Kepribadian

+17 Faktor Penyebab Korupsi, Alasan Koruptor Marak – Apakah Orang yang korup itu bodoh?


Faktor Penyebab Korupsi, Alasan Koruptor Marak - Apakah Orang yang korup itu bodoh

Korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain (KBBI Offline). Menurut kami perilaku ini adalah wujud dari hawa nafsu seseorang yang sedang merasa kekurangan. Hal yang kecil darinya adalah mencuri. Awal mula dari perilaku ini adalah menyembunyikan sesuatu. Yang lebih parah dari itu adalah saat seseorang mengutil sesuatu yang bukan miliknya. Masih lebih jahatnya lagi adalah saat seseorang dengan sengaja dan terencana mencuri sesuatu dari sesamanya. Kemudian yang paling parah dari semuanya itu adalah ketika oknum tertentu merencanakan pencurian secara tersistem dari dalam yang disebut dengan korup.

Jaman sekarang pelaku korup bukan lagi dari kalangan rakyat jelata. Mungkin telah terjadi pergeseran moral disini. Justru orang yang baik adalah mereka yang tidak punya sekolah yang sehari-hari bekerja meladang. Sebab mereka hidup dari hasil jerih lelahnya sendiri sedang orang-orang yang berpendidikan tinggi dan memiliki jabatan masih saja gemar mencuri secara diam-diam. Sekarang timbul pertanyaan? Mungkinkah ini akibat dari kecerdasan yang terlalu tinggi? Sebab mereka terlalu liar mengkonsumsi Buah Pengetahuan Tentang Yang Baik Dan Yang Jahat. Orang-0rang ini terlena lalu mengira bahwa semua itu benar, padahal disana selalu terkandung yang baik dan yang jahat. Orang-orang cerdas tidak selektif mencerna informasi sehingga ketakutan terhadap masa depan yang buruk lalu menimbunlah (keserakahan) mereka untuk keuntungan pribadi.

Perilaku korupsi tidak manusiawi

Pada awalnya, perilaku ini terjadi karena kemiskinan. Ketika seseorang hidup melarat dalam kekurangan maka sisi manusiawinya hilang. Layaknya seorang singa yang sedamg kelaparan kemudian menyerang hewan lain yang ada didepannya bahkan kadang saat tidak ada jalan lagi, spesiesnya sendiripun akan dilahapnya. Perilaku korupsi lebih tidak manusiawi sebab orang-orang ini sesungguhnya sudah berkecukupan (tidak sedang kekurangan) namun masih saja merasa kurang ini dan kurang itu hingga mengembat yang bukan miliknya.

Sistem yang tertutup membuat praktek korup semakin tinggi

Korupsi adalah sebuah fakta yang menyatakan bahwa “dimana ada uang yang tertutup maka dsitupun syarat dengan perbuatan korup”. Perilaku ini tidak ada apabila uang itu dibagi-bagi dihadapan orang banyak melainkan selalu saja dibicarakan dalam acara-acara tertutup. Inilah yang sebenarnya menjadi penyebab utama perilaku korup yaitu “sistim yang tertutup”. Jika hal ini terus berlangsung maka kejahatan yang sama akan terus terulang untuk kesekian kalinya. sistem yang tertutup biasanya mudah dikendalikan sebab jumlah orang yang merapatkannya terbatas saja. Akan tetapi sistem yang terbuka untuk dikonsumsi secara publik (orang banyak) mustahil dapat dikendalikan oleh beberapa oknum.

Dimana ada ketidaksetaraan disitu ada koruptor

Budaya korup juga tercipta akibat gagalnya sistem keadilan sosial. Sebab ketidaksetaraan menciptakan kebiasaan lama yang disebut sebagai fusion antara kesombongan dan iri hati. Saat para pemimpin memperoleh benefit dan fasilitas yang lebih tinggi daripada bawahannya, secara otomatis (mungkin bukan keinginannya) keadaan ini membuatnya kerap kali menyombongkan diri. Bawahannya lantas berpikir bahwa menjadi kaya itu hebat, iapun turut mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Lagipula pemimpinnya sering melakukan hal yang serupa. Ini persis seperti kata pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”

Mungkinkah koruptor bodoh….

