Gejolak Sosial

+10 Alasan Penyebab Menjadi Atheis – Kemewahan, Kenyamanan Dan Kemudahan Duniawi Membentuk Sikap Ateis

Alasan Penyebab Menjadi Atheis - Kemewahan, Kenyamanan Dan Kemudahan Duniawi Membentuk Sikap Ateis

Ateis adalah orang yg tidak percaya akan adanya Tuhan (KBBI Offline). Merupakan manusia yang bersandar pada logikanya yang sempit dan tidak percaya bahwa ada hal-hal yang tidak masuk akal terjadi disekitarnya. Mereka tidak memiliki keyakinan kepada Tuhan sebab hidupnya hanya didedikasikan tanpa tujuan yang pasti. Orang yang terombang-ambing digiring oleh trend duniawi. Saat sesuatu menjadi trending topik di sini maka itulah yang akan menjadi tujuan hidupnya, tanpa memperhitungkan apakah itu benar atau salah.Oleh karena itu, orang yang tidak meyakini Tuhan sangat konsumtif dengan hal-hal materi/ lahiriah.

Jaman dulu manusia cenderung menuhankan kekuatan yang lebih tinggi yang dapat dicitrakan oleh indra

Pada dasarnya, manusia cenderung mempercayai kekuatan yang lebih besar dari dirinya sendiri. Ini ditunjukkan ketika zaman purba kala, banyak orang yang percaya kepada kekuatan matahari (dewa matahari), ombak di lautan luas (dewa laut – poseidon), api, angin, hujan, air terjun dan lain sebagainya. Semuanya ini menunjukkan bahwa nenek moyang kita zaman dahulu akan menuhankan segala eksistensi yang lebih kuat dari dirinya sendiri.

Ateis berkembang karena pengetahuan manusia sempurna menurutnya sendiri

Pada zaman dahulu kala yang namanya ateis jarang ditemukan bahkan mungkin tidak ada. Tetapi keberadaan paham yang tidak mengenal Allah ini sepertinya baru berkembang setelah manusia mampu mengembangkan ilmu pengetahuannya secara maksimal sehingga mampu berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) dalam segala sesuatu. Jadi, berhati-hatilah dengan kemandirian yang dimiliki, merasa memiliki sesuatu yang lebih dari yang lain: hindari sikap yang terlalu mempertahankan posisi aman sebab manusia yang terlalu nyaman cenderung melupakan Tuhan.

Saat semua materi yang diinginkan ada: menjadi ateis

Orang yang tidak meyakini kekuatan yang luar biasa di atas dirinya mengatakan bahwa Allah tidak masuk akal. Padahal logikanya yang terlalu rendah dan sempit sehingga tidak mengerti keberadaan Yang Maha Kuasa. Pola pikir sempit semacam ini hanya berkutak pada materi disekitar lingkungannya. Saat semua hal-hal duniawi yang dikehendakinya telah dimiliki maka itu sudah membuat dirinya tenang. Terlebih ketika dalam kehidupan sehari-hari mereka hidup di lingkungan dengan peraturan ekstra ketat, sampai hal-hal yang kecil diatur.

Kesempurnaan indra adalah ciri khas yang mendorong seseorang tidak percaya Tuhan

Saat segala sesuatu berjalan dengan baik tanpa gangguan yang berarti, manusia cenderung merasa aman. Perasaan yang aman saja membuat manusia tidak mau tahu untuk bersandar kepada kekuatan yang lain sebab semua kebutuhannya telah tercukupi. Saat ia bisa hidup tenang dengan bersandar kepada kemampuan sendiri atau kepada garansi yang diberikan sistem, keadaan ini justru bisa saja membuatnya tidak butuh sesama manusia apalagi Tuhan. Semua kemungkinan dimana kita merasa sudah sempurna pada dasarnya menjauhkan kita dari kekuatan yang lain.

