Gejolak Sosial

Ilmu Pengetahuan & Teknologi Buah Simalakama, Pedang Bermata Dua Menjadi Dosa Tanpa Kasih (Kebenaran) Manusia Saling Memanipulasi

Ilmu Pengetahuan & Teknologi Buah Simalakama, Pedang Bermata Dua Menjadi Dosa Tanpa Kasih (Kebenaran) Manusia Saling Memanipulasi

Manusia dengan seluruh kebanggaannya adalah sampah. Kita membanggakan sesuatu yang diawali dengan dosa, yaitu pengetahuan yang dicuri dari Pohon Pengetahuan Tentang Yang Baik Dan Yang Benar. Ternyatalah bahwa semua hasil ilmu dan teknologi ini diperoleh dari hasil mengambil tanpa seizin dari Allah. Apapun itu pelanggaran tetaplah dosa yang akan mendatangkan maut. Itulah yang terjadi sampai sekarang ini. Manusia memang jago mengutil dari Penciptanya dan itupun masih kita praktekkan sampai sekarang.

Terlalu fokus kepada indra dan dunia ini membuat hawa nafsu menjadi-jadi

Clue-nya pengetahuan yang menghasilkan teknologi hanya mendorong kita dalam kematian rohani dan badani semata. Keadaan ini diperparah dengan adanya hawa nafsu yang tinggi di dalam hati. Saat hawa nafsu dan kecerdasan bergabung maka jadilah ia keserakahan/ ketamakan. Mereka yang tamak tidak akan lagi mengenal kebenaran melainkan lebih mementingkan bagaimana keinginannya dapat terwujud. Bahkan ia sendiri sampai tidak sadar bahwa setelah memenuhi nafsu yang satu maka akan muncul keinginan lain yang kadang lebih besar dari sebelumnya.

Kita terjebak dalam hawa nafsu yang sesat selama berhari-hari, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun. Diri ini tidak mampu lagi memahami mana yang benar dan mana yang salah. Pikiran tidak lagi mengingat, yang mana perintah Allah dan yang mana larangan-Nya. Hidup dikuasai oleh hawa nafsu karena kita terlalu fokus dengan materi. Hari-hari kita lalui dengan menikmati hidup tanpa memberikan manfaat apa-apa kepada orang lain. Pikiran selalu kosong dan Tuhan tidak ada lagi di dalam hati. Keadaan inilah yang membuat hawa nafsu kita semakin tinggi.

Manusia selalu ingin menjadi seperti pemimpinnya: seperti apa rupanya orang yang memimpin mereka?

Banyak sekali hal yang dapat kita kuak dari kejadian di Taman Eden. Seperti telah kami katakan pada bagian sebelumnya bahwa manusia telah dikuasai oleh rasa iri hati dari zaman ke zaman demikian pula kecemburuan nenek moyang kita terhadap Allah dahulu. SELAMA TIDAK ADA KESETARAAN KECEMBURUAN ITU TETAP ADA, ini fakta dan bukan sekedar omong kosong. Jadi pada hakekatnya, setiap orang ingin menjadi seperti pemimpinnya: bila pimpinan punya mobil maka semua juga ingin mobil; jika atasan punya rumah mewah maka semua juga mau punya rumah mewah; ketika atasan memiliki home cinema/ 3D sound/ dan lain sebagainya. Itulah yang mereka ikuti di dalam hatinya dan ini sudah terjadi berulang-ulang kali sejak dari awal penciptaan.

Manusia menginginkan kemuliaan Allah lalu mereka mencuri dari Pohon Pengetahuan Yang Baik Dan Yang Jahat. Bawahan ingin kaya seperti pemimpinnya lalu mereka korupsi, kolusi dan nepotisme bahkan ada juga lho yang berani mencuri/ maling di rumah atasannya. Ini adalah pola-pola yang sudah terulang selama jutaan bahkan miliaran kali dalam berbagai kehidupan manusia. Mengapa kita tidak belajar dari situasi tersebut? Ada apa dengan semua daya analisis yang kita miliki, sehingga menolak kesetaraan manusia? Sadarilah bahwa tanpa kesetaraan maka kehidupan manusia di dunia ini akan di giring dalam kehancuran akibat eksplorasi ilmu pengetahuan yang berlebihan.

