Gejolak Sosial

+10 Manfaat & Bahaya Budaya Konsumtif – Mengkonsumsi Sama Dengan Menghancurkan Sumber Daya Alias Merusak Lingkungan


Dampak Positif & Negatif Budaya Konsumtif – Mengkonsumsi Sesuatu Sama Dengan Menghancurkan Sumber Daya Alias Merusak Lingkungan

Konsumtif adalah (1) bersifat konsumsi (hanya memakai, tidak menghasilkan sendiri); (2) bergantung pada hasil produksi pihak lain (KBBI OFFLINE). Merupakan sifat menghancurkan segala sesuatu baik dalam waktu cepat (oksigen, makanan dan minuman) maupun dalam waktu lama (pakaian, furniture, rumah dan lain-lain). Sikap ini biasanya dominan bagi orang-orang yang sangat membutuhkan materi untuk memuaskan sekaligus membahagiakan hatinya. Padahal sudahlah jelas bahwa semahal apapun materi yang bisa kita belikan tidak mampu menyentuh hati ini dan sifatnya sesaat saja.

Manusia sama dengan hewan, yaitu sama-sama berperan aktif menghancurkan bumi ini. Tetapi hewan lebih bijak daripada manusia itu sendiri, mengapa demikian? Seharusnya KITA MALU DENGAN HEWAN, sebab mereka hanya MENGAMBIL APA YANG DIBUTUHKAN DARI ALAM SEKITARnya sedangkan kita, bila perlu semuanya diembat: pepohonan kita tebangi, hutan kita geser, binatang kita bunuh sembarangan dan lain sebagainya. Hewan memiliki hawa nafsu yang pas dengan ukuran perutnya saja sedangkan manusia hawa nafsunya, bila perlu bumi inipun di telan olehnya: 😀 betapa serakahnya itu!

Mengapa kita selalu mengkonsumsi sesuatu lebih besar dari ukuran tubuh sendiri? Mau punya rumah inginnya yang segede istana, punya kendaraan maunya yang semewah presiden, mau dipuji orang, mau dihargai orang lain, mau dihormati orang, mau terkenal bahkan mau segala-galanya. Bila bisa dihitung keinginan dalam hati ini maka jumlahnya bisa puluhan, ribuan bahkan jutaan. Tidak mampu mengendalikan hawa nafsu pada akhirnya hanya akan membawa manusia menjadi orang-orang konsumtif yang hobinya belanja dan menghambur-hamburkan uang. Padahal semua itu rasanya sesaat saja.

Manfaat budaya konsumtif yang terkendali

Seandainya kita, manusia hanya mengkonsumsi apa yang dibutuhkan saja, alhasil bumi ini akan awet hingga berjuta tahun ke depan sebab apa yang kita lakukan hanyalah seadanya saja. Tetapi konsumsi yang lebay/ berlebihan akan mempercepat pemanasan global hingga menyebabkan bencana alam. Berikut beberapa dampak positif dari budaya manusia yang konsumtif.

  1. Memenuhi kebutuhan jasmani.

    Ada banyak kebutuhan jasmani bagi manusia mulai dari makanan, minuman, pakaian, rumah dan lain sebagainya. Semuanya itu terdiri dari kebutuhan primer, sekunder dan tersier (berdasarkan teori kebutuhan Moslow). Semakin lama kebutuhan jasmani semakin berkembang dari tahun ke tahun. Ini didorong oleh berbagai-bagai penemuan manusia di bidang teknologi. Tidak masalah selama hal tersebut mendatangkan manfaat tetapi teknologi yang berlebihan biasanya hanya memanjakan manusia.

  2. Menyehatkan kita.

    Manusia jelas membutuhkan nutrisi yang seimbang untuk bisa hidup sehat panjang umur di bumi ini. Oleh karena itu, jaga asupan makanan dan minuman dan jangan terlalu pelit untuk membeli buah-buahan dan sayur. Demikian juga janganlah menghemat air minum melainkan minumlah secukupnya. Kemudian jangan lupa membeli herbal ajaib (bawang putih, bawang merah, jahe) sekalipun mahal dan buah ajaib (jeruk nipis) yang lumayan murah juga mineral ajaib (garam) untuk hidup yang lebih sehat.

