Gejolak Sosial

11 Cara Terbiasa Dengan Bully, Ejekan & Hinaan – Melakukan Simulasi Agar Siap Menghadapi Gejolak Sosial


Cara Melakukan Simulasi Bully, Ejekan & Hinaan Agar Lebih Siap Menghadapi Gejolak Sosial

Bully, ejekan dan penghinaan memiliki tujuan yang sama yaitu gangguan sosial yang beresiko menimbulkan gejolak dalam kehidupan seseorang sekaligus melatihnya untuk dewasa. Pernahkah anda mengalami hal ini? Mungkin di masa kecil, saat menjadi anak sekolahan: TK, SD, SMP, SMA; sewaktu di bangku kuliah; bisa juga dalam kehidupan pergaulan sehari-hari dengan lingkungan sekitar. Dapat dikatakan bahwa setiap dari kita pasti pernah merasakannya tetapi mungkin terjadi dalam konteks yang berbeda-beda. Pertanyaannya adalah “bagaimana reaksi anda menanggapi keadaan ini?” Mereka yang baru pertama kali mengalaminya pasti mencampur adukkan emosinya tetapi bagi yang sudah terbiasa semuanya bisa dihadapi dengan santai.

Simulasi adalah (1) metode pelatihan yang meragakan sesuatu dalam bentuk tiruan yang mirip dengan keadaan yang sesungguhnya; (2) penggambaran suatu sistem atau proses dengan peragaan berupa model statistik atau pemeranan (KBBI Offline). Merupakan peragaan situasi tertentu sebagai persiapan untuk menghadapi kejadian yang sesungguhnya. Selain itu, latihan ini juga berfungsi untuk membuat seseorang terbiasa terhadap perubahan situasi yang ekstrim agar kelak tidak terkejut. Peragaan semacam ini sudah dilakukan dibanyak tempat diseluruh bumi ini. Hanya saja banyak orang yang abai karena keadaan tersebut karena menganggapnya sebagai sebuah permainan yang tidak begitu berarti bahkan cenderung dipandang sebelah mata.

Latihan tidak hanya dibutuhkan di bangku sekolah dan kuliah saja. Ini tidak hanya diperlukan untuk lingkungan pendidikan formal maupun lingkungan pendidikan informal. Simulasi sesungguhnya berlaku untuk kehidupan sosial manusia. Sering sekali kita menyaksikan di televisi bagaimana ketika aparat keamanan mencoba menenangkan masa dalam simulasi konflik pasca Pemilu berlangsung. Ini adalah persiapan untuk menghadapi situasi yang sebenarnya yang kemungkinan lebih berat atau tidak tertutup kemungkinan menjadi lebih ringan.

Ada beberapa keuntungan dari simulasi yang sangat mencolok, yaitu kita bisa mengontrolnya sendiri, apakah terjadi pada kekuatan rendah, menengah atau tinggi. Setiap peserta bebas memilih bahkan tidak harus terbeban secara emosional saat mereka tidak mampu melakukan apa-apa. Ini dilakukan agar setiap orang mampu menilai dirinya sendiri sehingga menyadari sejauh mana kemampuan dan sejauh mana pula kelemahannya. Setiap latihan berlangsung, biasanya kemampuan peserta terus diasah menjadi lebih baik. Artinya, semakin banyak melakukan peragaan maka semakin mahir/ terbiasa menghadapinya pada situasi yang nyata kelak.

Bully dan ejekan verbal kerap kali terjadi di sela-sela aktivitas sehari-hari. Beberapa orang kadang tidak sanggup menghadapinya karena mereka terkejut sehingga beresiko memicu amarah dan kekerasan yang tidak terduga sebelumnya. Bila anda mampu melakukan simulasi terhadap bully/ ejekan verbal (baik tulisan maupun lisan) niscaya ada persiapan yang matang agar disaat-saat genting tersebut tidak terjadi kebingungan yang membuat anda kehilangan kendali, melampiaskan amarah/ kekerasan dan melakukan pelarian pada hal-hal yang negatif.

