Gejolak Sosial

Bukan Mengurangi Jumlah Penduduk, Membatasi Hawa Nafsu Manusia Sebagai Solusi Pemanasan Global

Bukan Mengurangi Jumlah Penduduk, Membatasi Hawa Nafsu Manusia

Bumi adalah Ibu pertiwi dari seluruh makhluk hidup yang bernafas diatasnya. Inilah pabrik tertua di dunia yang terus-menerus menumbuhkan, mengambangkan, memelihara dan membiakkan berbagai-bagai jenis makhluk. Kemampuannya untuk memutar sumber daya yang ada sudah terbukti masih berlangsung baik hingga sekarang dimana semua pihak saling bersimbiosis mutualisme. Manusia memelihara hewan sebagai sumber protein, mengambil secukupnya agar tidak ada satu spesiespun yang punah. Kita memelihara beberapa tanaman sebagai bahan pangan dan bangunan, begitu panen tiba, bibit baru kembali di tanam agar tidak ada tanah yang menganggur dan tandus.

Manusia bertugas memanajemen sumber daya dengan menjaga perputaran siklus kehidupan

Manusia yang terampil, pintar memutar siklus kehidupan di sekitarnya sehingga tidak ada satupun spesies hewan yang punah sama sekali. Sekalipun ia mengambil sesuatu dari lingkungan, tetap akan menanam kembali agar tidak terjadi kerusakan ekosistem. Jika kita bijak maka apa yang sudah ada di bumi dimanfaatkan seperlunya dan tetap dikembang-biakkan agar terus ada sehingga tidak menyebabkan/ meninggalkan degradasi lingkungan bagi generasi selanjutnya. Keadaan ini menciptakan situasi dimana tidak ada satupun makhluk yang paling berhak (merajalela) untuk menguasai makhluk lainnya.

Manusia ditakdirkan untuk berkuasa sekaligus memelihara keberlangsungan semua kehidupan

Perhatikan firman ini:

Kejadian  1:26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

Lagi,

Kejadian  1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Tuhan telah mentakdirkan kita, manusia sebagai penguasa atas seluruh kehidupan di dunia ini. Sayang, beberapa orang menganggap bahwa hak kekuasaan ini dapat digunakan sebebas-bebasnya. Mereka merasa berhak untuk mengeksploitasi secara besar-besaran berbagai sumber daya alam yang ada di dunia sekalipun hal tersebut merusak ekosistem yang ada. Eksplitasi yang berlebihan justru lebih dekat kepada perilaku membunuh sekaligus memunahkan setiap entitas kehidupan yang ada. Yakinlah bahwa bukan itu maksud Tuhan dalam kehidupan ini, sebab berkuasa jelas berbeda jauh dengan aktivitas yang memunahkan.

Pesan untuk berkuasa atas bumi ini bisa dikatakan sebagai perintah untuk memanfaatkan semua yang ada secara lebih efektif dan efisien sekaligus mempertahankan keberadaannya untuk generasi berikutnya dengan cara tidak merusak lingkungan alami untuk perkembangbiakan makhluk hidup lainnya. Lingkungan hutan dipenuhi dengan pepohonan yang rimbun & lebat dengan berbagai-bagai jenis hewan, baik yang beterbangan, melata, hidup di perairan, mamalia, serangga dan lain sebagainya. Ekosistem inilah yang harus selalu kita jaga penuh dari berbagai-bagai pencemaran, pengalihan fungsi, kerusakan dan bencana alam dengan cara tidak mengeksploitasinya secara berlebihan.

Pada dasarnya, manusia berhak memanfaatkan semua yang ada disekitarnya demi kebaikan hidupnya. Cari, tangkap, tebang, bunuh dan ambil seperlunya saja, lebih daripada itu biarkan mereka berkembang biak untuk melanjutkan keturunan. Hanya, sebagian orang masih merasa kurang dan kurang dalam memanfaatkan bumi. Perutnya sudah kenyang, tempat tinggalnya sudah ada, semua sudah tercukupi tetapi masih saja merasa kekurangan. Perasaan yang tidak pernah puas inilah yang menawan hati beberapa orang sehingga mereka meraup sebesar-besarnya di bawah kekuasaannya. Perilaku semacam ini disebut sebagai ketamakan manusia yang tidak pernah merasa cukup.

Keserakahan sifat tidak pernah puas yang menelan semua sumber daya alam

Bagaimana saja itu yang namanya keserakahan manusia? Memiliki pekerjaan/ profesi banyak – semua pekerjaan diembat, mengkonsumsi makanan tapi tidak sampai habis, memasak makanan banyak-banyak tetapi yang dimakan sedikit saja. Membangun rumah bak istana, membangun rumah di atas lahan yang luas padahal anggota keluarga hanya 4 orang. Merusak hutan untuk pertanian tetapi hasil panennya tidak habis dikonsumsi, meruntuhkan gunung-gunung untuk membangun rumah yang megah. Aktivitas industri besar-besaran mencemari sungai, tanah dan udara. Pada akhirnya, semua tindakan manusia akan merusak segala yang ada dalam lingkungan alamiah, sampai-sampai bumi ini sendiripun menendang dan menelan manusia di atasnya.

Orang-orang serakah biasanya bergenre kalangan kapitalis, kaum intelektual, para penguasa negeri. Hawa nafsu mereka begitu tinggi terhadap gemerlapan duniawi. Seolah-olah itu bisa membahagiakan mereka. Padahal efek senangnya hanya sesaat saja, itulah yang membuat mereka tidak pernah puas dan cenderung menginginkannya lagi dan lagi. Mereka terlalu fokus untuk membahagiakan diri berdasarkan apa yang diterimanya, apa yang ada di luar dirinya. Semestinya, untuk meraih kebahagiaan sejati yang sifatnya terus-menerus, pikiran dipusatkan kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian juga selalu tampil berbagi kasih kepada sesama dalam setiap aktivitas/ pekerjaan yang digeluti. Simak teman, Cara bahagia yang sejati.

