Gejolak Sosial

+10 Kerugian Memiliki Rumah Besar & Mewah – Hunian Minimalis Itu Sempurna


Kerugian Memiliki Rumah Besar & Mewah – Hunian Minimalis Itu Sempurna

Rumah adalah (1) gedung tempat merawat orang sakit; (2) gedung tempat menyediakan dan memberikan pelayanan kesehatan yang meliputi berbagai masalah kesehatan (KBBI Offline). Sesungguhnya hunian yang baik bermanfaat bagi mereka yang menempatinya dan tidak mengganggu orang lain juga ramah lingkungan. Idealnya, apa yang kita dapatkan itu tidak hanya bermanfaat secara estetika melainkan juga bermanfaat secara kepribadian (mental-emosional) dan sosial.

Keindahan dan kebahagiaan

BIla kita mau merendahkan hati dan menggali lebih dalam lagi tentang nilai-nilai estetika, besar kecilnya rumah tidak ada hubungannya dengan keindahan. Sebab sesuatu yang indah cenderung relatif, berubah-ubah seiring trend di masyarakat. Jika kebahagiaan kita pandang dari segi estetika duniawi niscaya sifatnya sesaat, fluktuatif dan tidak stabil. Lagipula untuk apa memiliki sesuatu yang hanya bisa mengganggu penglihatan orang lain dan menyingkirkan lingkungan alamiah. Daripada mengejar kemegahan, kebesaran dan kemewahan adalah lebih baik jikalau semuanya itu disyukuri sehingga hatipun menjadi bahagia menempatinya hari lepas hari.

Manusia selalu saja melawan alam hingga alam menelannya

Buah Pengetahuan Tentang Yang Baik Dan Yang Jahat telah kita curi dari Tuhan. Lalu dengan semua ilmu itu kita merasa hebat dan ingin mengubah segala sesuatu sesuai keinginan kita. Padahal manusia hanyalah entitas kecil di alam semesta yang luas. Sayang kita tidak tahu diri lalu menata ulang karya Tuhan sesuai dengan wawasan sempit yang dimiliki. Manusia membangun gedung dan fasilitas berteknologi mewah nan megah yang syarat dengan nilai estetika sintetis. Akibat perlakuan yang berlebihan terhadap lingkungan: kerusakan, pencemaran dan degradasi lingkungan alamiah terjadi dimana-mana. Akibatnya rumah kita kebanjiran, tanah-tanah longsor, kekeringan dimana-mana dan gelombang panas menyengat kulit sedang cadangan energi terus menurun bahkan habis. Akhirnya, kitapun saling berkonspirasi untuk melemahkan satu-sama lain dalam rangka menguasai (lebih tepatnya mencuri) sumber energi yang tersedia.

Sejarah mengapa manusia begitu menginginkan kebesaran dan kemewahan

Melihat kembali ke belakang maka kita akan menemukan ada fakta fundamental mengapa manusia cenderung menginginkan rumah yang besar, megah dan mewah. Bila kembali ke posisi otak (mindset) primitif, maka kita mengerti bahwa mendambakan hal-hal yang besar termasuk sifat-sifat binatang. Karena gajah besar, ia ditakuti. Pohon besar dianggap sebagai tanaman keramat. Buah-buahan yang besar ukurannya begitu diinginkan manusia. Karena cendrawasih tampil mewah dengan bulu-bulunya, harimaupun takut mendekat apalagi memangsanya. Kebetulan nenek moyang kita memiliki banyak anak sehingga merekapun membangun rumah yang besar dengan kamar yang cukup banyak.

Berbagai-bagai perilaku binatang yang kita kenal disekitar begitu mencirkan sesuatu yang besar-besar sehingga menimbulkan rasa segan, takut bahkan terhormat bak raja. Nenek moyang dulu dan kitapun hingga sekarang masih menginginkan kebesaran seperti yang ditunjukkan oleh hewan-hewan di luar sana: itu dahulu kala! Sekarang semua manusia sudah mencapai fase revolusi mental yang dibawakan oleh pengenalan akan keberadaan Tuhan, sosok yang dikenal sebagai Pencipta segala makhluk bahkan Pencipta segala masa. Dari teladan yang diberikannya kepada kita, sekalipun Ia sebagai Alfa dan Omega tetap tampil dalam kesederhanaan hidup yang membumi. Sekalipun Tuhan yang kita kenal mampu melakukan banyak muzizat dan mengadakan banyak tanda, Ia tidak pernah hidup dalam kemewahan dan kenyamanan bak raja.

Sudah seharusnya kita meninggalkan budaya yang begitu menginginkan rumah yang serba mewah, luas dan megah sebab hal-hal semacam ini ditiru dari binatang. Sedangkan kalau kita berpatokon pada ajaran yang benar maka kesederhanaan yang minimalis adalah pilihan terbaik. Jika dahulu nenek atau moyang kita yang lainnya memiliki rumah yang sangat luas dengan lapangan besar, bukankah semuanya itu karena jumlah anak-anaknya juga banyak, tujuh orang, sembilan orang bahkan ada juga yang melebihi selusin. Jadi untuk apa kita yang saat ini hanya memiliki dua atau tiga orang anak membutuhkan rumah yang sebesar dan semegah layaknya di zaman baheula?

