Gejolak Sosial

Demokrasi & Kedaulatan Tuhan, Cara Menanyakan Kehendak Allah – Manfaat Demokrasi Tuhan


Demokrasi & Kedaulatan Tuhan, Cara Menanyakan Kehendak Allah - Manfaat Demokrasi Tuhan

Pengertian

Kristen Sejati – Demokrasi adalah (1) (bentuk atau sistem) pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya; pemerintahan rakyat; (2) gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara (KBBI Offline). Merupakan partisipasi semua pihak dalam pengambilan kebijakan pada suatu sistem (misal organisasi, paguyuban dan negara). Ini adalah paham yang digunakan secara global hampir di seluruh dunia. Ciri khas utama dari sistem demokrasi adalah adanya pemilihan umum.

Demokrasi berbeda-beda tapi setara

Paham demokrasi asal inspirasi awalnya dari Alkitab. Siapapun yang menemukan ini pertama kali (orang Romawi atau Yunani) pastilah pernah membaca Kitab Suci orang kristen atau jangan-jangan mereka adalah pengikut Yesus sendiri. Seperti ada tertulis.

(Roma 11:36) Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Sistem demokrasi memiliki tiga motto yang sangat populer yaitu, “dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat.” Tiga motto ini menegaskan bahwa ada kesetaraan antara pihak yang bertindak sebagai sumber, pelaksana dan penerima. Bila pendekatan ini dipandang dari segi gaya bahasa maka selalu ada kesejajaran antara subjek, objek dan predikat. Jika dibawa dalam pendekatan aliran air: ada kepentingan yang sama antara hulu, hilir dan badan sungai. Jelaslah bahwa ketiga hal ini masing-masing tidak sama tugas dan fungsinya tetapi satu sama lain berkaitan. Artinya, semua bagian yang ada saling terhubung, mempengaruhi dan berputar dalam suatu sistem yang seimbang.

Apapun organisasi/ paguyuban/ perusahaan/ pemerintahan/ instalasi yang anda geluti saat ini pastilah memiliki sistem. Ketika suatu sistem menganut paham demokrasi maka sudah sepatutnya setiap orang didalamnya mengambil peran yang walaupun tidak sama secara fungsi tetapi sama kedudukannya untuk menjalankan sistem tersebut. Jika salah satu saja diantara mereka tidak melakukan tugasnya dengan benar niscaya sistem tersebut akan berjalan timpang sekalipun pihak yang lainnya telah memaksimalkan kemampuannya. Sedangkan sistem tanpa persamaan kedudukan adalah rapuh dan mudah terpecah-pecah sebab tanpa keadilan sosial kesombongan dan iri hati akan berkembang secara masif yang suatu saat akan menyebabkan konflik sekaligus tercerai-berai.

Kedaulatan Tuhan versi lama dan transformasi penyataan Allah di dalam diri manusia

Jika kita tinjau dari pengamatan duniawi, banyak ahli filsafat meyakini bahwa kedaulatan Tuhan adalah kekuasaan tertinggi dalam suatu negara di pegang oleh raja, yang di klaim berasal dari (utusan) Tuhan sendiri. Dalam banyak Kitab Suci termasuk Alkitab, seorang raja memang dipilih langsung oleh Allah lewat nabi-Nya. Setelah itu yang memerintah adalah turun-temurun. Tetapi keadaan itu hanya berlangsung damai sejahtera di awal-awal saja. Sebab tidak sedikit dari keturunan raja yang memimpin di masanya berlaku kejam dan jahat bahkan ada pula yang murtad dengan menjadi penyembah berhala.

Berdasarkan sejarah, relevansi pilihan Allah menurut garis keturunan kurang relevan untuk digunakan sebagai indikator. Sebab fakta sejarah menyatakan bahwa tidak sedikit dari antara orang-orang terpilih itu yang menyalahgunakan dan menyelewengkan wewenang yang dimiliki untuk kepentingan sempit. Justru ketika seseorang dianggap sebagai utusan Tuhan secara langsung, ada kemungkinan besar menjadi sombong dan semena-mena (sewenang-wenang) dalam mengambil keputusan. Sebab kita tahu sendiri bahwa siapapun dia yang namanya manusia selalu memiliki hati yang penuh dengan keburukan di dalam alam bawah sadarnya. Kedagingan ini bisa saja muncul dan merusak citranya dimata rakyat sebagai utusan Tuhan.

