Gejolak Sosial

+10 Alasan Penyebab Anda Bahagia Dalam Hidup – Kebahagiaan Sederhana Layaknya Sesederhana Keinginan Anda

Alasan mengapa Bahagia Dalam Hidup - Kebahagiaan Sederhana Layaknya Sesederhana Keinginan Anda

Pernahkah terpikir oleh anda, “bagaimana bisa seorang bayi kecil, cecunguk, suka pipis & beol di celana bisa tersenyum bahagia?” Kami bahkan baru menyadari hal ini beberapa jam yang lalu. Cobalah amati betapa sederhana kebahagiaan bayi yang anda miliki (milik orang lain pinjam sebentar)! Bukankah mereka luar biasa, hanya dengan tepuk tangan, cilukbaa dan bernyanyi di depan mereka tertawa terkekeh-kekeh. Jangan pernah lupa untuk menyempatkan diri bermain dengan mereka sebab masa-masa ini kelak akan berlalu. Ekspresi anak sungguh menghentakkan sekaligus menyadarkan kita bahwa kebahagiaan itu sangatlah sederhana.

Seorang balita hanya memiliki dua ekpresi yang menuntukkan kesukaan dan ketidaksukaannya, yaitu tersenyum dan menangis. Disini, kami tidak membahas tentang bagaimana bayi menangis melainkan bagaimana mereka senang. Ada yang tersenyum saja, tersenyum sambil terkekeh dan ada juga yang tertawa terbahak-bahak. Inilah dasarnya mengapa banyak orang yang meyakini bahwa dengan tersenyum maka kehidupan kita menjadi lebih berbahagia hari lepas hari. Oleh karena itu, lepaskan senyumanmu pada momen yang tepat bahkan saat tertekan dan dihimpit oleh masalah, seorang yang cerdas masih bisa tersenyum karena sampai detik ini masih diberikan nafas kehidupan oleh Tuhan.

Coba bayangkan kalau saja kita orang dewasa mampu meniru kesederhanaan rasa bahagia dari kehidupan anak-anak, bukankah dunia ini akan menjadi lebih indah adanya? Kebahagiaan semacam ini akan terus menjadi rahasia saat kita dikuasai oleh hawa nafsu yang berlebihan juga sesat. Keinginan muncul karena terlalu cerdas menanggapinya. Seandainya, kita mampu mengikat, mengekang dan membatasi kepintaran ini maka saat itu juga hawa nafsu menurun drastis sehingga bahagia menjadi lebih sederhana.

Bahagia datang dari dua sumber utama “apa yang kita berikan dan diberikan oleh orang lain”

Sumber-sumber kebahagiaan manusia

Dalam banyak teori kebahagiaan, ada dua faktor yang secara garis besar bisa mempengaruhi bahagia di dalam hati, yaitu “apa yang diterima dan apa yang bisa diberikan.” Pada hakekatnya, manusia sebagai makhluk sosial tidak pernah lepas dari apa yang diberikan sesama dan bagaimana orang lain memperlakukan dirinya (sosialis). Tetapi pada dasarnya, manusia sebagai makhluk perseorangan (individu), sangat bergantung kepada apa yang mampu diberikannya kepada Tuhan (spiritual) dan kepada sesama manusia (sosialis). Disinilah semua rasa itu bergerak, yakni antara apa yang mampu anda berikan dan diterima dari orang lain.

Harus diketahui bahwa semuanya ini tidak bisa dikuasai penuh. Hanya ada satu sisi yang bisa anda kuasai sedangkan di sisi lain dikuasai penuh oleh pihak lain. Sebagai manusia merdeka, kita tidak berhak mengatur-ngatur orang lain agar memperlakukan diri ini dengan baik. Sebab pemaksaan semacam ini hanya dilakukan oleh hukum sedangkan manusia itu sendiri, sehebat apapun dia bukanlah hukum. Jika memang anda (sebagai penguasa) ingin membuat peraturan yang lebay dimana semua orang harus memperlakukanmu dengan baik. Yang menjadi ketakutan kami adalah: “sampai kapan anda berkuasa? Sejauh mana kekuatan anda? Bukankah suatu saat hal ini akan dirindukan saat kekuasaan itu berakhir? Bagaimana anda memenuhi hasrat yang telah terlanjur dibiasakan?” Oleh karena itu, tidak perlu berusaha mengendalikan hal-hal yang tidak bisa terus-menerus anda kendalikan melainkan kendalikan apa yang bisa anda berikan/ lakukan/ ekspresikan niscaya itu juga bisa membuat hati tetap bahagia.