Dampak negatif memiliki rumah mewah

Pada dasarnya manusia meraih kemewahan di dunia ini dengan mengorbankan pihak lain. Kebesaran dan kemewahan rumah yang dimiliki jelas saja membutuhkan sumber daya dan energi yang besar selama proses pembangunan terlebih saat bagian-bagiannya dioperasionalkan. Oleh karena itu, perhatikan beberapa kerugian yang mungkin dialami oleh seorang pemilik rumah yang luasnya bak lapangan bola.

  1. Pajaknya tinggi.

    Ini harus dilakukan sebab bila semua orang mau memiliki rumah mewah niscaya pepohonan dan hutan akan tersingkirkan kepinggiran dan menyempit.

  2. Memicu kecemburuan sosial.

    Hanya membuat orang lain berdosa (memancing iri hati). Memiliki hati yang penuh iri-dengki sudah ada sejak zaman Adam dan Hawa.

  3. Perawatannya susah.

    Mengurus halamannya, ruang tamu, kamar-kamar, perabotannya, setiap tingkatannya, pintu dan jendelanya yang tinggi dan lebar.

  4. Membersihkannya butuh waktu lama.

    Sedangkan untuk masuk saja dari halaman depan ke belakang butuh waktu satu sampai lima menit terlebih lagi saat dibersihkan pasti butuh waktu berjam-jam.

  5. Semakin luas semakin banyak pembantu.

    Semakin besar rumah anda maka semakin banyak pembantu yang dibutuhkan kalau tidak ada bagian-bagian yang tidak terurus, kacau-balau, berdebu, berlumut bahkan ditumbuhi rumput pula..

  6. Biaya operasional tinggi.

    Lampu untuk penerangan, kipas angin dan AC untuk pendingin jelas membutuhkan biaya tambahan jika dibandingkan dengan rumah yang minimalis.

  7. Jadi seram sendiri.

    Misalnya anda tinggal seorang diri di dalam rumah tersebut sedangkan anggota keluarga yang lainnya pada keluar, itu pas malam hari pulak. Bukankah bulu kudu jadi merinding dibuatnya? Sebab besarnya rumah tersebut membuat kita tidak tahu apa yang ada disetiap sudut-sudutnya.

  8. Sikecil tidak bisa berbaur dengan lingkungan sekitar.

    Anak-anak enggan bermain di luar rumah atau dengan tetangga. Jelas saja mereka sudah punya semua (lengkap – komplit) di dalam rumah jadi untuk apa keluar? Ini juga dikarenakan oleh pagar hunian berkelas tersebut tinggi-tinggi dan selalu tertutup.

  9. Saat memanggil anak atau orang lain suaranya harus besar.

    Harus teriak kalau hendak memanggil anak. Oleh karena, jarak yang agak jauh ditambah lagi besarnya ruangan dalam rumah mewah tersebut, suara jadi menyebar dan semakin tidak jelas. Sedang hunian minimalis membuat suara lebih fokus dan cukup jelas untuk didengar dari belakang ke depan.

  10. Lelah sendiri saking luasnya.

    Jalan-jalan yang melelahkan untuk mengambil ini itu termasuk saat memanggil anak dari kamarnya yang cukup jauh ke belakang (kelantai atas) dari ruang tamu.

  11. Merusak lingkungan.

    Saat pembangunannya membutuhkan sumber daya, lahan dan energi yang tinggi sedang energi listrik yang digunakan untuk meneranginya juga tinggi.

  12. Tidak ada tantangan dari tetangga.

    Kurang mengalami ujian kebisingan. Jaman sekarang kebisingan itu tidak dapat dicegah. Anda harus menyesuaikan diri, sayang tembok yang tebal dan pagar yang tinggi membuat indra tidak mendapatkan tekanan.

  13. Amarah dilampiaskan suka-suka.

    Marah menjadi lebih bebas. Saat suara kita tidak ada yang mendengarkan pastilah saat marah akan keluar begitu saja. Lain dengan orang yang tinggal dan bertetangga dengan orang lain niscaya ia cenderung menjaga volume suaranya.

  14. Bebas bersikap kasar.

    Kita merasa tidak ada orang lain yang melihat jadi pemikiran untuk melakukan sesuatu sebebas-bebasnya mulai kelihatan bahkan sikap yang kasar kepada anggota keluarga yang lainpun tidak dapat dihindarkan. Paling juga kita takuti agar dia tidak mengadu ke orang lain.