Sadarilah bahwa gangguan yang terjadi hari lepas hari secara tidak langsung membuat manusia membutuhkan tempat untuk bersandar. Keadaan inilah yang membuat kita membutuhkan Kekuatan Yang Lain tersebut. Tetapi saat semuanya sangat terkendali dan kondusif, keadaan ini justru membuat manusia semakin jauh dari kepercayaannya. Orang yang tidak menemukan pergumulan hidup hari lepas hari lebih cenderung untuk menjadi ateis. Sebab persoalan hidup membuat hari-hari kita tidak sempurna sehingga membutuhkan Allah untuk menyempurnakan semuanya itu di dalam hati senidiri

Atheis bukti nyata dari BAHAYA Pohon Pengetahuan Tentang Yang Baik Dan Yang Jahat

Seperti yang kami katakan sejak dari awal bahwa di zaman dahulu kala, dimana intelektual manusia masih belum berkembang pesat, semua manusia percaya pada kekuatan Tuhan atau setidak-tidaknya pada kekuatan alam yang ada disekitarnya. Tetapi semakin modern kehidupan kita maka semakin tinggi saja kemungkinan untuk menjadi atheis. Ini tidak lain dan tidak bukan sebagai salah satu bukti nyata dari bahaya memakan Buah Pengetahuan Tentang Yang Baik Dan Yang Jahat. Sudah sangat jelas dampaknya dalam kehidupan ini, yaitu membuat hidup kita semakin jauh dari Tuhan bahkan beresiko menjadi ateis.

Masih ingatkan kisah di Taman Eden? Tuhan telah memperingatkan kita untuk tidak memakan buah itu tetapi masih saja terpesona & tertarik mengkonsumsinya. Tuhan melarang nenek moyang kita dahulu sebab Ia tahu dengan jelas bahwa ilmu pengetahuan yang dimiliki menimbulkan dosa dan menjauhkan kita dari-Nya. Sekarang, peringatan itu jugalah yang terus didengungkan Tuhan di dalam diri ini. Sadarilah bahwa konsumsi hal-hal duniawi kadar berlebih dan waktu yang lama cenderung membuat otak melemah hingga kecerdasan menurun. Kebodohan beresiko tinggi membuat kita tidak dapat bahagia, puas, tenteram dan damai sendiri. Melainkan sangat ketergantungan untuk (harus) mengkonsumsi materi untuk memperoleh semuanya itu. Sedang rasa candu akan materi tidak pernah berkata cukup melainkan haus lagi dan lagi bahkan cenderung meningkat nilainya dari tahun ke tahun.

Bila hanya mengandalkan ilmu pengetahuan saja, ada kecenderungan manusia akan meninggalkan Tuhan lalu melakukan aksi-aksi licik untuk beroleh keuntungan dari sesamanya. Sifat manipulatif inilah yang cenderung menggiring orang dalam logika yang sempit sehingga cenderung menolak untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri apalagi mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi juga kekuatan masing-masing. Oleh karena itu, penerapan ilmu pengetahuan harus dibarengi dengan kasih agar tidak cenderung merugikan pihak lain. Tanpa kebenaran sejati, ilmu yang dimiliki akan menggiring kita menjadi ateis.

Faktor penyebab seseorang menjadi atheis

Orang yang merasa hidupnya sempurna pastilah tidak lagi membutuhkan siapa-siapa dalam hidup ini. Oleh karena itu, berbahagialah mereka yang hari-harinya diselingi dengan kekurangan sebab dengan semuanya itu menjadi semakin yakin bahwa ia membutuhkan Allah. Karena kita tidak bisa menjamin kehidupan ini makanya membutuhkan kekuatan yang lain untuk turut bekerja membaikkan seluruh lini kehidupan ini. Kita menyadari bahwa ketika berjalan seorang diri saja melawaiti hari demi hari yang penuh dengan ketidakpastian sehingga membuat diri ini membutuhkan dukungan yang lain untuk menggiring jalan-jalan yang dilalui di dalam kepastian.

Berikut ini akan kami utarakan beberapa alasan mengapa seseorang atau sekelompok orang menjadi atheis.

