Gejolak Sosial

11 Faktor Penyebab Premanisme: Anak Punk, Gengster & Kartel


Faktor Penyebab Premanisme - Anak Punk, Gengster & Kartel

Pertumbuhan penduduk harusnya menjadi berkah di dalam suatu masyarakat. Bila dilogikakan dalam konsep yang sederhana: harusnya semakin banyak orang, semakin mudah kehidupan ini. Tetapi logika sederhana ini tidak berlaku dalam sistem ekonomi kapitalis dengan ciri khas persaingan yang tinggi. Sebab daerah kapital rawan dengan perebutan, khas dengan sistem kelas dan duel kesombongan-iri hati berkembang pesat. Semua orang berusaha mencapai puncak karier atau puncak kejayaan yang menurut mereka sebagai sumber kebanggan yang memuaskan, membahagiakan, mendamaikan dan menenteramkan hati (sayang semua itu sesaat saja).

Negara bukan cuma milik satu orang atau sekelompok manusia melainkan milik bersama. Sebagai organisasi terbesar dalam suatu wilayah, sudah seharusnya lembaga yang satu ini berperan aktif untuk menopang, mengayomi, menjaga, merawat dan melatih setiap orang yang diam di dalamnya untuk mandiri. Kemandirian yang kami maksudkan tidak ditekankan dalam hal ekonomi (keuangan) maupun sosial (kemasyarakatan) melainkan lebih kepada kemandirian emosional. Mereka yang mandiri secara emosional adalah orang yang mampu menemukan kebahagiaan, kedamaian dan ketenteraman di dalam dirinya sendiri. Tanpa kemandirian emosional manusia cenderung lebih terpikat hatinya pada materi dan gemerlapan duniawi.

Ketika seseorang tidak mampu lagi melihat dan merasakan damai, bahagia dan tenteram di dalam dirinya; tepat saat itu jugalah fokus kehidupannya berada pada hal-hal materil. Muncullah sebuah sistem yang mendorong manusia berusaha segiat-giatnya (baik dalam hal otak maupun otot) untuk mencari materi lagi dan lagi. Pada dasarnya niat semacam ini murni hanya untuk membantu kehidupan sesama tetapi lama kelamaan beberapa orang mulai tergiur dan terjerumus dalam hasrat yang semakin besar terhadap materi. Sekali candu terhadap kenikmatan duniawi maka saat itu jugalah hasrat akan semakin bertambah-tamabah baik dalam hal jumlah maupun macam jenisnya. Dari sinilah muncul kapitalisme.

Dampak negatif globalisasi

Pada awalnya kapitalis datang membantu masyarakat setempat untuk mencicipi yang namanya modernisasi kehidupan. Lama kelamaan mereka mulai mengembangkan kebutuhan lewat iklan masyarakat baik melalui media elektronik, brosur, baliho dan lain sebagainya. Keadaan ini sekaligus menambah jumlah peredaran uang di dalam sistem dan dianggap sebagai sebuah kemajuan ekonomi. Tetapi tahukah anda dibalik semua kemajuan ekonomi kapitalis (disebut juga globalisasi) yang terjadi selalu menyisakan dampak negatif yang mungkin tidak disadari oleh segelintir orang, misalnya:

  • Kesenjangan sosial yang semakin tinggi.
  • Kerusakan lingkungan yang menjadi parah.
  • Terbentuknya kerajaan kapitalis.
  • Perkembangan kebutuhan manusia yang mulai mengarah pada hal-hal negatif. Karena semua kebutuhan positif telah dikembangkan oleh kapitalis sebelumnya. Sedang makin hari jumlah kapital makin banyak (anak-anak pemilik modal sebelumnya mulai besar dan ingin memiliki kerajaan kapital baru). Padahal yang mengisi area kapital positif sudah padat merapat. Sedang orang-orang ini memiliki modal yang harus diarahkan agar semakin berkembang. Karena kebetulan hanya bidang negatif yang tersisa maka kesanalah modalnya diarahkan.

Pengertian premanisme

Preman adalah (1) partikelir; swasta; (2) bukan tentara; sipil (tentang orang, pakaian, dan sebagainya); (3) kepunyaan sendiri (tentang kendaraan dan sebagainya – KBBI Luring). Merupakan oknum atau kelompok yang mencari nafkah dari hasil menekan, memeras dan memanipulasi orang lain. Premanisme merupakan sistem kerja yang memungkinkan seseorang/ sekelompok orang mencari nafkah dengan cara menekan, memeras dan memanipulasi orang lain/ pihak lain. Setiap kita mencari nafkah dari orang lain, kami juga mencari nafkah dari pemerintah daerah. Tetapi orang  yang melakukannya dengan cara-cara yang tidak halal disebut sebagai preman. Itulah mengapa para koruptor disebut juga sebagai preman berdasi yang mencari nafkah dengan cara memanipulasi sistem untuk keuntungan pribadi semata.