  15. Mengkonsumsi cemilan suka-suka.

    Kita tidak lagi segan-segan mengkonsumsi cemilan sekalipun dalam jumlah banyak karena tidak ada yang melihat dan mendengarkan. Lain halnya ketika kita hanya berbatasan papan atau tembok dengan tetangga, pasti saat mau ngemil atau makan sekalipun dijaga agar tidak dianggap rakus.

  16. Tidak ada rasa saling menjaga.

    Hidup sebuah keluarga di rumah mewah jelas menutup kemungkinan untuk berbaur dengan orang lain sebab pagar dan tembok yang tinggi telah memisahkan kita dari lingkungan sekitar. Akibatnya ketika sesuatu terjadi orang lain/ tetangga tidak dapat mendengarkannya bahkan saat maling masukpun dan kita berteriak, tetangga tidak mengetahuinya sebab rumah kita dikelilingi oleh taman yang cukup luas.

  17. Tidak ada pelajaran menyesuaikan diri.

    Kesempatan untuk belajar menyesuaikan diri hilang. Saat bertetangga dengan orang lain kita perlu pandai menyesuikan diri. Jangan terlalu sensitif sebab akan banyak hal kecil yang menjadi masalah. Tetapi jangan juga terlalu cuek nanti dianggap sombong/ lebay. Jadi proses menyesuaikan diri ini jelas butuh waktu yang tidak singkat.

  18. Aktivitas anak tidak bisa dipantau dengan jelas.

    Saat kita memiliki rumah yang sangat besar maka akan lebih banyak space kosong yang memisahkan anggota keluarga yang satu dengan anggota keluarga yang lain. Keadaan ini jelas akan membuat pengawasan yang dilakukan orang tua terhadap perilaku anak akan lebih renggang. Sebab anak bisa melakukan apa saja di dalam kamarnya tanpa harus pusing-pusing karena mengganggu aktivitas anggota keluarga lainnya. Dia akan menggunakan kamarnya sebebas-bebasnya sambil mengunci pintu tanpa takun diketahui/ didengarkan/ dikenali orang tua yang kamarnya berada jauh.

  19. Orang tua tidak bisa memantau seluruh aktivitas di dalam rumah.

    Saking besar dan mewahnya sebuah hunian, orang yang berada di depan tidak bisa lagi mendengarkan kegiatan orang yang berada di belakang. Untuk saling mengetahui, harus berjalan jauh kesana-kemari dimana itu cukup melelahkan. Bahkan karena begitu banyak ruangan yang kosong maka tidak semua pemakaian ruangan tersebut bisa dipantau. Anggota keluarga yang lain bisa saja menyalahgunakan pemakaian kamar-kamar kosong tersebut pada hal-hal yang negatif.

  20. Orang tak dikenal bisa saja sembunyi.

    Pencuri/ penyusup/ orang jahat bisa bersembunyi di sudut-sudut tertentu tanpa diketahui orang. Inilah salah satu kerugian besar saat memiliki hunian yang mewah. Seseorang bisa saja menyusup dan nyungsep kedalamnya tanpa diketahui oleh orang tua. Itu bisa saja penyusup, teman , pacar anak-anak sedang mereka melakukan hal-hal yang aneh-aneh. Bahkan tidak tertutup kemungkinan bahwa rumah tersebut di masuki maling di siang hari tetapi mereka baru beroperasi di malam harinya saat semua penghuni rumah telah tidur.

Tempat tinggal minimalis sempurna

Mengapa kami berkata demikian? Bukankah saat ukuran rumah agak sempit maka orang didalamnya tidak bebas? Siapa bilang orang di dalam sana tidak bebas, justru ketika orang di sana ingin mencicipi kebebasan maka ia akan keluar untuk berbaur dengan lingkungannya. Sedang untuk merawatnya tidak membutuhkan tenaga yang sangat besar, cukup Ibu atau Kakak yang melakukannya maka semuanya beres. Keadaan ini menyisakan banyak waktu luang sehingga bisa digunakan untuk lebih memfokus pikiran kepada Tuhan (doa, firman, bernyanyi memuliakan nama-Nya), juga dengan belajar, mengerjakan hal lainnya dan beristirahat sejenak.

Sadarilah bahwa kemewahan kita secara berangsur-angsur membuat kepribadian menjadi individualis yang egois dan arogan. Sedangkan memiliki rumah yang bertetanggaan dengan orang lain merupakan sebuh tantangan yang mengharuskan anda untuk menyesuaikan diri sehingga tetap hidup akur dengan orang lain sekalipun ada gejolak yang menyertainya. Sadarilah bahwa manusia tidak sempurna dan ketidaksempurnaan itulah yang membuat kita saling menguji dan menguatkan satu sama lain. Kesederhanaan adalah perilaku yang sosialis dan ramah lingkungan. Memiliki rumah yang minimalis membuat keberadaan kita dekat dengan sesama, tidak melawan alam dan menyatu dengan harapan Sang Khalik.

Salam sederhana itu luar biasa!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.