Gejolak Sosial

Pluralisme Dalam Kebersamaan – Tuhan Mengehendaki Bangsa Piliahan-Nya Bukan Agama/ Orang Pilihan-Nya


Pluralisme Dalam Kebersamaan - Tuhan Mengehendaki Bangsa Piliahan-Nya Bukan Agama Orang Pilihan-Nya

Menurut KBBI Luring, pluralisme adalah keadaan masyarakat yang majemuk (bersangkutan dengan sistem sosial dan politiknya). Merupakan keberagaman yang tidak dapat di tolak oleh siapapun. Mari perhatikan hal-hal kecil di sekitar kita, pendapat antara orang yang satu dengan yang lainnya saja berbeda, ini hanyalah hal kecil yang sering diabaikan oleh banyak orang. Jika dalam hal-hal kecil saja kita berbeda-beda, terlebih lagi dalam hal-hal yang besar dan dalam lingkup yang lebih luas, pastilah perbedaannya semakin jelas saja.

Kami pernah membaca sebuah artikel yanjg mengatakan, “Coba sebutkan pada saya dimana satu tempat yang tidak bersifat plural?” Di alam sekitar kita yang notabene tidak tersentuh dan bukan hasil rekayasa manusia alias masih alami, keberagaman itu lumrah. Ekosistem hutan, ekosistem lautan, ekosistem terumbu karang, ekosistem savanah, ekosistem gurun dan lain sebagainya merupakan bentuk dari keberagaman yang tidak dapat di tolak. Bahkan sekalipun anda hanya menanam karet di suatu areal nicaya disana juga akan tumbuh setidaknya berbagai rerumputan.

Coba pikir-pikir lagi-lah tentang pemurnian masyarakat dimana semua orang yang berada di sana hanya terdiri dari satu pemikiran, satu ras, satu agama, satu suku dan satu golongan saja. Dalam kehidupan alamiah yang notabene merupakan anugrah Tuhan langsung bagi alam sekitar tidak ada satupun tempat yang hanya ditempati oleh makhluk hidup tertentu (dari satu jenis/ spesies) saja. Bahkan sekeras apapun anda mengolah tanah terbuka (bukan pertanian dalam gedung), misalnya hanya menanam pohon jati dalam suatu areal, tetap saja berbagai-bagai tumbuhan lain akan turut hadir di sana cepat ataupun lambat terkecuali jikalau selalu di siangi (dipotong/ dibabat).

Mungkin dalam ranah yang lebih kecil, tidaklah masalah yang namanya mengelompokkan diri dengan orang-orang tertentu, misalnya dalam organisasi. Tetapi untuk wilayah yang luas sekelas negara keadaan yang terlihat semacam ini sangat sulit untuk dicapai. Sebab PERBEDAAN ADALAH TAKDIR MANUSIA, tidak ada seorangpun yang dapat memungkiri kenyataan ini. Bahkan diantara dua orang saudara kandung saja kerap kali ada perbedaan pendapat terlebih jikalau berbicara masalah lingkup yang lebih luas. Lebaylah orang yang menghendaki pemurnian masyarakat dalam hidup berbangsa dan bernegara. Coba perhatikanlah firman ini.

(Keluaran 12:37-38) Kemudian berangkatlah orang Israel dari Raamses ke Sukot, kira-kira enam ratus ribu orang laki-laki berjalan kaki, tidak termasuk anak-anak. Juga banyak orang dari berbagai-bagai bangsa turut dengan mereka; lagi sangat banyak ternak kambing domba dan lembu sapi.

Hampir semua hukum Musa tidak lupa ditujukan juga kepada orang asing seperti pada ayat berikut.

(Keluaran 20:10) tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.

Bahkan pesan untuk memperlakukan orang asing dengan baik tertulis jelas dalam.

Keluaran 22:21) “Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.

Dari ayat di atas dapat kita ketahui bahwa bangsa Israel sendiri yang notabene berada di bawah pimpinan nabi terbesar dalam perjanjian lama yaitu nabi Musa yang langsung dikomandoi oleh laskar Allah Yang Maha Tinggi turut membawa orang-orang asing dari bangsa lain bersama mereka. Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi! Bukankah Tuhan sendiri tidak masalah MENYELAMATKAN BANGSA LAIN? Lalu mengapa manusia zaman sekarang begitu menginginkan pemurnian masyarakat?

Dahulu ketika jumlah manusia tidak begitu banyak, Tuhan menyelamatkan orang per orang untuk dipanggil dan dikhususkan menyatakan kehendak-Nya atas dunia ini, misalnya saja ketika Tuhan memanggil bapa Abrahan untuk memberkatinya dan menjadikannya sebagai suatu bangsa yang besar. Akan tetapi, bukankah dilain sisi bapa Abraham juga ditakdirkan untuk menjadi berkat bagi semua bangsa lainnya? Seperti firman-Nya yang berpesan demikian.

(Kejadian 22:18) Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.”

Jadi, di zaman sekarang berkat yang dahulu bersifat personal telah bertransformasi menjadi berkat yang bersifat universal (semua bangsa di bumi akan mendapat berkat) melalui Yesus Kristus. Bukankah keselamatan yang daripada Kristus berlaku untuk semua makhluk yang ada? Jadi, tidak ada lagi istilah yang menyatakan bahwa “hanya sayalah yang menjadi pilihan Tuhan, hanya agama saya yang benar!” Melainkan berkat dan keselamatan Allah telah berlaku untuk setiap bangsa yang percaya kepada-Nya. Oleh karena itu, biarkanlah pluralisme dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air.

Pluralisme adalah takdir Tuhan bagi seluruh umat manusia. Biar dengan begitu kita saling menguji sehingga tampaklah manusia yang benar-benar layak di hadapan-Nya. Oleh karena itu, tidak perlu risih dengan keberadaan orang yang tidak sepemahaman dan sekeyakinan dengan diri ini, asal saja keberadaan mereka tidak menyebabkan kerugian materil dan tidak melanggar undang-undang yang berlaku di masyarakat, biarlah mereka hidup bahagia seperti kitapun berbahagia. Ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan manusia tanpa tujuan dan Iapun tidak pernah membiarkan ciptaan-Nya jadi bulan-bulanan yang lainnya.

Keberagaman adalah mutlak tetapi perbedaan yang menjurus kepada dosa dan pelanggaran undang-undang sama sekali tidak dibenarkan. Pluralisme adalah salah satu maksud Allah untuk menguji kebenaran dalam hati manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Jadi mereka yang menolak keberagaman sama saja menolak ujian kehidupan. Mereka yang menolak pencobaan biasanya tidak pernah dewasa, manja, tidak mandiri dan mudah dipecah belah. Oleh karena itu, marilah bergandengan tangan dalam ke-Indonesiaan yang saling bertenggang rasa satu sama lain.

Salam pebedaan itu takdir!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.