Gejolak Sosial

13 Kapitalis Adalah Setan – Tidak Ada Orang Jahat Tetapi Mereka Diarahkan Oleh Uang

Kapitalis Adalah Setan - Tidak Ada Orang Jahat Tetapi Mereka Diarahkan Oleh Uang

Tulisan kali ini kita bawa santai saja sebab kami hendak memberikan beberapa perumpamaan tentang sesuatu yang ada di kepala ini. Kebetulan karena kami tidak dimungkinkan untuk menuliskan naskah yang panjang-panjang, semuanya akan dipoinkan. Kisah dalam cerita ini sebenarnya terngiang di dalam otak kami seolah-olah melihat film tetapi semua itu berlangsung di dalam kepala. Karena hanya kami yang menyaksikannya, ingin juga semua orang melihatnya sebab ada makna spesial yang dapat diambil oleh setiap orang di dalam ilustrasi kali ini. Berikut selengkapnya….

Alkisah disebuah desa yang sederhana, masyarakat hidup rukun dan damai. Mereka tidak kekurangan sebab alam telah menyediakan semuanya. Tidak ada sesuatu apapun yang perlu mereka perebutkan sebab masing-masing mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Orang-orang ini hidup dalam kebersamaan dan saling membantu satu sama lain. Tidak ada sesuatu yang membuat mereka kuatir atau merasa takut sebab kehidupan mereka benar-benar aman terkendali. Sekalipun ada masalah di sana tetap bisa diselesaikan dengan damai dalam bingkai kekeluargaan.

Diantara mereka, ada petani yang mengerjakan ladang. Ada juga orang-orang yang berkebun untuk menanam berbagai jenis pohon, baik untuk diambil buahnya maupun untuk diambil kayunya. Tidak tersembunyi, diantara mereka ada juga yang berprofesi sebagai nelayan yang melaut di malam hari untuk mencari beberapa ikan. Di desa tersebut ada juga beberapa orang yang kerjanya semerautan, mereka bisa jadi tukang bangunan, bisa jadi petani dan bisa juga jadi nelayan. Ini dikarenakan porsi kerja di sana sudah mencukupi sehingga beberapa orang memiliki pekerjaan tidak tetap tetapi mereka tetap bisa menafkahi keluarganya. Masing-masing warga desa memiliki ternak sendiri untuk dikonsumsi sendiri.

Kehidupan mereka sangat hijau, dimana-mana ada pepohonan yang rimbun. Dipinggir jalan-jalan ada tanaman pagar dan ada pula yang menanam pohon. Disetiap areal bukit dan lereng ditumbuhi oleh hutan lebat yang menghidupi banyak tanaman. Bahkan hutan-hutan disekitar desa masih memiliki binatang liar seperti kijang, kancil dan babi hutan. Setiap kali pulang bekerja masing-masing sangat menikmati suasana rumah yang sekalipun sederhana tetapi sangat teduh dan nyaman. Udara disana juga di pagi hari masih terasa sejuk. Panasnya sang mentari baru terasa hangat pada pukul 08.00 sampai 09.00 saking asrinya lingkungan sekitar.

Kebutuhan mereka sehari-hari diambil langsung dari alam sekitar. Pohon yang sudah tua ditebang untuk dijadikan kayu api untuk memasak di rumah. Air yang mereka milikipun langsung di tampung dari air hujan yang selalu turun tepat pada waktunya dan beberapa lagi air itu berasal dari kaki gunung di bawah lereng-lereng perbukitan yang landai sampai terjal. Pada dasarnya mereka tidak kekurangan apapun. Sedang di tengah-tengah desa berdiri sebuah rumah ibadah yang selalu ramai dikunjungi dari segala penjuru pada saat waktunya tiba beribadah.

Modernisasi desa dimulai

Desa mereka yang asri dan kehidupan yang ramah lingkungan belum tersentuh oleh modernisasi. Daerah tempanya berada jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Sekalipun demikian pemimpin di wilayah tersebut hendak mengembangkan jalur transportasi dimana desa mereka menjadi salah satu yang hendak dikembangkan. Langkah awal pemimpin wilayah untuk melakukan modernisasi yaitu dengan mengangkat kepala desa dan beberapa aparat yang bekerja untuk mengkordinasikan masyarakat sembari memberi pengumuman & mensosialisasikan tentang berbagai-bagai proses pembangunan yang hendak di galakkan.