  3. Mencerdaskan anda.

    Tidak perlu terlalu pelit dalam hidup ini, belilah beberapa buku yang bermutu untuk dibaca-baca di waktu luang. Lagipula anda bisa mengunjungi perpustakaan terdekat untuk menambah ilmu. Sedang bisa juga sesekali mainlah ke internet bukan untuk menonton video bokep. Melainkan untuk membaca beberapa artikel berkualitas (yang menurut anda) bagus.

  4. Menjadi bermanfaat.

    Tahukah anda saat membelanjakan sejumlah uang maka hal tersebut adalah bagian dari hidup yang memberi manfaat? Sebab saat kita membeli sebuah barang, itu berarti membayar setiap orang yang terlibat didalamnya mulai dari proses produksi hingga distriburi lalu sampai ke tangan sendiri. Di dalam kebermanfaatan ini kita mengambil peran sekalipun nilainya tidak seberapa.

  5. Menciptakan rasa saling membutuhkan.

    Saat anda membeli sesuatu, itu menandakan bahwa sedang menambahkan peran orang lain dalam kehidupan pribadi. Ini adalah baik untuk memenuhi takdir kita sebagai makhluk yang bersosial. Semuanya ini untuk menyeimbangkan sikap yang individualis dalam diri masing-masing.

  6. Menjalin kebersamaan.

    Rasa kebersamaan bisa terjalin saat kita berkumpul bersama orang lain sambil menikmati secangkir teh dan roti di atas meja. Moment berkumpul semacam ini jangan disia-siakan begitu saja melainkan berbagilah dengan sesama. Berbagai kebaikan tidak selalu dengan uang tetapi ramah tamah, melucu, memberi masukan dan lain sebagainya akan membantu kita agar hubungan persaudaraan dalam kebersamaan selalu terjaga baik.

  7. Memutar ekonomi menjalankan negara.

    Setiap barang yang kita beli dengan harga terkecil sekalipun, telah dikenakan pajak oleh pemerintah. Dimana dari semua pajak itulah kelak pemerintah akan kembali memutar uang untuk kepentingan warga, misalnya membangun infrastruktur dan menopang kehidupan seluruh rakyat.

Yang kami maksud dengan budaya konsumtif yang terkendali adalah saat seorang manusia tidak menginginkan sesuatu lebih dari apa yang dibutuhkannya. Melainkan semua diberdayakan seadanya saja bukan untuk hal-hal yang lebay dan foya-foya. Tetapi semakin tinggi – tidak terkendali hawa nafsu manusia maka semakin banyak dan luas saja keinginan itu. Keadaan ini jelas tidak sehat sebab kemampuan bumi untuk menghasilkan sesuatu bisa lebih rendah dari kecepatan manusia saat menggunakan/ memakainya. Jika hal semacam ini terus saja dibiarkan maka krisis pangan global akan semakin merajalela.

Mengkonsumsi sesuatu sama dengan menghancurkannya

Sesungguhnya bila kita mampu mengendalikan diri terhadap kebiasaan konsumtif maka proses kehancuran bumi yang ditandai dengan pemanasan global tidak akan datang begitu cepat melainkan berjalan lambat-laun sehingga sempat tergantikan. Sebab manusia sama dengan hewan lainnya yang hanya bisa mengkonsumsi apa yang sudah disediakan oleh bumi (tanaman hijau). Saat mengkonsumsi sesuatu maka saat itu juga kita menghancurkannya sebab proses konsumsi sama artinya dengan memecah senyawa tertentu untuk menghasilkan energi. Misalnya saja saat makan maka semuanya akan dihancurkan sebagian besar di dalam mulut ini sedang sisanya menunggu proses

Jadi, bila disampaikan dengan bahasa kasar maka sifat konsumtif sama saja dengan kemampuan menghancurkan bumi sedangkan di lain pihak perlu menilai sudah sampai dimanakah kemampuan bumi ini untuk membangun semuanya itu kembali? Apapun yang dikonsumsi, baik berupa kegiatan pembangunan gedung, properti, transportasi, konsumsi, fashion, olahraga dan lain sebagainya, bukankah semuanya ini menggunakan energi yang diperoleh daengan cara menghancurkan (katakan saja membajak daerah pertanian hingga menambang bahan mineral) permukaan hingga perut bumi. Semua aktivitas ini memang bermanfaat bagi kita tetapi lingkunganlah yang menanggung tekanan atas semuanya itu. Lagipula kemampuan bumi mengumpulkan semuanya itu kembali untuk menjadi energi siap pakai berjalan lambat.