Korupsi juga turut di timbulkan oleh persepsi yang salah tentang kebahagiaan. Beberapa orang kurang fokus pada hatinya melainkan mereka lebih terlena dengan apa yang ada di depan matanya, yang ia dengarkan, yang dibaui, yang dikecap dan yang tersentuh olehnya. Kenikmatan duniawi telah membuat indra mereka terlena lalu menganggap bahwa itulah kebahagiaan. Padahal dengan berlaku demikian (sampai terlena) mereka akan ketergantungan dan bosan lalu menginginkan lebih lagi. Jika keadaan ini terus bisa dipenuhi niscaya waktu untuk menikmati hidup lebih banyak. Padahal saat menikmati sesuatu pikiran menjadi kosong. Artinya, terlalu banyak menikmati hidup dapat menurunkan kecerdasan. Jadi muncul sebuah pertanyaan, “apakah orang yang korup itu bodoh?”

Pernahkah anda melihat seorang bayi? Biasanya anak yang masih tidak bisa bicara ini bahagianya harus dibantu oleh orang tua. Bisa juga saat saudara-saudaranya bermain bersama, barulah mereka tersenyum bahkan tertawa juga. Saat kita masih bayi, kebahagiaan di dalam hati diperoleh dari luar tetapi saat sudah dewasa, masing-masing dimungkinkan untuk membuat bahagianya sendiri. Jadi koruptor yang menjadikan uang sebagai sumber kesenangan hidup sama seperti seorang bayi yang penghiburannya itu berasal dari orang-orang disekitarnya. Mereka tidak mampu membuatnya sendiri karena materi telah menurunkan tingkat kecerdasannya.

Faktor yang mempengaruhi perilaku korupsi diantara manusia

Saat kejujuran semakin lowong, semakin tinggi pula resiko korup. Sedang budaya jujur itu dimulai sejak masa kanak-kanak. Tetapi apalah gunakan kita jujur selagi masih bocah jikalau saat menghadapi ujian kehidupan yang menawarkan uang, diri ini tergiur untuk mengambil sesuatu tanpa seizin pemiliknya. Oleh karena itu, biasakan diri untuk tulus dari kecil dan hadapilah ujian tentang kenikmatan duniawi dengan tegar niscaya sifat ini akan menjaga anda tetap jujur seumur hidup. Berikut selengkapnya alasan mengapa seseorang suka melakukan kebiasaan buruk yang tergolong tidak manusiawi ini.

Faktor personal dan intrapersonal.

  1. Kesombongan pemimpin.

    Inilah akibatnya ketika tidak ada kesetaraan diantara para karyawan/ pegawai dalam suatu organisasi. Pemimpin sudah duitnya banyak dan fasilitasnya melimpah niscaya cara jalan dan cara bicaranya juga berubah. Orang yang dahulunya baik dan rendah hati tabiatnya berubah menjadi angkuh luar biasa dan sangat korup. Tetapi fasilitas dan gaji yang mereka terima telah menurunkan tingkat kecerdasannya sebab kenikmatan duniawi telah menawan dan membuatnya terlena. Pikirannya saat ini lebih banyak kosong sehingga ketergantungan akan materi membuatnya berpikiran untuk mempertahankan rasa sombong itu. Padahal semua ada masa jabatannya. Oleh karena itulah dia korupsi agar tetap bisa bersikap angkuh sekalipun sudah turun gunung kelak.

  2. Iri hati bawahan.

    Tanpa kesetaraan iri hati akan tumbuh dengan subur. Orang yang di bawah melihat yang di atas, mereka akan meniru perilaku yang di atas. Saat prang-orang atas sangat angkuh dalam bersikap, seolah-olah mereka adalah segalanya. Sedang kemewahan dan gemerlapan duniawi membuat mereka terlihat sangat senang menikmatinya. Orang yang melihat mereka akan iri karena keadaan tersebut sehingga muncullah niat untuk memiliki hal yang sama dengan cara menghalalkan segala cara pada tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya, salah satunya dengan korupsi.