Keadaan ini turut dipengaruhi/ sejalan dengan penyataan diri Allah di dalam kehidupan manusia. Jikalau dahulu Dia datang menyatakan dirinya secara langsung dalam wujud yang maha dahsyat (bisa diamati dengan mata-kepala sendiri) tetapi sekarang kebiasaan lama tersebut telah bertransformasi. Dalam pemahaman Allah Tritunggal dapat kita ketahui bahwa zaman sekarang Allah tidak lagi datang langsung menemui umat-Nya melainkan Ia telah membagi-bagi Roh-Nya di dalam hati setiap manusia/ orang percaya (berdasarkan ajaran Tuhan Yesus). Jadi, keadaan ini menegaskan bahwa setiap manusia berhak memutuskan sendiri apa yang harus terjadi dalam hidupnya (Roh Kudus ada dalam setiap diri kita). Fakta ini sejalan dengan nilai-nilai demokrasi yang menyatakan bahwa setiap pengambilan keputusan ditentukan langsung oleh seluruh anggota/ masyarakat luas yang tergabung didalamnya.

Kedaulatan Tuhan versi baru – UNDIAN

(Amsal 16:33) Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN.

Seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa Kitab Suci adalah ilmu pengetahuan Tuhan yang syarat dengan teka-teki. Memang di dalam Alkitab terdapat ilmu terapan yang bisa langsung dilakukan. Tetapi beberapa diantaranya harus dipelajari dan dipahami baik-baik agar kita bisa mendapatkan sesuatu yang memang benar murni sebagai ilmu Tuhan. Memperoleh ilmu Tuhan sama dengan mendapatkan ketenteraman hati. Seperti kita tahu sebelumnya bahwa puncak kekristenan sendiri adalah beroleh hati yang tenteram di segala waktu bahkan di tengah kesulitan sekalipun. Salah satu cara penting untuk mewujudkan ketenteraman hati adalah dengan melaksanakan kedaulatan Tuhan dalam setiap keputusan yang krusial.

Yang kami maksudkan dengan keputusan krusial adalah keputusan yang tidak ada hubungannya dengan nilai-nilai kebenaran yang hakiki. Sedangkan kebenaran itu sendiri adalah kedekatan yang selalu mengasihi Tuhan dengan segala kemampuan yang ada dan kedekatan yang selalu mengasihi sesama seperti diri sendiri. Jadi ketika suatu keputusan jelas-jelas berkaitan erat dengan hubungan yang baik dengan Allah dan sesama manusia, buat apa hasilnya ditanyakan kepada Tuhan jikalau tujuannya jelas demi kebenaran. Tetapi ketika sebuah pengambilan keputusan berada di tengah-tengah yang cemderung menimbulkan kesimpang siuran dan memicu gelombang ketidakadilan maka “perlu kiranya ditanyakan apa kehendak Tuhan terhadap keadaan tersebut.”

Tidak usah menanyakan kehendak Tuhan ketika mengambil keputusan apakah seseorang diputuskan untuk di hukum atau tidak setelah melakukan pencurian. Sebab jelas-jelas mencuri itu dilarang di dalam Alkitab. Inilah yang kami maksud dengan tidak perlu bertanya kepada Tuhan ketika jawabannya sudah tercantum di dalam Alkitab. Lalu apa saja keputusan yang perlu kita tanyakan kepada Tuhan. Apa perlu ditanyakan kehendak Tuhan ketika hendak membangun jalan dan jembatan atau tidak? Selalu perhatikan sebuah keputusan berdasarkan pendekatannya terhadap nilai-nilai yang benar. Saat membangun jembatan manfaatnya akan dirasakan oleh manusia dimana ini bagian dari memelihara kebaikan hati (kasih) kepada sesama maka laksanakanlah itu tanpa harus membuang undi.

Bagaimana dan kapan menanyakan kehendak Allah?

Lalu kapan kita menanyakan keputusan Tuhan? Di Alkitab sendiri, nilai-nilai tentang pelaksanaan undian telah tertulis jelas. Seperti pada ayat berikut yang kami tampilkan sekaligus menerangkan kapankah undian di laksanakan?