Jalan-jalan yang awalnya terbuat dari tanah dipulas dengan bebatuan besar untuk memperkokoh struktur dasarnya. Kerikil disiram di atas bebatuan untuk membuat strukturnya lebih halus. Terakhir adalah aspal yang dipoles oleh kendaraan khusus yang beratnya bertonton. Tidak butuh waktu lama untuk pekerjaan membangun jalan ini. Sebab aparat desa bekerja dengan gigih untuk mempengaruhi warga dan menjanjikan mereka tentang modernisasi yang lingkungan yang lebih berkembang. Beberapa warga menyumbangkan tanahnya untuk pembangunan itu bahkan ada yang rela rumahnya dipindahkan karenanya.

Beberapa kapitalis dari pusat kotapun sangat tertarik untuk berinvestasi di Desa tersebut. Mereka mengadakan survei lapangan dan menemukan bahwa daerah tersebut masih belum tersentuh. Para konglomerat ini sejak awal memiliki ide untuk membangun destinasi wisata dan pusat perbelanjaan. Tidak butuh waktu lama untuk mewujudkan hal itu sebab para aparat desa bekerja dengan gigih untuk mempengaruhi masyarakat dan menjanjikan  mereka pekerjaan yang lebih baik dengan gaji yang lebih tinggi dibandingkan sebagai petani, peternak, nelayan dan lain sebagainya.

Bagaimana cara setan kapitalis merusak desa ini?

Desa ini dahulunya sangat sederhana, hidup dalam kerukunan dan kedamaian yang tidak terbatas. Sekalipun ada masalah tetap mampu diselesaikan dalam kebersamaan di bawah musyawarah mufakat. Tetapi semenjak kapitalis dari kota menginjakkan kaki di desa mereka, mulai timbullah berbagai gejolak yang sifatnya masif (tidak terlihat, berlangsung diam-diam di belakang layar). Keadaan ini mulai mengganggu kerukunan antar sesama warga sebab kebersamaan telah sirna karena pengaruh uang dan persaingan tidak sehat mulai muncul dimana-mana. Berikut cara kapitalis setan membawa perubahan ambigu demi kepentingan pribadi.

  1. Uang kapitalis mengubah orang menjadi sombong.

    Pemimpin wilayah yang mengangkat beberapa aparat Desa dan kepala Desa sendiri memanjakan mereka dengan gaji yang tinggi sehingga orang-orang ini menjadi sombong di dalam masyarakat. Kehidupan mereka yang biasa-biasa saja kini telah berubah drastis, rumah mereka adalah yang lebih bagus dan megah bahkan merekapun dapat membeli kendaraan dari mobil sampai sepeda motor. Cakap merekapun sudah mulai sombong kepada orang lain dan suka menghina dan membuli warga lainnya.

  2. Para warga cemburu terhadap aparat desa dan kaum borjuis lainnya.

    Melihat tingkah aparat yang mulai sombong, sering membanggakan diri di depan umum, memuji diri sendiri, merendahkan warga yang miskin karena dinilai kurang gigih mencari kerja dan berbagai-bagai aksi lebay lainnya. Kedengkian menyebar luas diantara masyarakat sehingga merekapun turut mengacuhkan kebutuhan warganya sendiri dan lebih memberi telinga terhadap kata-kata oknum kapitalis yang duitnya tebal.

  3. Aparat Desa telah kehilangan cinta dalam melayani dan kehilangan kepedulian kepada sesama warga.

    Aparat desa yang sombong membuat warga lainnya dengki. Mereka meninggikan dirinya dan sebaliknya alam merendahkan mereka. Masyarakat sekitar menjadi kurang menghargai aparatnya. Warga menunjukkan perilaku mengganggu/ usil saat aparat melakukan sosialisasi. Ketidakpuasan masa mendorong mereka untuk rame-rame berlaku buruk kepada aparat.

    Aparat Desapun memandang hal itu sebagai perbuatan melawan hukum sebab mereka merasa bahwa “dirinyalah simbol dari desa ini, jika orang tidak menghormatinya berarti desa itupun akan kehilangan kehormatannya.” Ini jelas prinsip yang gila. Para aparat ini dari kalangan orang cerdas dan sangat menghafal di luar kepala siapa-siapa saja orang yang selama ini berlaku usil. Mereka dendam dengan warganya sendiri sehingga cenderung tidak peduli terhadap keluhan warga malah lebih mementingkan kebutuhan para pemilik modal yang tinggal di desa tersebut.