Sifat konsumtif yang berlebihan

Manusia yang tidak mampu merasakan kebahagiaan sejati tingkat konsumsi mereka terhadap materi sangatlah tinggi. Kehidupan mereka sangat dipengaruhi oleh trend, televisi dan media sosial. Semua yang dilihat, didengar, diraba, dikecap dan dibaui bila perlu menjadi miliknya seutuhnya. Yang mereka kehendaki adalah terus-menerus membeli-membelanjakan uang yang dimiliki semata-mata demi kebahagiaan semu alias kesenangan semu yang sesaat saja. Sebab, semahal-mahalnya materi, rasanya tidak lebih dari 3 detik, 3 menit, 3 jam, 3 hari, 3 bulan dan maksimal 3 tahun saja. Setelah itu anda harus membeli kembali sebab yang lama sudah habis atau ada trens baru yang sedang berkembang.

Belanja untuk bahagia adalah awal dari budaya konsumtif yang berlebihan. Keadaan ini tidak akan lagi menunjukkan kebermanfaatan bagi manusia itu sendiri tetapi lebih banyak mudaratnya. Sebab perihal manusia yang terpapar lebih lama oleh materi akan mengganggu kesehatan fisik, mental dan sosial hingga akhirnya keadaan ini menggiring seseorang dalam moralitas jongkok (kepribadian yang kerdil). Sebab terlalu ketergantungan terhadap materi lama-kelamaan akan membuat anda kehilangan rasa lalu menganggap semuanya itu biasa saja. Lagipula darimana uang yang begitu banyak untuk terus-menerus membeli barang ini dan itu demi hati yang terpuaskan?

Bahaya budaya konsumtif bagi kehidupan bermasyarakat

Adalah murni tidak masalah saat seseorang hanya membeli sesuatu yang dibutuhkannya saja. Selama ia mampu mengendalikan kebutuhan dengan tidak menitikberatkannya pada hawa nafsu yang sesat dan berlebihan, selama itu juga segala yang kita konsumsi akan mendatangkan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Tetapi selama anda berburu kebahagiaan lewat materi maka keadaan ini adalah awal dari kerusakan lingkungan yang akan merugikan orang lain bahkan membunuh mereka juga. Berikut ini dampak negatif (dampak buruk) kebiasaan mengkonsumsi sesuatu tanpa batasan.

  1. Mengganggu kesehatan fisik.

    Kekuatan fisik untuk menanggung materi ada batasnya teman. Kalau makan masakan lebih dari tiga kali sehari? Saat menonton televisi mustahil 12 jam berturut-turut. Pergi jalan-jalan mustahil seharian penuh. Masuk taman hiburan masakan 24 jam? Terlalu lama terpapar dengan kenikmatan duniawi beresiko mengganggu kesehatan anda. Mulai dari sakit gigi, penyakit gula, kolesterol tinggi, hipertensi, penyakit jantung hingga kematian mendadak.

  2. Menjadi orang yang egois – individualis.

    Saat manusia berpikir bahwa materi bisa memuaskan dan membahagiakan hidupnya maka di dalam hatinya tidak ada lagi keinginan untuk memperhatikan kehidupan orang lain. Melainkan semua yang dilakukannya demi kebaikan dan kepentingannya sendiri hari lepas hari. Mereka orang egois seperti ini sangat individualis dan cenderung mengutamakan kepentingan pribadi dibandingkan dengan kepentingan bersama.