  1. Saat pemberian korban (persembahan).

    (Imamat 16:7-10) Ia harus mengambil kedua ekor kambing jantan itu dan menempatkannya di hadapan TUHAN di depan pintu Kemah Pertemuan, dan harus membuang undi atas kedua kambing jantan itu, sebuah undi bagi TUHAN dan sebuah bagi Azazel. Lalu Harun harus mempersembahkan kambing jantan yang kena undi bagi TUHAN itu dan mengolahnya sebagai korban penghapus dosa. Tetapi kambing jantan yang kena undi bagi Azazel haruslah ditempatkan hidup-hidup di hadapan TUHAN untuk mengadakan pendamaian, lalu dilepaskan bagi Azazel ke padang gurun.

    Jika anda mengalami kebingungan/ keraguan hendak memberikan persembahan sukarela seperti apa kepada Tuhan, anda bisa mengundinya untuk mengetahui apa kehendak Tuhan tentang hal tersebut.

  2. Dalam pembagian harta.

    (Bilangan 33:54) Maka haruslah kamu membagi negeri itu sebagai milik pusaka dengan membuang undi menurut kaummu: kepada yang besar jumlahnya haruslah kamu memberikan milik pusaka yang besar, dan kepada yang kecil jumlahnya haruslah kamu memberikan milik pusaka yang kecil; yang ditunjuk oleh undi bagi masing-masing, itulah bagian undiannya; menurut suku nenek moyangmu haruslah kamu membagi milik pusaka itu.

    (Yesaya 34:17) Ia sendiri telah membuang undi dan membagi-bagi negeri itu di antara mereka dengan tali pengukur; mereka akan mendudukinya sampai selama-lamanya dan akan tinggal di situ turun-temurun.

    Ketika anda memiliki cukup banyak harta benda sedang hari akhir hampir menjelang. Anda memiliki harta yang tidak dapat disamaratakan persis sebab setiap harta yang diberikan berbeda tetapi memiliki kekhasannya masing-masing. Sedang anda sendiri hendak menjadi orang tua yang adil saat memberi keputusan. Andapun dapat menanyakannya kepada Tuhan dengan membuang undi diantara para pewaris (keturunan/ anak-anak anda).

  3. Untuk menyatakan kesalahan yang tersembunyi.

    (1 Samuel 14:40-42) Kemudian berkatalah ia kepada seluruh orang Israel: “Kamu berdiri di sebelah yang satu dan aku serta anakku Yonatan akan berdiri di sebelah yang lain.” Lalu jawab rakyat kepada Saul: “Perbuatlah apa yang kaupandang baik.” Lalu berkatalah Saul: “Ya, TUHAN, Allah Israel, mengapa Engkau tidak menjawab hamba-Mu pada hari ini? Jika kesalahan itu ada padaku atau pada anakku Yonatan, ya TUHAN, Allah Israel, tunjukkanlah kiranya Urim; tetapi jika kesalahan itu ada pada umat-Mu Israel, tunjukkanlah Tumim.” Lalu didapati Yonatan dan Saul, tetapi rakyat itu terluput. Kata Saul: “Buanglah undi antara aku dan anakku Yonatan.” Lalu didapati Yonatan.

    (Yunus 1:7) Lalu berkatalah mereka satu sama lain: “Marilah kita buang undi, supaya kita mengetahui, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini.” Mereka membuang undi dan Yunuslah yang kena undi.

    Saat suatu malapetaka/ kesialan/ peristiwa yang membingunkan lainnya dimana ada indikasi mengandung kesalahan yang tidak diketahui oleh orang banyak. Saat seperti ini adalah waktu yang tepat untuk menanyakan keputusan Allah. Ini merupakan kesalahan yang tersembunyi dimana dampaknya (akibat) nyata tetapi penyebab (alasan) belum diketahui dengan jelas, kesalahan siapa itu!

  4. Dalam pembagian jam kerja, tugas dan jabatan (bergilir) yang adil.

    (I Tawarikh 24:4-25) Lalu ternyata bahwa di antara keturunan Eleazar ada lebih banyak kepala kaum dari pada di antara keturunan Itamar, sebab itu orang membagi-bagi mereka sebagai berikut: untuk bani Eleazar enam belas orang kepala puak, tetapi untuk bani Itamar delapan orang kepala puak. Dan orang membagi-bagi mereka dengan membuang undi tanpa mengadakan perbedaan, sebab ada “pemimpin-pemimpin kudus” dan “pemimpin-pemimpin Allah”, baik di antara keturunan Eleazar maupun di antara keturunan Itamar.