Bahagia sama dengan keinginan (hawa nafsu sederhana, kebahagiaan juga sederhana)

Jangan pernah berprasangka bahwa keinginan hati tidak ada hubungannya dengan kebahagiaan. Semakin otak anda cerdas maka semakin besar potensi hawa nafsu didalamnya. Kemampuanmu untuk mengendalikan hawa nafsu adalah awal yang baik untuk membuat hati bahagia. Tetapi (1) saat indra terpapar dengan berbagai gemerlapan duniawi, (2) kurang selektif dan kritis mencerna informasi, (3) kurangnya kemampuan mengendalikan diri niscaya (4) keinginan di dalam hati terlalu banyak. (5) Akibatnya hidup selalu jauh dari kata berbahagia.

Salah satu cara terbaik untuk mengendalikan hawa nafsu adalah dengan menyeleksi informasi yang masuk dan senantiasa fokus kepada hal yang positif. (a) Kami mengajak para pendengar sekalian untuk tidak sembarangan menonton acara televisi, mendengar radio, membaca buku, membaca majalah dan sumber informasi lainnya. Sebab, sadar atau tidak informasi yang berasal dari luar cenderung mempengaruhi keinginan setiap manusia. Ini juga bisa menjadi salah satu cara untuk memprovokasi, mempengaruhi dan mengendalikan anda untuk melakukan hal-hal tertentu. (b) Untuk meningkatkan kewaspadaan standar, menjaga kemurnian pikiran dan meningkatkan sifat kritis juga selektif, yang dibutuhkan adalah kemampuan fokus pada hal positif. Saat kita mampu selalu fokus kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian maka saat itu juga pikiran terjaga dari hal buruk, virus mematikan, provokasi, pengaruh dan berbagap pengotor (informasi sampah) yang berasal dari luar.

Bahagia adalah buat orang lain berbahagia maka otomatis andapun merasakan hal yang sama

Hidup ini seperti bola karet, apa yang anda lempar suatu saat akan kembali juga, cepat atau lambat. Seperti seorang petani yang menabur beberapa benih dan setelah beberapa waktu menunggu akan menerima pula (menuai) berlipat kali ganda. Demikian jugalah dengan kebahagiaan di dalam diri setiap manusia, saat anda mampu membahagiakan orang lain maka saat itu juga ada rasa bahagia di dalam hati ini. Misalnya saja, saat kita mampu memberi kepada sesama, ia akan tersenyum dan kitapun balik tersenyum dengan demikian hati ini berbahagia. Bila tidak memiliki materi untuk dibagikan (seperti kami saat ini), berbagilah lewat perkataan (ramah tamah) dan berbagilah lewat sifat yang diekspresikan (jujur, konsisten, telaten, menolong teman lewat ide, berbagi informasi positif, penurut, setia, peduli dan lain-lain).

Faktor penyebab bahagia dalam hidup

Rasa bahagia sudah ada di dalam diri seseorang sejak ia dibentuk dalam rahim Ibunda. Jadi, pada dasarnya setiap manusia bisa membentuk kebahagiaannya sendiri tanpa harus bergantung kepada orang lain (menjadi individualis). Akan tetapi, tidak baik juga jika sikap yang suka senang sendiri dan ngapa-ngapain sendiri ini untuk dipelihara seumur hidup. Melainkan ada baiknya diimbangi dengan memelihara sikap sosialis (bergaul dan peduli kepada sesama). Jika kita bahas secara lebih mendetail maka akan ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi kebahagiaan manusia, diantaranya adalah sebagai berikut.

  • Apa yang diterima.

    Apa yang berasal dari luar yang kita terima sifatnya tidak konsisten dan tidak selalu ada. Lagipula mustahil kita mampu mengendalikan kehidupan orang lain agar saat berjumpa dengan diri ini, hanya melakukan hal yang baik-baik saja atau hanya melakukan apa yang kita inginkan saja. Oleh karena itu, bisa kami katakan bahwa jika kadarnya tepat maka keburukan yang anda terima akan menjadi ujian kehidupan yang bisa membuatmu semakin cerdas dan lebih bijak menjalani hidup. Jika berlebihan (menyebabkan kehilangan materi dalam jumlah yang tidak sedikit), anda diperkenankan untuk melaporkannya.