  4. Media kapital telah menggiring masyarakat untuk lebih cinta kepada dunia daripada Tuhan-Nya.

    Para kapitalis ini pintar-pintar, mereka tahu betul bahwa masyarakat di desa itu sangat takut akan Tuhan. Langkah pertama orang-orang ini adalah menciptakan media yang mempertontonkan kemewahan, kemegahan dan kenyamanan duniawi baik secara elektronik (televisi), koran, majalah maupun dalam baliho-baliho yang besar dan kecil. Warga desa begitu terpesona dengan semua yang ditampilkan sebab mereka belum pernah menyaksikan yang demikian sebelumnya.

    Wargapun mulai menyicil sedikit demi  sedikit untuk membeli media tersebut. Mereka duduk manis di depan televisi hampir setengah hari penuh. Bahkan beberapa diantaranya ada yang sampai lupa bekerja. Ibu-ibu di rumah yang biasanya menyuci sekali dua hari kini menyuci sekali seminggu bahkan sekali dua minggu. Halaman rumah tidak lagi sebersih dahulu karena warga lebih asyik menonton televisi dibandingkan bekerja keras.

    Keadaan ini membuat indra warga semakin kuat. Mereka lebih terkesima dengan gemerlapan duniawi dibandingkan hal-hal yang agamawi. Banyak yang mengabaikan kepercayaannya dan lebih memilih untuk mencari uang ketimbang beribadah.

  5. Para pedagang kotor ini menciptakan trend baru: hidup instan bersama teknologi.

    Kapitalisme mengembangkan dan memperjual-belikan teknologi kepada masyarakat dengan iming-iming kenyamanan yang membuat hidup lebih santai. Warga yang pada mulanya bekerja keras menjadi lebih santai sebab semua dihendel pengerjaannya oleh teknologi. Keadaan ini membuat warga yang memiliki banyak uang hidup lebih santai dibandingkan yang tidak. Banyaknya waktu luang yang tersedia memberi kesempatan bagi para warga untuk membicarakan gosip artis, mengungkapkan masalah keluarganya, membicarakan betapa buruknya istri tetangga, membahas betapa kotornya pekerjaan tetangga dan lain sebagainya pembicaraan yang tidak berbobot.

  6. Kapitalisme setan mempelopori konspirasi (tipu muslihat keji).

    Beberapa areal strategis yang diinginkan oleh pemilik modal tidak diizinkan oleh warga. Sebab katanya, “Itu adalah tanah warisan dari opungnya langsung.” Karena pemilik modal yang satu ini hawa nafsunya tinggi, iapun mulai menghitung beberapa lembar uang agar oknum aparat desa membantunya untuk membujuk warga tersebut. Karena tetap tidak mau, pemilik modal yang satu ini mulai kesal dan memerintahkan cara-cara intimidasi & manipulasi agar warga dimaksud mau menjual tanahnya secara sukarela.

  7. Materi telah mengikat hati warga Desa.

    Uang yang dahulunya tidak begitu diperhatikan oleh warga. Sekarang menjadi komoditas yang sangat di cari. Warga bahkan dengan rela hati menjual pepohonan berkayu yang dimiliki untuk dijadikan bahan bangunan. Mereka terlanjur iri melihat para aparat Desanya yang tampil dengan segala materi yang menyertainya: mulai dari rumah, kendaraan, pakaian, perhiasan dan lain sebagainya. Semua pesona itu telah membuat mereka cemburu sehingga berjuang dengan keras untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya.

  8. Kaum borjuis menggeser hutan, menebang pepohonan.

    Aparat desa memperoleh uang yang banyak untuk membangun rumah mewah sendiri. Ditambah lagi dengan adanya beberapa pemilik modal yang nekad naik turun gunung untuk sampai dan menetap membangun perumahan pribadi yang megah di daerah tersebut. Semua aktivitas pembangunan ini telah memakan habis pepohonan yang selama ini tumbuh liar di areal hutan rakyat beberapa diantaranya diperoleh dari hutan di lereng gunung dan bukit-bukit kecil.