    (I Tawarikh 25:8) Tua dan muda, guru dan murid, membuang undi mengenai tugasnya.

    (Nehemia 10:34) Pula dengan membuang undi kami, yakni para imam, orang-orang Lewi dan kaum awam, menetapkan suatu cara untuk menyediakan kayu api. Kayu itu harus dibawa ke rumah Allah kami secara bergilir oleh kaum-kaum keluarga kami pada waktu-waktu tertentu setiap tahun, supaya di atas mezbah TUHAN Allah kami ada api yang menyala, seperti tertulis dalam kitab Taurat.

    Ketika suata pekerjaan dalam pelaksanaannya hanya mengedepankan budaya kerja yang tidak membutuhkan keahlian khusus sebab dimiliki atau bisa dilakukan oleh semua orang. Sebaiknya penentuan jam kerja, tugas dan jabatan untuk keadaan semacam ini dengan cara pengundian agar memberi rasa adil bagi semua pihak.

  5. Menemukan orang-orang berkedudukan khusus. Demokrasi rakyat dan Tuhan yang pertama.

    sah Para Rasul 1:24-26) Lalu mereka mengusulkan dua orang: Yusuf yang disebut Barsabas dan yang juga bernama Yustus, dan Matias (Demokrasi rakyat). Mereka semua berdoa dan berkata: “Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini, untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah jatuh ke tempat yang wajar baginya.” Lalu mereka membuang undi bagi kedua orang itu dan yang kena undi adalah Matias (Demokrasi Tuhan) dan dengan demikian ia ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul itu.

    Tidaklah mudah untuk menjadi seorang yang benar-benar adil dalam segala hal. Sebaiknya dalam hal-hal yang berhubungan dengan pemilihan orang dengan kedudukan khusus dilakukan dengan mengawalinya lewat pemilihan langsung (pemilu) dan setelah itu, diakhiri dengan proses undian agar Tuhan berkarya langsung untuk memberkati dan memakai orang tersebut sampai melakukan pekerjaan yang luar biasa.

Demokrasi rakyat dan demokrasi Tuhan

Pengambilan keputusan untuk menjalankan sebuah sistem ditentukan oleh rakyat sendiri. Keadaan ini tidak jauh-jauh dari maknanya yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dalam sebuah negara bersumber dari, ditujukan untuk dan dilaksanakan oleh rakyat itu sendiri. Ada hubungan saling ketergantungan antara semua bagian di dalam suatu sistem. Ketika satu bagian tidak berjalan baik maka bagian lainnya akan merasakan dampak buruk atas kejadian tersebut. Oleh karena itu dikatakan bahwa semua komponen dalam demokrasi berada dalam posisi/ kedudukan yang sejajar satu sama lain.

Bila pelaku sumber, pelaksana dan penerima berada dalam posisi yang timpang, ada kecenderungan menciptakan ketidakseimbangan. Keadaan inilah yang kerap kali menimbulkan efek kesombongan yang bersamaan dengan iri hati. Cukup dengan dua masalah hati ini saja maka sistem terbaik sekalipun akan berangsung-angsur melemah, terpecah-pecah dan hancur lebur oleh karena intervensi dari luar. Oleh karena itu, peting sekali rasa keadilan sosial diantara pihak-pihak yang bersangkutan. Tanpa kesetaraan niscaya akan terjadi perang dingin yang tidak terlihat secara kasat mata tetapi ada pola-pola persaingan tidak sehat yang hilang-timbul sehingga sangat beresiko melemahkan persatuan dan kesatuan.