  3. Iri hati dan sombong.

    Biasanya manusia yang konsumtif akan dihafal oleh para mareketing sebab untuk memaksa orang-orang ini membeli sesuatu, hanya perlu membuat mereka iri saja maka barang-barang  yang ditawarkan akan habis dibeli semuanya. Misalnya dengan mengatakan bahwa “si ini udah punya dan si itu udah punya lho bu…. Hanya ibu saja disini yang belum memilikinya.” Untuk mengendalikan orang-orang sombong yang diperlukan adalah membangkitkan iri hati di dalam dirinya, dengan demikian iapun mau saja membeli barang dan jasa yang ditawarkan.

  4. Ketergantungan – candu.

    Nikmatnya materi hanya sesaat saja, yang tidak bijak akan mengkonsumsinya lagi dan lagi tanpa batasan. Saat anda terus-menerus mengkonsumsi sesuatu selama beberapa hari, ada kecenderungan untuk merindukan hal yang sama saat itu tidak dikonsumsi lagi. Sikap yang ketergantungan ini membuat manusia tidak mampu melepaskan sesuatu. Begitu terjerumus pada moment candu ini maka seseorang akan terus membeli ini-itu untuk memuaskan hatinya. Padahal uang tidaklah selalu ada seumur hidup.

  5. Cepat bosan – mengalami titik jenuh lebih cepat.

    Sikap konsumtif yang tidak memiliki tempo karena didukung oleh permodalan yang kuat (entah itu dari hasil warisan, uang orang tua atau dari saudara/ sahabat sendiri). Modal yang sudah duluan ada membuat seseorang bisa membeli dan mengkonsumsi sesuatu secara terus-menerus. Hingga pada suatu titik ia merasa jenuh dengan semuanya itu yang semakin diperparah oleh hawa nafsu yang tidak pernah puas, sesat dan berlebihan.

  6. Menggilai kenyamanan hidup.

    Biasanya orang yang konsumtif selalu memiliki sistem permodalan yang baik karena berasal dari orang-orang kaya raya yang siap membayar lebih untuk memuaskan hidupnya. Mereka akan sangat tenang dalam kehidupannya ketika mampu menikmati gemerlapan duniawi di luar daerah bahkan negara lain. Mereka menggilai kenyamanan hidup dengan bersikap intolerir dengan berbagai-bagai bentuk rasa sakit yang mungkin mencuat ke permukaan. Orang yang menggilai kenyamanan biasanya tidak mentolerir berbagai ketidaksempurnaan, kekhilafan, kelemahan dan kekurangan orang lain maupun  sistem.

  7. Menolak ujian sosial.

    Seseorang yang sudah terbiasa nyaman dengan seluruh kehidupannya cenderung sangat mencintai keadaan tersebut. Begitulah mereka sangat ketergantungan dengan rasa nyaman dan mengabaikan rasa sakit. Padahal ujian sosial yang biasanya mengandung rasa sakit itu adalah latihan yang baik untuk belajar mengendalikan diri, meningkatkan fokus, menekan kebinatangan dan membatasi kejahatan dalam diri manusia itu sendiri.

  8. Menurunnya kecerdasan dan kreativitas – membodohi manusia.

    Budaya konsumtif identik dengan kenyamanan dan kenyamanan identik dengan menikmati hidup. Sedang menikmati hidup sama artinya dengan mengosongkan pikiran. Sebab orang yang sedang mengkonsumsi sesuatu biasanya pikirannya dalam keadaan kosong karena segala fokus tertuju ke indra. Keadaan ini menyebabkan otak seseorang lama-lama menjadi tumpul karena tidak pernah lagi digunakan untuk berpikir. Keadaan ini akan membuat kecerdasan seseorang menurun, lebih sering lupa/ pikun dan kreativitas hidup sama-sekali nol.

    Lagipula teknologi yang memanjakan manusia cenderung membuat segala sesuatunya menjadi mudah. Keadaan ini membuat seseorang kehilangan kemampuan berpikir sebab sudah ada teknologi yang mengerjakan segala sesuatu. Sedangkan manusia ada sebagai operator saja yang tinggal menekan ini dan itu sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Dominasi teknologi dalam kehidupan manusia hanya membuat aktivitas otak, perkataan dan aktivitas fisik lainnya menurun. Aktivitas manusia yang menurun berpengaruh langsung terhadap tingkat kecerdasan seseorang yang semakin tumpul/ kurang cerdas/ bodoh.

