Gejolak Sosial

7 Alasan, Mengapa Orang Memperebutkan Kekuasaan? Terlalu Mudah Untuk Menjadi Penguasa


Alasan, Mengapa Orang Memperebutkan Kekuasaan

Kuasa adalah (1) kemampuan atau kesanggupan (untuk berbuat sesuatu); kekuatan; (2) wewenang atas sesuatu atau untuk menentukan (memerintah, mewakili, mengurus, dan sebagainya) sesuatu; (3) pengaruh (gengsi, kesaktian, dan sebagainya) yang ada pada seseorang karena jabatannya (martabatnya); (4) mampu; sanggup; (5) orang yang diserahi wewenang. Merupakan suatu profesi yang membutuhkan pengorbanan. Dalam banyak sejarah kepercayaan, orang yang berkuasa adalah mereka yang paling banyak menanggung rasa sakit bahkan sampai mengorbankan nyawanya sendiri untuk para pengikutnya.

Dalam kitab suci yang kami percayai, Alkitab. Ciri khas seorang penguasa adalah tahan uji, tetap mampu mempertahan kebenarannya di tengah himpitan tekanan kehidupan. Mereka bukan orang yang mudah terpengaruh dan diombang-ambingkan oleh zaman ini. Tetapi lihatlah dunia saat ini. Orang yang berkuasa selalu dekat dengan gaji melimpah, kemewahan berkelas, perlindungan tingkat tinggi, gaya hidup glamour, semua keinginannya dituruti bak dewa yang turun dari khayangan.

Jika pemimpinnya makmur sekali seharusnya orang-orang yang dibawahnya juga demikian. Sayang, karena tipisnya rasa keadilan sosial itu, semua sumber daya yang ada hanya diarahkan kepada orang-orang tertentu saja, termasuk maha raja sang penguasa yang agung yang mendapatkan jatah paling banyak. Sadar atau tidak, penumpukan sumber daya semacam inilah yang kadang-kadang menjadi pancingan bagi orang lain untuk berburu kekuasaan. Terlebih ketika ada diantara para rakyat yang kehidupannya melarat.

Karena begitu besarnya pengaruh kekuasaan alhasil besar pula cobaan yang menyertainya, itulah yang namanya keseimbangan. Dalam banyak hal yang kami pelajari, hampir semuanya mengarah kepada fungsi keseimbangan. Misalnya, semestinya produsen sama dengan konsumen, sekalipun dalam hal ini produksi yang lebih sedikit untuk mengamankan stok di waktu genting. Lagi, kemampuan alam untuk menghasilkan bahan pangan sebaiknya lebih sedikit daripada jumlah kehidupan yang membutuhkan makanan di bumi ini. Demikian juga dengan jabatan tertinggi pastilah godaannya juga akan setinggi tiangnya.

Begitulah sifat alamiah manusia, hampir sama dengan bintang di luar sana. Pernah lihat di televisi, buaya dikasih makan. Mereka jelas rebutan satu sama lain tetapi begitu potongan daging sampai di mulut satu buaya, yang lainnyapun tetap tenang. Tetapi coba lihat praktek politik yang sering kita amati disekitar. Begitu kekuasaan sampai di tangan satu orang maka yang lainnya akan berusaha mati-matian melemahkan, menggoyahkan bahkan menjatuhkan (memakzulkan). Benar-benar budaya politik yang nyeleneh dan terkesan malu-maluin.

Faktor penyebab rebutan kekuasaan selalu terjadi

Rebutan kekuasaan sepertinya sudah lumrah di seluruh negara di dunia ini. Tidak hanya di Indonesia, di negara lain juga ada orang-orang yang memperebutkan hal tersebut.  Tapi, sepertinya hal tersebut hanya terjadi pada momentnya saja, setelah itu semuapun akan berlalu dan mengambil peran masing-masing. Akan tetapi menurut budaya negara-negara terbelakang dan sedang berkembang, pekerjaan memperebutkan kursi kekuasaan tidak terjadi saat pemilu saja melainkan disela-sela pemerintahan yang sedang berlangsung sekalipun tetap beresiko terjadi lagi rebutan yang sama.

Berikut ini beberapa alasan yang kami ajukan, tatkala beberapa orang bertanya bahkan diri sendiripun mempertanyakan hal yang sama, “mengapa orang berebut kekuasaan?

  1. Keadilan sosial (kesetaraan) sangat rendah.

    Keadilan sosial adalah dasar dari kesejahteraan yang adalah hak seluruh warga masyarakat. Tanpa kesetaraan maka orang-orang akan datang berbondong-b0ndong untuk rebutan ini dan itu. Sebab ada kecenderungan dalam hati manusia untuk menggapai hidup yang lebih baik (sama seperti yang dirasakan oleh sesamanya – ini juga kadang di sebut sebagai kecemburuan).

  2. Banyak diantara rakyat yang belum sejahtera – mudah diprovokasi.

    Mereka yang belum sejahtera dan jauh dari kota biasanya mudah digoreng oleh oknun tertentu. Pembelaan negara terhadap masyarakat yang masih belum kentara membuat rasa cinta tanah air melemah. Bahkan provokasi hasutan sederhana saja dapat menggiring orang lain untuk menjadi seorang teroris. Mereka ini sekaligus menjadi ancaman untuk menggulingkan pemerintahan yang sedang berkuasa.