Sebenarnya jika saja demokrasi diterapkan dalam sistem yang benar maka semua orang akan merasakan kemakmuran yang sama. Sebab di dalam sistem semacam ini, sangat kental dengan nilai-nilai kebersamaan. Persamaan rasa inilah yang dapat membuat suatu negara berjalan dengan anggun dan tetap stabil sekaligupun masih saja terdapat ancaman, tantangan, halangan, gangguan (ATHG) yang berasal dari dalam maupun dari luar. Justru tanpa kesetaraan rasa kebersamaan itulah yang akan berubah menjadi pemerasan, memanfaatkan situasi dan memanipulasi keadaan dimana semuanya ini berlangsung secara diam-diam (dibalik layar/ dibelakang layar) tapi dampaknya suatu saat akan kelihatan dan meluas dengan cepat bila tidak segera diantisipasi.

Cara pertama untuk menciptakan keadilan sosial di dalam suatu sistem masyarakat ditempuh dengan demokrasi. Ini adalah wujud nyata dari partisipasi masyarakat secara langsung untuk menentukan nasibnya ke depan. Seharusnya pemilihan umum tidak hanya dilaksanakan saat pemilihan pemimpin tertinggi saja melainkan juga dalam setiap lembaga, instansi dan organisasi kemasyarakatan yang ada. Keadaan ini menunjukkan bahwa tidak hanya ada satu dua orang saja yang memimpin negara melainkan “semua kita adalah pemimpin” yang berhak menentukan nasibnya sendiri.

Tuhan telah mengisyaratkan transformasi penyataan diri-Nya dalam kehidupan manusia. Ia tidak lagi datang langsung memperingatkan tentang sesuatu dan lain hal melainkan telah mengutus Roh-Nya yang kudus ke dalam hati tiap-tiap orang. Roh inilah yang menyampaikan kehendak Allah, memberi pengertian dan mengajarkan hikmat sorgawi. Yang perlu kita lakukan adalah senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara tetap fokus dalam doa, firman dan nyanyian pujian. Dengan demikian kita selalu dekat dan mendengarkannya dengan seksama. Hati yang selalu dekat dan tertuju kepada Tuhan akan mengalami pengilhaman sehingga setiap hati mengetahui keputusan-Nya. Artinya “setiap keputusan yang anda ambil dari lubuk hati yang murni adalah keputusan Tuhan.”

Tidak mudah berada dalam sebuah sistem sebab ada hal-hal yang terkadang membuat kita saling bertentangan, salah satunya dalam hal pengambilan keputusan untuk menjabat sebuah tugas penting. Perbedaan persepsi inilah yang harus disatukan dengan cara menanyakan kehendak Tuhan. Oleh karena itu, alangkah baiknya jikalau keputusan akhir dari demokrasi rakyat di tentukan dengan cara memberlakukan kedaulatan Tuhan diantara orang-orang yang telah terpilih. Artinya, setiap pemimpin akan dipilih langsung oleh rakyat dengan mengambil suara terbanyak pertama dan kedua. Sedangkan keputusan akhir tentang siapa yang tampil sebagai pemenang ditentukan dengan membuang undian.

Manfaat demokrasi Tuhan

Kami mengajukan penerapan demokrasi Tuhan dikarenakan oleh kenyataan yang terjadi dalam banyak pesta rakyat pemilu. Para calon pemimpin cenderung menghalalkan segala cara, melakukan aksi sogok menyogok, menebarkan kampanye hitam, menyebarkan berita hoax kemana-mana dan lain sebagainya. Semua kenyataan ini telah membuat orang melupakan Tuhannya. Oleh karena itu, perlu dilaksanakan penarikan undian diakhir setiap pemilu sebagai sebuah jaminan bahwa orang-orang yang terpilih bersih, jujur dan beruntung. Berikut ini beberapa kegunaan penting dari demokrasi Tuhan:

  1. Mewujudnyatakan Pancasila, sila pertama.

    Entah ini kebetulan atau tidak, Pancasila menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang percaya dengan keberadaan Tuhan. Mentoknya poin tentang Ketuhanan ini juga pas banget di sila pertama. Sehingga sangat cocok jikalau setiap akhir keputusan yang diambil dilakukan dengan menegakkan kedaulatan Tuhan.

  2. Menjamin netralitas yang adil.

    Para pemenang tidak lagi dapat mengajukan keberatan tentang mengapa orang ini menang sedangkan mengapa saya kalah. Sebab tangan mereka sendirilah yang menentukan kemenangannya. Jika seseorang hendak menyalahkan orang karena kekalahannya maka yang patut disalahkan adalah tangan yang mengambil undian tersebut.