  9. Narkoba, alkohol, rokok dijual oleh para setan.

    Dengan alasan untuk mempekerjakan orang lain, para kapital ini mulai berpikir keras untuk mencari uang lebih banyak lagi. Barang-barang haram mulai diperdagangkan secara diam-diam. Untuk memancing minat warga, diawal-awal mereka memberikannya secara gratis, 1-2 kali tetapi setelah itu masyarakat disuruh membayar. Para kapitalis setan ini tahu betul bahwa setelah mencicipi 2 bagian saja barang haram tersebut langsung membuat seseorang menjadi ketergantungan dan menginginkannya lagi dan lagi.

  10. Prostitusi diadakan.

    Dengan alasan sebagai hiburan sekaligus untuk menambah penghasilan masyarakat, para kapitalis inipun mulai mendirikan prostitusi. Orang-orang yang menjadi pelanggan mereka adalah anak muda, bapak-bapak sampai kakek-kakek sekalipun. Bahkan merekapun telah menyediakan prostitusi khusus untuk kalangan gay dan lesbian, semata-mata itu semua demi menjalankan ekonomi, katanya….

  11. Kriminalitas, perselisihan, perceraian, kenakalan remaja dan hal-hal jahat lainnya meluas.

    Perilaku kriminal meluas dimana-mana, semuanya itu dilakukan untuk memperoleh uang yang lebih banyak. Hal-hal keji dilegalkan untuk meraih apa yang diimpikan bahkan apa yang sebelumnya tidak masuk akal menjadi kenyataan. Para istri sangat meterialistis, mereka tidak bahagia tanpa uang terlebih ketika saingannya mendapat kemilau yang lebih baik dan lebih mahal dari miliknya sendiri. Baju-baju indah keluaran terbaru terbayang-bayang dalam pikiran mereka sebab televisi telah menjadi kitab sucinya yang ditonton hampir tiap jam. Perceraian pecah dan meluas dimana-mana. Anak-anak tidak terurus, kenakalan remaja dimana-mana.

  12. Dengan alasan menambah lapangan kerja: kapitalis menciptakan dan melegalkan berbagai karya dan hiburan yang absurb.

    Kapitalisme hanya melihat hidup ini untuk dinikmati sepuas-puasnya. Merekapun mulai mendirikan berbagai-bagai hiburan yang melanggar norma-norma di masyarakat. Mulai dari diskotik, tarian panas juga karya seni aneh-absurd diperjual belikan, seperti foto telanjang, lukisan telanjang, alat bantu seksual (alat kelamin palsu) dan lain sebagainya.

  13. Polusi meningkat tajam.

    Orang-orang di desa tersebut masing-masing memiliki kendaraan pribadi setidak-tidaknya sepeda motor. Terlebih lagi para aparat desa dan kapitalis yang tinggal di daerah itu. Orang-orang kota yang lalu lalang setiap hari juga turut menyumbangkan polusi. Polusi udara membuat Desa tersebut tidak lagi asri seperti dahulu. Tanah-tanah telah tercemar oleh pupuk kimia dan bahan buangan pabrik. Air tanah tidak dapat lagi digunakan bahkan sungai-sungai telah menjadi kotor karena sampah dan limbah pabrik. Hujanpun sudah bertahun-tahun tidak kunjung turun.

  14. Bencana mulai terjadi.

    Diawal-awal, bencana yang kerap kali terjadi adalah banjir, tanah longsor dan banjir bandang. Pepohonan di lereng yang telah ditebangi membuat dirus hujan jatuh melimpah ruah di sungai sehingga membuatnya meluap membanjiri daerah di tanah datar dan dekat pantai (muara). Longsor yang terjadi di daerah perbukitan dikarenakan penebangan pohon untuk kebutuhan proyek properti (perumahan) mewah.

    Hutan yang benar-benar telah gundul menjadi areal kering yang dipenuhi rumput ilalang bahkan beberapa gundul sama sekali akibat hasil penggalian. Hujanpun tidak kunjung turun selama beberapa bulan hingga menyebabkan fuso (gagal panen).

    Areal kering puluhan hektar tanpa pepohonan tetapi diramaikan oleh pengguna teknologi rumah tangga, kendaraan kecil-besar yang lalu lalang. Suatu saat akan menimbulkan gelombang panas yang membakar (di atas 370C).

