Gejolak Sosial

7 Alasan Mengapa Menghalalkan Segala Cara Untuk Meraih Sesuatu

Alasan Mengapa Menghalalkan Segala Cara Untuk Meraih Sesuatu

Manusia dengan segala kecerdasannya adalah penghancur sekaligus pelindung bagi bumi ini. Tanpa pengenalan akan diri sendiri, kehidupan seseorang akan terombang-ambing. Lemahnya visi (tujuan) selama hidup di dunia ini akan membuat manusia tak tentu arah bahkan bila keadaan ini ditambahkan dengan kecerdasan (tak tahu arah, tujuan hidup tak ada & kepintaran). Niscaya akan membabi-buta, seruduk sana – seruduk sini. Oleh karena itu, penting banget bagi kita untuk mengetahui apa sebenarnya yang menjadi visi utama selama hidup di dunia ini.

Manusia telah di tawan oleh keinginannya. Semakin lama berada di bumi ini, semakin tinggi hawa nafsunya terhadap berbagai-bagai hal. Saat indranya mencitrakan segala sesuatu: ketika mata melihat, telinga mendengar, hidung membaui, lidah mengecap dan kulit meraba sesuatu, langsung saja menginginkannya untuk diri sendiri. Ini adalah normal dan sangat manusiawi. Sebab dimana hartamu berada maka disanalah hatimu tertuju. Artinya, minat kita yang terlalu tinggi terhadap hal-hal duniawi membuat nafsu dihati terlalu terpaut dengan semuanya itu.

Ketika hati manusia ketergantungan (terpaut terus-menerus) dengan hal-hal duniawi, sadarilah bahwa mulai saat itu juga rasa iri hati, cemburu, sombong dan kekuatiran selalu meradang dalam pikiran ini. Mengapa demikian? Karena dunia ini sifatnya fluktuatif & tidak stabil. Fluktuatif karena tidak ada sesuatu yang selalu sama hari lepas hari, melainkan terkadang baik-buruk, susah-senang, suka-duka, naik-turun, kiri-kanan dan lain sebagainya. Tidak stabil karena kehidupan ini tidak bisa kita kendalikan seutuhnya sebab terlalu banyak faktor yang mempengaruhi, misalnya orang lain, lingkungan sekitar dan faktor-faktor lainnya yang turut memberi pengaruh, baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif.

Begitu anda ketergantungan dengan hal-hal duniawi maka tepat saat itu jugalah kebebasan kita direnggut. Kita akan menemukan banyak kesulitan karena keadaan ini. Salah satunya adalah saat hendak merasakan kebahagiaan sejati yang selalu ada dan tidak pernah hilang dari dalam hati. Apabila anda menggantungkan kebahagiaanmu pada gemerlapan duniawi alhasil akan muncullah kekuatiran terhadap hidup ini. Sebab biar bagaimanapun juga untuk meraih kenikmatan duniawi selalu membutuhkan uang. Masalah yang mengkuatirkan adalah apakah anda memiliki uang stok/ setidak-tidaknya tabungan untuk memperoleh semua itu hingga akhir hayat?

Ketergantungan terhadap kenikmatan duniawi menggiring anda pada fluktuasi kehidupan yang secara tidak langsung di bentuk oleh trend yang terjadi di masyarakat. Sesuatu yang fluktuatif memancing anda untuk mengikuti esensi atau kehidupan seseorang karena dorongan iri hati. Sikap yang cemburu seperti ini membuat anda mengikuti alur kehidupan seseorang. Mulai dari sinilah hari-hari anda akan menjadi buruk karena terpaut pada pikiran, perkataan dan tindakan yang cenderung amoral. Iri hati adalah secercah gangguan dalam otak yang berpotensi melemahkan, menekan bahkan menghancurkan kehidupan manusia.

Ilmu pengetahuan kitalah yang merusak dunia ini

Tahukah anda bahwa Pohon Pengetahuan Tentang Yang Baik Dan Yang Jahat adalah dosa manusia pertama sejak dari dahulu kala? Sampai sekarang dosa itulah yang telah menawan kehidupan manusia dari generasi ke generasi. Semua ilmu pengetahuan yang kita miliki saat ini adalah yang kita curi dari pohon Tuhan. Ini sudah berlangsung dari dulu sampai sekaran. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selalu memiliki dua sisi, yaitu di satu sisi ada yang baik dan di sisi lain ada yang jahat. Disatu sisi teknologi membantu manusia tetapi di sisi lain teknologi merusak lingkungan yang adalah pelindung dari aktivitas manusia itu sendiri.