  3. Pemimpin menjadi contoh buat bawahannya

    Perilaku korup di mulai dari atas ke bawah. Saat orang-orang yang ada di atas gemar melakukannya niscaya bawahan yang melihat/ menyaksikan atau setidak-tidaknya merasakan hal tersebut juga akan menirunya. Mulailah korupsi itu menyebar sebab bawahannya ingin menjadi seperti pemimpinnya. Belum lagi jikalau bawahannya ini juga memiliki kekuasaan untuk melakukan semuanya itu, tentu saja jumlah yang mereka gelapkan lebih rendah dari jumlah yang digelapkan oleh sang junjungan tertinggi.

  4. Balas dendam terhadap masa lalu.

    Orang yang masih menyimpan dendam di dalam hati tidak cocok untuk menduduki jabatan tertentu. Sebab lewat posisi yang diberikan kepadanya nantilah ia akan melampiaskan semua unek-unek yang dahulu dialaminya. Oleh karena itu masing-masing orang harus melalui ujian kehidupan agar hatinya dimurnikan dari semua yang jahat.

    • Balas dendam karena masa lalu yang suram.

      Orang yang tidak lulus dalam menjalani ujian sosial cenderung menyimpan dendam sekalipun masalah itu telah lama berlalu. Mungkin seorang manusia kehidupannya di masa lalu sangat miskin dan jauh dari kata sejahtera. Sedang saat ini dia ditempatkan bersama seorang teman di lahan-lahan yang penuh dengan pengelolaan uang. Akibatnya, diapun balas dendam terhadap masa lalu yang suram dan berjanji bahwa dirinya tidak akan sama seperti dulu lagi. Ia mengambil untung sebanyak-banyaknya agar kehidupan ke depan bisa terjamin. Satu-satunya cara mencapai target “sebanyak-banyaknya” adalah dengan melegalkan segala cara, yaitu korupsi.

    • Balas dendam atas penghinaan di masa lalu.

      Orang yang tidak mampu memaafkan diri sendiri, tidak mampu juga memaafkan sesamanya. Mereka terus dipenuhi dendam dalam hati karena tidak mampu menerima masalah sebagai ujian sosial yang bermanfaat. Seorang teman hidupnya sedang tidak beruntung saat ini. Ia mengalami banyak-banyak penghinaan dan ejekan oleh karena keberadaannya yang lemah & kurang terpandang. Pada satu titik balik keberuntungan hidup, iapun dipercayakan untuk menempati jabatan tertentu. Lantas saja ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membalas dendam kepada semua orang yang pernah merendahkannya dahulu. Ia melakukan tepat seperti apa yang dilakukan orang lain untuk melampiaskan luka lama itu dengan cara pamer harta kekayaan yang melimpah ruah. Padahal semuanya itu diperoleh lewat korupsi.

    • Balas dendam atas pengeluaran yang dikorbankan selama ini.

      Saat seseorang menduduki suatu jabatan dengan mengorbankan sejumlah uang niscaya ini dilakukan bukan tanpa sadar alias tidak ikhlas. Biasanya jumlah uang yang dikorbankannya dahulu untuk menjadi seorang kepala daerah pastilah akan dapat dikeruk kembali lewat kekuasaan yang diperoleh. Balas dendam semacam ini adalah budaya korupsi yang paling klasik di Indonesia. Bahkan bisa dikatakan bahwa apa yang berhasil dikeruknya melebihi uang yang telah dikorbankannya dahulu (tidak ada orang yang mau kalah judi 😀 😀 😀 ).

  5. Pemahaman bahwa uang adalah segalanya sumber kebahagiaan.

    Anggapan semacam ini akan muncul di permukaan jikalau anda lebih fokus terhadap hal-hal materi. Orang yang sudah membiasakan indranya untuk terus terlena dengan hal-hal duniawi akan beranggapan bahwa kenikmatan duniawi adalah segalanya. Mereka akan mempertahankan hal ini dengan cara memanfaatkan posisi yang ditempatinya untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya, salah satunya dengan korupsi di sana dan disitu.

