Gejolak Sosial

10 Konspirasi Korporasi, Perlambatan Ekonomi Memicu Konspirasi – Kapitalisme Akan Mengalami Stagnasi (Kelesuan/ Titik Jenuh)


Konspirasi Korporasi, Perlambatan Ekonomi Memicu Konspirasi - Kapitalisme Akan Mengalami Stagnasi (Kelesuan - Titik Jenuh)

Korporasi adalah (1) badan usaha yang sah; badan hukum; (2) perusahaan atau badan usaha yang sangat besar atau beberapa perusahaan yang dikelola dan dijalankan sebagai satu perusahaan besar. Seedangkan Birokrasi adalah (a) sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai pemerintah karena telah berpegang pada hierarki dan jenjang jabatan; (b) cara bekerja atau susunan pekerjaan yg serba lamban, serta menurut tata aturan (adat dan sebagainya) yang banyak liku-likunya dan sebagainya (KBBI Offline). Biasanya semakin besar suatu perusahaan maka semakin banyak manfaat yang diberikannya dan semakin banyak pula konspirasi yang mereka lakukan (kita harap itu baik, bukan manipulasi).

Kapitalisme adalah sistem dan paham ekonomi (perekonomian) yang modalnya (penanaman modalnya, kegiatan industrinya) bersumber pada modal pribadi atau modal perusahaan swasta dengan ciri persaingan dalam pasaran bebas (KBBI Luring). Merupakan sistem ekonomi yang mengandalkan perputaran barang dan jasa yang murni. Tanpa pertukaran barang & jasa tertentu, tidak ada uang; keadaan ini sekaligus mengharuskan setiap orang memutar otaknya lebih keras sebab secara alamiah alam sudah menyediakan semuanya itu secara gratis. Masalahnya sekarang bagaimana menjadikan semuanya itu berbayar?

Kapitalisme menginginkan pertukaran uang yang benar-benar murni dengan barang dan jasa. Ini adalah sebuah keuntungan sebab manusia terus dipacu oleh uang untuk menciptakan barang-barang baru, setidak-tidaknya model dan bentuknya adalah baru. Sedangkan di lain pihak, paham ekonomi semacam ini tidak mengenal batasan konversi bahan-bahan alamiah gratis menjadi barang dan jasa komersial yang berbayar. Padahal proses produksinya membutuhkan banyak sumber daya sekaligus mencemari lingkungan sekitar. Keadaan inilah yang kerap kali menimbulkan dilema: dimana yang hendak kita pertahankan hal-hal yang alamiah atau hasil teknologi yang disebut mesin.

Biasanya para pemilik modal ini bergerak dalam satu bidang kepada bidang lainnya. Misalnya, ada yang bergerak dalam bidang perumahan, barang mewah, perabotan, rekreasi, kuliner dan lain sebagainya. Kita tahu bahwa tidak semua bisnis itu lancar adanya, mungkin ada yang terjual hanya beberapa barang dalam satu tahun. Sekalipun kita ketahui bahwa barang yang jarang laku itu biasanya berharga mahal. Dari sini bisa kita temukan bahwa ada hal-hal tertentu yang mulai mengalami perlambatan sedangkan yang lainnya tetap lancar.

Berbagai perlambatan ini akan mencapai titik stagnan yang menyebabkan/ memacu kapitalis cerdas mulai berpikir keras bahkan ada diantara mereka yang berkonspirasi dalam manipulasi agar barang dan jasa yang di jualnya tetap laku. Pengusaha swasta ini jelas tidak mau rugi sekalipun kita ketahui bahwa sebelum-sebelumnya sudah banyak keuntungan yang diraup oleh perusahaan. Lagipula tidak ada niatnya untuk merumahkan karyawan sebab posisi saat ini sudah sangat ramping karena pekerjaan karyawan hanyalah operator sedangkan pekerja utamanya adalah mesin berteknologi canggih.

