Gejolak Sosial

11 Cara Membuat Hati Tenteram: Tenang & Damai Di Segala Waktu Bahkan Dalam Kesulitan Sekalipun


Cara Membuat Hati Tenteram Tenang & Damai Di Segala Waktu Bahkan Dalam Kesulitan Sekalipun

Pengertian dan dua macam dasar

Kristen Sejati – Tenteram adalah (1) aman; damai (tidak terdapat kekacauan); (2) tenang (KBBI Offline). Ketenteraman merupakan ketenangan & keteduhan hati dalam berbagai situasi, termasuk dalam tekanan sekalipun. Secara jalan kepada pencapaian ketenteraman hidup memiliki dua jalan, yaitu melalui peraturan dan melalui ujian kehidupan. Saat anda memilih jalan melalui aturan maka ini adalah jalan pintas yang cepat. Tetapi saat anda memutuskan untuk memilih jalan kepada perjuangan, inilah jalan yang melalui penderitaan yang cenderung tidak menyenangkan.

Pada dasarnya kedua jenis penenteram hati ini tidak bertentangan satu sama lain melainkan saling mendukung. Sebab cara cepat dibutuhkan untuk mengatur hal-hal yang pengaruhnya besar dan bersifat fundamental. Tetapi penerapan aturan semacam ini, sebaiknya tidak memperhatikan hal-hal recehan. Bila semua orang melapor kepada penegak hukum seputar masalah kecil yang terjadi dalam hidupnya maka bisa dipastikan bahwa jumlah personil akan terus mengalami kekurangan sedangkan laporan justru semakin menumpuk-numpuk.

Belajar menenteramkan hati lebih banyak dipraktekkan lewat ujian sosial yang kita hadapi sehari-hari. Masalah membantu melatih dan mencerdaskan otak, baik secara intelektual, emosional, spiritual dan lain sebagainya. Gangguan yang terjadi di sekitarmu akan membantu pikiran untuk berkonsentrasi pada sesuatu yang positif. Ini jelas merupakan proses belajar yang membutuhkan waktu yang tidak singkat.. Bila anda terus berlatih niscaya kemampuan fokus semakin berkembang hingga tetap tenteram di tengah situasi yang kacau balau.

Dasar Alkitab

Allah telah menjanjikan ini kepada setiap orang yang percaya dan setia melakukan perintah dan larangannya. Pada awalnya ayat yang membicarakan tentang ketenangan dan keteduhan hati kami temukan pada saat nabi Musa membawa bangsa Israel eksodus dari Mesir menuju tanah perjanjian. Sebelum tiba di gunung Horeb untuk menerima Hukum Taurat bukankah Musa adalah pemimpin yang sangat emosional dan tidak sabaran menghadapi rakyat yang tegar tengkuk (keras kepala). Tetapi setelah nabi menerima Hukum Taurat dan kesepuluh firman, ia tampil dengan kulit yang bercahaya setelah bertemu dengan Allah. Berikut ini firman yang kami maksudkan.

(Keluaran  33:13-14) Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu. Ingatlah, bahwa bangsa ini umat-Mu.” Lalu Ia berfirman: “Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu.”

Jalan yang tenteram adalah jalan Tuhan sendiri sebab itulah hanya orang yang mengenal-Nya saja yang dapat melalui jalan itu. Jalan yang ditempuh untuk mengenal Allah adalah firman. Ini adalah satu-satunya petunjuk untuk menemukan ketenteraman hati yang sesungguhnya. Untuk mengerti firman tidak ada jalur cepat melainkan kita harus membacanya dengan tekun secara berulang-ulang. Kami sendiri masih belum lulus dari semua pelajaran itu sebab masih banyak bagian-bagian dalam Alkitab yang tidak bisa dimengerti dengan jelas.

Jika memeriksa lebih dalam lagi tentang Hukum Taurat dan kitab para nabi maka semuanya itu tidak jauh-jauh dari dua inti kitab suci yang disampaikan oleh Tuhan Yesus yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Seperti ada tertulis.

(Markus 22:37-39) Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Lagi Tuhan Yesus berkata demikian.

