Gejolak Sosial

+10 Penyebab Produksi Ikan Laut Menurun – Penangkapan Ikan Berlebih Tanda Ketamakan: Hasil Laut Tidak Mungkin Habis

Faktor Penyebab Produksi Ikan Laut Menurun - Penangkapan Ikan Berlebih Tanda Ketamakan Hasil Laut Tidak Mungkin Habis

Hanya di bumi kita tercinta, bagian yang basah lebih luas daripada bagian yang kering. Berdasarkan laporan dari situs Wikipedia.Org total luas bumi 510.072.000 km² dimana 148.940.000 km² berupa daratan (29,2 %) dan 361.132.000 km² berupa perairan (70,8 %). Perairan disini sudah termasuk lautan, danau, sungai dan rawa-rawa. Jadi bisa dikatakan bahwa tubuh manusia adalah miniatur dari Ibu kita (Bumi – Ibu Pertiwi). Mulai sekarang, apapun perlakuan yang akan diberikan atas bumi ini, jangan sampai mengurangi atau menambahkan bagian yang keringnya (daratan – reklamasi). Sebab semua penambahan itu bisa mengganggu keseimbangan alam sama seperti saat tubuh kekurangan cairan (dehidrasi di bawah 70%).

Lautan lebih kaya daripada daratan

Pula bagian yang kering dalam tubuh manusia totalnya lebih kurang 30% sedang yang cairnya lebih kurang 70%, takaran ini sudah seimbang adanya. Demikian juga dengan bumi, bagian yang kering dan yang basah sudah pas maka sebaiknya janganlah ditambah atau dikurangi nanti bisa mengganggu keseimbangan alam. Laporan lain menunjukkan bahwa perbandingan antara daratan dan lautan (belum termasuk sungai, danau dan rawa) berada pada kisaran 1/3 untuk daratan sedangkan lautan berada pada kisaran 2/3. Pada dasarnya semua petunjuk ini menunjukkan bahwa bumi sangat basah dimana biasanya populasi melimpah-limpah dibagian-bagian yang lembab tersebut.

Kekayaan laut adalah potensi yang sangat besar untuk dimanfaatkan oleh bangsa ini. Jangankan hasila yang diperoleh dari makhluk yang ada didalamnya, mediumnya saja (air laut) sangatlah berharga. Garam adalah sumber energi siap pakai bila suatu saat di atas permukaan bumi tidak ada lagi makanan. Senyawa ini juga diketahui dapat menyuburkan dan menyehatkan tanaman bahkan hewan-hewan di daratan juga memerlukannya sebagai faktor penting pertumbuhan sekaligus menyehatkan tubuh. Kekayaan lautan berlipat kali ganda dari kekayaan daratan sebab setiap kedalaman yang berbeda dihidupi oleh spesies yang berbeda-beda pula.

Populasi ikan lebih banyak dari populasi manusia

Baiklah, mari sekedar berspekulasi, lebih banyak mana: populasi ikan atau populasi manusia? Seharusnya populasi ikan sangat banyak bahkan bisa kami katakan bahwa jumlahnya melimpah-limpah. Mengapa demikian? Jawabannya singkat saja, yakni karena lautan lebih luas dibandingkan dengan daratan. Lalu ada apa zaman sekarang, mengapa HASIL LAUT TERUS MENURUN dari tahun ke tahun? Ini jelas mengundang banyak spekulasi dari kalangan pemikir. Ada yang mengatakan bahwa keadaan ini disebabkan oleh fenomena alam atau akibat pengaruh global warming (pemanasan global) atau merupakan manifestasi dari ketamakan manusia itu sendiri.