Alasan mengapa preman terus bermunculan

Siapa diantara kita yang tidak punya hasrat untuk hidup? Ketahuilah bahwa semua orang ingin hidup! Sayang, sistem yang tidak adil cenderung menciptakan orang-orang yang terpinggirkan. Keadaan ini ditandai dengan penumpukan uang di tangan beberapa orang sedangkan yang lainnya hidup dalam kemelaratan. Seandainya negeri kita bukan negara yang kaya raya maka keadaan ini wajar saja. Tetapi naas sekali peristiwa ini karena terjadi di negeri yang mengaku gemah ripah loh jinawi. Berikut ini beberapa faktor yang mempengaruhi sehingga muncullah preman, gengster, anak punk, kartel dan lain sebagainya.

  1. Fokus kehidupan manusia sudah berubah.

    Sadarilah bahwa materi itu fana sekali tetapi kesombongan yang menyertainya kuat. Coba amatilah, orang yang kaya materi lebih sombong daripada orang yang kaya hati. Materi memang bisa menciptakan fatamorgana yang membuat seseorang merasa puas. Tetapi beberapa tidak menyadari bahwa semuanya itu hanyalah sesaat saja. Sehingga resiko ketergantungan sangat tinggi.

    Masalah yang muncul saat kecanduan dengan materi adalah dari mana sumber yang selalu meluap-luap itu? Ketika sumbernya berhenti bagaimana jadinya kehidupan anda? Tetapi, di dalam Tuhan segala kepuasan, kebahagiaan, kedamaian, ketenteraman dan berbagai-bagai rasa di hati lainnya bersifat tidak terbatas.

    Bila anda memutuskan untuk candu kepada Tuhan maka mulailah belajar berdoa, membaca firman dan bernyanyi. Untuk beroleh rasa positif unlimited 24 jam dalam 7 hari yang dibutuhkan adalah selalu terhubung dengan Tuhan di segala waktu.  Anda bisa bersyukur dan bernyanyi memuliakan nama-Nya (baik lewat mulut, alat musik, menari, di dalam hati) sehingga hidup penuh rasa senang-sukacita yang terkendali, tenang dan damai meluap dalam senyuman mungil di bibir masing-masing.

  2. Uang adalah kekuatan duniawi, powernya adalah premanisme dan senjata.

    Ketahuilah bahwa memiliki uang adalah memiliki power duniawi. Saat anda memiliki uang tidak serta merta kekuatan (power) itu ada bersama-sama dengannya melainkan harus membelinya lewat jasa premanisme: pengadaan preman, anak punk, gangster dan lain sebagainya.

    Jadi, ketika di dalam kehidupan ini, anda mengandalkan kekuatan duniawi, maka salah satu sumbernya adalah uang dengan cara membayar jasa beberapa preman, anak punk, gangster untuk menjaga, melindungi, mengawasi usaha yang sedang digeluti, keluarga yang dimiliki dan kehidupan anda sendiri.

    Lagipula, daya tarik uang yang anda miliki sangatlah kuat. Semakin besar uang anda berarti semakin besar pula kekuatan duniawi yang dimiliki dimana untuk memperoleh semuanya itu harus membeli jasa preman dan senjata. Kekuatan duniawi digunakan untuk melindungi hal-hal duniawi. Bila anda tidak menggunakan kekuatan duniawi yang dimiliki maka kemungkinan besar akan kemalingan atau dirampok oknum tertentu.

  3. Globalisasi yang tidak dimanajemen dengan baik.

    Modernisasi dengan cara global biasanya ditandai dengan kelas sosial sistem kapitalis. Kesenjangan sosial antara kelas pengangguran, pekerja, manajemen dan pemimpin perusahaan sangat jauh berbeda. Keadaan ini secara tidak langsung memancing orang-orang yang berada di dasar untuk mengutil dari orang-orang yang kehidupannya di atas angin. Para pemilik modal juga merasa tidak keberatan dengan kejadian tersebut sebab mereka masih punya banyak. Hal-hal recehan yang dicuri itu tertutupi oleh besarnya modal yang dimiliki. Pembiaran aksi pencurian oleh preman, anak punk, gangster ini semakin mendidik mereka untuk melakukan hal yang lebih lagi (pencurian yang lebih besar).