(Matius  7:12) “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Intinya adalah semua firman yang ada selalu berbicara tentang bagaimana caranya mengasihi Allah dan bagaimana pula caranya mengasihi sesama manusia. Kedua hal ini walau kedengarannya berbeda tetapi pada dasarnya adalah sejalan. Artinya bagian yang satu tidak bertentangan atau tidak berlawanan arah dengan yang lainnya. Yang dimaksud dengan mengasihi Allah adalah mencintai-Nya baik melalui pikiran, perkataan dan terlebih lagi perbuatan. Sedangkan untuk sesama manusia yang dibutuhkan adalah mengasih orang lain sama seperti mengasihi diri sendiri. Lebih jelasnya Tuhan Yesus merangkum semuanya ini dalam segitiga kekristenan, seperti ada tertulis.

(Markus  8:34) Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

Ketiga hal di atas adalah falsafah hidup yang harus diterapkan oleh setiap orang percaya. Inilah jalan yang telah membimbing Musa dalam ketenteraman hati seperti tertulis dalam firman-Nya, “Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu.” Bukankah nabi Musa telah menyangkal dirinya saat menolak tawaran Tuhan untuk menjadikan keturunannya sebagai bangsa yang besar sedangkan bangsa Israel sendiri hendak dibinasakan oleh murka Tuhan oleh karena mereka tegar tengkuk (bandingkan Keluaran 32:8-14). Musa juga telah memikul salibnya saat ia melarikan diri dari istana Firaun. Sedangkan dia sendiri mengasihi saudaranya seperti diri sendiri ketika menghakimi orang Mesir yang memukul orang  Israel.

Ketenteraman hati berawal dari menyesuaikan diri

Masih ingatkah anda saat dahulu masih kecil? Atau pernahkah anda melihat bayi yang baru dilahirkan? Begitu seseorang lahir di dunia ini, tepat saat itu juga ketenteraman di dalam hatinya tidak ada. Tangisan adalah tanda bahwa hati sedang tidak tenang dan jauh dari kata damai. Diawal-awal, bayi kecil itu mudah sekali terganggu sehingga ketenangan hatinya menjadi kacau balau. Keadaan ini jelas membuatnya menangis terus. Tetapi seiring waktu berlalu, melewati masa kanak-kanak, remaja, muda hingga menjadi dewasa, rasa itu semakin lama semakin stabil.

Hidup yang tenang dan damai adalah pencapaian yang ditempuh dari rasa kebersamaan antar manusia. Saat setiap orang peduli dengan keberadaan orang lain tentu saja dengan cara bertenggang rasa terhadap mereka. Tetapi ada perbedaan rasa antar manusia, mungkin bagi orang yang satu keadaan ini menyakitkan tetapi bagi orang yang lain biasa saja. Kita tidak perlu rasa sensitif yang lebay, jadi yang kita butuhkan adalah upaya menyesuaikan diri. Segala sesuatu bila diterima apa adanya akan menjadi terbiasa. Ingatlah bahwa manusia makhluk cerdas yang pintar menyesuaikan diri.

Semakin baik kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri maka semakin terjaga ketenteraman hatinya. Lagipula kemampuan adaptasi kembali ditentukan oleh kemampuan fokus berpikir di dalam segala waktu. Biasanya semakin baik kemampuan seseorang untuk memusatkan pikiran pada hal-hal yang positif akan semakin baik rasa tenang dan damai yang dirasakannya. Ujian sosial berupa kebisingan dan pribadi pengganggu adalah sarana yang tepat untuk melatih kemampuan berkonsentrasi, tekunilah itu dengan sabar. Alhasil kemampuan beradaptasi akan berkembang hari lepas hari.

Cara membuat hati tenang dan damai (tenteram) di segala waktu yang dilalui

Sadar atau tidak suasan hati yang tenteram tidak bisa dibeli. Bahkan sekalipun uang dan harta benda anda bertumpuk-tumpuk, keadaan ini adalah sesuatu yang langka. Ini murni sebagai sebuah perkembangan otak manusia dari hasil latihan yang di dukung oleh pengetahuan dan sikap yang benar. Berikut ini beberapa cara untuk menenangkan dan mendamaikan hati dalam segala situasi bahkan dalam situasi terburuk sekalipun.

  1. Kebenaran adalah mengasihi Allah.

    Kasih kepada Allah adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Ini adalah hubungan yang benar-benar intim dengan Yang Maha Kuasa. Namanya juga hubungan yang intim, berati selalu di mulai dari dalam yakni dari dalam pikiran sendiri. Bila hati manusia selalu terhubung dengan Allah, saat itu juga ketenteraman hati menguasai hidupmu. Tetapi hubungan yang buruk dengan Sang Khalik selalu membuatmu tidak nyaman. Artinya, ini hanya terjadi saat komitmen dan tujuan hidup selaras dengan kehendak Allah tetapi niat yang tidak lurus-tulus, tidak mungkin diam dengan tenang disisi Yang Maha Kuasa.

