Gejolak Sosial

Alasan Manusia Hanya Debu-Tanah, Sampah Tidak Berguna, Penuh Dosa Adalah Realita Bukan Sekedar Ungkapan Kerendahan Hati


Alasan Manusia Hanya Debu-Tanah, Sampah Tidak Berguna, Penuh Dosa Adalah Realita Bukan Sekedar Ungkapan

Dunia dengan segala gemerlapan yang ada di dalamnya, kerap kali membuat orang candu lalu kehilangan pengendalian diri. Saat kenikmatan duniawi telah menawan hati, hawa nafsu sesat-lebay akan lebih sering muncul dalam keseharian anda. Ketika keinginan yang sangat didambakan tidak terwujud, kebencian mulai menguasai pikiran, inginnya marah kepada seseorang, memiliki dendam pribadi, bersifat anarkis terhadap pengganggu. Saat apa yang kita iming-imingkan tidak terwujud, mulailah mencari-cari jalur alternatif cepat-sesat sekalipun menyimpang tetap dijalani

Sadarilah teman bahwa nafas kita berasal dari Tuhan, tubuh tetaplah berasal dari bumi. Itulah mengapa tanah tempat kita berdiri disebut sebagai “Ibu Pertiwi” karena memang kita diciptakan dari debu dan tanah. Adalah baik bagi setiap orang untuk mengetahui kebenaran tentang hidup ini agar dia tidak kehilangan jiwa yang pengasih dan akal sehatnya. Baik bagi setiap manusia untuk mengenal asal mula kehidupannya, dengan demikian ia tidak kehilangan kendali karena terlalu bangga dengan semua pencapaiannya selama hidup di dunia ini.

Kita sering sekali terlena lalu lupa diri karena kenikmatan dan kemuliaan duniawi yang ada disisinya selama ini. Itulah mengapa semakin banyak materi (uang), semakin kuat kekuasaan dan semakin tinggi jabatan seseorang, resiko lupa diri itu sangatlah tinggi. Itulah mengapa kalimat ini harus sering kita ucapkan, semakin banyak kenikmatan dan kemuliaan duniawi yang anda miliki maka alangkah baiknya jikalau semakin sering mengatakan dalam hati bahwa “Saya hanyalah debu-tanah, sampah tidak berguna yang penuh dengan dosa. Semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan, kuatkan kami menjalani semuanya itu Tuhan!” Pada paragraf selanjutnya kami akan menjelaskan beberapa faktor penyabab kata-kata ini sebagai sebuah realita (kenyataan) dan bukan sekedar ungkapan (kiasan) saja.

Manusia hanya debu-tanah: ingat asalmu dan hari kematianmu juga hari penghakiman

Bila menelusuri Kitab Suci maka kita akan mengetahui dengan jelas, setampan dan semolek apapun diri ini: semuanya itu diciptakan dan berasal dari debu dan tanah. Bukan hanya manusia saja yang berasal dari debu-tanah melainkan hewan dan tumbuhan hijau baik yang berada di daratan maupun yang berada di perairan. Kitapun sehari-hari mengkonsumsinya dengan istilah yang lebih keren adalah mineral dimana garam adalah salah satu komponen utama penyusun kehidupan. Daging (hewan) dan sayuran (tumbuhan) berasal dari debu dan tanah lalu manusia mengkonsumsinya  sebagai bahan pangan. Bahkan kita bisa hidup hanya dengan mengkonsumsi air garam manis jika dibiasakan.

Daging, tulang dan darah kita kelak akan menjadi debu-tanah setelah jiwa dan nafas ini kembali kepada Tuhan. Sadarilah, setiap yang terlahir pasti akan mati, cepat atau lambat sesuai dengan waktunya Tuhan. Inilah yang membuat manusia tidak pernah takut mati, sebab kematian adalah pasti, tinggal menunggu giliran saja (waktunya Tuhan), jadi apa yang ditakutkan pada sesuatu yang memang harus terjadi? Satu-satunya yang membuat manusia takut mati adalah karena ia terlalu mengikatkan dirinya (terlalu candu akan materi) di bumi ini. Oleh karena itu, hindari selalu intim dengan manusia melainkan peliharalah terus menerus keintiman dengan Tuhan dengan cara selalu fokus pada-Nya dalam doa, firman dan nyanyian pujian.