    Jika saja globalisasi dimanajemen dengan baik oleh suatu negara maka semua rakyat akan sejahtera. Masalahnya sekarang adalah maukah para kapital ini berbagi secara baik-baik atau mereka lebih suka dengan aksi-aksi yang lebih panas-seru, misalnya pencopetan, penjambretan, maling yang bisanya mengarah kepada kekerasan. Padahal jika yang kemalingan calon konsumen berarti, mereka tidak jadi membeli di tempat anda.

    Harus disadari bahwa tidak ada artinya produsen tanpa konsumen dan juga tidak ada artinya konsumen tanpa produsen. Ada rasa saling membutuhkan disini. Bila keberadaan konsumen makin berkurang dan daya belinya juga kurang bukankah produsen akan rugi juga? Seharusnya, pemilik modal turut menjamin kesejahteraan konsumen toh dengan begitu dagangannya makin laku ya…. Ekonomipun berputarlah….

  4. Bertambahnya jumlah uang dan perkembangan materi.

    Uang semakin bertambah banyak di negeri, jumlah penduduk bertambah (jumlah pemilik modal turut bertambah) sedangkan faktor produksi sifatnya stagnan. Pengusaha baru ini ingin menanamkan modalnya (biasalah warisan dari ortu mungkin) tetapi semua jenis usaha di bidang-bidang yang positif telah terisi penuh. Sedang si kawan inipun berotak bisnisman yang tidak ingin uangnya habis sia-sia seiring waktu. Keadaan ini memaksanya untuk membuka usaha di bidang-bidang yang negatif yang masih belum ditempati, misalnya pembuatan miras, rokok, bisnis seks komersial, bisnis narkoba (kartel), gengster, premanisme, bodyguard dan lain sebagainya.

    Mengapa bisa ada kartel narkoba? atau lebih tepatnya, mengapa negara memelihara seorang kartel? Sebab bisnis di bidang ini sangat menguntungkan bahkan bisa dikatakan bahwa keuntungannya berlipat kali ganda. Oleh karena itu, orang-orang disini berusaha keras agar narkoba dilegalkan dengan alasan untuk mengobati penyakit tertentu. Padahal ini hanyalah motif untuk melonggarkan pengawasan di perbatasan sehingga pengiriman barang haram ini lancar. Simak juga, Permufakatan jahat dalam bisnis narkoba.

  5. Kesenjangan sosial menciptakan orang pinggiran.

    Orang yang memiliki modal banyak akan mengalihkannya untuk membuka perdagangan narkoba. Keadaan ini didukung oleh karena banyaknya orang yang terpinggirkan dan diabaikan. Merekalah yang menjadi sasaran para pengedar dengan motif untuk menghilangkan stres dan tekanan hidup.

    Orang pinggiran adalah sasaran empuk bagi para kartel untuk memasarkan produknya sekaligus memberikan pekerjaan kepada beberapa orang diantaranya untuk dijadikan sebagai anak buah menjaga kerahasiaan perdagangan narkoba yang dilakukannya. Tidak hanya orang pinggiran beberapa kalangan atas juga disasar oleh mereka terutama anak-anak orang kaya yang suka hidup secara berfoya-foya, pesta pora, hura-hura, diskotik dan lain sebagainya.

  6. Media cetak dan elektronik yang membantu mendorong timbulnya keinginan.

    Iklan di media masa cetak dan online telah menarik perhatian banyak konsumen untuk membeli dan membeli lagi. Tidak hanya iklan saja melainkan hampir semua acara televisi mengajak orang untuk kaya dan konsumtif. Beberapa acara ini sangat provokatif sehingga mendorong manusia untuk belanja dan belanja lagi. Media masa berperan besar untuk menciptakan orang-orang sombong sekaligus mendorong yang lainnya untuk dengki sehingga berang tertentu laku keras. Bahkan mereka turut mengiklankan hal-hal baru yang sebenarnya tidak dibutuhkan tetapi dianggap sebagai kebutuhan. Saksikanlah, Jangan pernah jadi orang kaya.

    Beberapa orang yang terlalu fokus dengan materi tergiur dengan properti yang sedang ramai di iklankan tetapi uang tabungan mereka masih sangat kurang untuk memilikinya. Muncullah niat mereka ini untuk mencuri dari orang-orang kaya secara diam-diam. Mereka mengajak beberapa anak buah preman, anak punk, gengster dan kartel untuk melakukan aksinya. Atau bisa juga, para berandalan ini langsunglah yang menginginkan barang yang lagi panas dibicarakan itu.