Ilmu pengetahuan ini jugalah yang membuat kita saling bersaing dan menghalalkan segala cara untuk menggapai sesuatu. Kita saling bersaing untuk membuat rumah yang paling bagus, saling bersaing membuat kendaraan termewah, saling bersaing untuk membuat peralatan rumah tangga terbaik, saling bersaing membuat senjata terbaik dan mesin-mesin lainnya bahkan di sekolah-sekolah sekalipun persaingan itu sangatlah kentara. Kita tidak menyadari bahwa semua aktivitas ini telah mengganggu keseimbangan alam hingga menyebabkan pencemaran lingkungan. Pada akhirnya pengetahuanlah yang menuntun kita kepada peperangan dan bencana alam yang bertubi-tubi hingga akhirnya terjadilah kiamat.

Alasan mengapa seseorang/ sekelompok orang melegalkan segala cara untuk memperoleh sesuatu.

Sikap yang menghalalkan segala cara merupakan pertanda betapa dunia ini dengan segala sistem yang ada di dalamnya telah menjadi “kail pada tali pancing” yang menjebak manusia itu sendiri dalam keterpurukan hidup yang berkepanjangan. Keadaan ini juga disebut dengan seleksi alam dan seleksi sosial yang akan menyisihkan orang-orang sampah dengan orang-orang yang bermutu baik. Intinya adalah semakin ketergantungan dengan dunia maka semakin besar pula resiko melegalkan segala cara untuk meraih sesuatu.

Berikut beberapa faktor penyebab yang mempengaruhi keadaan yang kami maksudkan.

  1. Tidak percaya akan adanya Tuhan.

    Hidup berdasarkan azas-azas yang benar membuat seseorang menggunakan cara-cara yang benar pula untuk mewujudkan apa yang diharapkannya. Iman adalah penjaga hati manusia dari berbagai niat jahat yang mungkin saja muncul tak terduga. Sedang godaan duniawi begitu kuat, salah bertindak maka kita akan terjebak dalam lingkaran setan (lingkaran kejahatan yang terus berputar) seumur hidup.

  2. Manusia telah kehilangan visi kehidupan.

    Setiap manusia harus menentukan tujuannya selama hidup di dunia ini. Selama ia tidak memiliki tujuan maka selama itu pulalah akan terombang-ambing dan tek tentu arah. Keadaan ini memudahkan seseorang untuk dianulir/ diperalat oleh orang lain. Mulai dari sinilah tokoh-tokoh yang memanfaatkan kehidupannya akan membawanya ke jalan-jalan yang tidak lagi memperhatikan azas-azas kebenaran melainkan malah menghalalkan segala cara.

  3. Seseorang yang ditawan oleh keinginannya.

    Bila anda tidak mampu mengendalikan diri sehingga hawa nafsu membabi buta. Keadaan ini akan mendorong seseorang untuk meraih sesuatu tanpa memperhatikan kaidah-kaidah yang benar. Terlebih lagi yang namanya nafsu sifatnya tidak pernah habis bahkan cenderung terus menggunung, sudah terwujud satu maka muncullah yang lainnya, terwujud dua lalu muncullah yang lainnya demikian seterusnya. Bila keadaan ini terus berlanjut maka kecenderungan untuk melegalkan segala cara saat menggapai sesuatu akan semakin besar.

  4. Mereka yang di tekan oleh sifat iri hati/ cemburu dan sombong.

    Sebenarnya, cemburu adalah gangguan pikiran. Sepertinya otak telah jatuh dalam lembah pemikiran yang cenderung destruktif. Semakin besar rasa iri di dalam hati maka semakin tinggi pula perkataan dan perilaku yang menjadi pasif bahkan menyimpang. Rasa dengki yang terlalu berlebihan akan membuat seseorang kehilangan kemampuan mengendalkan diri. Keadaan ini membuatnya tidak lagi hidup realistis melainkan lebih mengusahakan cara-cara yang tidak layak untuk memperoleh sesuatu.

    Seseorang yang telah di tawan oleh sikap sombong merasa diri lebih tinggi dari orang lain lalu membawa prinsip ini dalam kehidupannya sehari-hari. Ketika ada sesuatu dan lain hal yang menjadi bahan persaingan dengan orang lain maka ia menjadikan kesempatan tersebut untuk “show power” terhadap lawan-lawannya. Bahkan ketika sikap lebaynya sudah mendominasi hati, mereka cenderung hidup dalam persaingan sekalipun tidak ada kompetisi. Keadaan semacam ini membuat mereka menghalalkan segala cara untuk sesuatu yang tidak pasti/ sia-sia.