Stagnasi dalam sistem kapitalis yang mendorong terjadinya konspirasi

Suatu perusahaan terkadang mengalami stagnasi dalam penjualannya. Padahal sesungguhnya, jika para petingginya pintar memanajemen keuangan maka kelebihan hasil pada musim panen disimpan di lumbung-lumbung (bank) yang baik sebagai persiapan di masa paceklik. Sehingga sekalipun dalam situasi sedang tidak panen (barang dan jasa tidak laku) semua karyawan tetap dapat gaji yang cukup. Situasi semacam inilah yang belum dipersiapkan oleh para pemilik modal atau mungkin saja mereka terlalu serakah lalu memboros-boroskan uang di masa panen sedangkan saat musim kemarau tiba, diatasi dengan mudahnya, yaitu merumahkan karyawan yang tidak penting. Berikut ini kejadian tentang melemahnya ekonomi kapitalis akibat perputaran barang dan jasa yang mulai berkurang.

  1. Konspirasi koorporasi saat membakar hutan.

    Sadarilah bahwa saat hutan-hutan di tempat anda terbakar, segelintir industri diuntungkan karena hal itu. Inilah kesempatan bagi mereka untuk mengganti yang alami menjadi teknologi buatan yang disebut sebagai mesin. Biasanya, pembakaran hutan akan membuat lingkungan menjadi panas sehingga barang elektronik seperti kipas dan pendingin udara (laris manis).

  2. Konspirasi koorporasi membabat hutan.

    Entah mengapa industri yang satu ini membabat hutan, baik secara sengaja untuk dijadikan bahan bangunan maupun secara tidak sengaja (kayu tersebut tidak digunakan tetapi hanya asal ditebang saja). Kemungkinan besar karena mereka ingin cuaca menjadi panas (membakar sekalian – pemanasan global) sehingga masyarakat luas membeli produk seperti pendingin udara, kipas angin, mobil (biar kulitnya tidak kena sinar matahari), tabir surya dan lain sebagainya.

  3. Konspirasi birokrasi membuang sampah ke sungai dan kali.

    Mereka ingin agar tetap bekerja, bahkan bila perlu karyawan terus bertambah dari tahun ke tahun. Jadi orang-orang ini membuang sampah ke sungai dan kali sehingga dana ekstra untuk pekerjaannya tetap dikucurkan oleh pemerintah. Dengan tetap adanya sampah disungai/ kali, pekerjaannya terjamin (selalu ada) bahkan uang di saku semakin bertambah-tambah banyak saja.

  4. Konspirasi industri elektronik dengan perusahaan listrik.

    Saat semua orang sudah memiliki barang elektronik sehingga penjualan di toko menurun drastis. Para korporat barang elektronik mengehendaki agar barang yang sudah dibeli dan digunakan oleh konsumen mengalami rusak ringan, sedang bahkan berat/ total karena masalah kelistrikan. Bekerja sama dengan perusahaan listrik, mereka mengalirkan listrik yang tidak stabil/ fluktuatif ke rumah-rumah penduduk agar barang elektronik milik warga segera rusak bahkan bila perlu sekalian aja terbakar. Keadaan ini membuat masyarakat tetap membeli barang elektronik atau setidak-tidaknya rutin memperbaikinya di toko.

  5. Konspirasi perusahaan farmasi dan petugas kesehatan cs pedagang.

    Perusahaan farmasi tidak ingin kehilangan kekayaannya hanya karena obat yang mereka buat tidak laku. Manipulasi jenis ini turut didorong oleh karena tenaga kesehatan yang biaya sekolahnya sangat mahal. Para petugas kesehatan ini (medis dan paramedis) seia sekata dengan pegawai farmasi. Memang itu benar, orang yang hendak masuk sekolah/ kuliah kesehatan membutuhkan uang yang lebih besar selama pendidikan sehingga mereka menuntut setidak-tidaknya balik modal (sekalipun itu berlebihan dan merugikan konsumen). Jadi mereka bekerja sama dengan pedagang kuliner/ pengusahan makanan untuk melancarkan kelicikannya. Para intelektual ini memberikan berbagai bahan kimia berbahaya kepada pedangan untuk digunakan sebagai pengawet/ perisa sehingga secara berangsur-angsur ada saja orang yang mengalami sakit penyakit. Merekapun akan berkunjung ke dokter, masuk instalasi kesehatan dan membeli obat dari perusahaan farmasi.

