat pencemaran lingkungan. Semakin banyak penggunanya secara individual maka semakin banyak pula limbah dan emisi yang dihasilkannya. Oleh karena itu, dibutuhkan prinsip dasar kebersamaan dalam menjalani hidup di dunia ini. Agar aktivitas kalangan atas tidak sampai berlebihan hingga menyebabkan orang-orang yang hidup apa adanya di bawah menjadi tertekan, tertindas bahkan tersisih dari tengah-tengah masyarakat.

Salam, gunakan teknologi bersama-sama!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s