Ketamakan menurunkan harapan hidup generasi selanjutnya

Kami menekankan pemahaman pada bagian ini tentang keserakahan manusia yang pada akhirnya akan membunuh dirinya sendiri dalam bencana global. Ini tidak lain disebabkan oleh karena perilaku yang tidak cerdas. Bisa jadi ini memang disebabkan oleh karena IQ-nya kurang mantap (di bawah rata-rata) dan ada juga yang disebabkan oleh karena pengetahuan yang kurang. Tetapi tidak dipungkiri juga ada yang dikarenakan oleh faktor kesengajaan, artinya sudah tahu tetapi tidak mau tahu. Sifat yang tidak peduli semacam ini menandakan bahwa manusia tersebut tidak bisa berpikir jauh ke depan, yang ada di benaknya hanya uang, uang dan uang.

Bila kita telisik lebih dalam lagi maka kita akan menemukan bahwa sistem pembiayaan dan penggajian yang tidak setara telah menimbulkan gejolak di dalam masyarakat. Kemungkinan besar para nelayan ini ditekan oleh cukong-cukong yang lebih berkuasa diatasnya. Biasalah, namanya juga milik pribadi, swasta punya: HASIL ADALAH SEGALANYA terserah prosesnya mau dibagaimanakan. Terlebih ketika disekitarnya (saudara atau tetangga) yang kehidupannya lebih waw (lebih mewah dan kinclong). Niscaya upaya untuk menghasilkan ikan sebanyak-banyaknya akan diwujudkan bagaimanapun caranya.

Jikalau kenyataan ini terus berlanjut maka bisa dipastikan bahwa sistem pemerintahan/ sistem ekonomi yang kita miliki tidak akan bertahan untuk generasi berikutnya. Sebab hasil laut yang terus-menerus menurun akan sampai kepada titik habis (nol – tidak ada ikan) setelah berpuluh atau beratus tahun kemudian. Akibatnya aktivitas perdagangan menurun, perekonomian anjlok dan pada akhirnya negara akan bangkrut. Tidak ada lagi kemakmuran sebab semua harus di beli dengan hariga yang sangat-sangat mahal. Oleh karena itu, lindungi kesejahteraan generasi berikutnya dengan menjauhkan diri dari sifat serakah yang cenderung merusak sumber daya yang tersedia.

Alasan mengapa hasil tangkapan ikan laut semakin turun dari tahun ke tahun.

Ilmu pengetahuan itu seperti buah simalakama, ada sisi baik dan ada pula sisi jahatnya. Itulah makna dari keberadaan Pohon Pengetahuan Tentang Yang Baik dan Yang Jahat di awal kehidupan umat manusia di zaman purba kala. Cara menangkap ikan memiliki manfaat positif juga sekaligus manfaat negatif. Jadi harus berhati-hati saat menekuni pekerjaan ini (semua pekerjaan ada sisi baik-buruknya). Berikut ini akan kami ajukan beberapa faktor penyebab turunnya hasil laup para nelayan.

Pengetahuan kurang.

  1. Manusia dengan wawasan dan pengetahuan yang sempit.

    Orang dengan pengetahuan sempit cenderung tidak mengetahui bahwa kehidupan di bumi ini saling terhubung satu-sama lain. Ketika kita mengeksploitasi sebuah ekosistem secara berlebihan niscaya keadaan tersebut akan berdampak buruk bagi ekosistem lainnya bahkan cenderung menyebabkan bencana alam: tangkapan ikan nihil. Keadaan ini jelas akan merugikan manusia itu sendiri, cepat ataupun lambat. Oleh karena itu, kembangkan kemampuan berpikir anda dengan tidak hanya menjadi manusia operator yang hanya menjalankan saja. Melainkan cari tahu jugalah penyebab, pengaruh dan solusi beberapa fenomena alam yang terjadi disekitar anda.

  2. Tidak mengetahui daerah potensial yang memiliki banyak ikan.

    Nelayan perlu mengetahui dimana-mana saja tempat/ lokasi yang memiliki banyak ikan. Ini diperoleh dari hasil mencari tahu sendiri lewat informasi yang tersedia (buku, internet dan media lainnya), pengalaman pribadi, berbagi pengalaman dengan sesama nelayan dan sumber-sumber lainnya. Ada beberapa yang mengatakan bahwa tangkapan lebih banyak di daerah seperti berikut ini.

