Gejolak Sosial

Filosofi Burung Dalam Sangkar, Ketika Manusia Tidak Pernah Puas


Filosofi Burung Dalam Sangkar, Ketika Manusia Tidak Pernah Puas

Manusia memang sarangnya hawa nafsu. Tidak seperti makhluk hidup lainnya yang menjalani hari apa adanya, melalui waktu tanpa menyimpan dan menumpuk secara berlebihan. Kita adalah makhluk dengan tingkat kekuatiran yang sangat tinggi. Coba perhatikan makhluk lain di luar sana: “Adakah dari antara makhluk-makhluk besar di luar sana yang menumpuk secara berlebihan?” Satu-satunya binatang yang menumpuk makanannya adalah makhluk dengan ukuran lebih kecil yang disebut sebagai serangga, diantaranya semut dan lebah.

Seberapa benyakpun serangga menumpuk makanannya, itu hanya sebatas persedian untuk satu musim saja. Sedangkan manusia kalau menumpuk harta, pernah kami dengarkan begini, “awet hingga tujuh turunan.” Bukankah ini wujud keserakahan yang luar biasa? Bayangkan sampai berapa banyak sumber daya alam, berapa banyak hutan dirusak, berapa banya sungai dicermari, berapa banyak tanah yang dirusak, seberapa banyak udara kotor (polusi) dan berapa dalam sumber galian bumi dilakukan untuk menumpuk harta sampai begitu besarnya? Bahkan jangan-jangan sesama manusiapun turut dikorbankan untuk memperolehnya?

Semakin serakah seorang manusia maka semakin jelas pulalah bahwa tingkat kekuatiran dalam dirinya begitu tinggi tentang kehidupan ini. Bila mereka adalah orang yang atheis (tidak percaya Tuhan) yang tidak memiliki harapan untuk kehidupan ke dua, mungkin saja kekuatiran itu bisa bersarang. Sebab orang atheis cenderung mendedikasikan kehidupannya hanya untuk kenikmatan duniawi semata, materi itulah tuhannya. Semakin banyak materi yang dimilikinya maka akan semain tinggi kebahagiaannya. Padahal semuanya itu hanyalah sesaat saja. Simak juga, Kebahagiaan yang semu.

Tidaklah layak bagi seorang yang percaya kepada Tuhan untuk bersikap serakah. Ini adalah sesuatu yang janggal bagi mereka yang memiliki harapan akan kehidupan ke dua, yaitu kehidupan kekal di sorga. Sebab biar bagaimanapun penderitaan kita di bumi ini, tempat yang kita tuju kelak adalah lebih berharga dari semua yang ada di dunia ini. Lagipula jikalau anda telah mengetahui perputaran sumber daya di bumi yang didominasi oleh garam dan terang niscaya kita bisa memahami betapa semua yang kita butuhkan sudah disediakan Sang Pencipta sejak dari mulanya.

Filosofi burung dalam sangkar adalah bentuk ketidakpuasan manusia atas kehidupannya selama di dunia. Ini seolah-olah menyatakan bahwa betapa terbatasnya dirinya ditengah-tengah dunia yang mencengkramnya dengan kuat sehingga tidak bisa berbuat apa-apa. Padahal semuanya itu terjadi sebatas dalam imajinasinya saja alias itu hanyalah perasaannya saja. Satu-satunya yang membuat kehidupan seseorang terbatas adalah dirinya sendiri, bukan orang lain.

Makna dari filosofi burung di dalam sangkar

Burung dalam sangkar tidak selalu bersedih, mungkin dalam pemandangan kita ia sangat terkekang. Padahal selama ini fine-fine aja tuh…. Bahkan yang satu ini masih sempat-sempatnya menghasilkan medali perunggu dari lomba kicau di daerahnya. Apakah yang seperti ini masih disebut sebagai kehidupan yang tidak bahagia? Atau pernahkah anda mendengarkannya menangis tersedu-sedu saat berada di dalam sana? Berikut ini beberapa makna dari filosofi yang kami maksudkan.

  1. Kehidupan yang berkelas tapi tidak pernah nyaman di hati.

    Mungkin ada beberapa orang dari kita yang memiliki harta berlimpah-limpah bahkan saking banyaknya itu bisa tahan sampai tujuh turunan. Tetapi, tidak ada satu malampun dilaluinya dengan hati yang tenang. Sebab kegelisahan & ketakutan telah menawan kehidupannya, soalnya selama ini mengusahakan semuanya itu dari hasil tipu-menipu orang, konspirasi, politik manipulasi dan korupsi. Untuk apa badan nyaman tetapi hati tidak tenang? Hanya ada satu jalan untuk anda, bertobatlah dan kembalikan apa yang telah engkau ambil.

