Gejolak Sosial

+10 Dampak Negatif Sikap Individualis Dalam Masyarakat – Individualisme Merusak Tatanan Sosial

Dampak Negatif Sikap Individualis merusak tatanan sosial bermasyarakat, jauhi sikap individualisme

Individualisme adalah (1) paham yang menganggap manusia secara pribadi perlu diperhatikan (kesanggupan dan kebu-tuhannya tidak boleh disamaratakan); (2) paham yang meng-hendaki kebebasan berbuat dan menganut suatu kepercayaan bagi setiap orang; paham yang mementingkan hak per-seorangan di samping kepentingan masyarakat atau negara; (3) paham yang menganggap diri sendiri (kepribadian) lebih penting daripada orang lain (KBBI Luring). Ini adalah puncak kesombongan seorang manusia dimana ia menganggap bahwa seluruh alam semesta membutuhkannya alias berkeyakinan bahwa ia adalah tuhan sendiri.

Menjadi individualis karena tidak terbiasa dengan lingkungan masyarakat

Kita lahir secar individu, mati secara individu tetapi harus hidup berkelompok di dalam masyarakat secara sosial. Apabila aspek individualisme terlalu mencolok dalam diri seseorang maka bisa dikatakan bahwa sikapnya lebih dekat kepada egoisme. Terlalu mementingkan diri sendiri jelas tidaklah baik sebab paham ini muncul karena seseorang merasa tidak nyaman dalam kebiasaan-kebiasan masyarakat sekitar. Jadi, bisa dikatakan bahwa perwujudan dari sikap individu adalah demi kenyamanan pribadi semata.

Sikap individualis yang mementingkan rasa nyaman menjauhkanmu dari latihan kehidupan, masalah

Bila selama hidup di dunia ini anda hanya berpikir tentang bagaimana agar bisa terus nyaman, kemana-mana enak, mau ngapa-ngapain bisa, ikuti saja kata hatimu, terserah maumu apa…. Ini jelas tidak baik bagi kepribadian anda. Keadaan yang membuatmu tetap pada zona nyaman adalah sebuah usaha yang tidak akan mendatangkan keuntungan yang sifatnya teru-menerus. Keadaan ini justru akan mendatangkan kerugian dalam dirimu sendiri. Sebab ketidaknyamanan cenderung  lebih bermanfaat untuk melatih mental dan kepribadian ini menjadi lebih kuat hari lepas hari.

Antara kenyamanan dan ketidaknyamanan keduanya harus dihadapi dengan lapang dada dan diterima apa adanya. Ada kenyamanan saat sedang menikmati hidup, bercanda ria bersama keluarga/ sahabat/ rekan kerja, menjadi diri sendiri dan lain sebagainya. Akan tetapi, ketidaknyamanan datang karena sesuatu yang belum dibiasakan, misalnya saat menghadapi masalah. Padahal moment semacam ini adalah saat paling bermanfaat untuk melatih kecerdasan otak, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang dimiliki. Tetapi saat sendiri cenderung bebas dari tekanan (bagi mereka yang mampu memanajemen mindset). Hanya saat kita berbaur dengan orang lainlah ada-ada saja pergumulan hidup yang harus diselesaikan.

Cobalah untuk mengubah fokus kehidupan anda, bukan lagi melihat kepada kenyamanan yang ditawarkan melainkan lebih kepada manfaat yang diberikan. Nyaman atau tidak adalah tidak penting karena semua itu tergantung dari kebiasaan (hal yang sudah terbiasa akan terasa nyaman). Sebelum melakukan sesuatu tidak perlu terlalu mempertimbangkan kenyamanan tetapi fokuslah kepada manfaat yang diberikannya. Jika anda fokus pada manfaat maka hal-hal tersebut bila dibiasakan pasti akan terasa lebih nyaman di hati.