    Satu-satunya, yang mampu kita kendalikan adalah kebaikan Tuhan berupa rasa bahagia, tetap laga dan damai di hati ini. Itupun saat pikiran kita selalu terhubung kepada-Nya sambil memanjatkan (memberi) doa, firman dan nyanyian pujian.

    Bahagia yang dititipkan Tuhan.

    1. Masih bisa bernafas sampai sekarang.
    2. Kebutuhan hidup tercukupi.
    3. Seluruh keluarga diberi kesehatan.
    4. Anak-anak walau masih banyak kekurangan tetapi mereka bisa melanjutkan studi dan bisa bersikap baik kepada orang tua dan lingkungan sekitar.
    5. Beruntung di segala usaha.
    6. Terhindar dari segala celaka.
    7. Kebahagiaan, kedamaian dan kelegaan dalam hati.
    8. Dan lain sebagainya.

      Kebahagiaan yang datangnya dari sesama.

      Pada dasarnya apa yang kita peroleh dari sesama berasal dari Tuhan. Artinya, perlakuan baik dari orang lain adalah yang diijinkan Tuhan terjadi dalam kehidapan ini. Jadi ketika diperlakukan dengan baik oleh orang lain maka berterimakasihlah kepada Tuhan dan berterimakasih juga kepada manusia.

      • Diperlakukan dengan baik oleh sesama.
      • Sikap orang lain yang jujur.
      • Dipedulikan oleh orang lain.
      • Dihargai oleh orang.
      • Dipuji oleh sesama.
      • Dibela oleh seseorang.
      • Diperlakukan dengan adil – tidak pilih kasih.
      • Saat kebaikan kita dibalas dengan kebaikan.
      • Melakukan sesuatu yang sudah terbiasa.
      • Dan lain sebagainya.
        • Sayang ekspresi sesama di dalam kehidupan kita tidak selalu baik dan santun. Ada-ada saja yang berlaku kasar baik dalam hal lisan maupun tulisan yang sengaja dilontarkan kepada anda.

          Hati-hati berharap terhadap kebaikan orang lain sebab beberapa melakukannya tidak konsisten. Oleh sebab itu jangan pernah mengharapkan di perlakukan baik melainkan isi pikiran anda dengan senantiasa bersyukur dan memuliakan Tuhan di segala waktu hingga rasa senang-sukacita memenuhi hati.

          Sebaliknya, persiapkan diri anda untuk menerima perlakuan buruk dari sesama. Pikiran yang terbuka dan sabar terhadap orang lain sangat dibutuhkan untuk memampukan anda mengalami ujian sosial. Salah satu faktor yang paling dibutuhkan untuk menghadapi ujian kehidupan adalah rela berkorban. Semua orang yang rela berkorban akan menghadapi tekanan sosial dengan ikhlas bahkan sembari bersikap ramah terhadap orang-orang yang mengujinya. Rela berkorban juga di tunjukkan dengan tidak menyimpan dendam dan memaafkan orang-orang yang pernah menyakitinya.

  • Apa yang diberikan.

    Jika sebelumnya, kita telah membahas apa-apa saja ekspresi orang lain yang mungkin kita terima sehari-hari tetapi tidak mungkin kita kendalikan. Satu-satunya yang bisa dikendalikan sepenuhnya dalam dunia ini adalah apa yang bisa diberikan kepada Tuhan, sesama dan lingkungan sekitar. Ini merupakan potensi yang berasal dari dalam ke luar (ekspresi diri). Oleh karena itu, perbaikilah apa-apa saja potensi yang ada di dalam diri anda sehingga sifat-sifat itu bisa diekspresikan secara lebih baik kepada orang-orang disekitar. Berikut ini yang termasuk dalam hal-hal yang bisa dikendalikan oleh diri sendiri, bila dilakukan dengan baik niscaya mampu membuat anda bahagia.

