Gejolak Sosial

10 Sudut Pandang Positif Untuk Hidup Lebih Baik, Perbedaan Persepsi Dari Delapan Arah Mata Angin Adalah Kekayaan Intelektual Bersama


Bentuk Sudut Pandang Positif Untuk Hidup Lebih Baik, Perbedaan Persepsi Dari Delapan Arah Mata Angin Adalah Kekayaan Intelektual Bersama

Sudut pandang adalah cakupan sudut bidik lensa terhadap gambar (KBBI Offline). Merupakan landasan atau tujuan responden saat memberikan argumen/ opini/ pendapat tentang sesuatu dan lain hal.. Setiap orang memiliki cara berbeda saat menyampaikan pemikiran tentang sesuatu dan lain hal. Perbedaan ini kerap dianggap sebagai sebuah pertentangan dan perlawanan, tetapi orang yang berpikiran maju akan menganggapnya sebagai suatu kekayaan khasanah pola pikir manusia. Ini bisa jadi penghambat dan dapat pula menjadi faktor yang mampu mengembangkan keilmuan yang dimiliki.

Perbedaan persepsi adalah kekayaan bersama

Pada dasarnya, setiap orang menemukan kecenderungan tertentu saat sesuatu terjadi di dalam kehidupannya (sebagai subjek). Ada yang memandangnya secara spiritual, ada pula yang melihatnya dengan penuh emosi, pula ada yang melihatnya secara positif, negatif dan lain sebagainya. Semua persepsi yang diungkapkan adalah benar adanya, hanya saja dasar pengambilan gagasan yang dilakukan adalah berbeda. Perbedaan ini janganlah dipandang sebagai sumber pertentangan sehingga berpotensi memecah belah. Melainkan anggaplah itu sebagai keragaman yang membuat kita semakin diperkaya secara intelektual.

Persepsi ditentukan oleh kebiasaan dan menentukan kedekatan dengan orang lain

Pengambilan persepsi sangat diperlukan saat berkomunikasi dengan sesama. Bahkan bisa dikatakan bahwa keberlanjutan dari setiap hubungan yang kita lakukan dengan orang lain, sangat bergantung dari setiap opini yang dilemparkan saat berkomunikasi. Sekali lagi ini, bergantung dari kebiasaan yang selalu ditekuni selama ini. Jika biasanya anda menggunakan sudut pandang Tuhan niscaya kedepannya juga akan menggunakan hal yang sama saat berbaur dengan orang lain. Apabila selama ini kerap menggunakan persepsi  manfaat yang diperoleh maka seterusnya akan menggunakan hal yang sama saat bercakap-cakap dengan yang lain. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam beropini, bisa jadi hal tersebut menjadi kebiasaan yang akan dibawa mati.

Pastikan persepsi tidak keluar dari kewenangan dan tidak membahas sesuatu yang tidak penting

Terkadang dalam kehidupan di dunia ini, kita tidak perlu terlalu repot untuk mengajukan gagasan pada hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Beberapa persepsi, terkadang tidak perlu diutarakan, pada sesuatu yang bukan urusan kita. Dari pada memusingkan kepala dengan hal-hal yang tidak penting atau terhadap sesuatu di luar tupoksi sendiri, adalah lebih baik menghabiskan waktu dengan cara memfokuskan pikiran kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian di dalam hati, lewat mulut, menggunakan alat musik dan bisa juga sambil menari kecil.

Diam adalah emas, bicaralah pada momen yang tepat

Bahkan di dalam beberapa situasi khusus, adalah lebih baik tidak mengomentari apa-apa. Dari pada berkomentar tetapi malah menimbulkan gejolak pertentangan di dalam hati karena sesuatu dan lain hal. Baik juga pepatah mengatakan “diam adalah emas tetapi terus-menerus diam-diaman juga tidak baik.” Oleh karena itu sampaikanlah pendapat anda pada momen/ waktu yang tepat. Anda harus mampu membaca situasi yang sedang dihadapi dengan demikian dapat mengambil keputusan yang tepat. Orang yang bijak sabar menemukan waktu yang pas untuk mengutarakan setiap ide yang dimiliki.

Kita diuji lewat persepsi yang diutarakan

Harus disadari juga bahwa terkadang kita diuji lewat opini yang diutarakan. Komunikasi menjadi salah satu ujian yang paling ringan untuk dihadapi tetapi jangan terlalu sepele. Sebab ada beberapa orang yang jatuh karena tidak sabar menghadapi ujian komunikasi. Orang-orang bisa saja menganggap gagasan kita sampah yang tidak ada gunanya, lalu bagaimana reaksi anda menanggapinya? Apakah menyerang balik atau malah mengalah sajakah? Untuk menemukan pilihan yang tepat disaat-saat-saat genting diperlukan hati yang bebas dari rasa iri yang syarat persaingan sehingga mampu mengekspresikan emosi yang datar (bukan emosional yang fluktuatif dan meledak-ledak).