Cara Melakukan Simulasi terhadap Bully, ejekan dan penghinaan verbal sebagai persiapan agar terbiasa

Harap dipahami bahwa aktivitas menguji diri sendiri asalkan dilakukan secara terkendali tidak akan mengundang dosa. Artinya simulasi yang kita lakukan dengan hati-hati tidak membuat anda bersalah di hadapan Tuhan. Seperti yang dikatakan oleh rasul Paulus dalam suratnya yang berbunyi.

(I Korintus 11:31) Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita.

Mungkin di tempat lain atau lebih tepatnya di negara lain pelatihan semacam ini bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi komputerisasi yang canggih dan modern. Tapi tahukah anda bahwa otak manusia lebih canggih daripada komputer tersohor sekalipun? Anda bisa melakukan hal ini di dalam pikiran sendiri malahan manfaatnya lebih mantap daripada melakukannya di depan komputer. Berikut selengkapnya.

Tahapan persiapan.

  1. Fokus Tuhan.

    Ini adalah aktivitas yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan berpikir seorang manusia. Tidak ada hal yang begitu panjang dan lebar untuk dibahas-bahas di dalam hidup ini tetapi kita bisa senantiasa memusatkan pikiran kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian sepanjang waktu.

    Memusatkan pikiran kepada Tuhan membuat otak positif sehingga sikap yang diekspresikan juga turut menjadi positif atau tidak jauh-jauh dari hal yang positif.

    Kitapun dimungkinkan untuk menilai diri sendiri sepanjang waktu sebab saat kita tidak mampu fokus kepada Tuhan berarti sedang ada dosa yang mengganjal kehidapan ini. Jadi lewat aktivitas ini kita bisa mengoreksi diri sendiri. Biasanya sesuatu yang mengganjal itu tidak jauh-jauh dari dosa: iri hati, prasangka buruk, kesombongan, sungut-sungut, menyesali diri, menyesali orang lain, menyalahkan orang lain, menyalahkan Tuhan, menyalahkan nasib dan lain sebagainya. Minta maaflah terhadap semuanya itu, rendahkan hati dan murnikan pikiran dengan senantiasa berdoa, membaca firman dan bernyanyi memuliakan Allah kita.

    Aktivitas yang paling kami sukai dari semuanya itu adalah saat hati selalu bersyukur dan bernyanyi memuliakan Tuhan di segala waktu hingga ada sukacita yang terkendali, tenang dan damai yang memenuhi hati lalu meluap dalam senyuman mungil di bibir masing-masing.

  2. Lakukan kebaikan dan jadilah bermanfaat.

    Kita terpanggil untuk hidup bersama orang lain. Anda harus berbagi kasih kepada sesama. Tidak perlu yang rumit-rumit melainkan mulailah semuanya itu dari hal-hal sederhana. Misalnya dengan beramah tamah, jujur, setia, konsisten, peduli kepada  orang lain dan sebagainya. Lakukanlah semuanya itu seperti kepada Tuhan dan bukan untuk manusia agar setiap ekspresi tulus adanya.

  3. Bersikap rendah hati disegala waktu.

    Kami tidak bisa menjelaskan bagaimana persisnya sikap yang rendah hati. Intinya adalah orang yang rendah hati selalu hidup dalam kesederhanaan sekalipun gonjang-ganjing disekitarnya. Mereka juga dikenal sebagai individu yang mampu bertahan dalam tekanan, tidak suka membalas kejahatan, ramah dalam bersikap dan selalu mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi/ kelompok.

    Bila arogansi sempit di dalam hati masih sangat tinggi maka perlu langkah-langkah konkrit untuk melemahkan, menekan dan menghancurkan sifat-sifat semacam ini. Anda dapat mengatakan dalam hati sendiri: “Saya hanyalah debu-tanah, sampah tidak berguna. Semua ini harus terjadi. Hinakan saya di bawah kaki-Mu Tuhan.” Ini adalah simulasi pertama dalam praktek kehidupan.

  4. Memiliki persepsi positif terhadap masalah.

    Anda harus selalu siap menghadapi persoalan kehidupan. Jangan biarkan diri terlena dengan kenikmatan duniawi sehingga pikiran menjadi kosong terus-menerus. Sadarilah bahwa keadaan ini bisa membuat anda mengalami kejutan mendadak saat dihampiri oleh ujian sosial sehingga sikap menjadi amburardur/ kacau balau.

