Gejolak Sosial

7 Cara Yang Benar Menikmati Hidup Agar Tidak Sampai Kehilangan Jati Diri


Cara Yang Benar Menikmati Hidup Agar Tidak Sampai Kehilangan Jati Diri

Pengertian – kita selalu melakukannya

Menurut KBBI Luring menikmati adalah (1) merasai (sesuatu yang nikmat atau lezat); (2) mengecap; mengalami (sesuatu yang menyenangkan atau memuaskan). Sedangkan menikmati hidup adalah mencitrakan (merasakan) segala sesuatu yang sudah ada di sekitar dengan menggunakan pancaindra manusia. Ini adalah aktivitas yang selalu dilakukan oleh manusia sebab selama seseorang sadar maka selama itu pula ke lima indranya terbuka untuk merasakan segala sesuatu yang ada di depannya.

Semakin tinggi standar maka semakin jarang kenikmatan itu dirasakan

Sekalipun aktivitas ini selalu terjadi tetapi banyak dari kita yang tidak merasa sedang menikmati kehidupan di dunia sebab kenikmatan yang mereka inginkan ada syaratnya. Ketika syarat-syarat tersebut telah dipenuhi, barulah merasa sedang menikmatinya tetapi saat tidak memenuhi syarat, aktivitas ini tidak akan diakui alias diabaikan. Syarat ini identik dengan keinginan alias hawa nafsu yang berkontribusi langsung dengan standar kenikmatan itu sendiri. Standar yang tinggi membuat seseorang jarang merasakan indahnya dunia ini.

Saat masakan Ibu/ Istri tidak enak, itu ujian untuk merendahkan standar di dalam hati

Baik juga bagi kita untuk menurunkan standar yang begitu tinggi ini dengan cara menerima semua apa adanya, bersyukur dan sesekali menikmati sesuatu yang nilainya lebih rendah. Itulah mengapa baik juga kalau sesekali Ibu/ Istri di rumah masakannya terasa hambar & amburadur (nggak enak tetapi nggak pahit). Yang seperti ini, pantas kita konsumsi sampai habis agar kita bisa belajar tabah, bersyukur, menerima apa adanya sembari menurunkan standar kenikmatan duniawi yang selama ini kita targetkan.

Biasanya pikiran kosong saat melakukannya

Saat dimana seseorang sedang melakukan aktivitas ini, ada kecenderungan pikiran kosong. Keadaan ini dikarenakan syaraf-syaraf otak lebih fokus ke tempat dimana kenikmatan itu sedang berlangsung, baik di mata – penglihatan, telinga – pendengaran, hidung – membaui, lidah – mengecap, dan kulit – meraba. Mereka yang kemampuan otaknya untuk berkonsentrasi masih belum berkembang, cenderung hanya mampu fokus pada panca indra saja. Tetapi, orang yang sudah latihan dan berpengalaman mampu melakukannya sembari memfokuskan pikiran pada sesuatu yang positif.

Nikmat duniawi tidak sama dengan kebahagiaan

Tolong diingat bagian ini, sebab beberapa orang menikmati indahnya dunia dengan segala yang ada di dalamnya untuk menjadi pribadi yang bahagia. Ini jelas perilaku anak-anak yang baru merasa senang ketika dihibur oleh orang tuanya dengan mainan baru. Tetapi, jika anda sudah dewasa, tetap bisa mengaktifkan kebahagiaan itu di segala waktu bahkan saat sedang sendiri sekalipun. Dimana jalur rel yang paling umum untuk di gunakan adalah saat pikiran terus bernyanyi memuji-memuliakan Tuhan sembari mengaktifkan rasa senang (sukacita) yang terkendali, tenang dan penuh damai yang meluap lewat senyuman manis di bibir masing-masing.

Mengapa kami mengatakan bahwa menikmati hidup bukan cara untuk berbahagia melainkan lebih kepada kebutuhan? Mari belajar dari hewan di luar sana, bukankah mereka fine-fine aja (tidak pernah menangis) saat menjalani hari-harinya? Bahkan sekalipun makan hanya remeh-remeh alias sisa dari makanan manusia, tetap tidak pernah bersedih. Sebab yang ada dalam pikirannya adalah “yang penting makan!” Oleh karena itu, adalah baik bagi anda untuk memiliki hewan peliharaan, setidaknya kucing atau anjing. Dengan demikian anda bisa belajar tentang kehidupan dari makhluk ini.