Pengetahuan yang kita curi dari Tuhan adalah buah simalakama

Seperti tertulis jelas dalam Kitab Suci bahwa ilmu yang kita miliki dicuri dari Pohon Pengetahuan Tentang Yang Baik Dan Yang Jahat. Dari namanya saja, kita sudah mengerti bahwa pohon ini menghasilkan buah simalakam, yaitu baik dan jahat. Sekarang pedang bermata dua itu telah diserahkan di tangan kita masing-masing, mana yang anda pilih, menggunakannya untuk kebaikan atau menggunakannya untuk kejahatan? Disinilah banyak orang-orang cerdas terjebak dalam hawa nafsunya sendiri. Mereka berpikir untuk mengambil keuntungan dari ilmu tersebut sedang orang lain dibuatnya rugi sedikit demi sedikit.

Keuntungan dan kerugian adalah setara-seimbang oleh sebab itu keadilan sosial sangatlah penting

Perlu anda ketahui bahwa dimana ada keuntungan maka disanalah juga terdapat kerugiaan sebab dunia ini telah diciptakan seimbang dari sononya. Misalnya saja, saat kita mengkonsumsi sesuatu berarti barang tertentu akan berkurang (dirugikan) sedangkan diri sendiri diuntungkan (jadi kenyang). Demikian juga saat kita menebang pohon untuk keperluan membuat rumah, lingkungan dirugikan sedangkan kita diuntungkan. Itu jugalah yang terjadi saat kita menggunakan mesin berteknologi, pemanfaatannya lebih praktis tetapi secara fisik dan mental kita dirugikan sebab aktivitas berkurang dan kecerdasan menurun.

Tanpa kesetaraan, keuntungan yang kita peroleh secara otomatis merugikan orang lain. Misalnya saja saat menjual sesuatu, kita beroleh surplus maka sudah pasti secara tidak sadar beberapa orang berkurang uang di dompetnya. Jadi saat kita untung terus berarti orang lain selalu rugi. Lalu dari semua keuntungan tersebut, kitapun membeli ini-itu, membangun rumah mewah, membeli kendaraan berkelas dan lain sebagainya. Kita merasa beruntung dengan semua itu, padahal dengan berlaku demikian kita menekan lingkungan, memenuhinya dengan polutan dan limbah yang berserakan dimana-mana. Belum lagi masalah iri hati dan kesombongan yang kita timbulkan di tengah masyarakat. Inilah yang terjadi ketika ketidaksetaraan melimpahi kehidupan masyarakat.

Dampak buruk ilmu pengetahuan dan teknologi

Ada banyak sekali dampak negatif dari keilmuan yang dimiliki oleh manusia. Pada umumnya semua itu akan merusak secara perlahan tetapi pasti. Beberapa berlangsung cepat tetapi kebanyakan berlangsung cukup lama bahkan sangat lama. Berikut akan kami utarakan beberapa.

  1. Mendorong kita untuk mengeksplorasi alam sekitar secara berlebihan hingga merusaknya juga.
  2. Manusia ingin menjadi kaya-raya lalu memanipulasi (menipu) orang lain untuk beroleh keuntungan.
  3. Orang-orang menciptakan sistem yang menciptakan strata sosial alias kasta dalam perolehan gaji.
  4. Pihak yang memiliki uang banyak terlena dengan semua materi itu sehingga membuat mereka lebih fokus pada hal-hal duniawi ketimbang kepada hal-hal sorgawi.
  5. Manusia bergaji tinggi, lebih banyak duduk dan santai sehingga kehidupannya disibukkan untuk mengikuti trend pasar.
  6. Orang-orang yang tinggi penghasilannya, sangat konsumtif. Mereka menjadikan materi sebagai sumber kesenangan/ kebahagiaannya.
  7. Bawahannya juga turut mengikuti kebiasaan yang konsumtif tersebut, beberapa mengambil pekerjaan tambahan, yang lainnya tipu sana-sini demi uang yang lebih banyak.
  8. Manusia yang hidup dalam logikanya semata sangat egois dan tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya. Mungkin keadaan ini disebabkan oleh karena terlalu banyak menyendiri di depan peralatan teknologi tinggi. Akibatnya ia merasa mesin lebih penting ketimbang sesama manusia. Karena semua di hendle mesin sedang aktivitasnya minim dan otak cenderung kosong niscaya orang-orang semacam ini sangat dekat dengan kebodohan.
  9. Semua pihak secara bersama-sama terlibat konspirasi manipulatif untuk mengeruk untung dari sesama sebanyak-banyaknya demi memenuhi hawa nafsunya yang semakin tinggi.
  10. Kebiasaan mereka yang konsumtif telah menghasilkan polutan dan limbah dimana-mana. Belum lagi masalah polusi yang disebabkan oleh kendaraannya. Juga masalah hutan dan pepohonan didalamnya yang ditebangi untuk rumah mewah plus-plus.
  11. Pada akhirnya, ini akan menciptakan kerusakan lingkungan dimana hujan tidak lagi turun pada waktunya, udara sangat panas dan tanah tidak lagi subur. Jadi keadaan ini akan membuat masyarakat sangat ketergantungan dengan bahan bakar minyak sebab air di kirim oleh mesin ke segala penjuru, rumah didinginkan dengan AC dan kemana-mana harus menggunakan mobil.
  12. Bahan bakar minyakpun habis: pergerakan ekonomi dan politik terhenti. Sedang dimana-mana terjadi peperangan untuk memperebutkan energi fosil yang tersisa.
  13. Kiamat/ akhir zaman.