  6. Aktivitas kurang – otak kurang cerdas – kurang bahagia.

    Terlalu lama menikmati hidup membuat pikiran manusia kosong. Ini akan menurunkan kecerdasan sehingga untuk bahagia dia membutuhkan hal-hal lain yang ada di dunia ini. Layaknya seorang anak kecil yang harus dihiburkan oleh orang tuanya untuk menjadi bahagia demikian juga orang-orang yang kurang cerdas tidak mampu menemukan penghiburan di dalam hatinya. Salah satu alternatif penghibur yang ada adalah lewat kenikmatan duniawi yang ada disekitar, sedang semuanya itu membutuhkan uang. Padahal keinginan itu sendiri semakin berkembang hari lepas hari. Lantas saja ia mulai mencari jumlah uang yang lebih untuk menjalankan hawa nafsunya dengan cara memanfaatkan posisi yang dipercayakan kepadanya untuk melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

  7. Hawa nafsu tinggi terhadap kemewahan.

    Mereka tidak mampu mengendalikan hawa nafsu sendiri. Belum mampu memanajemen keinginan sehingga tidak dapat membedakan dimana yang benar-benar kebutuhan dan dimana yang hanya sekedar nafsu yang tidak penting. Kemampuan untuk mengenali hal ini hanya diberikan kepada orang yang juga sanggup menghadapi ujian sosial. Sebab orang yang mampu melewati pencobaan sanggup membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Tanpa disadari oleh orangnya, sesungguhnya persoalan yang kita hadapi sehari-hari meningkatkan kecerdasan dan kesadaran masing-masing.

    • Hawa nafsu tinggi setelah menonton televisi dan media lainnya.

      Orang yang tidak bisa mengendalikan indra akan sangat mudah dihasut oleh iklan yang ada di televisi. Mereka menginginkannya lalu memanfaatkan jabatan yang dimiliki untuk mewujudkan keinginan yang tidak penting itu.

    • Hawa nafsu tinggi lewat teman kerja.

      Orang yang hidup bersama orang-orang korup lainnya cenderung meniru kebiasaan tersebut. Terlebih ketika temannya itu juga mengatakan kepadanya, “Cobain deh, nikmat lho teman…. Semua ini bisa kamu miliki jika korupsi berjamaan bersama saya, mari lakukan sebelum ada yang melihat!” Akhirnya si kawan juga menjadi koruptor kelas teri.

  8. Kebiasaan tidak sabar.

    Mereka yang tidak sabar dalam menempuh kehidupan ini akan cenderung menghalalkan segala cara untuk meraih apa yang diinginkannya. Padahal keindahan sebuah perjuangan diperoleh dari proses bukan dari hasilnya. Sedang orang yang tidak sabaran cenderung sangat fokus dengan hasil (goal) sehingga ada potensi besar untuk melegalkan segala cara meraihnya. Terlebih ketika posisinya sudah baik dan mantap dalam suatu organisasi.

  9. Ketergantungan hidup bermewah-mewahan.

    Sikap yang ketergantungan dimulai dari aktivitas yang selalu rutin dilaksanakan. Orang yang membiasakan diri untuk mengkonsumsi sesuatu niscaya berpotensi besar untuk candu terhadap hal tersebut. Bahkan ketika kbiasaan konsumsi itu di tingkatkan lagi (lebih sering) niscaya akan mati rasa lalu mengingikan sesuatu yang lebih bernilai ketimbang yang sebelumnya. Iapun menyadari keadaan ini lalu akan mempertahankannya sedemikian rupa. Sedang jabatan yang diberikan kepadanya memiliki tempo yang sangat singkat. Akhirnya memutuskan untuk memanfaatkan hal tersebut mencari lebih banyak dengan jalan melakukan berbagai penggelapan.

