Gejolak Sosial

7 Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan – Rasa Puas Ditentukan Oleh Diri Sendiri


Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan - Rasa Puas Ditentukan Oleh Diri Sendiri

Puaskah anda selama hidup di dunia ini? Merupakan pertanyaan yang mungkin membuat seseorang menjadi bingung atau malah membuat yang lainnya menjadi abai (acuh tak acuh). Sebab pertanyaan seputar kepuasan menyangkut banyak aspek kehidupan, tidak hanya soal materi melainkan juga dalam hal hubungan dengan pasangan, anak-anak, saudara, tetangga dan seluruh masyarakat. Bila dijabarkan semua poin-poinnya maka ada kecenderungan hasilnya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan opsi.

Puas atau tidaknya anda sangat tergantung dari keinginan masing-masing. Seseorang yang bisa mengendalikan hawa nafsunya dapat membatasi kepuasan itu. Bahkan ketika anda bisa memaklumi situasi, alhasil kepuasan itu akan terjadi dimana-mana. Sayang hawa nafsu membuat kita memasang taruhan tinggi terhadap titik kepuasan yang akan dicapai kelak. Padahal jikalau dipikir-pikir lagi, bukannya kita tidak sedang dalam keadaan berkecukupan melainkan indra kitalah yang tidak tenang sehingga terus meningkatkan standar dan kebutuhan yang dimiliki.

Sama halnya seperti keinginan manusia, rasa puas juga tidak ada batasnya. Melainkan masing-masing dari kitalah yang harus membatas-batasinya. Pada dasarnya keinginan adalah manusiawi tetapi semakin tinggi hawa nafsu maka kepuasannyapun akan semakin melemah/ rendah akan tetapi saat hawa nafsu anda biasa-biasa saja maka kepuasannyapun biasa saja. Artinya, sesuatu yang sifatnya standar alias biasa saja cenderung lebih dapat dikendalikan dibandingkan dengan yang berlebihan atau yang rendah.

Pada dasarnya, kepuasan itu sifatnya fleksibel tetapi terkadang manusia terlalu kaku dalam menetapkan standar untuk dirinya sendiri padahal dia bukanlah semacam alat kalibrator berteknologi untuk mengukur sesuatu. Hanya saja jika sesuatu ada standar yang jelas secara tertulis, hal seperti ini tidak boleh dinilai asal saja melainkan semuanya harus sesuai aturan. Akan tetapi jikalau rasa puas yang dinilai adalah tentang kehidupan dimana kitalah yang menentukannya sendiri, sebaiknya dicukup-cukupkanan. Sikap seperti ini cenderung menenangkan hati karena semua bisa diterima apa adanya.

Sadarilah bahwa kemampuan anda untuk berpuas diri berhubungan erat dengan posisi yang selalu menerima kenyataan apa adanya. Jikalau anda sedang tidak berpuas diri maka sedang enggan menerima kenyataan, artinya ketenteraman, kedamaian dan kebahagiaan jauh darimu. Sedangkan saat anda selalu berpuas diri dalam segala hal niscaya hal-hal yang disebut sebagai kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman juga akan selalu ada di dalam diri masing-masing.

Faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan manusia

Setiap manusia memiliki penilaian tersendiri saat menentukan apakah sesuatu itu memuaskan atau tidak. Pada dasarnya setiap manusia mengekspresikannya dalam cara-cara yang berbeda berdasarkan beberapa faktor yang akan kami ungkapkan berikut ini. Demikian selengkapnya.

  1. Pengetahuan.

    Tingkat pengetahuan seseorang biasanya menentukan derajat rasa puas yang diekspresikan. Biasanya mereka yang lebih intelek akan lebih selektif dan kritis dalam memberikan penilaian. Demikian juga, biasanya

    • Pendidikan formal. Biasanya mereka yang telah menempuh pendidikan yang lebih baik memiliki penilaian yang lebih terperinci dan jelas.
    • Pendidikan informal. Demikian juga dengan mereka yang telah menempuh pendidikan informal memiliki studi lanjutan yang bisa mendukung keputusan yang akan diambil.
  2. Pengalaman.

    Seseorang yang memiliki pengalaman cenderung lebih selektif dan kritis dalam menilai sesuatu. Terelebih ketika pengalaman tersebut berhubungan dengan sesuatu yang sedang dihadapi saat ini.