Ilmu pengetahuan dan teknologi harus berlandaskan kasih (kebenaran) agar tidak menyebabkan kehancuran

Efek ganda dari pengambangan iptek haruslah diwaspadai sejak dini. Sebab keadaan ini mendorong manusia menjadi terlena dan kurang aktif menjalani hidup. Mereka lebih memilih duduk santai di dalam rumah untuk menikmati hidup sedang semua trend dimasukkan ke dalam kepalanya oleh berbagai media. Orang-orang ini tidak mampu lagi menemukan kebahagiaannya sendiri sebab kecerdasannya telah menurun. Justru keinginannya akan hal-hal duniawi semakin bertambah dan berkembang hari demi hari. Sedang kesombongan (berpakaian dan bergaya bak artis) yang telah dibawanya di tengah masyarakat telah mendatangkan iri hati. Terlebih ketika dia adalah orang penting maka semua yang dekat dan jauh turut pula mengikuti gaya hidupnya yang konsumtif.

Tanpa kesetaraan, manusia akan berkembang dalam pola-pola kesombongan dan iri hati. Sebenarnya sombong itu tidak kita sadari, memiliki sesuatu yang lebih tinggi dan besar dari kehidupan kita juga merupakan sebuah kesombongan yang jelas-jelas memancing kecemburuan. Sedang manusia terlalu sibuk untuk menikmati hidup, berbagai lini di dalam masyarakat masih jauh dari kemajuan terutama di daerah-daerah terpencil. Masih ada banyak orang yang belum mengecap kemakmuran pangan, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya. Tanpa keadilan sosial, secara tidak sengaja kita mengambil hak-hak orang lain untuk ditumpuk di kantong/ di rumah/ di rekening sendiri.

Adalah kasih yang dapat menetralkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terlalu tinggi. Karena mengasihi sesama seperti diri sendiri demikianlah kita menjunjung tinggi dan memperjuangkan kesetaraan. Kita peduli dengan orang lain, peduli dengan keberadaan air dirumahnya, perhatian dengan suhu udara dikamarnya dan mau agar ia tetap berhasil mengerjakan ladangnya. Dengan demikian kita mulai mengurangi jumlah konsumsi yang dilakukan, tidak lagi membangun rumah yang mewah-megah, berhenti menggunakan kendaraan yang boros dan aktivitas lainnya yang menuntukkan bahwa kehidupan kita kini lebih sederhana dari yang sebelumnya.

Bila kita mengasihi Tuhan sebagai Sang Pencipta maka hanya dari-Nya sajalah kita beroleh kebahagiaan yang abadi. Di dalam kesyukuran hidup dan nyanyian yang kita lantunkan hari demi hari, disana ada ketenteraman dan kedamaian yang sejati. Bila mengasihi Allah maka kita juga mengasihi anak-anak-Nya yang lainnya. Orang yang mengasihi sesamanya seperti diri sendiri pastilah juga akan mengasihi lingkungan sekitarnya. Sebab bumi ini adalah rumah tempat seluruh umat manusia hidup. Jadi saat ada kepedulian terhadap sesama maka haruslah juga ada kepedulian dengan lingkungan sekitar. Maka sudah sewajibnya kita mengurangi konsumsi yang tidak penting, menghemat kebutuhan yang berlebihan dan sebisa mungkin menggunakan tangan-kaki sendiri (tanpa mesin) untuk menyelesaikan aktivitas yang wajar.

Salam, kasih adalah penyeimbang ilmu pengetahuan!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.