    Orang-orang ini juga ketergantungan dengan gaya hidupnya. Pakaian yang digunakan, sepatu yang dikenakan dan kendaraan yang dikenakan. Belum lagi masalah pamor uang yang mereka bayarkan untuk dana amal. Apa ada lagi dana amal yang sebesar itu ketika sudah lengser dari jabatan? Inilah yang dijaga oleh manusia-manusia korup agar nama mereka tetap berada pada kelas tinggi di telinga masyarakat. Padahal semuanya itu dari hasil dosa.

    Ketergantungan terhadap kemewahan bisa jadi sebuah pertanda bahwa seseorang sangat candu dengan kenikmatan dan kemuliaan duniawi. Rasa candu ini jika dibiarkan terus-menerus akan berujung menjadi keserakahan sebab yang namanya hawa nafsu tidak pernah ada matinya malah semakin lama semakin besar saja. Lagipula, ketika kita ketagihan terhadap sesuatu ada kemungkinan menjadi bosan lalu menginginkan lebih. Ketika rasa jenuh itu muncul kemudian menginginkan lebih lagi dimana ini akan terus saja meningkat dari tahun ke tahun: keadaan inilah yang membuat orang serakah. Tentu saja semua ketamakan itu membutuhkan modal besar yang diperoleh dari praktek korupsi.

  10. Biaya hidup semakin tinggi.

    Orang yang tidak mampu mengendalikan diri juga tidak mampu mengendalikan kebiasaan belanja. Bukan karena mereka miskin dan terbatas penghasilannya melainkan karena mereka membiarkan hidupnya digiring (dikontrol) oleh trend di pasar. Orang-orang ini akan membeli sesuai dengan iklan yang dilihatnya sedang iklan tersebut berubah terus dari bulan bahkan dari minggu ke minggu. Akhirnya, tingkat belanjanyapun akan meningkat tajam dari tahun ke tahun padahal pendapatannya tidak banyak berubah. Karena biaya hidup yang semakin tinggi, iapun menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginan tersebut dengan cara melakukan korupsi pada bidang-bidang yang berada di bawah kekuasaannya.

  11. Kurang paham aturan

    Sifat yang satu ini memang edan. Untuk apa seseorang menjadi presiden/ walikota, gubernur, bupati (eksekutif) dan anggota dewan (legislatif) jika tidak mengenal aturan yang berlaku? Ini sungguh sebuah ironi; alangkah lebih baik untuk tidak mencalonkan diri sejak dari awal jikalau memang tidak tahu menahu dengan aturan yang berlaku di tempat tersebut. Salah-salah sedikit dalam memanajemn uang akan menjebak anda ke dalam perselisihan yang sengit. Oleh karena itu, kenali baik-baik aturan yang sensitif yang berhubungan dengan uang.

    Sistem yang perlu diperbaharui.

  12. Sistim yang tertutup.

    Saat suatu sistem tertutup mengadakan rapat, hanya beberapa orang saja yang hadir sebab kerahasiaan keungan yang mereka sedang bicarakan hanya diketahui oleh mereka. Ini membuat segala aliran keuangan bisa diatur oleh orang-orang tersebut. Kalaupun mereka melakukan korupsi pastilah semuanya di bagi rata dan dapat dirahasiakan satu-sama lain. Ketahuilah bahwa “dimana ada rahasia maka disanalah terdapat kebohongan.” Coba saja data keuangan tersebut dilemparkan ke publik sampai detail kecilnya niscaya kemungkinan untuk melakukan aksi-tipu-tipu semakin tipis saja.

  13. Kekuasaan yang terlalu besar.

    Pengaruh kekuasaan yang terlalu luas membuat seseorang bisa melakukan apa saja saat menjalankan semuanya itu. Ini semakin diperparah dengan keberadaan sistem yang serba tertutup sehingga segala sesuatu bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sebaiknya suatu kekuasaan disetarakan dengan posisi lainnya agar perilaku mengotak-atik kewenangan demi kepentingan pribadi tidak terjadi lagi.

    • Menjual jabatan.