  7. Kerajaan kapitalis butuh preman.

    Tahukah anda bahwa seorang kapitalis bermodal miliaran hingga triliunan memiliki sebuah kerajaan yang dikelola secara pribadi dalam suatu negara besar? Memang beberapa dari kita tidak menyadari kerajaan ini tetapi sistem kelas sosial didalamnya sangat kentara. Keadaan ini terlihat dari jumlah gaji dan fasilitas yang diterima. Sadarilah sistem kelas semacam ini selalu membutuhkan pengawalan layaknya di zaman raja-raja dahulu kala. Orang-orang atas selalu disertai oleh pelayan yang banyak termasuk diantaranya adalah preman/ anak punk/ gangster yang dipekerjakan sebagai bodyguard.

  8. Persaingan berat para pemilik modal.

    Oknum pemilik modal melakukan aksi perebutan lahan usaha. Mereka saling bersaing untuk memperebutkan usaha di bidang tertentu. Pengusaha ini menjaga sektor usahanya dengan mempekerjakan para preman, anak punk dan gangster sekaligus sebagai pertahanan kalau-kalau ada oknum tertentu melakukan kontak fisik atau mencoba membuka usaha yang sama di tempat ini. Keadaan inilah yang semakin memelihara tumbuh kembang premanisme untuk dijadikan sebagai tameng sekaligus perlawanan bila suatu saat ada lahan usaha atau proyeknya direbut/ disaingi oleh prodak lain.

  9. Budaya gila hormat, penghargaan, pujian dan popularitas.

    Para pemilik modal yang kami ceritakan disini hanya ada di film saja. Mereka begitu angkuh dengan gaya serba glamour selalu ingin dihargai dan dihormati orang lain. Keadaan ini sekaligus mendorong mereka untuk anti terhadap bully, penghinaan dan ejekan sekalipun itu hanya secara verbal (lisan dan tulisan). Mereka selalu membawa beberapa orang preman, anak punk dan gengster bersamanya agar terlihat berwibawa dan sangat disegani.

  10. Mental tempe dan suka membalas.

    Di dalam ilustrasi berikutnya, sikap mereka (oknum kapitalis dan keluarga juga kerabatnya) begitu tangguh dari luar tetapi sesungghnya di dalam hati lemah. Orang-orang ini hanya tahu menikmati hidup, senang-senang, foya-foya dan pesta (party). Kenyamanan semacam ini membuat mereka terlena dan tidak siap ketika berhadapan dengan masalah. Mereka langsung hancur dan stres ketika berhadap dengan masalah. Terlebih ketika diejek/ dihina oleh pihak lain, langsung saja amarah membakar hati, dendam meledak-ledak dan ingin membalaskan perlakuan buruk itu. Membalas dendam adalah salah satu hal yang membuatnya tertawa. Di saat-saat seperti inilah jasa para preman, anak punk, gengster dan lainnya dibutuhkan.

  11. Kesenjangan sosial dan Kemiskinan.

    Kesenjangan sosial selalu menghasilkan kemiskinan dan pengangguran. Keadaan ini ditandai dengan menumpuknya sumber daya di tangan oknum tertentu sedangkan masyarakat luas mengalami tekanan oleh himpitan ekonomi. Tidak hanya miskin secara ekonomi, yang paling parah dari keadaan ini adalah mereka yang miskin secara intelektual dan emosional. Biasanya orang-orang yang pengetahuannya rendah dan emosinya meledak-ledak inilah yang lebih cenderung untuk menjadi seorang preman. Terlebih ketika mereka juga miskin moralitas, artinya tidak ada rasa malu saat menjadi preman, anak punk, gengster dan kartel.

Premanisme muncul ketika manajemen sumber daya yang terpusat kepada oknum tertentu. Disatu sisi, orang-orang dimanjakan secara fisik oleh hal-hal duniawi tetapi mentalnya lemah. Disisi lain, orang-orang tertekan secara fisik karena kebutuhan yang serba pas-pasan tetapi mentalnya kuat. Bila orang-orang yang manja ini dikasih uang lebih maka mereka akan menyewa orang lain untuk menjadi alatnya: senjata & tameng untuk membuatnya terlihat superior atau setidak-tidaknya membalaskan dendamnya kepada oknum yang membuat hati kesal. Lagi pula “semakin besar harta benda yang anda miliki maka semakin besar pula perlindungan yang dibutuhakan untuk membuatnya tetap aman” (ini hukum alam), salah satunya dengan menyewa jasa preman, anak punk, gangster bahkan kartel penguasa narkoba sekalipun.

Salam damai!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s