Menganggap konspirasi & seleksi alam adalah sah

Mereka yang tamak terbiasa tidak peduli lagi dengan kehidupan alam sekitarnya (individualis yang lebay), tidak mau tahu bagaimana keberlangsungan spesies lainnya. Bahkan kawan sendiri (sesama manusiapun) akan digeser, ditindas, dikucilkan dan direbut hak-haknya untuk hidup demi kepentingannya seorang. Untuk melegalkan tindakannya maka orang-orang ini berdalil bahwa itu adalah PROSES SELEKSI ALAM: yang bodoh akan mati dan yang cerdas akan berkembang, yang kaya akan berjaya dan yang miskin akan tersisih, yang cerdik/ pintar-pintar akan maju dan terbelakang akan menjadi budak bahkan mati tanpa nama.

Orang-orang yang serakah akan menunggangi seleksi alam (pembunuhan kaum/ oknum tertentu) dengan cara berkonspirasi untuk menyebarkan teori-teori sampah yang tidak benar untuk membodohi sekaligus menyesatkan lebih banyak manusia. Upaya konspirator untuk menjebak sesamanya bisa saja menggiring masyarakat kepada lima destinasi berikut, pembodohan, kemiskinan, rumah sakit, panti rehabilitasi, pertengkaran/ peperangan, lembaga pemasyarakat dan kematian. Mereka berdalil bahwa jumlah penduduk bumi sudah semakin padat merapat sedangkan sumber daya yang tersedia tidak mencukupi untuk memfasilitasi kebutuhan semua orang. Katanya lagi HARUS ADA MANUSIA YANG MATI TERSELEKSI agar kehidupan yang lainnya tetap berjalan baik.

Inilah kekejaman manusia yang paling tidak punya hati. Mereka memandang remeh sesamanya, apalagi makhluk hidup (spesies) lainnya yang notabene lebih rendah. Mereka berkonspirasi dan tega membunuh orang lain juga agar “hanya dia seorang saja yang bisa hidup sedang yang lain tersisih.” Hawa nafsunya yang besar atas harta dan gemerlapan duniawi telah membunuh hewan dan tumbuhan hijau lebih banyak dari apa yang diperlukannya. Permukaan tanah diembatnya semua untuk kenyamanan dan kemewahan pribadi semata. Bahkan ia sendiri menekan, menindas lalu menyisihkan manusia lainnya demi uang dan sekaligus menguasai sumber daya yang ada sendirian. Kemudian ia bertekak, “SELEKSI ALAM HARUS TERJADI agar orang lain tetap bisa hidup dengan baik di bumi ini.

Bukan membunuh manusia lewat konspirasi tetapi membatasi hawa nafsu yang serakah

Ia mengetahui kebenaran tetapi tidak mengungkapkannya. Mengetahui apa yang seharusnya tetapi tidak membenarkannya. Mengerti akan informasi kesehatan yang vital tetapi mengkaburkannya dengan yang salah. Memahami kemana kehidupan akan mengarah namun tidak mau berbagi dengan yang lain. Memiliki banyak kelebihan, sayang semuanya digunakan untuk diri sendiri. Keserakahan adalah kekuatan & kecerdasan berlebihan dimana ingin menguasai, memiliki dan mengeksploitasi segala sesuatu sampai tak tersisa sama sekali. Selama sifat ini masih ada dalam diri manusia maka sekalipun luas permukaan bumi bertambah, tidak akan pernah cukup untuk memuaskan hawa nafsu manusia itu sendiri.

Tidak ada yang salah dengan jumlah penduduk. Asalkan setiap orang tidak serakah dan mengendalikan jumlah kelahiran bayi maka generasi yang lama, sama persis akan digantikan oleh generasi yang baru. Ketamakan hanya akan merebut hak-hak orang lain, baik secara paksa maupun secara sukarela, cepat ataupun lambat. Oleh karena itu, kebebasan untuk memiliki uang dalam jumlah banyak harus dibatasi sebab dari sinilah awal dimana orang-orang dapat menyalurkan keinginan/ hawa nafsu yang berlebihan dalam dirinya dengan membeli, membangun dan menggali ini & itu. Salah satu cara terbaik untuk mengendalikan kepemilikan uang adalah dengan memperjuangkan keadilan sosial alias kesetaraan (pengetahuan umum, pendapatan dan kekuasaan) untuk semua orang.

Isu-isu pemanasan global yang terjadi beberapa dekade terakhir tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebab, keadaan ini adalah pertanda betapa kekuasaan yang dititipkan Tuhan telah diselewengkan oleh beberapa orang agar bisa mengeksploitasi alam sekitarnya secara berlebihan. Saking menyimpangnya hawa nafsu itu, konspirasi melemahkan, membodohkan, memiskinkan, menyakitkan, mengkacaukan bahkan membunuh orang lainpun dilegalkan. Keinginan yang serakah inilah yang menyebabkan kerusakan lingkungan, menyisihkan orang lain sehingga mempercepat laju global warming. Oleh karena itu, tekan hawa nafsu terhadap hal-hal duniawi, itu hanya membuatmu senang sesaat saja. Raihlah kebahagiaan itu dengan senantiasa fokus kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian juga tidak lupa untuk berbagi kasih kepada sesama dalam setiap aktivitas/ pekerjaan yang dilakukan sehari-hari.

Salam keadilan sosial

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.