      Orang yang ada dalam kekuasaan besar tak terbatas mampu mengendalikan seluruh sistem yang ada. Bahkan ia bisa mengatur siapa yang harus bekerja dan siapa yang tidak. Sadarilah bahwa kekuasaan semacam ini akan mendorong seseorang untuk menjual jabatan tertentu (yang ada di bawah kekuasaannya) demi keuntungan pribadi. Para pejabat yang membeli jabatan inipun tahu betul bahwa lahan yang mereka tempati adalah lahan basah sehingga berani di beli dengan harga selangit.

    • Menempatkan saudara/ kenalan didekatnya.

      Orang yang saling kenal satu sama lain secara hubungan darah lebih cocok dan serasi untuk melakukan korupsi berjamaah. Mereka akan menjalaninya dengan sangat rapi tanpa ada seorangpun yang mengetahui kecuali jika ditelaah lebih dekat dengan seksama.

    • Mengambil barang yang berada di bawah kuasanya.

      Mereka dengan wewenang khusus apalagi pemimpin tertinggi memiliki hak pakai atas aset tertentu. Pertanyaannya adalah apakah hak pakai ini hanya berlangsung selama menjabat atau bisa dibawa pulang ke rumah untuk dijadikan miliki pribadi. Kejelasan tengang semua keadaan ini hanya diketahui oleh orang tersebut dalam sistem yang tertutup.

  14. Ada celah dalam peraturan.

    Sebenarnya, siapakah orang yang membiarkan timbulnya celah dalam suatu peraturan? Bukankah peraturan itu dibuat dan dijalankan sendiri oleh penguasa yang bersangkutan. Keadaan ini membuat seorang penguasa bisa mengatur dirinya sendiri sesuai dengan keinginannya yang membuatnya semakin beruntung. Orang-orang yang membuat peraturan sengaja menciptakan celah yang membuat dirinya semakin beruntung. Oleh karena itu, adalah “lebih baik jikalau orang yang membuat aturan tidak sama dengan orang yang melaksanakan aturan tersebut agar mereka tidak menghasilkan peraturan yang membuat dirinya beruntung.”

  15. Sistem yang terlalu fokus pada uang.

    Sistem yang kita miliki saat ini terlalu fokus kepada uang, dikit-dikit uang, dikit-dikit uang. Mau kasih penghargaan, uang; kasih jabatan uangnya lebih tinggi. Sebenarnya uang inilah yang merusak kehidupan manusia. Terlebih ketika sistem yang ada juga menimbang segala sesuatu dari segi materi.

    Justru, fluktuasi uang untuk setiap jabatanlah yang membuat manusia semakin tergiur dengan materi dimana orang-orang yang berada di bawah akan berlomba-lomba untuk mencapai puncak, salah satunya dengan korupsi.

  16. Kerja sama dalam berkorupsi.

    Sistem yang tertutup ini membuat kerja orang-orang di dalamnya sangat rahasia sehingga segala aliran keuangan bisa diatur sesuai dengan keinginan mereka. Keadaan ini turut di dorong oleh hawa nafsu yang tamak terhadap materi. Mudah untuk membagi-bagikan uang yang jumlahnya miliaran rupiah kepada beberapa orang saja sebab semuanya rahasia. Inilah yang disebut dengan korupsi berjamaah.

    Saat semua pihak yang terkait menyetujui penggelapan dana tertentu (korupsi) maka mereka akan menciptakan celah sekaligus kesempatan untuk memiliki lebih banyak uang lagi. Perilaku semacam ini tidak akan terbongkar kecuali salah satu diantaranya mengakui, begitulah rapinya kasus kejahatan ini akan terus tersembunyi sampai ada yang mengaku. Tetapi mana ada penjahat yang mau mengakui kejahatannya? Jadi, bisa dikatakan bahwa korupsi berjamaah adalah kejahatan yang hampir mustahil untuk dibongkar karena melibatkan hampir semua pihak.