    Anda bisa menghubungkan pikiran kepada Tuhan dengan senantiasa fokus pada-nya, baik dalam bentuk doa, firman dan nyanyian pujian. Aktivitas bernyanyi memuji-muji Allah bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun berada. Selebihnya, giatkanlah untuk mengusahakan kebenaran dalam sepanjang hidupmu.

    Apalah artinya anda selalu fokus kepada Tuhan tetapi perkataan dan perbuatan sehari-hari jauh dari hal-hal yang benar? Harus ada sinkronisasi dan keselarasan antara pikiran, perkataan dan perbuatan.

    Lebih dari itu, adalah kuat kuasa Roh Allah yang menyertai anda sehingga dapat diam dengan tenteram di dalam situasi terburuk sekalipun.

  2. Kebenaran adalah mengasihi sesama.

    Ini adalah sifat benar yang perlu diekspresikan ke luar agar orang lain bisa merasakan kehadiran kasihmu. Kasih kepada sesama membutuhkan pengorbanan. Jadi jangan pernah mengasihi seseorang bila tidak rela berkorban alias tidak memiliki niat yang tulus. Tanpa ketulusan, kebaikan yang dibalas dengan pengabaian, kebencian dan perbuatan menyimpang akan disesali. Tetapi ketika anda melakukan segala sesuatu seperti melakukannya untuk menyatakan keabaikan Allah yang telah lebih dahulu diterima niscaya tidak ada kesempatan untuk menyesal.

    Untuk berbagi kasih tidak perlu ribet, melainkan mulailah dari hal-hal recehan seperti ramah-tamah (senyum, sapa, salam, terimakasih, tolong, maaf, menjadi pendengar yang baik), setia, jujur, adil dan lain sebagainya. Selanjutnya anda dapat mengasihi mereka sesuai dengan pekerjaan, potensi dan peluang yang dihadapi ke depannya.

  3. Miliki sikap yang rendah hati – biasa saja.

    Sikap yang rendah hati berhubungan dengan kehidupan manusia yang biasa saja. Sekalipun mengalami suka, duka, susah, senang dan lain sebagainya: sikapnya sama saja menanggapi keadaan tersebut.

    Kemampuan ini juga berhubungan erat dengan kerelaan menyangkal diri lalu menganggap bahwa Tuhanlah yang bekerja dan berkehendak atas segala sesuatu yang ada/ yang hidup di muka bumi, termasuk terhadap apa yang sedang anda alami hari ini.

    Orang yang rendah hati adalah yang mampu menyangkal dirinya sendiri untuk menepis segala arogansi yang cenderung mementingkan diri sendiri melainkan meletakkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

  4. Siap diuji sewaktu-waktu.

    Sebenarnya ujian sosial tidak ada melainkan rata-rata yang kami rasakan adalah kekhilafan. Itu hanyalah sesuatu yang disalahartikan. Yang perlu kita lakukan adalah mengendalikan rasa sensitif yang ada di dalam diri masing-masing lalu mengabaikan apa yang tidak penting.

    Anggaplah ini sebagai sebuah kesempatan untuk melatih konsentrasi dan pengendalian diri agar diberbagai-bagai waktu lebih siap untuk menjalani ujian kehidupan lainnya yang mungkin lebih besar.

  5. Jaga pikiran tetap positif.

    Jangan biarkan berbagai-bagai energi negatif memasuki kepada anda. Melainkan penuhi pikiran dengan senantiasa fokus kepada Tuhan di segala waktu yang di lalui. Isi pikiran kita biasanya sangat dipengaruhi oleh apa yang sedang kita kerjakan dan apa yang sering kita katakan. Jadi, jauhilah perilaku dan perkataan yang negatif sebab semuanya itu bisa mempengaruhi isi pikiran anda.

    Kemampuan anda menjaga pikiran dari hal-hal yang tidak baik adalah dasar ketenteraman hati. Ini berpengaruh juga terhadap kemampuan mengubah apa yang dicitrakan buruk oleh indra ke ranah yang lebih positif dimana hindari menyalahkan Tuhan, orang lain dan lingkungan sekitar. Kalau ada yang pantas disalahkan itu adalah diri sendiri.