    1. Pikiran sendiri.

      1. Menjadi pribadi yang cerdas dengan persepsi positif.

        Kita harus cerdas dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Salah satu cara untuk mendorong hal ini adalah dengan membaca buku sejarah kehidupan yang dimiliki, yaitu Kitab Suci. Ada berbagai-bagai ungkapan hikmat dari sana yang bisa diterapkan dalam menjalani kehidupan yang kadang tidak baik. Jika anda bisa menemukan alasan yang tepat atas segala kejadian yang dialami niscaya hati menjadi lega dan selalu bahagia melalui semua itu.

        Tidak hanya membaca firman, andapun bisa membaca buku-buku berkualitas lainnya yang dimiliki atau yang diperoleh lewat membelinya dari luar.

      2. Mampu mengendalikan ego sendiri.

        Saat egois di dalam diri ini tinggi maka ada kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri dibandingkan kepentingan bersama. Anda lebih memilih untuk sibuk membuat diri sendiri bahagia ketimbang menyibukkan diri tentang bagaimana membuat orang lain juga bisa berbahagia. Harus ada keseimbangan antara sikap individualis (membahagiakan diri sendiri) dan sikap sosialis (membahagiakan orang lain). Cara mencapai keseimbangan ini berawal dari pengalaman yang ditemukan sehari-hari. Pada dasarnya tidak ada istilah langsung bisa melainkan semuanya butuh proses.

      3. Mampu mengendalikan prasangka buruk (pikiran negatif) agar tidak terus menerus memburuk (berpikir negatif).

        Merupakan sifat yang terlalu merasa takut berlebihan tentang buruknya masa depan. Rasa takut & kuatir inilah yang secara tidak langsung mengganggu rasa bahagia di hati. Pikiran negatif tentang masa depan adalah baik untuk membuat kita waspada (berhati-hati) dalam bersikap. Akan tetapi terus-menerus berpikir negatif jelas menggangu konsentrasi dan fokus saat mengerjakan sesuatu.

      4. Sanggup menepis rasa kuatir dengan keyakinan yang dimiliki.

        Sikap yang selalu berprasangka buruk turut menimbulkan kekuatiran dalam hati manusia. Misalnya berburuk sangka tentang adanya masa depan yang suram atau karena memikirkan musuh-musuh yang menghadan di depan anda dan lain sebagainya. Pada dasarnya kekuatiran semacam ini hanya dapat diatasi dengan keyakinan yang penuh kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bila kehidupan ini kita pasrahkan dengan penuh keyakinan di bawah kaki-Nya, niscaya hati terbebas dari rasa kuatir yang menimbulkan ketakutan.

      5. Mampu mengendalikan hawa nafsu.

        Keinginan kita yang lebay cenderung membuat hidup semakin sulit untuk meraihnya. Sebab hawa nafsu berbanding terbalik dengan kebahagiaan di dalam hati. Semakin tinggi keinginan maka akan semakin rendah rasa bahagia di dalam hati.

        Anda harus mampu mengendalikan, menekan, melemahkan dan meminimalisir hawa nafsu di dalam hati sebab rasa yang satu ini hanya akan semakin memperberat usaha untuk mencapai kebahagiaan.

      6. Membebaskan diri dari kebencian.

        “Rasa benci seperti granat yang pengamannya sudah dilepas, sehingga mau tidak mau, harus dilemparkan ke luar.” Suatu saat nanti rasa ini akan membakar anda juga orang-orang yang ada disekitarmu. Jikalau semua orang sudah kecipratan oleh rasa benci yang kita ekspresikan dalam berbagai-bagai bentuk maka timbullah aksi perlawanan sekaligus rasa bersalah yang membuat kita kurang bahagia sekalipun memiliki banyak hal yang waw disini. Oleh karena itu, membebaskan diri dari kebencian adalah salah satu faktor yang mempengaruhi, ada tidaknya rasa ini.

      7. Melepaskan dendam dari dalam hati.

        “Soal dendam, itu seperti sampah/ bangkai yang disimpan di dalam hati.” Sayang, serapi apapun anda menyimpannya, tetap juga baunya ketahuan suatu saat nanti kepada orang lain. Oleh karena itu, maafkanlah setiap kesalahan untuk mempermudah rasa bahagia masuk dalam hati sekaligus memperbaiki hubungan yang selama ini kurang baik kepada sesama.