Bila dipelajari lebih dalam lagi, saat kita membiasakan hewan peliharaan makanan yang baik-baik semuanya (bukan makanan sisa). Kemungkinan besar iapun tidak akan mau lagi makanan sisa yang ada di piring. Pas gak dikasih makanan yang baik, diapun rela tidak makan berlama-lama. Walau akhirnya setelah beberapa hari tidak makan pasti makanan sisa akan diembatnya juga. Artinya apa? Kebiasaan kitalah yang menciptakan hidup yang nikmat, saat hal yang sudah terbiasa berubah drastis, langsung saja galau, sedih, cemas dan lain sebagainya. Oleh karena itu, baik bagi kita untuk menikmati segala sesuatu secara fluktuatif (naik-turun), kadang baik, kadang buruk, kadang enak, kadang biasa, kadang kesukaan, kadang yang tidak diminati. Dengan demikian kita belajar menyesuaikan diri dengan apa yang ada.

Cara menikmati hidup yang benar agar tidak kehilangan jati diri

Mengapa aktifitas ini membuat orang lupa diri? Sebab saat pancaindranya dipenuhi oleh kesenangan, hatinya langsung meninggi (angkuh). Sedang kesombongan sendiri merupakan awal dari kelemahan manusia yang berpotensi menjatuhkannya ke dalam palung yang lebih dalam. Oleh karena itu, perhatikan hal-hal di bawah ini agar andapun tidak sampai kehilangan jati diri saat kesenangan sudah memenuhi kehidupanmu.

  1. Nikmati hidup sambil fokus Tuhan.

    Aktivitas ini paling sering kami lakukan saat sedang mengkonsumsi makanan. Tetap hati-hati dan tidak perlu makan tergesa-gesa. Sambil mengkonsumsi makanan, pujilah (berdoa & bersyukur kepada) Tuhan di dalam hatimu alhasil aktivitas tersebut tidak sampai membuatmu sombong.

    Bisa juga saat sedang liburan di pantai atau di pegunungan atau di tempat eksotik lainnya: bercakap-cakaplah dan muliakan Tuhan di dalam hati sembari melihat biru laut yang membentang luas dan hijau rimbun pepohonan yang kokoh menjulang tinggi ke langit nan biru.

    Bahkan dalam setiap perjalanan dimanapun dan kemanapun kita tertuju, hati selalu memuliakan Tuhan menyaksikan betapa indahnya bentang alam yang menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan dari zaman-ke zaman.

    Harap batasi aktivitas ini saat anda sedang berbicara (berkomunikasi) dengan seseorang karena berpotensi membuat anda abai/ cuek dengan kata-katanya.

  2. Tidak lupa berbagi kasih.

    Adalah baik bagi kita untuk menikmati hidup bersama keluarga, saudara, sahabat dan teman. Dengan demikian kita bisa berbagi, jangankan berbagi materi setidaknya berbagi senyuman dan sapaan saja sudah cukup (ramah tamah).

    Saat anda merasakan betapa indahnya dunia ini, sebaiknya ingat-ingat jugalah orang lain di luar sana yang mungkin masih belum bisa merasakan hal yang sama. Doakanlan mereka di dalam hati, semoga diberkati dan semoga hidupnya beruntung sama seperti anda sendiri.
    Jika anda mampu memberi maka berikanlah sesuatu yang baik itu berdasarkan potensi dan sumber daya yang ada di dalam dirimu.

  3. Selalu rendah hati.

    Sikap yang rendah hati adalah mereka yang tidak menjadikan gemerlapan duniawi yang dititipkan Tuhan sebagai alat untuk menyombongkan diri. Mereka juga tidak menjadikan berkat yang diterima sebagai alat untuk membalas dendam kepada sesama dengan sikap pamer. Tetapi kerendahan hati adalah mereka yang hidup sama seperti orang lain hidup dalam bingkai yang positif (hati-hati jangan tiru juga yang negatifnya).

    Sikap ini juga identik dengan kemampuan untuk menekan arogansi di dalam hati untuk menepis politik mementingkan diri sendiri. Orang-orang ini, lebih siap menghadapi cobaan hidup dengan sabar, tenang dan damai.

    Orang yang rendah hati juga biasa saja saat sedang melakukan sesuatu, tidak melebih-lebihkannya agar seolah-olah kelihatan/ kedengaran lebih waw….