Macam-macam sudut pandang yang dimiliki oleh manusia dari delapan penjuru mata angin

Masing-masing orang memiliki cara sendiri-sendiri saat memandang sesuatu dan lain hal. Mereka cenderung melakukan kebiasaan tertentu saat memberikan argumen. Pola-pola yang diterapkan tidak akan jauh jauh dari sesuatu yang selama ini dilakukan hari lepas hari. Untuk diketahui juga bahwa penggunaan persepsi dapat dilakukan juga saat mengomentari sesuatu di internet. Saat anda berkomentar terhadap status teman di media sosial pastilah menggunakan sudut pandang yang tertentu. Andapun bisa melatih diri untuk mengembangkannya dengan rajin berkomentar menanggapi status teman di media sosial/ blog tertentu.

Sudut Pandang Dalam Beropini dari delapan penjuru mata angin

Jelas saja tidak mudah untuk menemukan persepsi yang tepat di waktu yang pas. Ini membutuhkan pengalaman dan jam terbang yang tidak sedikit. Bagi mereka yang baru-baru pertama menyatakan pendapat bisa belajar dengan menggambarkan sendiri perasaan yang dialami. Jika mau belajar lebih dalam lagi maka belajarlah memandang segala sesuatu dari sudut pandang Kitab Suci. Bisa dikatakan bahwa memiliki persepsi Tuhan adalah awal dari pengembangan berbagai sudut pandang yang lainnya.

Berikut selengkapnya bentuk landasan dan arah berpikir manusia berdasarkan delapan penjuru mata angin yang dapat diterapkan saat menyampaikan gagasan kepada orang lain atau dalam diskusi-diskusi kelompok lainnya.

  1. Berdasarkan pemandangan Tuhan.

    Persepsi semacam ini diambil dari dalam Kitab Suci yang diyakini. Rajinlah membaca Kitab Suci, garis bawahi hal yang penting, catat rangkumannya dan berikan opini pribadi dari setiap cerita yang di baca. Ini adalah landasan awal yang sangat bagus untuk mengembangkan ide-ide yang kita miliki.

    Persepsi Tuhan sangat bagus digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika di dalam masalah sekalipun, pandangan Kitab Suci sangat kita butuhkan sebagai kata-kata penghiburan yang memotivasi diri untuk tetap semangat dalam menjalani hari.

  2. Sudut pandang pelaku (subjek).

    Persepsi ini dilihat langsung dari sisi perasaan yang dialami oleh orang yang melakukan hal tersebut.

    1. Sisi emosional.
    2. Sisi kekuatan fisik.
    3. Sisi sosial.
  3. Sudut pandang korban (objek).

    Suatu cara pandang yang dapat dirasakan sebagai seorang korban (yang mengalaminya langsung) dalam suatu kejadian.

    1. Sisi emosional.
    2. Sisi kekuatan fisik.
    3. Sisi sosial.
  4. Sudut pandang orang ke tiga.

    Merupakan persepsi seorang yang tidak merasakan langsung kejadian tersebut tetapi menyaksikannya dengan panca indra.

    • Cara pandang positif.
      • Sisi kebersamaan.
      • Membahas solusi.
      • Keuntungan yang diperoleh – nilai tambah.
    • Cara pandang negatif.
      • Sisi persaingan.
      • Mengupas masalah.
      • Kerugian yang diderita – pengorbanan.
  1. Sudut pandang masa lalu.

    Orang yang selalu memandang suatu peristiwa yang sedang berlangsung dari aspek masa lalu yang pernah dialami/ kejadian sebelumnya.

    1. Sudut pandang permulaan (mengawali).
    2. Sudut pandang proses.
    3. Sudut pandang faktor resiko.
    4. Sudut pandang penyebab.
    5. Sudut pandang paling mendasar.
  2. Sudut pandang masa depan.

    Orang yang selalu memandang sesuatu sebagai sebuah tindakan yang berkelanjutan demi masa depan yang lebih baik.

    1. Sudut pandang hasil.
    2. Sudut pandang manfaat.
    3. Sudut pandang bahaya.
  3. Sudut pandang parsial.

    Memandang suatu peristiwa tidak secara utuh tetapi hanya mengambil beberapa bagian dari kejadian yang seutuhnya. Ini juga bisa dilihat saat membaca suatu essai dimana yang dikomentari tidak seluruhnya tetapi mungkin hanya bagian awal, tengah atau akhirnya saja.

  4. Sudut pandang acak (humoris).

    Mereka yang memiliki persepsi yang berbeda dari yang lain, dapat menghubung-hubungkan antara satu peristiwa dan peristiwa lainnya sambil menegaskan hubungan yang unik dari semuanya itu. Persepsi semacam ini bisa juga membuat kita tersenyum sebab memang terkesan aneh tetapi maknanya dalam atau bisa juga untuk sekedar melucu.