    • Dalam lautan yang dasarnya mengandung batu karang dan rumput laut.
    • Diantara pulau-pulau terpencil dan kosong.
    • Diperairan tempat bertemunya arus laut yang dingin dan panas.
    • Di sekitar gunung berapi bawah laut.
    • dan lain sebagainya.
  3. Peralatan tangkap yang kurang memadai.

    Tentu saja untuk hasil tangkapan yang lebih baik dibutuhkan perahu seperti kapal yang memiliki berbagai alat dukungan untuk aktivitas ini. Jika kapalnya besar niscaya tangkapannya juga besar dan tentu saja tidak sedikit. Bila perlu dilengkapi dengan alat pendeteksi ikan alias radar untuk mengetahui posisi tepat objek sasaran berada.

    Ketamakan manusia itu sendiri.

  4. Pencemaran air laut lewat aktivitas di daratan yang berlebih.

    Pada hakekatnya, lautan adalah buffer bagi bumi kita. Jadi seasam dan sebasa apapun cairan yang berasal dari daratan baik dari hasil aktivitas manusia maupun dari hasil fenomena alam itu sendiri (air hujan) tetap bisa dinetralkan oleh lautan yang luas dan dalam. Air hujan sendiri berasal dari penguapan air laut sedangkan berbagai bahan cemaran organik (urin, feses) akan dimineralisasi oleh mikroorganisme di dalam laut. Begitu juga dengan berbagai bahan asam/ basa sintetis akan segera diproses oleh mikroorganisme untuk didemineralisasi.

    Pencemaran limbah industri biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk dinetralkan (dijadikan mineral – segala sesuatu terbuat dari dan akan menjadi garam). Akibatnya, ikan-ikan yang hidup di muara akan lebih dulu mati akibat keracunan sedang sebagian lainnya akan menjauh ke area yang lebih dalam. Sedang kita tahu bahwa semakin dalam lautan maka semakin banyak predator yang ada disana. Semua keadaan ini akan berakumulasi sehingga menyebabkan turunnya hasil laut.

    Sebaiknya kalangan industri terlebih dahulu menetralkan limbahnya dengan alat khusus. Mudah sekali untuk melakukannya, hanya menggunakan garam dan beberapa proses lainnya yang tidak begitu rumit (pengadukan, pemanasan dan pengendapan). Sebenarnya pihak industri juga bisa langsung membuangnya ke laut: tapi itu tadi masalahnya, ikan yang ada di dekat pantai akan mati dan lari ke tempat lain.

  5. Aktivitas manusia yang menhancurkan koral.

    Manusia memang aneh, semua yang dirasanya indah akan diambil lalu di bawa ke rumah. Berpikir bahwa keindahan tersebut tetap sama saat ada didekatnya. Beberapa orang merasa perlu mengambil beberapa batu karang yang motifnya unik untuk dijadikan koleksi pribadi.

    Pernah juga sekali orang di rumah mengambil beberapa batu karang di salah satu tempat wisata. Memang awalnya terlihat indah tetapi besoknya mengeluarkan bau bahkan bau amis ini menetap sampai berbulan-bulan. Inilah tanda bahwa batu karang dilautan adalah makhluk hidup.

    Jadi untuk apa kita capek-capek membawa makhluk laut ke daratan? Bukankah kehidupan itu lebih berharga dibandingkan kematian? Terkadang sesuatu tetaplah indah jika dibiarkan begitu saja, justru saat dipindahkan estetikanya akan meredup secara perlahan-lahan bahkan menyebabkan efek samping juga.

  6. Mengeruk hasil laut dengan cara cepat pengeboman.

    Aksi pengeboman selain menghancurkan semua jenis ikan yang belum tentu semuanya dikonsumsi. Sebab cara mengebom. akan membunuh semua makhluk laut pada radius tertentu. Selain itu faktor dukungan hidup di dasar laut, yaitu batu karang juga turut hancur akibat aktivitas ini. Beginilah jadinya ketika manusia lebih mementingkan hasil daripada proses.