  1. Tidak tahu dan tidak mengerti.

    Mereka adalah orang yang IQ-nya (tingkat intelegensinya) sanget rendah. Mungkin keadaan ini dipicu oleh karena bawaan yang diderita sejak dari dalam kandungan. Disabilitas mental membuat manusia cenderung tidak dapat memahami keberadaan Sang Pencipta. Mereka tidak mengerti tentang Kekuatan Yang Lain bahkan mau hidup atau matipun mereka tidak mau tahu.

    Ketidaktahuan ini juga didorong oleh pemahaman ajaran agama yang belum maksimal oleh setiap individu. Perlu ada kesungguhan dari setiap orang agar mampu memahami dengan baik ajaran agama masing-masing. Niat yang tulus semacam inilah yang kelak dapat mengantarkan anda pada pengertian yang benar tentang keberadaan Tuhan.

  2. Merasa memiliki ilmu pengetahuan yang sangat tinggi.

    Saat seseorang memiliki ilmu yang tinggi sedang pengetahuan tersebut mampu membuatnya tetap hidup beresiko membuat manusia tidak percaya Tuhan. Pengetahuannya itulah yang menjadi tuhannya. Saat manusia telah memiliki wawasan yang sangat tinggi tentang dunia ini bahkan ketika ia sendiri mampu unggul jauh di atas orang lain. Tepat saat itu jugalah ia bersandar pada ilmu yang dimilikinya dalam menghadapi segala sesuatu sedang kepercayaan kepada Allah sudah jauh dari dalam hatinya.

    Mereka yang ilmu pengetahuannya tinggi lebih besar resikonya meninggalkan Allah dibandingkan dengan orang yang ilmunya biasa-biasa saja.

  3. Merasa telah memiliki kekuasaan yang sangat besar dan tidak terbatas.

    Orang yang memiliki kekuatan yang besar cenderung mengandalkan kekuatannya itu dalam menghadapi segala sesuatu. Keadaan ini telah menjauhkannya dari Yang Maha Kuasa sehingga hari lepas hari kebenaran meredup dari dalam hatinya. Justru yang selalu dibahas-bahasnya adalah bagaimana caranya agar semakin banyak saja orang yang ditaklukkan/ dikuasainya.

    Para pemimpin yang memiliki kekuasaan yang tidak terbatas cenderung akan menjadi anti Tuhan demi mempertahankan kendali yang dimiliki dibandingkan dengan rakyat jelata yang hidupnya biasa saja.

  4. Merasa telah memiliki uang dan harta benda yang sangat banyak.

    Uang adalah kekuatan lain yang juga dapat mengendalikan kehidupan manusia. Saat seseorang bersandar pada kekuatan materi yang dimiliki tepat saat itu jugalah berpotensi tidak mengakui Tuhan. Mereka hanya terlena oleh kekuatan materi yang membuat aktivitas otaknya menurun. Akibatnya kesadaran dan kecerdasan turut menurun. Keadaan ini membuatnya melupakan Tuhan yang menjadi penghibur sejati sebab indranya telah terlena oleh gemerlapan harta yang dimiliki.

    Keadaan ini juga menegaskan bahwa orang-orang yang kaya raya berpotensi besar untuk meninggalkan tuhannya demi mengejar harta duniawi dibandingkan mereka yang hidupnya sederhana.

  5. Terlalu sombong – Merasa memiliki kelebihan di atas rata-rata.

    Sikap yang sombong membuat seseorang cenderung menganggap rendah/ remeh orang lain. Keadaan ini justru beresiko sebaliknya, yaitu dia membuat dirinya menjadi tuhan atas sesama manusia. Kemungkinan orang tersebut memiliki kemampuan khusus sehingga bersikap angkuh dan menganggap bahwa segala sesuatu tentang orang lain dan tuhan adalah omong kosong. Oleh karena itu, bagi yang saat ini memiliki kelebihan, tidak perlu membanggakannya. Kebiasaan ini justru membuat anda candu terhadap hal tersebut sehingga ketika kelebihan itu sudah tidak ada lagi maka cenderung menyalahkan dan meninggalkan Tuhan. Sadarilah apapun potensi yang kita miliki, “Tuhan yang memberi dan Tuhan yang mengambil, terpujilah nama-Nya!