  4. Melakukan sesuatu atas dasar kejujuran.

    Orang yang selalu mengupayakan cara-cara yang jujur untuk meraih segala sesuatu, tidak tertarik pada sesuatu yang besar bila diusahakan dengan cara-cara yang salah. Segala sesuatu yang diperoleh dari hasil yang jujur akan membuat hati tenang saat digunakan. Tetapi penipuan/ korupsi dan kejahatan lainnya hanya membuat bibir gemeran dan hati tidak tenteram saat menikmatinya.

    Mereka yang jujur selalu melakukan segala sesuatu dengan tulus tanpa ada maksud=maksud tertentu di balik semuanya itu. Apa yang ada di dalam hati biasanya sama dengan yang dikatakan, setara dengan apa yang dilakukan hari lepas hari.

  5. Nikmati segala sesuatu itu dengan sabar.

    Sikap yang tidak terburu-buru membuat apa yang anda nikmati benar-benar meresap ke dalam hati ini. Lagipula saat sesuatu tidak dilakukan dengan sabar, keadaannya cenderung lebih berisik (semua dipercepat) dan siapapun bisa tersandung karena kurang memperhatikan (misalnya keselek saat makan, tersandung saat jalan-jalan dan lain-lain).

  6. Tetap kritis dan selektif.

    Perhatikan segala sesuatu yang sedang ada di depan anda, jangan semua diembat secara terburu-buru. Sehingga yang buruk-buruknyapun turut dikonsumsi. Misalnya saat sedang menonton televisi, film dan sinetron. Sadarilah bahwa disana ada yang baik dan ada yang jahat. Oleh karena itu, ambil yang baiknya sedangkan yang jahatnya buang.

    Kami sendiri dalam menikmati siaran televisi tidak melakukannya dengan bebas melainkan perlu dipilih, dimana acara yang cocok buat kita dan dimana yang tidak cocok. Tidak perlu menonton acara yang tidak penting. Pastikan pikiran anda bisa menilai, “Oh ini adegan yang baik, ini juga adegan yang buruknya.” Bila menurut anda acara itu tidak baik semuanya, langsung tinggalkan lalu matikan televisi tersebut.

  7. Nilai segala sesuatu dari sudut pandang positif.

    Saat Ibu/ Istri/ Kakak/ Adek di rumah memasak sesuatu tetapi hasilnya nggak begitu enak, apa yang anda lakukan? Ambil motor lalu pergi ke rumah makan untuk membeli bubur ayam atau bakso? Sadarilah teman bahwa fluktuasi kenikmatan hidup semacam ini baik agar kita dimampukan untuk menerima kenyataan apa adanya.

    Sifat yang fluktuatif (tidak konsisten) tidaklah baik tetapi menikmati hidup secara fluktuatif adalah baik. Kita perlu merasakan hal-hal yang baik dan perlu juga merasakan hal-hal yang buruk dalam kehidupan ini agar tidak menjadi orang sombong yang perfeksionis melainkan belajar memaklumi kesalahan recehan. Bila remeh-remeh kita maafkan, akan diajarkan untuk memaafkan yang lebih buruk.

    Ini juga sering kami rasakan saat menikmati wangi parfum seseorang. Bukankah itu sangat menyengat dan membuat pikiran terganggu? Lagipula itu bisa mengganggu kesehatan tetapi tidak perlu khawatir karena ada air garam manis penawar racun paling jitu. Selain itu, kami mencoba untuk menikmatinya saja sembari belajar menyesuaikan diri dan melatih kesabaran juga belajar menerima kenyataan apa adanya.

Bila anda masih kecil, saat menikmati hidup pikiran kosong. Tetapi ketika sudah beranjak dewasa nikmatilah segala sesuatu dengan penuh pertimbangan, toleransi apa yang perlu dan tolak apa yang kelewat batas. Di dalam semuanya itu, adalah penting bagi anda untuk melakukan aktivitas ini sembari fokus kepada Tuhan dalam nyanyian pujian agar tetap sadar di segala waktu yang dilalui. Sebab saat kesadaran anda berkurang, cenderung lebih mudah dipengaruhi oleh apa yang sedang anda nikmati. Ia kalau pengaruhnya baik tapi kalau buruk? Beberapa kenikmatan duniawi menampilkan hal yang buruk dan baik secara berdampingan (televisi, film, sinetron): selektif dan kritislah menyaksikan semua itu!

Salam tetap sadar!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s