Orang yang memahami bahwa dirinya pasti akan mati, turut menyadari bahwa akan tiba saatnya hari penghakiman dimana orang benar dipisahkan dari orang jahat. Jadi sudah sepatutnya orang yang menyadari bahwa segala hal yang ada di dunia ini pasti berakhir dan akan ada hari dimana semua akan dipertanggung jawabkan, niscaya akan menjaga sikapnya (perkataan (lisan & tulisan), perbuatan) agar selalu jauh dari hal-hal yang tidak bak dan tidak benar. Manfaat lainnya dari sikap yang menyadari adanya hari kematian dan hari penghakiman adalah sebagai salah satu cara untuk memiliki kerendahan hatii.

Sampah yang tidak berguna

Hindari sikap yang terlalu membanggakan diri teman. Sebab sebaik-baiknya seorang manusia tetap saja, sama seperti makhluk hidup lainnya yang mengkonsumsi kotorannya sendiri. Tahukah anda bahwa dunia ini berputar-putar? Semua makhluk hidup di dunia mengkonsumsi kotorannya sendiri. Itulah yang namanya siklus energi yang selalu berputar sempurna sehingga sumber daya tetap tersedia. Tumbuhan akan dikonsumsi oleh hewan lalu manusia akan mengkonsumsi hewan dan juga tumbuhan sebagai bahan pangan. Kesemua bahan organik ini akan diolah menjadi energi dan zat gizi lainnya di dalam tubuh untuk dimanfaatkan sebagai sumber tenaga dan membangun sel tubuh. Sisanya akan dibuang melalui urin dan feses lalu bahan-bahan ini kemudian akan didemineralisasi dengan bantuan garam yang ada pada makanan dan air hujan. Bahan-bahan yang sudah menjadi mineral ini kemudian akan dimanfaatkan kembali oleh tanaman sebagai pupuk. Demikianlah seterusnya. Bukankah semuanya itu menegaskan betapa rendahannya kita karena mengkonsumsi kotorannya sendiri?

 

Perputaran bahan organik menjadi anorganik (demineralisasi) yang turut menghasilkan gas metana

Jangan pernah merasa diri lebih baik dari orang lain. Sebab semua kita adalah anak-anak Tuhan yang masing-masing memiliki Roh Allah di dalam hatinya (bagi semua orang yang percaya kepada-Nya). Manusia hanyalah penghasil sampah yang paling jorok dan jijik. Sampah anorganik (dari bahan sintetis: plastik, besi, pasir dan lainnya) di luar sana masih layak untuk dipegang, disapu, disekop, dipunguti dan lainnya. Bahkan taik ayam sekalipun pernah kami pegang tetapi adakah orang yang pernah secara sengaja memegang tinja yang keluar dan sudah jatuh? Bukankah bau yang dikeluarkan oleh feses anda lebih bau dari segala kotoran yang pernah anda cium. Jadi fix: kita hanyalah organisme penghasil sampah yang tidak berguna. Oleh karena itu rendah hatilah teman….

Orang yang penuh  dosa

Adakah manusia yang tidak pernah melakukan dosa? Mungkinkah ada orang yang belum pernah berdosa? Sadarilah bahwa tepat saat hati ini lebih terpikat kepada hal-hal materi maka saat itu jugalah resiko berdosa semakin tinggi. Materi tidak membuat kita berdosa tetapi keinginan yang sesat dan berlebihanlah menggiring setiap manusia pada keberdosaan yang sesungguhnya. Berhentilah membandingkan diri dengan orang lain lalu berkata: “kalau dia bisa, mengapa saya tidak?” Keadaan ini jelas saja menciptakan seorang pribadi pendosa yang tidak cukup sekali melainkan berkali-kali hingga dosa itu mengantarkan kita kepada kematian. Oleh karena itu, gunakan sudut pandang Tuhan lalu sadari bahwa kita pendosa yang tidak akan pernah pantas (tidak layak) di hadapan Tuhan. Tanpa kasih karunianya yang sejati, kita sudahlah mati sejak lama.

Kerendahan hati adalah kunci hidup sederhana. Saat hari-hari yang kita jalani penuh dengan kesederhanaan, tepat saat itu jugalah mampu tampil mengasihi Allah sepenuhnya dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri bahkan lingkungan alamiah sekalipun akan terpelihara didalamnnya sehingga kehidupan ini tetap berjalan sebagaimana adanya dari generasi ke generasi. Lagipula orang-orang yang rendah hati lebih siap sedia di uji oleh situasi sehingga mereka dimurnikan hatinya dari segala hawa nafsu sesat-lebay, kebinatangan dan kejahatan lainnya. Kerendahan hati juga menandakan kehidupan kita yang selalu fokus kepada Tuhan (firman, doa, nyanyian pujian) sembari bersyukur dan memuliakan nama-Nya agar hati senantiasa bersukacita yang meluap lewat senyuman manis dibibr masing-masing.

Selamat merendahkan hati!

1 reply »

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s