  6. Semua keinginan telah terpenuhi secara melimpah-limpah.

    Berhati-hatilah bagi anda yang semua keinginannya telah terpenuhi. Keadaan semacam ini cenderung membuat manusia bersandar kepada seseorang yang memenuhi semua keinginannya itu. Ini jugalah yang mengajarkan kita agar tidak memenuhi semua keinginan anak di rumah, sebab kecewa itu juga baik bagi perkembangan kepribadian mereka. Berlakulah sewajarnya di depan anak dan tidak perlu bertingkah sebagai sinterklaus yang selalu memenuhi apapun yang diinginkannya. Jika ini terus berlanjut, anak tersebut kelak tidak akan percaya lagi dengan Tuhan apalagi setelah orang tua yang memanjakannya pergi meninggalkan dunia ini. Melainkan ia menjadi orang yang sangat materialistis yang mengukur kepercayaannya berdasarkan uang.

  7. Terlalu indivudualis.

    Sadarilah bahwa mereka yang anti sosial juga termasuk kumpulan orang yang anti Tuhan. Sikap individualis yang lebay hanya mementingkan diri sendiri dan tidak mau tahu bahkan tidak masalah baginya jika orang lain tertekan, terjatuh dan tersingkingkirkan. Sikap ini jelas bertentangan dengan paham kebenaran yang dibawa oleh Tuhan sendiri ke tengah dunia ini. Oleh karena itu, imbangi sikap individualis dengan senantiasa mengasihi sesama seperti diri sendiri. Sikap yang mementingkan diri sendiri cenderung menggiring manusia untuk angkuh sehingga kehidupannya jauh dari mengasihi Allah dan tidak mengasihi sesama seperti diri sendiri.

  8. Bersandar pada logika yang sempit.

    Logika yang sempit adalah mereka yang berpikira terbatas sejauh mata memandang saja. Orang-orang ini tidak berpikir ke depan tentang kehidupannya, misalnya tentang masa depan, hari sial dan kehidupan setelah kematian. Mereka hanya terkungkung pada hal-hal materi yang membuat dirinya nyaman sekaligus manja. Mengapa demikian? Karena sifat manjanya dimana segala sesuatu bisa diwujudkan lewat materi cenderung membuatnya fokus kepada dunia ini lalu melupakan Tuhan yang dahulu pernah sumber kebahagiaan, kepuasan, kedamaian dan ketenteraman di hatinya.

    Logika yang sempit juga turut membuat seseorang berargumen/ beropini untuk kepentingan pribadi semata. Dimana semua itu akan membawa keuntungan bagi dirinya sendiri sedangkan sisi lainnya dalam kehidupan (keberadaan sesama dan Tuhan) akan diabaikan. Logika yang sempit juga tidak membawa faedah bagi kehidupan melainkan tidak lebih dari sebuah aksi cari sensasi yang lebay.

  9. Pendidikan tinggi.

    Saat seseorang telah mengecap pendidikan yang sangat tinggi di perguruan tinggi ternama, cenderung terlalu fokus kepada materi. Daya intelektualnya tidak lagi memandang hal-hal rohani sebagai sesuatu karena baginya itu tidak masuk di akal. Terlebih ketika ilmu yang dimiliki tidak digunakan untuk kebaikan bersama melainkan dimanfaatkan untuk keuntungan pribadi semata. Sikap ini syarat dengan tipu muslihat yang secara berangsur-angsur tetapi pasti akan menjauhkannya dari Sang Pencipta.

  10. Tidak ada masalah.

    Orang yang selalu menghindar dari masalah atau sekalipun ada tetapi dilarikan kepada kekuatan duniawi akan lebih mudah menjadi ateis yang tidak percaya kepada keberadaan Tuhan. Sadarilah bahwa masalah yang kita alamilah yang justru akan semakin mendekatkan diri ini kepada Yang Maha Esa.

    Menyerahkan masalah pribadi untuk diselesaikan orang lain yang memiliki kekuasaan/ wewenang tinggi atau kepada kekuatan uang, atau kepada relasi yang dimiliki sama saja membentuk kita menjadi orang yang manja. Keadaan ini juga sekaligus akan menggiring kehidupan ini untuk lebih percaya/ bersandar kepada hal-hal duniawi saat sedang mengalami pergumulan tertentu.