Seorang kriminal berkembang dalam lingkungan individu

Manusia yang memiliki kehidupan yang buruk secara sosial yang cenderung merugikan bahkan melukai orang lain biasanya berkembang dalam lingkungan individur. Mereka adalah psikopat kejam dengan rentetan kasus kriminal yang mengikutinya. Terpapar oleh berbagai informasi salah yang beredar luas di masyarakat terutama konten internet yang tidak jelas menjadi acuan mereka. Orang-orang ini tidak memiliki acuan alias standar dalam menjalani hidup sehingga ia pergi saja bersama kejahatan tanpa rasa bersalah. Sekalipun demikian, pasti saja ada sisi kebenaran yang mengingatkannya tentang hal tersebut namun tetap bisa ditepis olehnya.

Keadaan ini semakin diperparah oleh karena kebiasaannya hidup menyendiri sehingga tidak ada siapa-siapa yang mengingatkan, menegur dan menasehatinya saat berada di jalan-jalan yang salah. Sadar atau tidak, saat diri ini berbaur dengan banyak orang maka kecerdasan emosional ini akan dilatih menjadi lebih peka dengan kebutuhan orang lain. Jadi bila kita tidak pernah bergaul dengan sesama maka rasa peduli di dalam hati berkurang drastif bahkan acuh sama-sekali (mau mereka tertindas, tertekan, teraniaya, itu urusannya sendiri). Kumpulan faktor semacam ini akan memperbesar kemungkinan seseorang untuk menjadi psikopat yang kriminal. Dibalik semuanya itu, betapapun kejamnya seorang psikopat pasti akan jatuh juga bila kesalahannya sudah penuh di mata Allah.

Tuhan sendiri tidak mengehendaki agar manusia seorang diri saja

Seperti yang termuat dalam firman-Nya:

Kejadian  2:18 TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Sikap individualis adalah awal dari bencana global. Saat tidak ada seorangpun yang ada disisi kita maka manusia cenderung sombong dan berpikir bahwa apa yang dilakukannya adalah baik, dialah orang yang paling benar. Kesombongan semacam ini jelas tidak baik bagi kehidupan kita sebab ini adalah permulaan dari semua kesalahan/ dosa manusia. Terlalu lama menyendiri membuat seseorang tinggi hati, merasa diri paling benar, melakukan kesalahan/ kekhilafan/ perbuatan menyimpang terus hingga jatuh dan hancur tanpa menyisakan sesuatu yang baik.

Dampak buruk sikap individualisme

Tidak masalah saat kita sesekali menyendiri untuk menenangkan hati dari kemelut yang terjadi. Akan tetapi, manusia semakin banyak menyendiri maka semakin tumpul otaknya terutama pada bagian kecerdasan emosional. Semakin buruk kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosinya maka semakin buruk pula pergaulannya dengan sesama. Keadaan ini cenderung membuat seseorang selalu merasa tidak nyaman dengan keberadaan orang lain sehingga cenderung menjadi pribadi yang anti sosial dan dekat sekali dengan perbuatan menyimpang.

Berikut ini beberapa sikap individualis yang berbahaya.

  1. Menjadi egois, mementingkan diri sendiri.

    Satu kata untuk orang yang sangat mempertahankan sifat individualistik dalam kehidupannya adalah mereka hanya peduli dengan dirinya sendiri. Dialah yang menjadi pusat dari segala sesuatu. Apapun yang dikatakan dan diperbuat olehnya semua demi keuntungan seorang diri saja. Mereka tidak lagi peduli dengan kebutuhan sesama bahkan memandang rendah kebutuhan itu (Hak asasi manusia) di atas semua keinginannya.

  2. Suka bermanja ria.

    Sikap manja yang kami maksudkan disini adalah hasrat yang mengharapkan bahwa segala sesuatu yang terjadi harus sesuai dengan keinginanannya. Orang yang manja biasanya tidak mau memaksa/ menekan dirinya sendiri untuk meraih kemandiriaan bahkan kedewasaan. Kelak mereka baru tahu rasa ketika orang lain yang mendesak dan menekan mereka untuk menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

  3. Mendewakan kenyamanan.

    Lebih mengehendaki kenyamanan ketimbang manfaat dari semua hal yang dialami. Terlalu fokus pada kenyamanan dan sangat menuntut hal ini. Menuntut agar orang lain memperlakukannya dengan baik tetapi ia sendiri tidak pernah berlaku baik bagi sesama. Ia cenderung mengabaikan bahkan mengorbankan hal-hal yang sebetulnya bermanfaat semata-mata demi rasa nyaman.