  7. Mengeruk hasil laut dengan cara cepat menyetrum.

    Aktivitas ini juga jeras merugikan sebab beresiko membunuh ikan kecil yang sangat rapuh. Jika anakannya di musnahkan dan induknya juga dimusnahkan lalu apa lagi yang tersisa di waktu yang akan datang? Kebiasaan menangkap ikan semacam ini jelas menghambat perkembangbiakan yang berakibat pada menurunnya hasil laut di masa mendatang.

  8. Menangkap ikan dengan pukat harimau.

    Jaring yang terlalu kecil akan menangkap semua makhluk laut besar dan kecil. Keadaan ini akan membunuh induk dan juga anaknya yang masih berukuran sangat kecil. Padahal anakan ikan yang terjebak disana tidak semuanya laku. Artinya untuk apa mengambil sesuatu yang jelas-jelas tidak menghasilkan secara ekonomi, justru keserakahan semacam ini bila terus dilanjutkan akan berdampak negatif bagi generasi selanjutnya.

  9. Rakus mengkonsumsi semua hasil tangkapan tanpa memilah-milah.

    Heran dengan manusia zaman sekarang, sudah tahu bahwa semua yang ada di dunia ini berasal dari garam dan akan berubah menjadi garam kelak tetapi masih ada saja yang rakus. Biasanya orang mengkonsumsi sesuatu secara berlebihan karena hawa nafsunya yang tinggi tetapi orang-orang ini terus merasa kurang karena tidak pernah bersyukur. Akibatnya obesitas, darah tinggi, gula, kolesterol, asam urat, gangguan jantung dan penyakit lainnya.

    Ada baiknya, bila menangkap ikan mampu membedakan dimana tangkapan yang sedang bertelur dan dimana pula yang tidak. Sehingga yang sedang subur tersebut dibirkan kembali ke lautan untuk melanjutkan keturunan.

    Diantara semua tangkapan itu juga ada yang tidak dikonsumsi. Daripada dibiarkan mati berlama-lama di atas kapal maka lebih baik dibuang kembali ke lautan yang luas untuk melanjutkan hidupnya demi terpeliharanya ekosistem.

  10. Menangkap ikan yang masih burayak (anakan – mugu).

    Kebiasaan ini jelas tidaklah baik sebab ikan yang kecil-kecil itu masih belum layak ditangkap apalagi dikonsumsi. Bahkan mungkin saja butuh ratusan hingga ribuan burayak agar bisa dijual per ons. Coba bayangkan jika kita lebih sabar sehingga yang ratusan dan ribuan itu ukurannya sedikit lebih besar. Niscaya beratnya tidak hanya beberapa ons saja melainkan akan mencapai puluhan kilogram.

    Sebaiknya Nelayan hanya perlu mengumpulkan ikan yang sudah dewasa saja sedangkan yang ukurannya masih kecil atau sangat muda dibuang kembali ke lautan yang luas untuk melanjutkan hidup.

    Sistem distribusi yang tidak terkendali.

  11. Pedagang yang mau memasarkan ikan tawar/ teri burayak.

    Ada saja cukong/ pedagang yang serakah lalu mengumpulkan ikan burayak tersebut untuk dijadikan ikan asin. Ini adalah pemahaman yang paling keji sebab dengan rela hati bayi-bayi kecil yang masih cecunguk dikeringkan dan diasinkan dimana semuanya itu demi uang.

  12. Pembeli yang mau mengkonsumsi ikan teri/ tawar burayak.

    Ini seperti tali rangkaian keserakahan umat manusia yang salin terhubung satu-sama lain. Seolah mereka telah bekerja sama untuk mewujudkannya, Nelayan, pedagang dan pelanggan; ketiganya berkonspirasi untuk merusak lautan secara masif. Oleh karena itu, alangkah lebih baik jikalau seorang konsumen enggan membeli hasil dari perilaku yang serakah. Sebab dengan membeli hasil tangkapan orang tamak berarti pembeli/ konsumen telah melegalkan perilaku yang buruk itu, yakni keserakahan.