    Persiapkan hidupmu untuk menghadapi pergumulan hidup baik yang berasal dari seseorang maupun yang berasal dari sekelompok orang. Yakinlah bahwa masalah mampu membawa berkat oleh karena itu lalui semuanya dengan tulus hati sembari memaafkan pihak-pihak yang terlibat. Bahkan bila anda bisa mengerti dengan jelas manfaat dibalik semua ujian itu maka ada kata terimakasih yang terucap.

    Tahapan simulasi.

  5. Kenali kata-kata negatif yang membuat anda jengkel.

    Silahkan gali diri sendiri, gali masa lalu bahkan bisa juga dengan menanyakannya kepada orang terdekat: “Apa kata-kata (ungkapan) yang biasanya membuatmu jengkel?” Buat daftarnya dalam selembar kertas lalu hafalkan semua kata/ frase berupa ungkapan yang menjengkelkan itu.

    Andapun bisa mengenalinya dari bully, ejekan dan penghinaan yang dilakukan kepada orang lain tetapi sempat tertangkap oleh pengawasanmu. Ini adalah pengalaman yang langka, rekam itu semuanya kawan.

  6. Perkatakan sendiri itu dalam dirimu.

    Setelah menyelesaikan tahap awal sekarang masuk ke tahap yang ke dua, yaitu dengan mengatakannya sendiri sambil memohon kekuatan kepada Tuhan. Misalnya begini teman.

    Saya hanyalah debu-tanah, kuatkan hatiku Tuhan…
    Aku hanyalah sampah, kuatkan hatiku Tuhan…
    Kami hanyalah orang stres, kuatkan hatiku Tuhan…
    Saya hanyalah orang gila, kuatkan hatiku Tuhan….
    Saya hanyalah orang yang hina, kuatkan hatiku Tuhan….
    dan seterusnya.

    Dahulu yang kami sempat kami katakan adalah….
    Saya hanyalah orang cacat yang tidak berguna, kuatkan hatiku Tuhan….

  7. Sebutkan di dalam hati secara perlahan dan rasakan kepahitan yang ditimbulkannya.

    Dahulu kami bisa merasakan dengan pasti ketika kata-kata di atas disebutkan. Seperti hati ini diris-iris, rasanya perih sampai membuat jantung sakit. Nikmatilah moment ini kawan lalu biarkan saja rasa itu, jangan melawannya melainkan biarkan itu meresap ke dalam ulu hatimu.

  8. Lakukan secara terjadwal, 7 kali dalam sehari.

    Sebutkan kata-kata yang kerap kali membuat hati merasa ilfil bahkan sampai teriris-iris tersebut sebanyak 7 kali dalam sehari.

    Sebutkan dengan tempo perlahan sampai rasa perih itu berlalu/ berakhir lalu sebutkan lagi. Demikian selanjutnya sampai 7 kali.

    Jika rasa sakitnya masih kentara setelah 7 kali mengatakannya, silahkan hentikan lalu lanjutkan simulasi ini esok hari. Bila hari baru dimulai lagi ulangi hal yang sama seperti di atas sampai tujuh kali. Jika rasa sakitnya masih terasa setelah tujuh kali anda sebutkan silahkan berhenti dan ulangi esok hari. Akan tetapi jikalau rasa sakitnya tidak ada lagi, andapun tidak perlu melakukan itu di hari berikutnya.

  9. Simulasi tingkat dua, hadapilah pengabaian, ejekan, bully dan hinaan di media sosial.

    Kadang orang tidak menyadari bahwa internet dan media sosial sangat bermanfaat dalam tahapan simulasi kehidupan untuk membantu kita melatih diri menjadi lebih kuat tetapi tetap santun dalam bersikap.

    Pernahkan anda diabaikan, diejek, dihina, direndahkan dan dicela di media sosial, website, blog, forum dan situs lainnya? Mungkin anda pernah menyadarinya tetapi tidak begitu memperhatikan dan malah mengabaikan bahkan sampai memblokir teman yang melakukan aktifitas negatif tersebut.

