Gejolak Sosial

Bahagia, Tenteram, Damai, Lega, Tenang, Bangga, Senang, Sukacita Adalah Sama: Kedengarannya Berbeda Tetapi Tujuan Sama Persis

Semua orang ingin bahagia tetapi tidak setiap orang mampu mewujudkannya, terlebih ketika di katakan bahwa rasa itu selalu ada sepanjang waktu. Tidak sedikit orang yang mau hidup dalam ketenteraman hati tetapi beberapa diantaranya masih belum mampu meredam gejolak yang kerap kali muncul dari dalam hati sendiri. Semua kita ingin hidup dalam kedamaian tetapi masih ada saja orang yang kurang mampu mengertikan keadaan sehingga hal-hal sepele mampu mengacaukan hatinya. Setiap orang ingin merasakan kelegaan yang penuh tetapi ada orang yang masih kurang mampu untuk menerima kenyataan. Ada orang yang ingin selalu berbangga hati tetapi mereka enggan untuk mensyukuri hal-hal kecil yang dianugrahkan Tuhan seumur hidup. Masing-masing pihak ingin memiliki hati yang selalu bersukacita tetapi ada saja yang masih lupa untuk bernyanyi-nyanyi memuliakan Allah di dalam hatinya.

Pengertian

Menurut KBBI Offline, bahagia adalah (1) keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dr segala yg menyusahkan); (2) beruntung; berbahagia. Tenteram adalah (a) aman; damai (tidak terdapat kekacauan); (b) tenang. Damai adalah (i) tidak ada perang; tidak ada kerusuhan; aman; (ii) tenteram; tenang; (iii) keadaan tidak bermusuhan; rukun. Lega adalah (1) lapang; luas; tidak sempit; (2) tidak sesak; kosong; (3) berasa senang (tenteram); tidak gelisah (khawatir) lagi; (4) senggang; tidak sibuk. Tenang adalah (a) kelihatan diam tidak bergerak-gerak atau tidak berombak (tentang air, laut); (b) diam tidak berubah-ubah (diam tidak bergerak-gerak); (c) tidak gelisah: tidak rusuh; tidak kacau; tidak ribut; aman dan tenteram (tentang perasaan hati, keadaan). Bangga adalah besar hati; merasa gagah (karena mempunyai keunggulan). Senang adalah (i) puas dan lega, tanpa rasa susah dan kecewa, dan sebagainya; (ii) betah; (iii) berbahagia (tidak ada sesuatu yang menyusahkan, tidak kurang suatu apa dl hidupnya); (iv) suka; gembira; (v) sayang; (vi) keadaan baik (tentang kesehatan, kenyamanan, dan sebagainya); (vii) mudah; serba mudah; praktis; gembira dalam hati. Sukacita adalah suka hati; girang hati; kegirangan.

Galilah itu di dalam dirimu, hindari terlalu ketergantungan pada hal-hal yang berasal dari luar

Ke delapan hal ini adalah sama dan serupa. Untuk mencapai semuanya itu ada dua cara yang dibutuhkan yaitu, bergantung dengan orang lain dan lingkungan sekitar atau menggantungkannya kepada diri sendiri lewat manajemen pola pikir. Saat anda memutuskan untuk menggantungkan kesemua hal itu kepada lingkungan sekitar dan sesama manusia: sadarilah bahwa rasa yang ditimbulkannya cenderung fluktuatif dan tidak stabil, kadang ada-kadang tidak. Menggantungkannya kepada sesama manusia dan lingkungan sama saja dengan menyerahkan kehidupan ini untuk dikendalikan oleh pihak lainnya.

Hati-hati dengan hawa nafsu, semakin tinggi keinginan maka semakin susah meraih semuanya itu

Setiap manusia memiliki hawa nafsu tetapi jangan sampai keinginan itu menguasai pikiran, dibayang-bayangkan, dikhayalkan dan lain sebagainya tetapi tetap penuhi pikiran dengan senantiasa fokus Tuhan, bekerja dan belajar. Semakin pikiran kita fokus kepada hawa nafsu maka semakin mudah hati menjadi galau, gundah, takut, kuatir, cemas, sedih dan berbagai-bagai suasana negatif lainnya. Ada baiknya jikalau anda menjalankan keinginan itu dalam bentuk rencana-rencana aplikatif lalu lakukanlah semuanya dengan penuh kesabaran, kerja keras dan ketekunan. Harap diingat untuk selalu menjadi orang yang realistis di segala waktu lalu serahkanlah semua rencana anda ke dalam kehendak Tuhan. Artinya, apapun yang terjadi kelak, sesuai rencana kita atau tidak: “semuanya adalah terbaik” yang diberikan Tuhan untuk kehidupan kita masing-masing.

Sangat dipengaruhi oleh kemampuan berkonsentrasi

Kedelapan hal ini dapat dihasilkan oleh diri sendiri dengan melatih kemampuan memanajemen pola pikir. Intinya adalah anda harus mengembangkan kemampuan untuk berkonsentrasi sehingga mampu memusatkan pikiran pada hal-hal positif saja selama beberapa waktu bahkan seumur hidup. Semakin mantap kemampuan untuk berkonsentrasi maka semakin stabil rasa yang anda nikmati. Tidak ada lagi fluktuasi yang ditimbulkan oleh sikon (situasi dan kondisi) yang kadang buruk dan kadang baik. Semakin baik kemampuan seseorang untuk memusatkan pikiran menandakan bahwa semakin dewasa dan cerdas otaknya.