  3. Manfaat menepis kesombongan para pemimpin.

    Saat Tuhan di libatkan dalam sebuah pengambilan keputusan maka tidak ada lagi orang yang merasa menang karena kemampuannya atau karena besarnya uang yang dimiliki atau karena banyaknya relasi yang ada melainkan keterpilihan itu dikembalikan lagi kepada kehendak Tuhan.

  4. Mempertipis kemungkinan masuknya uang sogok dan black campaign.

    Jika orang-orang ingin masuk dalam demokrasi Tuhan, masakan mereka malakukan aksi-aksi kotor yang penuh kejahatan dan tipu muslihat? Tentu saja bagi orang yang benar-benar ingin beruntung pastilah menjaga sikapnya tetap tulus di hadapan Tuhan dan dihadapan rakyat selama proses kampanye.

  5. Menepis konflik horizontal.

    Saat undian di jalankan, tidak ada lagi yang bisa melakukan aksi manipulasi untuk membuat dirinya menang. Melainkan masing-masing orang akan berlomba-lomba membuat dirinya jujur dan bersih di hadapan Tuhan dan di depan masyarakat luas. Keadaan ini mempertipis dilakukannya aksi-aksi yang penuh dengan tipu muslihat. Sehingga tidak ada lagi pihak yang keberatan sebab semuanya berjalan dengan baik. Sekalipun ada hal-hal kecil yang masih belum sempurna sepertinya itu akan menjadi masalah sepele yang dapat diabaikan. Sebab tidak ada satupun yang dapat mempengaruhi Tuhan dan tidak ada satupun yang mampu menerawang jalan yang ditempuh-Nya.

  6. Semua orang adalah pemimpin sehingga pemimpin tertinggi tidak dikejar-kejar rasa bersalah.

    Bila kita menggunakan sistem yang menyatakan bahwa semua orang adalah pemimpin maka setiap jabatan, posisi dan tugas-tugas khusus dipilih langsung oleh anggota masyarakat/ orang yang bertugas pada organisasi/ instalasi/ perusahaan tersebut. Setiap dua orang yang terpilih akan  ditentukan pemenangnya dengan cara diundi. Keadaan ini membuat pemimpin tertinggi lebih luwes dalam bersikap dan bergerak. Sebab saat semua keputusan ada di tangan satu orang maka semua pihak akan beramai-ramai mendatangi sang pemimpin itu dengan motif minta jatah sembari menawarkan berbagai kompensasi. Bila semua orang menjadi pemimpin maka pemimpin tertinggi akan bebas dari kejaran, praktek sogok-menyogok, rasa bersalah dan hidupnya tidak dikejar-kejar oleh oknum tertentu.

  7. Langkah awal untuk mencapai keadilan sosial yang sebenarnya.

    Tuhan menginginkan umat manusia hidup dalam kesetaraan. Jika tidak demikian, mustahil nabi Musa dan Yesus mengatakan, “kasihilah sesamamu seperti diri sendiri.” Mengapa kesetaraan ini tidak pernah terwujud? Karena manusia lebih tergiur dan mengandalkan harta duniawi (uang) dalam menjalani hidup. Ketika fokus para calon pemimpin berubah dari mengandalkan uang dan relasi menjadi mengandalkan Tuhan untuk beroleh jabatan niscaya berangsur-angsur fokus kehidupan mereka juga akan berubah. Ketika pemimpinnya berubah ke jalan yang benar maka biasanya rakyat juga akan mengikuti hal tersebut. Fokus Tuhan adalah syarat utama untuk mewujudkan kesetaraan.

Tuhan telah mengutus Roh-Nya ke dalam hati setiap orang yang memberitahukan manusia tentang kehendak-Nya, memberi pengertian dan mengajarkan hikmat. Sehingga setiap orang berhak menentukan pilihannya dalam setiap pengambilan keputusan melalui proses pemilu. Untuk menyatukan perbedaan persepsi diantara sekian banyaknya sudut pandang perlu diambil jalan tengah dengan mengakhiri pesta demokrasi rakyat melalui proses demokrasi Tuhan. Undian adalah cara pengambilan keputusan yang adil tanpa ada yang merasa dirugikan sama sekali.

Salam, tetap tegar!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s