      8. Mampu mengendalikan amarah.

        “Amarah itu seperti api dalam gelumbung baju sendiri yang bisa membakar diri sendiri dan orang lain juga.” Bila kemarah sudah meluap dari dalam hati maka tidak ada lagi ketenangan dan kebahagiaan, justru yang terjadi adalah sebaliknya, “mulai berpikir, jangan-jangan kata-kata yang tadi telah menyinggung si ini atau itu.”

        Amarah di dalam hati seperti pengusir kebahagiaan, semakin tinggi kemarahanmu maka semakin jauh bahagia dari dalam hati ini.

      9. Tidak sombong dan tetap rendah hati.

        Sikap yang merasa bahwa dia adalah segalanya dan diatas semuanya. Semakin tinggi kesombongan maka semakin tinggi keinginan dan semakin sulit juga untuk bahagia. Sikap yang tinggi hati cenderung berlebihan yang berimbas langsung kepada hawa nafsu yang juga semakin sesat, aneh dan tidak mudah dikendalikan. Pada akhirnya, keadaan ini akan melemahkan kondisi anda, sebab kesombongan awal dari berbagai-bagai ketelodoran.

      10. Tidak suka membanding-bandingkan (menjauhi sifat iri hati & cemburu).

        Sifat yang suka membending-bandingkan kehidupan pribadi dengan kehidupan orang lain. Ini jelas tidak membuat hati bahagia sebab biar bagaimanapun, anda tetaplah seorang pribadi berbeda dengan orang lain.

        Saat membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain maka saat itu jugalah jejak-jajak kebahagiaan akan meninggalkan anda satu per satu, perlahan tapi pasti.

      11. Mampu menerima kenyataan.

        Kebiasaan tidak menerima kenyataan membuat manusia semakin jauh dari rasa bahagia sebab biar-bagaimanapun usaha anda tidak bisa mengubah kenyataan. Jika hendak mengubah sesuatu maka ubahlah masa depan dengan melakukan perubahan itu mulai dari sekarang untuk masa depan yang lebih baik.

        Salah satu kemampuan menerima kenyataan yang paling mendasar adalah saat anda mampu menerima kekurangan/ kelemahan yang dimiliki. Apapun keterbatasan yang anda miliki, pastikan semuanya itu sudah dimaafkan dan disikapi secara positif.

        Berpuas diri juga merupakan salah satu dari kemampuan menerima kenyataan. Apapun yang dialami saat ini, anggaplah itu sebagai yang terbaik dimana sudah diusahakan semaksimal mungkin. Saat anda puas setelah melakukan sesuatu, rasa bahagia itupun datang dengan sendirinya.

      12. Mampu menjaga konsentrasi pikiran.

        Ini adalah kemampuan yang harus dilatih hari lepas hari. Saat kita dilahirkan ke dunia ini, konsentrasi pikiran mudah buyar/ pecah sehingga langsung menangis saat ada gangguan kecil yang terjadi disekitar. Seiring waktu berlalu, seharusnya kemampuan setiap manusia untuk berkonsentrasi pada apa yang dikerjakan/ dilakukan/ dikatakan akan semakin membaik.

      13. Fokus kehidupan yang benar.

        Hidup kita sangat tergantung dari arah yang kita tentukan di dalam hati, entah itu ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, ke bawah dan ke atas adalah sangat menentukan kebahagiaan di dalam hati. Sebab ketika terlalu ketergantungan pada hal-hal duniawi yang tidak pasti niscaya bahagianya juga tidak pasti. Akan tetapi ketika pikiran hanya ketergantungan kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian yang berkat/ pahalanya pasti niscaya bahagia itu konstan.
        Fokus Berpikir Manusia Agar Hidup Lebih Berkualitas

    2. Sikap (perkataan & perbuatan).

      1. Suka memberi – selalu ramah.

        Anda ingin memberi sesuatu kepada sesama tetapi tidak memiliki materi? Hendak berbagi kasih kepada orang lain tetapi gaji yang dimiliki pas-pasan saja? Ramah tamah (senyum, sapa, sentuh, terimakasih, maaf, tolong dan menjadi pendengar yang baik) adalah kebaikan yang sederhana, bisa diekspresikan kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun keadaan anda. Sikap yang selalu memberi akan membuat hati bahagia menjalani hidup.