  3. Kekuasaan tanpa kontrol yang jelas.

    Ketika sebuah kekuasaan tidak dapat diawasi dan dikontrol sepenuhnya maka ada kecenderungan untuk melakukan penyelewengan yang menghasilkan keuntungan (uang) yang mencapai miliaran rupiah. Keuntungan yang besar ini telah menjadi daya tarik tersendiri terhadap manusia lainnya sehingga tidak ada lagi kata-kata undur di dalam hati. Sebab nilai uang yang fantastis telah menanti di depan.

  4. Paket kombo kekuasaan yang berlebihan – Posisi penguasa yang terlalu tinggi dimana semua terpusat kepadanya.

    Saat anda menjadi seorang penguasa maka apapun keinginanmu akan terwujud semuanya sedangkan gaji tidak pernah berkurang sedikitpun. Kebutuhan hidup seorang penguasa yang ditanggung seluruhnya oleh negara. Belum lagi fasilitas perjalan dinas ke sana dan ke mari yang diperkenankan untuk membawa serta rombongan keluarga bersamanya. Tidak ada satupun orang yang digaji, dilayani dan disejahterakan seperti itu sehingga yang lainnyapun turut berebut untuk meraih hal yang sama.

    Cara negara meninggikan seorang penguasa jelas tergolong sangat berlebihan. Semua orang, dari segala arah dan dari segala jurusan mampu menyaksikan kemewahan dan kemegahannya. Sedang manusia hatinya dipenuhi dengan rasa cemburu sehingga secara otomatis saat ada seseorang yang terlalu diperlakukan secara spesial pastilah juga ada yang iri hati. Kecemburuan inilah yang kerap kali membuat beberapa orang memperebutkankannya untuk kepentingan pribadi.

  5. Rakyat yang cenderung dikendalikan oleh kekuatan militer.

    Negara-negara miskin dan berkembang terlalu naif sehingga terlalu mengandalkan kekuatan militer yang dimiliki untuk mengendalikan seluruh warga. Padahal satu saja yang sebenarnya mampu mengendalikan kehidupan manusia sehingga tetap bahagia, tenang dan damai tanpa kekacauan adalah pemerataan kesejahteraan. Ketika kekuatan militer luas pengaruhnya dalam kehidupan bermasyarakat maka ada kecenderungan rakyat lebih menghormati pemimpin militer daripada presiden itu sendiri. Sehingga pihak militerpun tidak sungkan untuk melakukan suatu pergerakan seperatis (secara diam-diam) memperebutkan kekuasaan. Bahkan terang benderang melakukan kudetapun tidak masalah baginya sebab rakyat mendukung dan pendanaan mendukung. Lagipula pergantian kepemimpinan dalam tubuh militer bisa saja mendukung penguasa dan juga sebaliknya, memberontak.

  6. Wewenang yang sangat besar.

    Seorang penguasa memiliki wewenang untuk menetapkan ini dan menetapkan itu. Sedangkan banyak orang yang menginginkan agar ia menetap disana atau menetap disitu. Oleh karena itu, banyak penghormatan, pujian, popularitas dan uang yang diarahkan kepadanya agar segala sesuatu mulus, semua lancar, yang mau jadi pejabat diberi kemudahan. Inilah salah satu daya tarik yang sangat menggiurkan untuk memperebutkan posisi sebagai seorang penguasa negeri. Orang lain akan berbondong-bondong untuk mengorbankan miliaran rupiah hartanya sebagai tiket untuk menjadi penguasa sebab ia tahu kelak ketika sudah duduk di atas akan menerima upah yang lebih.

  7. Tidak ada tantangan yang berarti untuk menjadi seorang penguasa.

    Dalam banyak budaya demokrasi, seorang bakal calon penguasa tidak pernah diberikan suatu tantangan untuk membuktikan bahwa dirinya memang benar-benar layak untuk itu. Malah langkah seseorang untuk berkuasa dipermudah, hanya dengan uang saja maka semua mulus, militer yang ada disekitarnya membuat rakyatpun kelilipan. Inilah salah satu faktor yang menggiring semakin banyak saja orang yang ingin berkuasa atas suatu wilayah.

    Seharusnya seorang penguasa adalah mereka yang baik & benar dan mampu mempertahankan kebenaran dan kebaikannya itu sekalipun di tengah tekanan yang sedang menghimpit. Sebab banyak orang yang bisa berbuat baik bahkan semua orang juga pernah berbuat baik. Tetapi hanya orang yang benar-benar terujilah yang mampu berbuat baik dalam tekanan/ keterpurukan sekalipun.

Ada rasa cemburu yang sejak dari zaman purba kala telah hadiri dalam diri manusia. Rasa inilah yang banyak membuat orang cenderung memperebutkannya habis-habisan. Ditambah lagi paket kombo kenyamanan dan kemewahan yang menyertainya, bukankah semuanya ini sebagai daya tarik sekaligus sebagai sebuah pancingan yang mengundang banyak orang untuk datang berbondong-bondong memperebutkannya? Sebelum kekuasaan disetarakan dengan profesi lainnya maka selama itu juga akan lebih banyak orang yang datang untuk merebutnya hari lepas hari.

Salam keadilan sosial!

2 replies »

  1. Terimakasih informasininformasinya kalo dipikir bener jg ya. Ya semoga saja kita selalu mendapatkan pemimpin yg berpihak kepada rakyat dan tidak gila tahta atau kekuasaan

    Disukai oleh 1 orang

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s