    Seburuk apapun situasi yang anda hadapi, bawakanlah itu ke ranah yang positif berdasarkan persepsi positif yang Alkitabiah dan hindari menyalahkan orang lain. Misalnya saja….

    • Saat dicurangi orang lain >> mungkin dia tidak tahu.
    • Ketika diabaikan teman >> mungkin lagi banyak kerjaan.
    • Sewaktu keramahan kita didiamkan >> kesempatan untuk belajar sabar.
    • Saat diuji oleh orang lain >> ini kesempatan untuk berkembang.
    • Saat uang hilang di dompet >> ini pelajaran agar kedepan hati-hati.
    • dan lain sebagainya.
  6. Upayakan untuk meredam setiap pertentangan dalam hati (mampu menjawab setiap pertanyaan unik yang timbul dari dalam hati).

    Bila hati anda masih penuh dengan gejolak dan pertentangan mustahil mampu menenteramkan diri sendiri. Sebab berbagai pertanyaan yang timbul dari dalam hati sendiri merupakan sesuatu yang sangat mendasari kehidupan sehingga beresiko besar membuat penasaran dan gelisah. Anda harus menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang timbul itu dengan menanyakannya kepada seorang ahli di bidangnya.

    Biasanya, Kitab Suci memberikan jawaban-jawaban yang tepat tentang semua gejolak yang berasal dari dalam hati. Rahasia dunia bahkan alam semesta terdapat didalamnya. Tentu saja hal ini harus dicari dan digali secara sungguh-sungguh. Selama anda mampu memaknai jawaban yang diperoleh secara positif tanpa mengabaikan nilai-nilai kebenaran yang hakiki (kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama) gunakanlah itu sebagai pegangan. Pertanyaan semacam ini akan mendorong rasa penasaran sehingga ketika hal tersebut terjawab niscaya hati terasa lega.

  7. Batasi bahkan hilangkan ketergantungan berlebihan akan dunia ini.

    Syarat berikutnya adalah membatasi diri terhadap segala bentuk kecanduan di dunia ini. Baik kecanduan akan materi, belanja, jalan-jalan, naik kendaraan tertentu, smartphone, gadget dan lain sebagainya. Kita memang membutuhkan materi tetapi ketidakmampuan mengendalikan diri terhadap berbagai-bagai gemerlapan duniawi yang ada disekitar membuat anda cenderung emosional dan arogan saat hal-hal duniawi itu tidak ada lagi atau beralih ke barang dan jasa yang lain.

    Misalnya, saat terlalu candu mengkonsumsi nasi lalu saat hanya ubi yang di atas meja langsung jadi galau dan bersusah hati bahkan merepet sama orang rumah. Ketika hanya sukanya ikan basah lalu saat ikan teri doang di atas meja langsung ngambek, gak mau makan dan membeli makanan di luar. Demikian juga saat anda terlalu candu berkendara dengan mobil, bila yang ada hanya motor langsung galau, cemas, takut dan lain sebagainya.

    Tanda-tanda pertama kecanduan terhadap dunia ini adalah saat menginginkan dan mengharuskan kenikmatan duniawi yang sifatnya “itu-itu saja” sehingga ketika apa yang diharapkan tidak sesuai dengan apa yang ada, suasana hati langsung kacau dan amburadur.

    Sebisa mungkin lepaskan ketergantungan yang lebay atas berbagai-bagai hal duniawi sebab kesemuanya itu hanya membuat hidup ini semakin rapuh saja. Melainkan perlukan materi dalam bingkai yang fleksibel, artinya tidak perlu menetapkan/ mengharuskan ini atau itu melainkan apa yang ada saja maka itulah yang digunakan.

  8. Kemampuan menerima apa adanya.

    Hidup ini bukan kita yang mengendalikan, ada banyak orang yang datang dan pergi dimana sebagian besar tidak dikenal. Ini jugalah yang membuat sebagian besar dari apa yang akan terjadi tidak bisa dikendalikan seutuhnya. Oleh karena itu, kewajiban untuk menerima kenyataan apa adanya adalah suatu langkah awal agar hati tetap tenang dan damai dalam berbagai situasi.

    Jika anda mampu menerima kenyataan maka sikap sabar akan keluar dan menguasai kehidupan anda. Sehingga potensi untuk membenci dan memarahi seseorang lebih minim.