      2. Tetap sabar – tidak terburu-buru dalam bertindak.

        Sikap yang tidak sabar tidak baik untuk dipelihara. Sebab kesabaran seharusnya menjadi atmosfer kehidupan ini. Misalnya saja dalam proses menunggu, sudah pasti hati yang sabar menenti dibutuhkan. Saat sedang dalam masalah maka hati yang tabah menjalani hidup diperlukan. Ketika menghadapi kenyataan pahit maka semuanya perlu dihadapi dengan tabah dan mau/ berkeinginan menerima semua itu apa adanya.

      3. Menjadi pribadi yang jujur.

        Sikap yang membuat seseorang berada dalam posisi tidak bisa dipercayai orang lain adalah ketidakjujuran. Ini juga turut mendorong seseorang semakin jauh dari prinsip yang konsisten. Biasanya sesuatu yang tidak dikerjakan secara konsisten, tidak akan menjadi kebiasaan sehingga membuat hatipun tidak bahagia saat melakukannya.

      4. Tidak  plin-plan dalam bersikap.

        Sadar atau tidak, kebiasaan yang plin-plan cenderung membuat kehidupan tidak konsisten. Kadang baik, kadang tidak, kadang buruk dan lain sebagainya. Inkonsistensi cenderung membuat rasa dihati acak-acakan sehingga bahagianya hidup tidak bisa dirasakan lagi.

        Bila sifat kita konsisten niscaya aktivitas yang ditekuni akan menjadi kebiasaan. Lama-kelamaan, hal-hal yang sudah terbiasa ini akan menjadi budaya yang mendatangkan kebahagiaan tersendiri saat dilakukan. Sesuatu yang sudah membudaya akan terjadi secara otomatis yang didorong oleh naluri manusia yang disebut sebagai insting.

      5. Memiliki rasa malu yang pas.

        Malu itu memang baik jika berada pada kadar dan arah yang tepat, yaitu malu melakukan hal-hal yang menyimpang. Akan tetapi, saat anda malu berekspresi padahal sudah diberikan kesempatan, itu namanya minder. Saat anda merasa malu-maluin ketika melakukan kesalahan di depan umum, harus tabah menghadapi rasa ini.

        Teknik untuk mengatasi rasa malu setelah melakukan kekhilafan adalah dengan menyangkal diri dan menerima semua itu apa adanya (jika rasa sakit itu masih ada – kami hanya sampah saja yang selalu ceroboh, maafkan dan kuatkan kami menjalani semua ini Tuhan). Lalu alihkan konsentrasi pada hal-hal positif (saat rasa sakit itu tidak ada).

      6. Mampu bekerja sama.

        Orang yang tidak mampu bekerja sama dalam tim biasanya akan mudah terusik oleh kehadiran orang lain. Mereka biasanya kehilangan rasa nyaman di hati saat pendapat mereka di tolak oleh tim atau saat ada pendapat sesama tim yang tidak cocok dengan dirinya.

        Kemampuan bekerja sama adalah saat mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Menekan ego demi kebersamaan yang berkelanjutan.

      7. Memaklumi kesalahan orang lain.

        Sadarilah bahwa tidak ada manusia sempurna. Sehebat-hebatnya seorang manusia pastilah Kebiasaan mengejek kekurangan sesama menandakan bahwa anda adalah orang yang sudah sempurna (tidak pernah salah) dalam bertindak. Merasa hidup sudah sempurna akan menggiring anda untuk bersikap sombong. Kebiasaan ini sebaiknya jangan dipelihara sebab ada rasa bersalah yang mengurangi rasa bahagia di hati setelah mengejek seseorang.

      8. Hindari perbuatan menyimpang.

        Apa saja itu? Perbuatan jahat, fitnah, bully, mencuri, dosa dan lain sebagainya. Keadaan ini biasanya berhubungan erat dengan aktivitas yang melanggar aturan. Sadar atau tidak, setiap pelanggaran yang kita lakukan pastilah ada sanksinya. Lagipula, manusia tidak bisa hidup terus menerus dalam rasa bersalah di dalam hati. Rasa ini sebagai pengingat kepada kita untuk meminta maaf dan tidak mengulang perbuatan yang sama di masa depan.