  5. Manusia yang kekuatirannya tinggi.

    Rasa kuatir yang berlebihan akan menggiring manusia pada ketakutan masa depan yang sifatnya terus-menerus. Saat seseorang kuatir tentang sesuatu dan lain hal di masa depan, hanya ada dua kemungkinan, diam-tidak melakukan apa-apa atau mencari, menumpuk dan menimbun sesuatu untuk dirinya sendiri. Sikap serakah merupakan salah satu bentuk dari kekuatiran yang lebay. Perasaan ini akan mendorong manusia untuk menghalalkan segala cara meraih tujuannya tersebut salah satunya dengan korupsi.

  6. Mereka yang sangat ketergantungan dengan dunia ini.

    Ini adalah pokok permasalahan yang sesuunggunya menyebabkan banyak gangguan dalam cara berpikir manusia. Bila anda sudah terpaut secara terus-menerus terhadap sesuatu dan lain hal maka hubungan tersebut akan menarikmu kemanapun yang diinginkannya. Artinya, ketika kita menggantungkan diri kepada sesuatu maka mulai saat itu juga kehidupan ini “menjadi suka-suka dia!” Kemanapun ia menggiringmu, pasti akan menurut saja bahkan sekalipun itu menempuh cara-cara yang tidak halal.

  7. Manusia yang belum bahagia.

    Mengapa orang ingin dihargai, dihormati, dipuji, dipopulerkan dan lain sebagainya? Bukankah semuanya itu demi kebahagiaan? Mereka yang tidak bisa menciptakan kebahagiaannya sendiri cenderung meraihnya dari luar. Padahal apa yang ada di luar mustahil bisa kita kendalikan seutuhnya. Sekalipun ada yang bisa dikontrol seperti kenikmatan duniawi yang di beli dengan uang. Dibalik semuanya itu, ketahuilah bahwa uang itu sifatnya terbatas sedangkan kebutuhan akan hati yang selalu bahagia tidak terbatas. Artinya, keadaan ini bisa membuat keungan cepat menipis, habis bahkan utang sana-sini menumpuk. Akhirnya, untuk meraih kebahagiaan itu (menginginkan uang berjumlah besar), manusia cenderung menghalalkan segala cara. Sedikit recehan, Ciri-ciri kebahagiaan.

  8. Tidak adanya pemerataan.

    Saat profesi yang satu dibayar dengan gaji tinggi dan profesi yang lain hanya dapat recehan nicaya akan timbullah iri hati yang menyebabkan tingginya angkat persaingan dalam suatu wilayah. Besarnya benefit yang diberikan kepada atasan dibandingkan gaji karyawannya membuat kursi pimpinan adalah posisi rebutan. Keadaan ini membuat persaingan sangat panas yang turut mendorong munculnya keributan internal hingga menyebabkan kerugian di berbagai lini pekerjaan.

Jawaban yang tepat benar, “megapa ada manusia yang menghalalkan segala cara untuk meraih sesuatu?” Adalah karena mereka terlalu ketergantungan dengan dunia ini sehingga tidak selalu bahagia dalam menjalani hari demi hari. Candu kepada dunia ini sama artinya dengan membiarkan hidup kita digiring oleh arus kepentingan seseorang/ sekelompok orang. Oleh karena itu, batasi ketergantungan anda terhadap dunia ini melainkan gantungkanlah hidupmu kepada Tuhan dengan senantiasa memusatkan pikiran dalam doa, firman dan nyanyian pujian. Bernyanyilah setiap waktu untuk kemuliaan namanya niscaya kebahagiaan tidak akan pernah beranjak dari dalam hatimu. Simak juga, Tips Agar Tetap Bahagia.

Salam, bahagia itu sederhana!

55 replies »

  1. Hmm is anyone else having problems with the pictures on this blog loading?
    I’m trying to figure out if its a problem on my end or
    if it’s the blog. Any feed-back would be greatly appreciated.
    youtube.com/watch?v=CO1SH_Yn7vI

    Suka

    • Good advice friends. We will try to take the time to compress the image before uploading. But we do not promise because the writing schedule is too crowded.
      Best regards….

      Suka

  2. If you are going for finest contents like I do, just visit this web page all the time since it offers feature contents, thanks

    Suka

  3. A motivating discussion is worth comment. There’s no doubt that that you need to write more on this issue, it may not be a taboo matter but typically people don’t talk about such topics. To the next! Cheers!!

    Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.