    Semua jenis bencana ini menyebabkan timbulnya korban jiwa. Bahkan beberapa fasilitas publik mengalami rusak ringan, sedang sampai berat. Semuanya luluh lantak menjadi puing akibat bencana alam.

  15. Kepadatan penduduk yang tidak dapat di tahan.

    Terus meningkatnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun tidak dapat di hindari. Sebab Tuhan sendiri berfirman kepada manusia untuk “penuhilah bumi.” Keadaan ini menyebabkan kebutuhan air, pangan, properti, BBM, mesin berteknologi dan lain sebagainya turut meningkat dari tahun ke tahun. Semuanya ini turut di dorong oleh peningkatan perekonomian yang juga berimbas pada jumlah polutan yang dihasilkan.

  16. Negara tidak dapat berjalan tanpa energi.

    Sistem ekonomi kapitalis terus saja mengalami peningkatan dari Tahun ke tahun. Kecerdasan yang mereka miliki membuatnya mengubah hal-hal alami dialihkan kepada teknologi yang berbayar. Keadaan ini turut menyebabkan semakin banyak konversi teknologi yang membutuhkan bahan bakar untuk menjalankan semuanya itu.

    Misalnya dalam hal penyediaan air, siklus hidrologi yang alami telah rusak oleh jumlah kendaraan yang meningkat tajam, pembangunan rumah mewah dan gedung pencakar langit dimana semuanya ini telah menyingkirkan pepohonan bahkan mempersempit dan menghilangkan areal perhutanan. Tidak ada lagi air yang alami dari hujan maupun dari bawah tanah. Melainkan semuanya harus dibeli dari PDAM dan perusahaan swasta lainnya.

    Ketergantungan akan energi yang sangat besar jumlahnya diakibatkan oleh penggunaan teknologi yang berlebihan. Bisa dikatakan bahwa jumlah energi yang dipakai lebih banyak daripada jumlah energi yang dihasilkan setiap tahun. Konsumsi energi inipun semakin tinggi dari tahun ke tahun.

  17. Kemacetan dimana-mana.

    Peningkatan ekonomi yang tidak dibatasi dengan pajak yang jelas turut membebaskan masyarakat untum membeli kendaraan bahkan sampai pada kisaran satu unit untuk setiap orang. Keadaan ini membuat jalanan padat merapat setiap jam berangkat dan pulang kerja. Kemacetan telah mendorong pemberosan dalam hal penggunaan BBM bahkan bisa dikatakan bahwa lebih banyak bahan bakar yang habis di lampu merah ketimbang di perjalanan ke tempat tujuan.

  18. Kesejukan hanya milik aparat Desa dan para pemilik modal juga para pemimpin.

    Rasa sejuk hanya ada di rumah-rumah mewah ber-AC. Sedangkan orang-orang biasa tidak bisa lagi menikmati udara segar bahkan di malam haripun gerah. Keadaan ini turut menyebabkan dehidrasi dan menurunnya kemampuan fokus berpikir (kebodohan).

  19. Kelangkaan BBM.

    Setelah lewat berpuluh-puluh tahun atau setelah 2-3 generasi berikutnya, cadangan BBM terus menurun. Keadaan ini turut disebabkan oleh karena pemakaian yang terus meningkat jumlahnya. BBM-pun mulai menjadi langka sehingga terjadi pembatasan jatah untuk setiap daerah dan setiap desa.

  20. Kelangkaan listrik.

    Asupan listrik sangatlah terbatas sebab BBM yang menyuplainya telah berkurang secara drastis. Keadaan ini menyebabkan pemadaman bergilir dimana hanya daerah perkotaan sajalah yang terus dialiri listrik. Demikian juga halnya dengan daerah elit perumahan mewah tetap dialiri oleh listrik. Sedangkan rakyat yang tinggal di daerah pedalaman yang tidak penting dan jauh dari jangkauan media masa telah lama tidak dialiri oleh listrik.

  21. Kelangkaan Air.

    Kelangkaan bahan bakar minyak telah berimbas pada jumlah air yang dihasilkan oleh perusahaan negara. Keterbatasan air ini membuat warga harus membayar lebih mahal untuk membeli air bersih dari swasta. Beberapa warga tidak bisa lagi menikmati air bersih untuk mandi dan mencuci. Hanya air minum dalam kemasan sajalah air bersih yang dimiliki.