  9. Selalu santai saat menjalani hidup.

    Sikap yang selalu santai tidak jauh-jauh dari ekspresi yang biasa saja dalam menjalani hidup. Baik bagi kita untuk senantiasa memiliki kepribadian yang datar dalam segala sesuatu. Ini dimulai ketika anda sudah merasakan pahit-getirnya dunia. Oleh karena itu, jangan pernah menolak pergumulan hidup sebab gejolak semacam inilah yang akan membiasakan anda untuk tetap tenang dan santai (biasa saja) dalam bertindak.

    Santai terjadi ketika otot-otot tidak tegang kendur tak teratur dan denyut jantung dalam keadaan tidak terlalu cepat. Ini hanya dihasilkan saat anda mampu menikmati segala situasi yang dihadapi. Point ini kembali lagi pada kemampuan seseorang untuk memusatkan pikiran pada apa yang sedang dilakukan.

    Anda bisa bersikap santai dengan empat cara. Pilihlah sesuai dengan kebutuhan yang anda perlukan saat itu.

    • Ikuti saja apa yang sedang terjadi: terima apa adanya lalu nikmati semuanya itu sebagai sebuah peristiwa untuk menambah informasi.
    • Tetap kerjakan pekerjaan anda: apa yang sedang terjadi abaikanlah semuanya lalu lanjutkan aktivitas seperti biasanya.
    • Ikuti saja musiknya: saat anda lagi berbicara, bekerja dan belajar lalu tiba-tiba ada suara musik menggema dari sebelah. Jika kemampuan fokus anda telah meningkat maka anda mampu menyelesaikan itu sambil menikmati musik yang sedang diputar. Selesaikan semuanya itu sambil menggoyangkan jari, kaki, kepala, bokong, dan lain sebagainya. Ingat, GERAKAN YANG HALUS.
    • Keluar dari situasi tersebut: bila anda tidak bisa lagi fokus dan pikiran jadi kacau balau, ada baiknya untuk keluar dari situasi tersebut agar tidak terjadi perselisihan yang lebih serius.
  10. Belajar dan menekuni hobi mengisi waktu luang.

    Aktivitas belajar adalah sesuatu yang positif. Ini juga bisa membuat suasana hati lebih tenang dan damai. Apalagi yang dilakukan adalah sedang membaca Alkitab. Anda bisa membeli atau meminjam buku-buku positif diperpustakaan untuk mengisi waktu senggang sehingga hati tetap tenang dan damai. Aktivitas ini dapat melatih dan meningkatkan kemampuan berkonsentrasi menjadi lebih baik.

    Saat kita menekuni hobi, kemampuan fokus dilatih untuk menyelesaikan sesuatu sehingga pikiran tidak melayang-layang entah-berantah (sedih, curiga, marah, kesal). Aktivitas yang kita lakukan juga membuat hati bahagia sehingga ketentraman itu selalu ada selama proses menyelesaikannya.

    Pada dasarnya belajar dan menekuni hobi adalah aktivitas yang dapat mengalihkan fokus sehingga potensi pikiran kotor tidak menguasai hati. Oleh karena itu, ada baiknya bagi anda untuk mengisi waktu luang dengan ke dua aktivitas ini.

  11. Miliki etos kerja yang baik.

    Sadar atau tidak, mustahil ada ketenteraman di dalam hati tanpa etos kerja yang baik. Sebab pada dasarnya saat kita sedang menyelesaikan suatu pekerjaan maka saat itu jugalah hati ini dalam ketenangan dan kedamaian karena aktivitas yang biasa dilakukan. Oleh karena itu, latihlah dirimu untuk melakukan hal-hal di bawah ini secara terus-menerus.