      9. Bekerja keras – Tidak terlalu lama dan tidak terlalu banyak bersantai menikmati hidup.

        Terus-menerus bersantai ria tak ada kerjaan sama sekali adalah hal yang tidak baik bagi kehidupan ini. Biasanya orang yang menikmati hidup cenderung bersantai, yaitu tidak melakukan pekerjaan apapun. Ketahui jugalah bahwa santai menikmati hidup cenderung memaksa kita untuk mengosongkan pikiran, “namanya juga santai berarti semua rileks termasuk pikiran dibebaskan dari segala sesuatu.” Ketahuilah bahwa kebiasaan ini jelas tidak sehat bagi otak anda bila dilakukan terus-menerus sebab pikiran kosong akan memudahkan hawa nafsu yang berlebihan juga sesat, kebinatangan dan kejahatan lainnya akan sangat mudah masuk dalam pikiran sehingga hati yang awalnya bahagia menjadi kasak-kusuk tidak jelas. Perhatikan kawan, Penyabab Tidak Bahagia.

  • Menikmati hidup apa adanya.

    Apa karunia yang telah dititipkan Tuhan kepada anda, nikmatilah itu sewajarnya saja. Tidak baik bekerja terus-menerus tanpa kenal istrahat. Ada baiknya sedikanlah waktu-waktu khusus untuk santai dan berkumpul bersama keluarga, sanak-saudara, sahabat, rekan kerja dan lain sebagainya. Menikmati hidup tidak perlu waw…. Sebab masalah yang banyak dihadapi orang di dunia ini adalah “cara mempertahankan kenikmatan yang selama ini dirasakan.” Oleh karena itu, hindari membiasakan diri pada sesuatu yang tidak bisa anda pastikan keberadaannya. Terkadang sulit rasanya meninggalkan hal-hal yang sudah terbiasa sehingga bahagia dihatipun rasanya kurang pas.

    Jangan berpikir rumit untuk menikmati hidup, duduk santai di teras sambil minum teh atau susu juga menikmati hidup. Menonton televisi sambil membeli beberapa cemilan juga menikmati hidup. Mendengarkan radio juga menikmati hidup. Dan masih banyak lagi hal-hal baik yang sederhana untuk menikmati hidup.

    Dalam hidup ini seimbangkanlah antara mencintai diri sendiri (individualis) dengan sikap yang peduli kepada orang lain (sosialis). Jika mampu menggunakannya pada momen yang tepat niscaya kebahagiaan itu akan menjadi milikmu selamanya (seumur hidup).

Menjadi bahagia adalah pencapaian sebuah titik kesimbangan dimana seseorang bisa memanajemen kehidupannya untuk tetap bersikap individualis ditengah-tengah tingginya rasa sosial yang dibutuhkan dalam bermasyarakat. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kebahagiaan di dalam hati manusia, diantaranya adalah (a) hubungan baik dengan Tuhan, (b) hubungan baik dengan diri sendiri dan (c) hubungan baik dengan orang lain juga (d) kesempatan untuk menikmati hidup apa adanya. Jika anda mampu mengatur keempat hal ini niscaya kebahagiaan itu tetap ada di dalam hati.

Ingat-ingatlah selalu bahwa bayi kecil saja bisa bahagia dalam senyumannya yang mungil dan menggemaskan. Lalu mengapa kita yang sudah dewasa ini tidak mampu menikmati setiap moment yang dihadapi lalu tersenyum kepada setiap orang yang menatapmu serius? Mungkinkah ini karena terlalu banyak hawa nafsu yang kita ukirkan di dalam hati? Oleh karena itu, tekan dan ikatlah keinginan anda dengan cara (a) senantiasa fokus kepada Tuhan sambil memuji-memuliakan nama-Nya. (b) Bisa juga dengan bekerja menyibukkan diri sambil memberi manfaat kepada orang-orang disekitar (setidak-tidaknya diri sendiri dan keluarga terkasih). Alhasil, bila aktivitas ini dibiasakan maka Tuhan yang benar itu akan memerintahkan kebahagiaan, kelegaan dan kedamaian berdiam di dalam hati selalu untuk selamanya.

Salam konsistensi!

4 replies »

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.