    • Umur. Biasanya seseorang akan semakin tinggi pengalamannya seiring dengan bertambahnya umur.
    • Jenis kelamin. Ayah biasanya cenderung kritis menilai sesuatu di luar kehidupan rumah tangga sedangkan Ibu lebih kritis untuk menilai sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan rumah tangga.
    • Jangkauan merantau. Seseorang yang sudah pernah merantau biasanya memiliki jangkauan pergaulan yang lebih luas sehingga dimungkinkan untuk memiliki wawasan yang luas pula.
    • Pekerjaan dan pengalaman kerja. Para pekerja di belakang meja lebih selektif menilai sesuatu yang berhubungan dengan administrasi. Sedangkan mereka yang bekerja di luar lapangan akan cenderung selektif menilai sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya.
  3. Gaji yang diterima.

    Orang yang menerima gaji diatas rata-rata biasanya memiliki standar tinggi terlebih ketika mereka hidup dalam kemewahan dan jauh dari hal-hal sederhana. Tingkat kepuasannya cenderung lebih dekat pada hal-hal yang mewah saja sedangkan menganggap remeh sesuatu yang menurutnya tidak layak. Sedangkan mereka yang menerima gaji standar (sekitar UMR) biasanya hidup dalam kesederhanaan sehingga mudah berpuas diri sekalipun keadaan tersebut terbilang sederhana dan kumuh.

    Mereka yang tidak memiliki persediaan uang dikantong, biasanya akan menanggapi sesuatu dengan negatif sedangkan orang yang secara keuangan merasa cukup akan menilainya dengan positif.

  4. Standar – toleransi.

    Setiap orang memiliki standar sendiri dalam menjalani hidup. Biasanya mereka dipengaruhi oleh pengetahuan yang diperoleh dari buku atau orang sekitar. Bisa juga standar ini ditentukan oleh pengalaman sendiri. Keadaan ini juga turut mendorong seseorang untuk mentolerir sesuatu sehingga cenderung tetap puas sekalipun sesuatu tidak begitu sempurna di mata orang lain.

  5. Tingkat kepuasan diri.

    Biasanya mereka yang puas dengan dirinya telah menemukan apa yang sebenarnya menjadi tujuan hidup yang perlu dicari. Ada kecenderungan penilaian yang mereka berikan tidak jauh-jauh dari tingkat kepuasan diri masing-masing.

  6. Percaya Tuhan atau ateis.

    Orang yang tidak percaya kepada Tuhan cenderung menggunakan indranya secara maksimal bahkan terkesan berlebihan. Sedangkan mereka yang memiliki Tuhan biasanya menggunakan hatinya saat menilai sesuatu. Sebab mereka yang percaya mengasihi sesama seperti diri sendiri. Kepercayaan seseorang sangat berhubungan dengan fokus kehidupannya, apakah seseorang yang lebih fokus kepada Tuhan dan hatinya atau hanya seorang yang hanya terlena oleh sesuatu yang menawan/ mempesona diindranya.

  7. Suasana hati.

    Suasana hati sangat menentukan rasa puas dalam hati setiap orang. Biasanya seseorang yang menjalani hari-harinya dengan bahagia dan tetap positif cenderung memberikan penilaian yang baik juga. Akan tetapi mereka yang memiliki suasana hati yang sedang buruk, galau, cemas, sedih dan takut (cenderung negatif) niscaya penilaiannyapun akan turut kearah yang buruk pula.

Semakin tinggi hawa nafsu maka semakin tinggi standar yang kita tetapkan sehingga semakin sulit pula diri ini untuk berkata puas. Akan tetapi, saat standar yang anda tetapkan standar, hawa nafsu juga standar dan rasa puasa juga standar sehingga lebih mudah untuk berbahagia di dalam menjalani hidup.

Tidak ada yang bisa memuaskan kita selain diri sendiri. Mengapa demikian? Sebab hati ini ada di dalam otak masing-masing, sedang materi dan orang lain tidak mampu menyentuh dan membuat hati anda tergerak pada kepuasan maksimal. Sekalipun hal-hal duniawi itu mampu, sadarilah bahwa itu sementara saja. Salah satu cara terbaik untuk selalu menjadi orang yang berpuas diri adalah dengan senantiasa fokus pada hal-hal positif: memusatkan pkiran kepada Tuhan, pekerjaan dan pelajaran. Ketika anda mampu mengisi hati sendiri dengan sesautu yang baik dan benar maka tingkat kepuasan andapun tidak jauh-jauh dari kebaikan dan kebenaran.

Salam, mari berpuas diri!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s