  5. Sudut pandang negatif.

    Anda bisa menggunakan delapan sudut pandang sebelumnya lalu mengarahkannya kepada hal-hal negatif. Biasanya hal ini, digunakan untuk lebih waspada kedepannya dalam melakukan segala sesuatu. Ini semacam kaji buruk tetapi janganlah terus-menerus fokus kepada hal-hal negatif tersebut. Pikirkan sesuatu resiko di masa depan tetapi tetap fokuskan pikiran kepada Tuhan dalam doa firman dan nyanyian pujian. Atau fokus itu bisa juga dengan menyibukkan diri belajar dan bekerja hari lepas hari.

    Persepsi negatif juga digunakan untuk merendahkan diri sendiri yang rasa-rasanya sombong kebablasan. Seperti yang kami contohkan di bawah ini.

    • Kami hanyalah orang yang berdosa. Ini sudah seharusnya terjadi. Kuatkan hati menjalaninya ya Tuhan.
    • Apa yang kami hasilkan hanya sampah. Ini sudah selayaknya kami rasakan. Kuatkan hati menanggung semuanya ya Tuhan.
    • Orang hina saja kami ini ya Tuhan. Kejadian ini sudah selayaknya kami alami. Kuatkan hati menjalaninya.
  6. Sudut pandang positif.

    Anda dapat menggunakan ke delapan sudut pandang yang kami sajikan diawal lalu mengarahkannya pada hal-hal yang positif. Ini memang tidak mudah tetapi cobalah untuk melakukannya seperti berikut.

    Misalnya seorang teman sedang berlaku buruk, menjelek-jelekkanmu. Terus apa pendapatmu?

    Orangnya berpikir positif, akan berkata: “ia sedang melatih saya menjadi orang yang bijak dan cerdas mengendalikan diri.” Bisa juga dengan “ia hanya bercanda saja untuk membuatku kuat.” Mungkin juga “itu bukan aku tapi dia berbicara dengan orang yang dibelakangku.”

    Persepsi semacam ini lebih baik digunakan untuk diri sendiri saja dan bukan untuk diumbar kepada orang lain. Ini kami lakukan sekedar memberi contoh, silahkan temukan yang lainnya.

Contoh – ide tentang hukuman anak yang tidak mengerjakan PR

KASUS ; Seorang siswa di hukum gurunya karena belum mengerjakan PR.

Bagaimana pendapat anda tentang ini teman? Pantaskah murid tersebut di hukum atau haruskah Bapak/ Ibu Guru membiarkannya begitu saja? Mari simak opini beberapa teman-teman kami. Ada beberapa orang yang berpendapat begini:

  1. Apa yang kita tabur itu yang di tuai. Menabur kemalasan menuai hukuman (persepsi Tuhan).
  2. Itu pasti membuat dia malu (objek).
  3. Ini hukuman agar siswa kapok jadi pemalas (subjek).
  4. Hukuman itu baik agar siswa yang lain tidak melakukan hal yang sama (sudut pandang orang ke tiga).
  5. Mungkin saja dia terlalu banyak kerjaan di rumah (persepsi masa lalu).
  6. Kita berharap di hari berikutnya tidak mengulangi hal yang sama (masa depan).
  7. Jaman sekarang hukuman itu mudah ya, cuma disuruh berdiri aja. Jaman dulu waktu sekolah lupa ngerjain PR pasti dipukul tuh, pake lidi 😀 (opini acak).
  8. Sebaiknya anak zaman sekarang jangan dipukul guru tetapi disuruh aja tuh si pemalas agar mukul-mukul diri sendiri di depan kelas sambil mengatakan “saya kapok jadi pemalas” (sebanyak 7 kali) biar sekalian malu. Inikan juga biar Sang Guru tidak dipersalahkan oleh orang tua lagi pula tidak ada orang yang memukul dirinya diluar batas yang bisa ditahannya (parsial).

Semua sudut pandang yang kita gunakan saat menilai sesuatu adalah baik adanya, asalkan disampaikan dengan santun pada momen yang tepat. Baik bagi anda juga untuk menyingkirkan sisi emosional yang berlebihan (meledak-ledak) saat beropini. Sebab kerap kali emosi yang lebay akan mengotori gagasan yang hendak kita sampaikan kepada orang lain/ kelompok belajar/ forum tertentu. Biasanya opini semacam ini telah dibumbui oleh beberapa kata yang agaknya menekan atau menyudutkan oknum tertentu secara langsung (tidak general/ tidak disamarkan). Suasana perbincangan/ diskusi/ debat akan menjadi runyam saat terlalu hanyut dalam suasana diselingi oleh rasa kesal, benci dan ingin balas dendam dengan mengajukan pendapat yang bertentangan. Sadarilah bahwa kata-kata tidak lebih dari angin, jadi apapun gejolak yang ditimbulkannya jangan dimasukkan di dalam pikiran agar hati jauh dari kebencian. Daripada mengingat-ngingat kata-kata kasar lebih baik selalu bernyanyi memuliakan Allah di dalam hati sembari mendengarkan dan mencatat ide yang positif.

Salam, pisahkan gagasan dan emosi agar kemurnian ide terjaga!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.