    Berbahagialah mereka yang saat ini menghadapi masalahnya sendiri (masalah pribadi) yang menghindari kebiasaan mengadu sebab dengan begitu kehidupannya akan lebih dekat kepada Tuhan hari lepas hari.

  11. Kemewahan, kenyaman, kemegahan, kemudahan dan pesona duniawi.

    Sadar ataupun tidak, berbagai gemerlapan duniawi ini beresiko tinggi membuat kita jauh dari Sang Pencipta. Mengapa demikian? Karena kita lebih mengedepankan pencarian materi untuk membuat indra merasakan kemewahan, kenyamanan, kemegahan, kemudahan dan pesona duniawi. Pencarian keuntungan akan dilakukan secara berlebihan karena keinginan yang serakah.

    Sebab kebutuhan materi sifatnya akan terus naik dan naik lagi. Mereka yang sudah terlanjur candu dengan dunia ini sulit sekali meninggalkan trend pasar sedang kemampuan untuk mencari uang begitu-begitu saja bahkan cenderung menurun saat sudah pensiun. Keadaan inilah yang membuat manusia cenderung menghalalkan segala cara yang mengesampingkan keberanan yang adalah Tuhan itu sendiri.

  12. Perilaku – kerja manipulatif (pekerjaan yang ditekuni berkonspirasi memanipulasi sesama).

    Bila pekerjaan yang kita tekuni cenderung berperan aktif untuk melakukan aksi tipu-tipu di masyarakat niscaya keadaan ini jugalah yang membuat kepercayaan kepada Tuhan menjadi kendor bahkan ateis. Sekalipun orang yang suka melakukan aksi manipulasi mimiliki agama di KTP-nya, tetap saja itu tidak lebih dari sebuah persyaratan untuk mempermudah proses administrasi dimanapun berada. Sebab jikalau kita tidak mengasihi sesama, itu juga artinya Tuhan sudah lama meninggalkan hati ini.

  13. Aturan yang terlalu detail mengurus hal yang kecil-kecil.

    Berhati-hatilah menetapkan aturan dalam kehidupan anda. Sebab saat segala sesuatu berjalan dengan sangat aman dan kondusif tanpa gangguan cenderung menciptakan manusia yang mendewakan kenyamanan hidup. Sadarilah bahwa kenyamanan hidup ini tidak akan jauh-jauh dari materi. Artinya, ada hasrat yang besar di dalam hati untuk membeli ini dan itu untuk beroleh kehidupan yang serba nyaman bila perlu glamour juga. Sedang untuk memperoleh semua uang itu harus mengumpulkannya dari orang lain sebanyak-banyaknya lewat aktivitas perdagangan. Padahal perdagangan di bidang usaha yang positif-baik sudah penuh sesak oleh pengusaha lainnya. Lantas andapun memberanikan diri untuk mengambil usaha yang tidak halal untuk memenuhi keinginan akan kemewahan duniawi. Misalnya lewat pornografi, seks komersial, jual ganja, shabu dan narkoba jenis lainnya.

  14. Garansi/ jaminan/ asuransi yang diberikan sistem (semacam tunjangan).

    Berhati-hatilah dengan perusahaan yang memberi garansi/ asuransi ini dan itu. Secara berangsur-angsur keadaan ini dapat membuat anda kurang percaya kepada Yang Maha Kuasa sebab semua yang dimiliki sudah di asuransikan. Ketahuilah bahwa yang diasuransikan oleh perusahaan hanyalah hal-hal lahiriah sedangkan jiwamu siapakah yang mengasuransikannya? Tidak masalah untuk mengasuransikan hal-hal fisik hanya jangan lupa juga untuk mengasuransikan kehidupan rohani anda kepada Sang Khalik.