  2. Kehidupan yang kurang materi.

    Seseorang yang merasa hidupnya kurang berduit sehingga membuatnya tidak mampu mencicipi segala gemerlapan duniawi yang dilihatnya. Ia sangat menyesal karena tidak bisa mencicipi kenikmatan ini-itu sedikitpun. Orang yang selalu merasa kekurangan pasti lebay menanggapi kehidupannya. Padahal Tuhan sudah menganugerahkan materi yang cukup, buktinya sampai sekarang masih bisa hidup tetapi tidak pernah disyukuri. Saksikanlah, Cara bersyukur yang baik.

  3. Kehidupan yang tidak bebas melakukan apa saja.

    Seorang bocah-murid sekolahan yang merasa dirinya terkekang oleh pengaruh orang tua, agama dan sekolah sehingga tidak bisa berekspresi sebebas-bebasnya seperti remaja lainnya yang ia saksikan di televisi dan media sosial. Remaja yang satu ini, hanya belum dewasa sehingga tidak mampu membedakan dimanakah kebebasan yang bertanggung jawab dan dimanapula kebebasan yang cenderung berpotensi menghancurkan hidupnya. Dia butuh pencerahan untuk membedakan kedua hal ini : yang mana kebebasan yang bertanggung jawab dan yang mana kebebasan yang menjerumuskan.

  4. Kehidupan yang tidak bebas jalan-jalan.

    Seorang manusia yang menganggap dirinya sangat terbelakang karena berkutak disitu-situ saja. Ia bahkan tidak pernah ke luar daerah sedikitpun. Hanya melongo saja sebatas rumah dan tempat kerjanya saja. Orang seperti ini sebenarnya tidak bisa berimprovisasi. Sebab zaman sekarang kita bisa kemana saja hanya dengan duduk di depan televisi atau radio. Bahkan dengan media komunikasi Internet, daerah-daerah yang belum kita kenali bahkan belum dikenali oleh orang-orang disekitar sini tetap bisa dikunjungi melalui hasil jepretan dan rekaman orang lain. Tinggal klik saja maka semuanya akan menjadi lebih jelas, itulah Google dari Amerika!

  5. Kehidupan yang tidak pernah puas.

    Mereka yang tidak pernah puas dalam hidup ini. Selalu saja merasa kurang di dalam segala hal sekalipun banyak orang yang sudah memberi kesempatan (uang-gaji) untuk menikmati dunia ini. Tetapi mereka masih ingin yang lebih dan lebih lagi. Keadaan ini membuatnya tidak pernah bersyukur selama hidup sehingga membuatnya merasa seperti burung di dalam sangkar yang tidak bisa apa-apa. Sebaiknya si kawan seperti ini perlu diingatkan bahwa kita perlu mengendalikan hawa nafsu yang dimiliki dengan cara senantiasa fokus kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian. Selama fokus kita diikat dalam jalur yang benar maka selama itu pula kehidupan ini terkendali dan hawa nafsu tidak menjadi lebay apalagi sesat.

  6. Kehidupan yang tidak suka diatur-atur.

    Seseorang yang sangat risih ketika di atur oleh orang-orang yang ada di atasnya. Mereka sebenarnya ingin hidup keluar dari zona nyaman yang mengekang hari-harinya. Padahal ia tidak mengerti bahwa aturan yang menciptakan zona nyaman bisa juga bertindak sebaliknya (penuh tantangan). Semua tergantung dari pribadi masing-masing. Jikalau anda memang hendak keluar dari zona nyaman maka berbuat baiklah kepada semua orang lalu rasakan sakitnya diabaikan dengan demikian anda merasa lebih hidup dalam pertandingan melawan diri sendiri. Adalah baik bagi anda untuk berperang dan berjuang demi kebaikan & kebenaran, dengan demikian setiap pengorbanan yang diberikan tidak sia-sia. Aturan bisa membuat orang bahagia tetapi aturan yang terlalu ketat mengekang manusia seperti binatang.

Satu-satunya hal yang membuat anda seperti burung di dalam sangkar adalah saat hawa nafsu yang unlimited tidak bisa dikendalikan sepenuhnya. Pikiran yang melayang kemana-mana menginginkan hal-hal yang di luar jangkauan bahkan di luar batas kemanusiaan itu sendiri. Oleh karena itu, tetap bersyukur buat semua yang telah dianugrahkan Allah kepadamu dan merasa cukuplah dengan semuanya itu. Ada baiknya jikalau anda senantiasa memusatkan pikiran kepada dalam nyanyian pujian untuk kemuliaan nama-Nya agar kebahagiaan, kedamaian, ketenangan dan ketenteraman memenuhi hati anda di segala waktu yang dilewati.

Salam pengendalian diri!

2 replies »

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s