  4. Kebaikan hati minus.

    Ia merasa sudah menjadi orang yang baik padahal belum berbuat apapun untuk orang lain bahkan keramahan saja tidak pernah diekspresikan dari dalam dirinya (senyumpun tidak). Mereka adalah tipe orang yang pelit sebab memiliki banyak tetapi tidak pernah sedikitpun dibagikan. Orang yang sederhana dan tidak punya apa-apa sehingga tidak bisa memberi kepada orang lain bukan berarti dia pelit. Tetapi setidaknya, kesopanan, kesantunan dan keramahannya keluar dengan tulus: bukankah ini termasuk pemberian juga?

  5. Tidak mau (enggan) bergaul dengan orang-orang sekitar.

    Mereka tidak mau bergaul karena ingin cari aman dalam kehidupan ini. Sebab dimana ada hubungan sosial maka disana jugalah terdapat berbagai kekhilafan yang mengganggu kehidupannya. Bagi mereka bergaul dengan sesama mempertinggi/ meningkatkan resiko di bully, dihina, diejek orang lain.

  6. Tidak peduli dengan keberadaan orang lain dan tidak peduli dengan perasaan orang lain.

    Para psikopat tidak mampu mengerti perasaan orang lain. Mereka akan bertindak sesuka hatinya sekalipun hal tersebut membuat sesamanya tersakiti. Bahkan bisa dikatakan bahwa kadang-kadang perkataan mereka yang keras mencerminkan perilaku “orang yang tidak punya perasaan.” Mereka lebih fokus pada dirinya sendiri dalam segala situasi bahkan bila perlu kepentingannya diatas segalanya dibandingkan dengan kebutuhan (hak) orang lain.

  7. Memiliki sikap sombong.

    Biasanya orang yang hanya mengenal dirinya akan terjebak dalam sikap yang sombong. Mereka cenderung merasa diri paling dan paling dalam bidang-bidanya yang digeluti. Enggan menerima saran apalagi kritik dari orang lain dan kata-katanya selalu bertujuan untuk merendahkan sesama. Ia merasa nyaman dengan pujian karena itulah yang salama ini diinginkannya.

  8. Merasa diri sudah dan paling benar terkesan perfeksionis.

    Selalu saja menuntut agar segala sesuatunya sempurna dan tidak mentolerir kekhilafan orang lain. Dia cenderung merasa bahwa apa yang dikerjakannya untuk sistem sudah benar. Enggan untuk menerima saran, dikoreksi apalagi dikritik oleh orang lain. Mudah sekali tidak setuju pada situasi hanya karena hal-hal sepele. Menganggap bahwa kesempurnaan adalah segalanya dan itu sudah ada di dalam dirinya, padahal hanya perasaannya saja.

  9. Mudah terpancing emosi.

    Pergaulan yang jarang (rendah) membuatnya tidak mampu memahami perbedaan antara manusia. Tidak mampu memandang suatu keadaan dari sudut pandang positif (persepsi iman yang positif). Cenderung terburu-buru dalam mengambil sikap sehingga membuat seseorang kehilangan dirinya bahkan kemarahannya akan mencapai puncaknya.

  10. Melakukan perbuatan menyimpang.

    Karena amarah yang meluap-luap dari dalam hatinya maka sikap yang salahpun akan dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Mereka akan bergerak dalam kebencian, dendam, amarah dan kekerasan. Sifat semacam inilah yang menjadi dasar penyimpangan yang dilakukannya. Karena menganggap diri paling benar maka ia cenderung membatasi diri untuk bergaul bahkan membenci pergaulan dengan orang lain (anti sosial).

  11. Enggan menyetujui ujian sosial.

    Tidak menyetujui gangguan kecil yang terjadi disekitarnya dan menganggap itu sebagai perbuatan yang melanggar hak-haknya secara pribadi. Orang ini tidak mengerti bahwa cobaan hidup akan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih tangguh dan bebas dari segala busuk hati (pikiran negatif). Mereka begitu mendewakan kenyamanan sehingga bertindak lebay pada hal-hal yang sebenarnya recehan.