    • Komitmen. Merupakan semangat hidup seputar, “Apa tujuan anda dalam menjalani kehidupan?” Penganglah kuat-kuat tujuan tersebut sehingga ia jadi semangat dimanapun dan bagaimanapun kondisi anda. Kami sendiri hanya punya dua tujuan hidup, yaitu mengasihi Allah dan mengasihi manusia. Dua hal inilah yang terus-menerus menjadi dasar dalam setiap tindakan yang kami lakukan.
    • Sabar. Merupakan sifat hidup yang tenang dan tabah saat menghadapi segala sesuatu. Ini dikatakan identik dengan sifat yang mampu bertahan untuk menunggu sesuatu yang baik.
    • Berintegritas. Disebut juga sebagai kejujuran dalam bekerja. Apa yang ada di dalam hati sama dengan yang dikatakan dan setara dengan yang dilakukan.
    • Kerja keras. Sifat yang tidak mau bersantai terlalu lama melainkan lebih memilih untuk beraktivitas mengisi waktu luang. Ini tidak hanya aktivitas bekerja melainkan bisa juga belajar, latihan, menekuni hobi dan lainnya.
    • Displin. Merupakan kebiasaan yang selalu mematuhi aturan yang berlaku demi kepentingan bersama.
    • Tekun. Merupakan sikap yang pantang menyerah dari hal-hal yang sepele. Sebab hidup ini harus diperjuangkan semaksimal mungkin. Lebih daripada itu, serahkan hasilnya kepada Tuhan.
    • Konsisten. Saat anda memutuskan agar konsisten berarti berusaha untuk tidak pernah bosan melakukan segala sesuatu demi yang terbaik. Terus-menerus melakukan hal yang positif akan mengubahnya menjadi kebiasaan. Saat kebiasaan baik ditekuni dengan sungguh-sungguh, lama kelamaan kelak akan menjadi budaya yang terjadi secara otomatis tanpa harus lagi diperintahkan dan tanpa perlu diarahkan sebelumnya.
  12. Menjadi bahagia.

    Dalam hidup ini kebahagiaan adalah sebuah keharusan. Bukan harta dan gemerlapan dunia ini yang membahagiakan kita sebab itu hanya menyenangkan indra yang notabene hanya mampu merasakan apa yang ada di luar diri ini. Padahal semuanya itu terbatas. Kebahagiaan sejati bersumber dari dalam hati yang terpancar ke luar hingga dirasakan juga oleh orang lain. Saat hati sudah terpuaskan oleh kebenaran, maka saat itu juga sekecil apapun materi yang kita miliki dapat membahagiakan diri ini yang diawali dengan (1) rasa bersyukur kepada Tuhan dan (2) menganggap semua yang terjadi adalah terbaik untuk kehidupan kita.

    Bahagiakah anda dengan hidupmu saat ini? Seharusnya ya. Sebab nafas kita berasal dari Tuhan yang adalah kebenaran itu sendiri. Itulah mengapa kita selalu dituntut oleh diri sendiri untuk melakukan hal yang benar. Sedangkan kebenaran itu sendiri adalah (1) saat seluruh kehidupan ini tertuju kepada Tuhan dan (2) dan ketika kita mampu berbagi kasih (bermanfaat) kepada sesama. Bila anda telah melakukan kedua hal ini maka seharusnya hati penuh dengan kebahagiaan.

    Satu hal saja yang membuat kita tidak bahagia adalah saat terlalu gemar membanding-bandingkan kehidupan pribadi dengan kehidupan orang lain: suka iri hati, bersungut-sungut, berprasangka buruk dan sombong. Oleh karena itu, jauhkan kebiasaan membanding-bandingkan (menilai/ menghakimi) orang lain. Cintai diri sendiri, puaslah dengan dirimu dan nikmati hidup apa adanya.

    Kebahagiaan itu seperti rasa sukacita (senang) yang terkendali, tenang dan damai dimana keadaan ini meluap lewat senyuman manis yang tulus kepada semua orang. Salah satu jalur rel terbaik untuk memancing keluarnya rasa ini adalah saat pikiran fokus kepada Tuhan sambil memuji-muji nama-Nya.

Kebahagiaan Sejati & Fokus Pikiran Positif

Hati yang tenang dan damai adalah hasil latihan mengkonsentrasikan pikiran pada hal-hal yang positif. Salah satu fokus terbaik adalah saat anda mampu bernyanyi memuji-muji Tuhan di dalam hati di segala waktu yang dilalui: lakukanlah ini sembari berimprovisasi. Andapun bisa menjaga pikiran dengan senantiasa bekerja untuk menyelesaikan sesuatu sebab tangan dan kaki yang sibuk membuat pikiran tidak melayang-layang pada kesedihan, kegalauan dan kecemasan. Demikian juga saat anda mengisi waktu luang dengan belajar, membaca dan menekuni hobi: aktivitas ini semata-mata untuk menjaga otak agar tidak mengkhayal lalu berimajinasi memikirkan hal-hal yang buruk. Saat pikiran anda dipenuhi dengan doa yang penuh rasa syukur dan pujian yang sungguh-sungguh kepada Allah niscaya ketenteraman akan menjadi milik pusaka seumur hidup.

Salam hati yang tenteram hak semua orang!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s