  22. Kelangkaan bahan pangan.

    Pertanian yang pada awalnya mengandalkan air yang diperoleh dari PDAM maupun dari perusahaan swasta kesulitan memiliki air. Sekalipun ada tetap saja mahal harganya. Terlebih bagi mereka yang memiliki pertanian rumahan (di dalam gedung) yang mengandalkan air keran dan lampu ultraviolet untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Keadaan ini membuat sebagian besar lahan pangan mengalami kekeringan dan gagal panen. Sedangkan sebagiannya lagi tetap ada tetapi dijual dengan harga selangit. Keadaan ini menyebabkan banyak warga yang mati kelaparan karena tidak makan berhari-hari.

  23. PEPERANGAN – penjarahan.

    Kelangkaan sumber daya telah membuat banyak pemimpin daerah untuk banting setir mencari sumber energi ditempat-tempat yang masih tersedia. Mereka lantas memperebutkan berbagai sumber daya yang tersisa dengan cara keras, yakni melalui peperangan.

    Sedang para pemimpin sibuk berperang, keadaan rakyat tidak lagi terkendali. Penjarahan dimana-mana bahkan aksi-aksi kriminal terjadi di tengah jalan, di ruang publik dan tempat-tempat umum lainnya tanpa ada yang menengahi. Hukum rimba berlaku, siapa kuat dialah yang menang.

  24. Aksi penyelamatan pribadi para konglomerat dan pemimpin negeri.

    Kaum kapitalis menguasai ladang minyak (energi) yang tersisa. Mereka membayar dengan harga tinggi untuk itu. Mereka membangun fasilitas pribadi disana dimana daerah tersebut telah dipagari tembok sehingga tidak dapat dimasuki oleh rakyat biasa. Para kapitalis dan konglomerat juga pemimpin negeri yang tinggal di tempat ini hanya beberapa ratus ribu dan mungkin juga juta saja jumlahnya. Merekalah yang hidupnya terpelihara sedangkan rakyat jelata yang berada di luar sana mati kelaparan & kehausan, terbunuh karena penyakit, bunuh-bunuhan, terbakar oleh gelombang panas dan lain sebagainya nasib tragis yang diderita oleh orang-orang yang tidak punya apa-apa.

Dari cerita di atas bisa kita katakan bahwa sesungguhnya tidak ada orang yang benar-benar jahat di dunia ini. Melainkan mereka hanya diarahkan oleh uang untuk melakukan penipuan, manipulasi dan kejahatan lainnya. Sedangkan para pemilik modal yang tidak bermoral membayar dan mendanai pelaksanaan berbagai-bagai aksi konspirasi tersebut dengan uang yang dimiliki. Bukankah ini sama saja dengan perilaku setan? Sebab filosofi banyak agama di mengatakan bahwa ada setan di balik dosa manusia demikian juga ada kapitalis dibalik semua konspirasi yang sedang berlangsung. Kebanggaan para konglomerat ini terhadap teknologi yang mereka miliki pada akhirnya membawa dunia dalam bencana alam dan bencana kemanusiaan yang dahsyat.

Sadarilah bahwa mesin-mesin yang kita gunakan sehari-hari menghasilkan polusi dan membuat kehidupan ini sangat ketergantungan dengan minyak bumi (BBM). Keadaan ini akan merusak tatanan lingkungan yang alami sehingga apa yang awalnya diperoleh dari alam secara gratis, kini harus diperoleh dengan membayarkan sejumlah uang. Sadarilah bahwa uang memang tetap ada dan terus dicetak hari demi hari tetapi energi (BBM) jumlahnya terbatas dan tidak selalu ada. Sekalipun memiliki uang tetapi bila barang dan jasanya sudah habis, tidak ada artinya semuanya itu. Oleh karena itu, batasilah penggunaan teknologi mesin yang lebay, gunakan untuk hal-hal yang sangat penting untuk kebaikan bersama saja. Lebih dari pada itu, gunakan tenaga sendiri yang sifatnya manual (konvensional). Ingatlah bahwa saat kita bergerak aktif, tubuh lebih segar, sehat dan hatipun berbahagia.

Salam hijaukan negeriku!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.