Masalah adalah alat pemurni stabilitas konsentrasi pikiran

Kita tidak bisa mengendalikan lingkungan sekitar dan orang lain tetapi dimungkinkan untuk mengendalikan pikiran sehingga tidak mudah terpengaruh agar hati tidak mudah keruh oleh suasana di luar sana. Memutuskan untuk selalu bahagia, damai, tenteram, lega, tenang, bangga, senang dan sukacita adalah sebuah pilihan yang harus ditempuh dengan cara menghadapi ujian sosial di dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang yang mampu menerima apa adanya, menghadapi dengan lapang dada, sembari memfokuskan pikiran pada hal-hal positif niscaya dilatih kemampuannya untuk menjaga konsentrasi di tengah situasi yang sulit. Bukan hanya menghadapi 10, 20 masalah saja melainkan siap menghadapinya seumur hidup sehingga kemampuan untuk membuat pikiran tetap fokus pada hal-hal positif semakin baik dan tajam hari demi hari.

Kerendahan hati membuat kita gampang meraih semuanya itu

Menjadi pribadi yang rendah hati jelas tidak mudah. Sebab  manusia dilahirkan dalam arogansi yang syarat dengan keegoisan dan kesombongan. Sebelum anda mampu menghancurkan sifat-sifat ini, sulit untuk meraih suasana pikiran yang positif. Sifat arogan manusia telah menggiringnya dalam hal-hal yang berlebihan, merasaa saat berlaku lebay (lebih dari orang lain) itulah kesenangan. Padahal keadaan ini sama saja dengan membawa diri sendiri dalam area yang beresiko tinggi terjerumus dalam hawa nafsu, kebinatangan dan kejahatan lainnya. Oleh karena itu, tekan bahkan hancurkan arogansi di dalam hati dengan mengatakan: “kami hanya debu-tanah, orang yang tidak berguna dan penuh dosa. Ini sudah kehendak Tuhan. Kuatkan kami menghadapinya ya Tuhan!” Selalu kenali suasana hati anda, ketika sifat-sifat angkuh yang terkesan berlebihan ini mulai bermunculan langsung tekan dan hancurkan.

Berbuat baik kepada sesama juga melatih fokus

Kebaikan hati yang kita bagikan kepada sesama adalah pertanda bahwa hidup kita berkecukupan. Tidak harus kaya untuk merasa cukup melainkan hanya dengan bersyukur saja maka rasa berkecukupan itu berdiam di dalam hati. Saat mampu bersyukur, tepat saat itu juga kita menyetujui semua yang terjadi dalam hidup ini sebagai “pemberian yang terbaik dari Allah” sebagai sesuatu yang mendatangkan kepuasan di dalam hati. Oleh karena itu, adalah baik bagi kita untuk kembali berbuat baik kepada Allah dengan cara berbagi kasih kepada sesama. Lakukanlah semuanya itu untuk Tuhan dan bukan untuk manusia agar setiap kebaikan yang dibagikan tulus adanya.

Kebaikan kita juga merupakan alat praktis untuk menguji diri ini. Saat terus-menerus berbagi kasih kepada orang lain, kita belajar untuk menyesuaikan diri, mengoreksi diri, melatih diri, melatih kesabaran, melatih pengendalian diri, mengash kecerdasan dan lain sebagainya. Semua pelajaran dan latihan ini dapat anda peroleh dengan senantiasa berbagi kasih kepada sesama. Mulailah dari hal-hal sederhana yaitu ramah tamah (senyum, sapa, salam, terimakasih, tolong, maaf, menjadi pendengar yang baik), setia, jujur, berbagi informasi, berbagi solusi, konsisten dan lain sebagainya. Lakukanlah kebaikan yang egois dan tujukan semuanya itu kepada Tuhan tanpa mengharapkan balasan dari Tuhan.

Fokus pikiran yang positif adalah

Kebahagiaan Sejati & Fokus Pikiran Positif

Ada banyak macamnya fokus pikiran pada hal-hal yang positif, secara umum adalah fokus Tuhan, bekerja dan belajar. Orang yang memusatkan pikiran kepada Tuhan, bekerja dan belajar pastilah hatinya dipenuhi oleh kebahagiaan, kedamaian, kelegaan, ketenangan, kebanggaan, kesenangan dan sukacita. Sebab hal-hal inilah yang membuat pikiran positif asalkan dilakukan secara terus menerus hingga terbiasa bahkan menjadi budaya agar semakin stabil dan tidak mudah diguncang oleh masalah yang bisa saja datang dari laur diri ini secara tiba-tiba. Pilihan favorit kami terletak pada aktivitas memusatkan pikiran kepada Tuhan (doa, firman, puji-pujian) sembari bersyukur dan bernyanyi memuliakan Allah sehingga ada rasa senang-sukacita yang terkendali, tenang dan damai lalu meluap dalam senyuman mungil di bibir masing-masing. Saat kita memusatkan pikiran kepada Tuhan biasanya sudah otomatis ada niat di dalam hati untuk berbagi kasih. Jangan menunda-nunda rasa itu lalu perbuatlah semuanya itu seperti untuk Tuhan agar selalu tulus adanya.

Salam fokus!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.