  9. Moralitas amburadur.

    Mereka yang tahunya hanya mengkonsumsi ini dan itu saja biasanya memiliki modal yang besar sehingga potensi untuk berlaku semena-mena terhadap sesama dan lingkungan sekitar lebih besar. Terlebih ketika harta yang dimilikinya bersifat warisan atau kebetulan anak seorang bos besar.

    Sadarilah bahwa uang adalah power dan saat anda membebaskan anak dengan uang maka diapun memiliki power untuk mengendalikan kehidupannya. Ini cenderung membuat seseorang sombong dan enggan untuk mengikuti ujian kehidupan yang berlangsung di sekitarnya. Kenyataan semacam ini membuat seseorang menjadi tidak manusiawi, memperbudak orang lain, menuntut kesempurnaan, memiliki hawa nafsu yang tinggi dan lain sebagainya. Dimana semua keadaan ini akan berujung pada moralitas yang amburadur. Sebab moralitas tidak bisa dipelajari secara duduk bangku tetapi bisa dipahami dan dikendalikan lewat masalah yang kita hadapi.

  10. Melegalkan aksi kriminalitas.

    Budaya konsumtif jelas membutuhkan uang yang lebih banyak. Tanpa modal yang melimpah ruah sikap semacam ini tidak akan terwujud dalam suatu sistem. Seseorang yang sudah candu untuk membeli sesuatu, pas berhenti dari aktivitas ini, kejahatan langsung menguasai pikirannya karena uang telah habis di tangan. Niat yang sudah tidak baik lagi mulai menguasai pikiran lalu perkataan hingga pada akhirnya berujung pada tindakan yang lebih agresif, misalnya mencuri, copet, curanmor dan aksi kriminalitas yang lainnya.

  11. Konsipirasi dimana-mana.

    Politik konspirasi untuk meraup untung sebanyak-banyaknya menjadi trend di antara orang-orang cerdas. Mereka dengan sengaja menebarkan informasi yang salah untuk menjebak masyarakat dalam pengaruh buruk yang berpotensi melemahkan dan menjatuhkan. Dari setiap proses pelemahan inilah para konspirator meraup untung besar-besaran untuk dipakai membeli berbagai-bagai barang mewah nan berkelas demi hawa nafsu sesaat/ sementara saja.

  12. Kemiskinan merajalela, jarak yang semakin jauh antara orang miskin dan kaya.

    Masyarakat kapitalis yang pintar-pintar melakukan konspirasi meraup untung yang sangat besar dari proses perdagangan. Dimana setiap uang masyarakat masuk ke kantong pribadi sehingga kondisi rakyat begitu-begitu saja sedangkan oknum kapitalis yang serakah semakin bertambah-tambah kaya raya. Keadaan ini membuat jarak antara orang miskin dan kaya semakin jauh. Lagipula konspirasi yang dijalankan membuat masyarakat biasa kehilangan pikiran dan memiliki sikap konsumtif yang tinggi terhadap materi. Sehingga ketika akhir bulan tiba habis jugalah uang bahkan utang sudah menunggu di depan.

  13. Meningkatkan produksi sampah.

    Segala aktifitas konsumsi selalu meninggalkan sampah bagi lingkungan. Masalahnya sekarang adalah apakah kesemua sampah ini sudah di kelola dengan benar dan ramah lingkungan? Atau jangan-jangan semuanya diproses dengan cara-cara yang agresif tanpa memperhatikan faktor lingkungan sehingga beresiko mencemari lingkungan sekitar.

  14. Mencemari udara, tanah dan air hingga menimbulkan bencana.

    Semakin meningkatnya jumlah penggunaan teknologi (mesin motor, mobil, pabrik dan lainnya), meningkat juga polusi udara, tanah dan air yang dihasilkannya. Segala bentuk pencemaran ini jikalau tidak di tangani dengan benar beresiko mempercepat pemanasan global. Hingga menyebabkan bencana alam yang merusak infrastruktur yang susah payah di bangun dan menimbulkan korban jiwa.