  12. Kurang mampu bekerja sama.

    Ini adalah ciri khas dari sikap individualis. Saat seseorang hanya mengerti dirinya sendiri dan tidak paham dengan perasaan orang lain maka mereka akan cenderung melakukan hal-hal yang menyinggung perasaan sesama. Kebiasaannya yang enggan menerima saran dari orang lain membuatnya sulit diajak bekerja dalam kelompok karena sudah merasa melakukan hal yang benar. Padahal apa yang dikerjakannya semata-mata demi kepentingan pribadi dan bukan untuk kepentingan kelompok.

  13. Menolak kesetaraan.

    Manusia yang lebih mementingkan urusannya sendiri sangat anti dengan kesetaraan. Ia merasa hebat sendiri dan berhak untuk diperlakukan sebagai oranga-orang hebat padahal apalah artinya seorang produsen tanpa konsumen? Misalnya anda sedang membuat kue, setelah masak langsung menjualnya. Lalu apakah kue-kue anda akan menghasilkan uang jikalau tidak ada konsumen? Demikian juga konsumen tidak akan merasakan kenyangnya perut setelah mengkonsumsi kue tersebut jikalau tidak ada produsen. Oleh karena itu, kesetaraan adalah mutlak dan orang yang mementingkan dirinya sendiri cenderung menolak paham ini dan ingin hidupnya lebih tinggi/ lebih hebat dari sesamanya.

  14. Mempercepat kerusakan lingkungan.

    Sikap individualis yang cenderung mengehendaki segala sesuatu sebagai milik pribadi adalah awal dari kerusakan lingkungan. Sebab barang/ benda/ properti yang melibatkan banyak sumber daya dalam pembuatannya akan dimiliki secara pribadi. Coba bayangkan jikalau masing-masing manusia yang jumlahnya miliaran memiliki mobil, rumah dan fasilitas pribadi yang mewah lainnya. Bukankah ini akan menjadi awal dari eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Jika hal ini terus dibiarkan maka pemanasan global akan terus berlangsung yang diikuti oleh bencana demi bencana yang menyebabkan kerugian dan memakan korban jiwa.

Hidup ini memang penuh dengan dualisme, terlalu individualis adalah tidak baik dan terlalu sosialis juga tidak baik. Melainkan ada sisi-sisi dalam kehidupan dimana bagian-bagian tersebut akan lebih bermanfaat untuk diterapkan. Oleh karena itu, kenalilah situasinya, kapan harus mementingkan diri sendiri dan kapan juga harus peduli kepada kepentingan sesama. Diatas semuanya itu, bergeraklah demi kepentingan bersama sebab sejak dari awal Tuhan menciptakan kita untuk hidup damai & sejahtera berdampingan dengan orang lain.

Salam,utamakan kepentingan bersama dibalik kepentingan individu!

2 replies »

  1. Dengan adanya 10 dampak negatif tersebut, lalu solusinya apa ?” untuk memperbaiki sifat tersebut agar tidak negatif ?” terimakasih.

    Disukai oleh 1 orang

    • Satu-satunya hal yang dapat kita lakukan untuk mengimbangi sikap individualis didalam diri ini adalah dengan senantiasa berbagi kasih (menebar kebaikan dan menjadi bermanfaat) bagi sesama.

      Oleh karena itu, pastikan dalam satu hari ini anda telah melakukan kebaikan kepada minimal 7 orang saja. Mulailah dari hal-hal kecil terlebih dahulu jikalau tidak bisa memberi sesuatu yang besar.

      Misalnya dengan beramah-tamah (senyum, sapa, sentuh, terimakasih, tolong, silahkan, maaf dan menjadi pendengar yang baik). Selanjutnya lakukanlah kebaikan dalam setiap pekerjaan yang anda geluti, menurut bakat/ potensi yang dimiliki dan berdasarkan sumber daya (materi) yang ada pada anda.

      Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.