  17. Pengawasan dan penuntutan oleh penegak hukum rendah, lagipula hukumannya ringan.

    Biar bagaimanapun pengawasan yang dilakukan, saat segala sesuatu belum setara, yakinlah bahwa aksi-aksi manipulatif dan korupsi akan kerap terjadi di segala lini kehidupan, dimanapun itu. Selama sistem masih tertutup untuk kalangan tertentu saja maka selama itulah sebuah organisasi akan terus-menerus korup.

    • Oknum Kepolisian hukum bisa di bayar.
    • Juga oknum hakim yang bisa disogok.
    • Proses peradilan bisa diatur.
    • Penegak hukum ada hubungan darah dengan pelaku.
    • Hukuman korupsi yang sangat rendah: bisa di bayar pakai uang, dikurangi ini-itu (grasi-amnesti) dan hanya menjalani sebagian saja dari masa hukuman.
    • Fasilitas penjara yang tergolong mewah.
    • Oknum lapas yang bisa disogok.
    • dan lain sebagainya.
  18. Tidak adanya jaminan kesejahteraan di masa depan.

    Para pejabat ini sangat khawatir tentang masa depan. Terlebih tentang isu pemanasan global yang kelak dikatan sebagai suatu bencana yang akan membunuh orang-orang yang tidak memiliki uang. Keadaan ini membuat para koruptor keteteran sehingga mereka mempersiakan dana sebanyak-banyaknya untuk menghadapi situasi tersebut. Padahal perilaku mereka yang suka mewah-mewahan itulah yang menyebabkan pemborosan sumber daya dan energi sehingga beresiko menghabiskan bahan bakar yang tersedia.

    Lagipula mereka sudah terbiasa dengan belanja kebutuhan tinggi, padahal jabatan itu hanya sampai lima atau sepuluh tahun saja. Lalu bagaimana mereka memenuhi kebutuhan setelah tahun kesepuluh itu berakhir? Salah satu caranya untuk memenuhi kebutuhan itu adalah dengan korupsi. Menumpuk sebanyak-banyaknya aset saat masih menjabat agar begitu lengeser asetnya bisa awet sampai tujuh turunan. 😀

  19. Masuk dalam jebakan batman.

    Seseorang bisa saja dituduh korupsi padahal dia tidak melakukan apapun. Melainkan telah dijebak oleh kawan sendiri untuk melakukan hal tersebut. Inilah resiko pekerjaan tinggi tanpa keadilan sosial. Seandainya kekuasaan yang ada di bawahnya tidak sebesa itu niscaya semua pasti bisa lancar. Semua seperti kata pepatah, “semakin banyak kelebihan maka semakin baragam pula cobaan.” Oleh karena itu berhati-hatilah anda sebagai seorang pemimpin agar tidak terburu-buru lalu ceroboh dalam bersikap.

Dimana ada yang tersembunyi, disanalah para koruptor berkeriapan; dimana ada rahasia, disanalah budaya korupsi semakin subur.” Kebiasaan buruk ini bukanlah suatu kegagalan individu melainkan kegagalan seistem. Tetapi dari manakah sistem yang baik jikalau tidak ada indivdu yang baik? Dua hal ini saling berkaitan satu-sama lain sehingga menghasilkan orang-orang korup. Sadarilah bahwa sifat korup tidak akan memuaskan anda melainkan akan terus dahaga oleh hal-hal materi. Ketahuilah bahwa roh manusia berasal dari Tuhan, untuk memuaskannya juga dibutuhkan sesuatu yang berasal dari Tuhan. Sedang materi yang ada hanya menambal-nambal kebutuhan hati anda yang sedang kosong. Sebanyak apa materi yang anda miliki kawan? Sekalipun anda memiliki uang banyak namun kecemasan dan kegelisahan akan menghantui tidur panjangmu sampai-sampai anda sendiri ketakutan berpapasan dengan anak dan istri (suami kalau anda perempuan).

Salam keterbukaan!

1 reply »

  1. I have checked your page and i have found some duplicate content, that’s why you don’t rank high in google’s search results, but there is a tool that can help you to create
    100% unique content, search for; Boorfe’s tips unlimited content
    Joy33.wix.com

    Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.