  15. Tidak percaya adanya kehidupan setelah kematian.

    Orang yang tidak percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian cenderung menganggap bahwa hidup di dunia ini hanya sekali. Jadi kesempatan sekali seumur hidup inilah yang mereka anggap sebagai hal yang harus dipuas-puaskan. Menikmati hidup secara berlebihan tanpa lagi memperhatikan mana yang baik dan buruk, mana yang salah dan benar melainkan semua diembat demi kesenangan semata.

    Sadarilah bahwa keberadaan manusia di dunia ini hanyalah sesaat saja untuk mengantarkan kita kepada ujian kehidupan, apakah kita layak ataupun tidak untuk kehidupan kekal di sorga kelak? Oleh karena itu, sebaiknya mulailah mempersiapkan diri agar layak hidup dalam kekekalan dari sekarang dengan memperjuangkan kebenaran (mengasihi Tuhan dan sesama).

  16. Perilaku orang agamawi yang sama saja dengan orang duniawi bahkan lebih parah lagi.

    Bila saat ini perilaku orang yang beragama tidak jauh beda dari orang-orang jahat di luar sana. Hanya mungkin saja perbedaannya adalah penjahat melakukannya secara nyata (gentleman) sedangkan orang agamawi melakukannya secara diam-diam. Sadarilah bahwa hal semacam ini jelas membuat kita yang beragama enek di pandang orang atheis/ yang berseberangan keyakinan dengan kita.

    Sekalipun di dalam Kitab Suci ada cerita-cerita tentang pembunuhan dan pencurian tetapi janganlah itu ditiru sampai sekarang. Anggap saja bahwa cerita yang menunjukkan kekerasan itu benar di zamannya.” Sedang untuk di terapkan zaman sekarang sangatlah tidak logis. Kita mengharapkan agama menuntun kita pada sesuatu yang masuk akal tetapi diri sendiri berlaku tidak logis terhadap sesama dengan membunuh dan mencuri secara diam-diam. Ini jelas penghinaan terhadap Ketuhanan itu sendiri. Mari kembali lagi menerapkan ajaran mendasar dari kepercayaan yang kita yakini, yaitu kebenaran sejati (Mengasihi Tuhan dan sesama manusia). Lakukanlah semua kebenaran itu maka orang ateis yang melihatnya niscaya akan menjadi percaya.

  17. Budaya yang kebarat-baratan.

    Berhati-hatilah dengan budaya barat yang melegalkan seks bebas sebelum menikah. Pesan ini kentara di beberapa film-film lama (di film baru rasanya sudah jarang) yang tersebar di internet. Keadaan ini jelas saja menggiring kehidupan anda untuk menjadi ateis sebab tidak ada satupun agama di dunia ini yang melegalkan seks di luar nikah. Jangan sampai terbius oleh hawa nafsu sesat yang lebay melainkan fokuskanlah kehidupan hanya kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian untuk beroleh penghiburan, kebahagiaan, kedamaian, kepuasan dan ketenteraman hati.

Kita membutuhkan materi seadanya bila terlalu berlebihan cenderung membuat kehilangan kepercayaan kepada Tuhan. Sebab materi membuat ketergantungan sekaligus melemahkan otak (menurunkan kecerdasan). Padahal jika terlalu candu kepada hal-hal duniawi maka nilainya akan semakin tinggi dari tahun ke tahun. Lalu kitapun menggunakan ilmu pengetahuan yang dimiliki untuk melakukan konspirasi maniputif/ tipu muslihat/ kelicikan untuk meraih semuanya ini. Sadarilah bahwa tepat saat tidak mampu mengasihi sesama seperti diri sendiri maka saat itu jugalah keberadaan kita semakin jauh dari Yang Maha Mulia hingga mendorong diri ini menjadi ateis. Walau di KTP tertulis jelas agama yang dianut. Masalah juga turut mendekatkan kita kepada Tuhan. Oleh karena itu, atasi sendiri masalah pribadi sembari bersyukur dan bernyanyi memuliakan Allah sampai pikiran terbuka dipenuhi rasa senang-sukacita yang terkendali, tenang dan damai lalu meluap dalam senyuman mungil di bibir masing-masing.

Salam, kepercayaan dasar penghiburan, kebahagiaan, kepuasan, kedamaian dan ketenteraman hati umat hamanusia!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.