    Regulasi atau sistem yang tidak mendukung.

  13. Pemerintah yang lepas tangan dan enggan memberikan dukungan terhadap aktivitas nelayan.

    Kalangan pemerintah sebainya tidak hanya melepaskan rakyat pada bidang pekerjaannya masing-masing. Melainkan turut juga memastikan bahwa mereka tidak bekerja dalam keterbatasan. Edukasi yang baik dibutuhkan untuk menjaga keberadaan perikanan laut yang berkelanjutan. Tidak hanya itu saja, dukungan materi juga dapat diberikan untuk hasil tangkapan yang lebih maksimal.

  14. Nelayan yang dikuasai oleh cukong-cukong yang tidak peduli dengan prosesnya yang penting hasilnya banyak.

    Ketika oknum swasta menguasai suatu sistem perdagangan maka yang ada dikepalanya adalah bagaimana caranya agar terus-menerus untuk. Mereka tidak mengenal kerugiaan tetapi jika itu terjadi mereka akan berusaha menekannya sekalipun dilakukan dengan cara-cara licik/ manipulatif/ jahat. Oknum ini tidak mau tahu tentang bagaimana cara para nelayan meraih semuanya itu melainkan yang lebih penting adalah berapa kilogram hasil tangkapan anda minggu ini.

  15. Sistem penangkapan ikan yang tidak terintegrasi dengan kebutuhan masyarakat.

    Sistem kapitalisme yang terpecah-pecah cenderung menggiring para pemilik modal untuk menghasilkan sesuatu yang belum tentu dibutuhkan oleh masyarakat. Selain itu kalangan borjuis juga tidak dapat menjangkau semua kalangan dalam memasarkan produknya (jangkauan distribusi lemah sedang harga melambung tinggi) sehingga rakyat kecil yang tidak memiliki modal cenderung tidak bisa memperolehnya. Padahal hasil tangkapan laut begitu banyak sehingga sisanya akan berakhir di tempat sampah (dibuang) dan ada juga yang dijadikan sebagai ikan asin. Kemudian ikan asin ini akan dijual pula ke daerah lain. Keberadaan ikan asin yang melimpah adalah pertanda bahwa distribusi hasil laut melimpah-limpah tetapi tidak mencapai masyarakat bawah.

    Jika semua sistem telah disatukan maka kemampuan produksi akan diupayakan untuk selalu seimbangkan dengan kemampuan konsumsi. Pembagian hasil produksi akan dilakukan kepada seluruh anggota masyarakat secara merata. Jika tidak cukup untuk dibagi rata maka akan dibagikan secara bergilir sembil berputar dimana tidak ada satupun orang yang tidak mendapatkannya (dirugikan) atau mendapatkan lebih (diuntungkan) melainkan semua disamaratakan menurut kebutuhan masing-masing.

Selama manusia tidak serakah maka selama itu pula hasil laut akan terus berkelimpahan. Memang dampak dari kerakusan itu sepertinya tidak ada, toh ikan tetap ada di laut dan kitapun tetap makan dan minum dengan kenyang hari demi hari. Tetapi sadarilah bahwa ketamakan kita saat ini akan menggalaukan generasi berikutnya. Oleh karena itu, bijaklah menangkap ikan sebab lebih baik tangkapannya biasa-biasa saja asalkan tetap ada dari generasi ke generasi. Untuk apa menangkap ikan banyak-banyak (pendapatan jutaan bahkan ratusan juta karena semuanya dipunguti, yang kecil-kecil bahkan yang tidak layak dikonsumsi juga) jika di minggu/ bulan/ tahun berikutnya tidak ada lagi yang dapat ditangkap (pendapatan nol rupiah).

Salam bijak!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.