    Bencana alam tidak pernah memberikan keuntungan bagi manusia itu sendiri terutama bagi sistem yang lebih besar yakni, negara. Sebab bencana alam akan merusak bahkan menelan seluruh sistem yang sudah ada. Sehingga yang tersisa hanyalah puing-puing yang tidak berharga lagi. Apa yang dibangun selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun telah musnah dalam beberapa jam saja.

  15. Utang negara bertambah-tambah banyak.

    Negara yang terkena bencana telah mengalami kehancuran infrastruktur yang luas. Tidak mudah untuk membangun semuanya ini, kecuali pemerintah telah mempersiapkan devisa yang besar untuk menanggualanginya. Tetapi untuk bencana yang sifatnya nasional biasanya pemulihan infrastruktur diperoleh dengan melakukan utang. Artinya, negara hanya bisa mengharapkan hiba/ utang dari negara lain yang bisa membantu untuk membereskan masalah dalam negeri seperti ini.

  16. Habisnya energi.

    Kemampuan alam sekitar untuk menghasilkan energi sifatnya lambat (kususnya minyak bumi). Sedangkan konsumsi manusia berlipat ganda terhadap energi disebabkan oleh jumlah penduduk yang meningkat terus setiap tahunnya. Keadaan ini juga turut disebabkan oleh pemborosan sumber daya yang dilakukan oknum kapitalis yang serakah, doyang kemewahan pribadi, suka berfoya-foya dan syarat pesta pora. Cadangan energi/ minyak bumi semakin terbatas yang diiringi dengan kemampuan produksi yang semakin menurun pula. Bila konsumsi masyarakat tidak bisa dikendalikan maka habisnya energi tidak terelakkan lagi.

  17. Peperangan untuk merebut sumber daya.

    Energi yang sudah habis dalam suatu negara dapat menimbulkan berakhirnya perdagangan, runtuhnya sistem ekonomi dan hilangnya kekuasaan pemerintah untuk mengendalikan rakyat (rakyat kocar-kacir, penjarahan dimana-mana, moralitas tidak lagi penting sebab semua orang pada berebut untuk makanan dan minuman). Keadaan ini akan membuat kaum intelektual dan pihak militer berpikir keras untuk mencari dan menemukan energi yang baru. Salah satu alternatif tercepat untuk melakukannya dengan merebut sumber energi dari negara lain yang masih memiliki cadangan. Darisinilah peperangan pecah di mana-mana hingga menyebabkan Perang Dunia Ke 3.

Mampu menemukan kebahagiaan sejati adalah syarat utama untuk mengurangi budaya konsumtif. Satu-satunya cara untuk menemukan rasa ini adalah dengan melakukan kebenaran (mengasihi Tuhan & sesama), tetap rendah hati dan siap diuji oleh orang lain juga lingkungan sekitar. Rasa sakit adalah salah satu cara untuk melatih kemampuan berkonsentrasi sehingga turut meningkatkan kecerdasan seseorang. Bila anda mampu terbebas & terbiasa dengan rasa sakit ini, kebahagiaan yang anda rasakan akan bersifat sejati hingga menutup mata. Tetapi, enggan mengikuti ujian sosial membuat kemampuan fokus kurang baik sehingga bahagia yang dirasakanmu sifatnya tidak terus-menerus dan cenderung hilang timbul.

Mengapa manusia mengkonsumsi materi berlebihan? Karena mereka berpikir bahwa materi bisa membahagiakannya terus-menerus. Budaya konsumtif yang berlebihan biasanya didorong oleh hawa nafsu yang tinggi. Keadaan ini hanya akan mengganggu kesehatan fisik, mental dan sosial bermasyarakat. Bila terus berlanjut, lingkunganpun akan dikorbankan yang lama kelamaan akan menimbulkan bancana alam. Keadaan ini hanya menghabiskan energi pemerintah untuk membangun infrastruktur yang sudah luluh lantak juga menambah utang negara. Pada akhirnya kelangkaan energi yang mengglobal akan memicu perang dunia III. Oleh karenanya, gunakan materi seperlunya saja (secukupnya) lalu temukanlah rasa bahagia di dalam hatimu, itu seperti rasa sukacita (senaang) yang terkendali, tenang dan damai hingga meluap dalam bentuk senyuman di bibir manis anda.

Salam pengendalian diri!

1 reply »

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.