    Sadarilah bahwa ujian sosial yang anda alami di media sosial dan internet adalah simulasi dari kehidupan yang sebenarnya. Jika anda mampu memaafkan orang-orang disana tanpa harus membalas kata-kata kasar yang mereka umbar, tidak memblokir mereka dan malah kembali menjawabnya dengan penuh keramahan. Niscaya perilaku semacam ini akan membantu anda belajar mengekspresikan hal yang sama di dunia nyata, yaitu tetap kuat menghadapi tekanan dan malah membalas semuanya itu dengan penuh keramahan.

  10. Simulasi tingkat tiga, suruh orang lain mengatakannya kepada Anda.

    Dalam simulasi ini, anda jelas membutuhkan seseorang untuk mengatakan kepadamu hal-hal yang tidak diinginkan tersebut. Arahkan teman untuk mengucapkan kata-kata tersebut kepada anda dengan nada tinggi seolah dia sedang marah. Harap diingat untuk tidak menjadikan kata-kata kotor itu sebagai bahasa sehari-hari melainkan pastikan bahwa semuanya disepakati dan diketahui oleh semua pihak.

    Disinilah kami bergerak dalam simulasi ramah tamah. Sebenarnya, kami juga merasakan sakit dahulu ketika keramahan ini diacuhkan oleh orang lain. Tetapi kami akhirnya belajar, saat dari rumah kita kuat maka kemana-manapun kita pasti menjadi orang yang kuat tetapi tetap santun kepada sesama.

    Ceritanya begini, kami ramah kepada semua adek-adek di rumah, baik saat datang, pergi dan makan. Keadaan inilah yang membuat hati menjadi terbiasa sehingga ketika diabaikan tidak ada lagi rasa sakit itu melainkan biasa saja sembari tetap bersyukur dan bernyanyi memuliakan Tuhan.

    Sebenarnya, kalau dipikir-pikir kami juga jengkel sama adek-adek ini, “masih orokan tapi sudah mengabaikan yang dewasa, tak jitak palanya nanti baru tau rasa wkwkwkkkkk.” Tetapi hati kami berpikir, “ini bagian dari ujian kehidupan yang manfaatnya dahsyat, kuatkan hatiku ya Tuhan.”

  11. Goal kita adalah terbiasa tetapi jangan lupa untuk selalu fokus Tuhan.

    Terbiasa, kedengarannya mudah tetapi ternyata sulit untuk mencapai titik ini. Hanya orang yang berjuang dalam ketulusanlah yang dapat mencapai semuanya itu. Sadarilah bahwa untuk menjadi pribadi yang bahagia, anda harus terbiasa menghadapi bully, ejekan, hinaan dan pengabaian semacam ini. Jika sesuatu sudah terbiasa maka semuanya akan dilalui dengan sukacita.

    Goal kita : hadapi dengan santai, terima apa adanya, maafkan semua orang, tersenyum ramah bahkan bila perlu ucapkan terimakasih.

    Harap diingat untuk selalu mengisi pikiran dengan hal-hall positif: fokus Tuhan (doa, firman, nyanyian pujian), pekerjaan dan pelajaran. Semuanya ini dapat mendatangkan sukacita di dalam hati masing-masing.

    Favorit kami adalah bersyukur sambil memuliakan nama Tuhan di segala waktu hingga hati dipenuhi rasa senang-sukacita yang terkendali, tenang dan damai lalu meluap dalam senyuman mungil dibibir masing-masing.

Simulasi menghadapi bully, ejekan dan penghinaan adalah sebuah langkah maju untuk mengantispasi gejolak sosial yang bersifat verbal (lisan maupun tulisan). Dalam latihan anda akan dipersiapkan untuk menghadapi rasa sakit yang mungkin terjadi. Terus-menerus melakukannya niscaya bisa membuat anda terbiasa sehingga rasa itu tidak ada lagi atau sekalipun ada dampaknya minimal. Harap diingat untuk selalu menyibukkan otak dengan hal positif (fokus Tuhan, bekerja, belajar) agar tidak terkejut lalu berlaku aneh-aneh saat mengalami situasi yang buruk itu. Bahkan andapun bisa berkata untuk menenangkan hati saat menghadapi ujian sosial : “INI HANYA SIMULASI UNTUK MEMBUAT SAYA MENJADI ORANG YANG LEBIH TANGGUH DAN DEWASA, KUATKAN HATIKU YA TUHAN.”

Salam tegar!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s