  6. Konspirasi industri pertelevisian cs perusahaan receiver parabola.

    Industri penyiaran tidak menampilkan siaran eksklusif dari lembaga tertentu yang sangat diminati masayarakat. Acara-acara tertentu tidak di tayangkan melainkan setiap orang yang ingin menyaksikan harus memperoleh/ membeli perangkat receiver parabola. Dengan demikian penjualan receiver khusus ini sangatlah laris-manis/ laku keras.

  7. Konspirasi pertelevisian dan perusahaan tertentu.

    Industri penyiaran sangat memikat hati masyarakat, sebab mata adalah jendela hati manusia, Keadaan ini membuat para kapitalis yang mengembangkan barang dan jasa sangat mengagumi televisi. Mereka ingin agar lewat televisi prodaknya dipopulerkan sehingga semakin laris manis. Bahkan beberapa iklan yang dibuat oleh pemilik modal di bagian industri terkesan berlebihan sehingga hati masyarakat semakin terpana bahkan tergila-gila dengan produk tersebut.

    • Konspirasi korporasi di bidang properti.

      Industri properti jelas sifatnya musiman tetapi untung yang didapatkan juga berlipat ganda. Keadaan ini membuat para pengusaha properti terus saja mengembangkan produknya. Dengan bantuan iklan televisi dan sedikit pendekatan hasutan (menciptakan iri hati), berusaha memaksa costomer untuk berinvestasi dan membeli lagi. Keadaan ini membuat satu orang saja bisa memiliki beberapa buah bahkan belasan sampai puluhan hunian dan apartemen. Mereka menyebutnya sebagai inovasi tetapi kami menganggapnya sebagai usaha mendegradasi lingkungan. Sebab untuk membuat sebuah hunian dibutuhkan sumber daya alam yang tidak tanggung-tanggung.

    • Konspirasi perusahaan elektronik dan televisi.

      Pada dasarnya semua orang yang masuk dalam persekongkolan ini adalah mereka yang terlalu fokus dengan indranya. Orang ini kaya raya, lantas berpikir bahwa kebahagiaan, kedamaian dan ketenteraman hati diperoleh dari barang-barang belian yang dikonsumsi sehari-hari. Pihak pemasaran dan teknisi berusaha untuk terus mengembangkan prodak tersebut dengan melakukan berbagai inovasi padahal fungsinya tetap saja sama. Keadaan ini secara tidak langsung membuat konsumen yang terlalu fokus dengan indranya akan terus membeli dan membeli padahal kegunaan produk elektronik tersebut (smartphone, PC, laptop, tablet) sama saja.

    • Konspirasi pengusaha di bidang supermarket.

      Mereka tidak mau dirugikan dengan tidak lakunya barang-barang tertentu. Terlebih ketika sudah mulai ada beberapa barang yang kadaluarsa. Merekapun menjual barang-barang ini dengan harga murah-meriah. Yang kita harapkan adalah semoga itu barang benar-benar hampir kadaluarsa bukan sudah lama lewat tanggalnya lalu diubah-ubah. Kami juga pernah membeli barang yang sangat dekat tanggal kadaluarsanya.

    • Konspirasi pengusaha yang rugi berat barangnya tidak laku.

      Mereka telah membuat beragam barang tetapi tidak ada yang laku bahkan tidak sampai setengahnya terbeli oleh konsumen. Keadaan ini membuat mereka berpikir berulang kali. Jadi mereka tidak membuang produk tersebut tetapi mengambil isinya lalu meletakkannya dalam bungkusan yang baru dengan nama yang baru (diubah menjadi produk lain yang lebih murah) dan tanggal ekspayer yang baru juga. Tentu saja ada kerja sama dengan perusahaan farmasi agar produk tersebut tetap awet (mungkin dikasih formalin atau boraks dan bahan kimia lainnya).

  8. Konspirasi korporasi di bidang Asuransi dan pemeliharaan/ perawatan gedung.

    Mereka bersekongkol untuk mencairkan dana asuransi sebelum merubuhkan suatu bangunan. Akhirnya diputuskan untuk membakarnya terlebih dahulu, seolah itu kejadian yang tidak disengaja akibat korsleting listrik. Kebakaran pada akhirnya menghanguskan/ menggosongkan bangunan tersebut dan dana asuransipun dikucurkan. Padahal asap-asap yang dihasilkan dari kejadian itu telah mencemari/ mengotori udara sekitar.

  9. Konspirasi birokrasi, pembakaran rumah warga.

    Pemukiman yang hendak digusur tidak jadi dilakukan sebab banyak warga yang berusah keras untuk bertahan. Mereka memilih untuk tetap tinggal disana sebab sudah ditempati dari sejak zaman kakek-neneknya. Koorporasi yang hendak membeli, tidak sabar melakukan negosiasi lalu berpikir pendek untuk membakar pemukiman disana dengan alasan korsleting listrik. Pada akhirnya, para wargapun menjual tanah dan bangunan mereka sesuai dengan harga yang ditawarkan oleh industri yang bersangkutan.

  10. Bail out

    Seperti pada kasus Bank Century, suatu bank yang dianggap telah bangkrut karena penunggakan disana dan disini sehingga tidak bisa membayar kembali dana nasabah (padahal nasabahnya fiktif & kerugiaannya juga rekayasa). Keadaan ini dipandang akan berdampak sistemik sehingga dikucurkanlah dana talangan untuk memangkas keadaan tersebut. Sedang, dana miliaran hingga triliunan itu masuk kantong orang-orang penting di negeri dan direkturnyapun di jebloskan di dalam penjara (entah berapa jaminan hidup diterimanya dari kejadian itu).

  11. dan lain sebagainya, silahkan cari sendiri.

Kelesuan/ perlambatan/ kejenuhan/ stagnasi ekonomi karena semua orang telah memiliki barang yang diproduksi

Beginilah kalau kapitalis dibiarkan bebas dan mandiri. Tanpa adanya koordinasi yang baik diantara semua produsen maka barang dan jasa akan terus-menerus dihasilkan dari tahun ke tahun. Padahal belum tentu semuanya itu dibutuhkan oleh konsumen. Jika begini terus, akan lebih banyak jumlah produksi barang yang terbuang sia-sia. Lagi pula butuh biaya operasional dan sumber daya yang besar (BBM, hewan, tumbuhan, bahan tambang) untuk menghasilkan semuanya itu. Keadaan ini beresiko tinggi merusak lingkungan sekaligus menghabiskan sumber daya yang ada dengan cepat. Kapitalis yang pintar-pintar akan menghalalkan segala cara agar produknya tetap laku dengan berkonspirasi untuk memanipulasi konsumen sehingga tetap membeli dan membeli lagi.

Kapitalis yang bekerja dengan teknologi jelas butuh biaya operasional yang lebih besar dibandingkan mereka yang bekerja secara manual atau semi manual. Sedang pada satu titik hampir semua masyarakat telah memiliki barang yang diproduksinya. Dari sinilah mulai terjadi kelesuan ekonomi. Para pengusaha ini mulai mencari-cari cara bagaimana agar barangnya tetap laku sebab mentoknya pada biaya operasional yang tinggi. Beberapa yang tidak punya moralitas akan melakukan konspirasi yang licik yang sangat merugikan konsumen, secara perlahan tapi pasti; belum lagi masalah polusi yang ditimbulkan dalam proses tersebut. Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengembangkan sistem ekonomi kebersamaan yang setara. Yaitu hanya menghasilkan yang dibutuhkan saja dimana semuanya dapat jatah yang sama; jika tidak bisa dibagikan serentak maka akan dilakukan secara bergilir. Sadarilah bahwa materi tidak mendatangkan kebahagiaan, kedamaian dan ketenteraman tetapi dari Tuhan semuanya itu gratis. Yang perlu kita pikirkan adalah “bagaimana bumi ini tetap awet dari generasi ke generasi tanpa ada satupun yang dikorbankan.”

Salam, ayo back to nature!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s