Gejolak Sosial

7 Filosofi Buah Durian – Isinya Lembut Di Luar Tapi Kuat Di Dalam

Filosofi Buah Durian - Isinya Lembut Dil uar Tapi Kuat Di Dalam

Durian (Nias: duria) adalah raja segala buah dari pohon besar yang berakar tunggang. Merupakan salah satu jenis tanaman yang tumbuh di daerah tropis, termasuk Indonesia. Kebanyakan masyarakat diseantero negeri telah mengenalnya dengan sangat baik. Kami sendiri sudah mengenal buah yang satu ini sejak masih kecil. Dahulu pernah rutin mencarinya ke hutan saat musimnya telah tiba. Keadaan ini jugalah yang membuat kami semakin cinta dengannya sebab telah dinikmati sejak masih bocah. Terlebih ketika keberadaannya bersifat musiman, harus sabar menunggu saat musim buah telah berakhir. Di daerah kami sendiri, musim buah durian terjadi dua kali setahun.

Saat dulu rutin mencari durian di hutan, waktu yang tepat untuk datang adalah di awal hari (subuh). Kemi yang masih anak-anak biasanya datang di pagi hari sampai sore (kebetulan waktu itu lagi libur sekolah). Dapatnya pastilah sisa-sisa yang belum ditemukan atau memang sengaja dibiarkan (termasuk kecil atau busuk) oleh para pencari sebelumnya. Waktu yang cocok lagi untuk menemukan buah duren yang jatuh adalah saat hujan turun dan angin sedang bertiup dengan kencang. Keadaan ini sekaligus meningkatkan bahaya tertimpa (ketimpuk durian runtuh) tetapi biasanya yang satu ini tidak terjatuh banyak di siang hari melainkan lebih banyak di malam hari.

Pengalaman saat mengkonsumsinya sungguh beragam: pertama-tama saat membukanya. Beberapa buah yang baru saja jatuh sangat sulit untuk dibuka. Lain halnya dengan buah yang sudah disimpan selama beberapa hari pasti lebih mudah untuk dibuka, bahkan kalau sudah terlalu lama pantatnya akan melekang (terbuka sendiri). Durian yang baru saja jatuh biasanya tidak semua matang. Beberapa ada yang terjatuh karena tertimpa buah yang lain dimana letaknya lebih rendah dari yang lainnya. Biasanya buah yang masih mentah/ mengkal sulit untuk dibuka. Butuh teknik khusus untuk membukanya. Lagipula siapakah yang mau mengkonsumsi sesuatu yang rasanya tidak nikmat sama sekali?

Setiap orang yang sudah bersusah payah membuka buah yang satu ini (sebaiknya kalau tidak bisa berikan kepada orang yang ahli di bidangnya) pastilah begitu senang melihat buah yang kuning, montok dan lembut. Rasa senang ini akan semakin hangat jika baru pertama kali mengkonsumsinya di awal musim ini. Kami sendiri sewaktu berada di seberang (merantau) sepertinya tidak pernah mengkonsumsinya secara utuh (satu buah). Paling-paling dikonsumsi bersamaan dengan minuman yang lainnya, misalnya es campur. 😀 Tetapi karena kebetulan kami dikampung, jadi bebas mau makan berapa aja.

Pengalaman saat mencicipi rasa durian banyak ragamnya. Ada yang kulit luarnya begitu kokoh dan berotot tetapi rasanya hancur banget. Pernah menemukan buah yang sangat mudah untuk dibuka tetapi dagingnya sangat tipus. Beberapa kali mendapat sesuatu yang masih mengkal/ mentah (mogore). Tidak luput juga kami pernah mendapatkan buah yang isinya busuk. 😀 Tetapi diri ini tetap bersyukur sebab masih ingat waktu diperantauan, cuma jadi orang yang bisa liatin aja tuh buah digantung di kaki lima. 😀 Sebab harga jualnya tinggi sangat, benaran gak cocok dengan kantong anak rantau. Bagi kami sebenarnya antara rasa dan ketebalan itu sama-sama penting. Namun saat dapat yang buruk juga tetap dikonsumsi asal masih layak, dengan demikian kami belajar menerima hidup apa adanya.

Ups….! Harap berhati-hati teman. Walau bentuknya mempesona dan rasanya nikmat aduhai tak tertahankan, tetap perhatikan (jaga) kesehatan anda. Jangan karena nikmat sesaat saja, semua yang ada di depan diembat. Ketahuilah bahwa kadar gula dan kolesterol juga asam urat dari buah yang satu ini sangatlah tinggi. Kami sebenarnya bisa mengkonsumsinya berapapun jumlahnya karena tersedia melimpah ruah tetapi membatasi diri hanya 3-5 buah saja dalam sehari. Penyakit yang paling sering kami derita akibat situasi ini adalah asam urat yang mengakibatkan tumit sakit. Keadaan ini mengharuskan kami untuk melakukan senam lutut untuk meringankan penyakit tersebut. Kamipun merasa beruntung diberikan penyakit ini sebagai pertanda (indikator) bahwa konsumsi yang dilakukan sudah berlebihan.

Filosofi buah durian

Durian adalah buah yang sangat unik. Dari luar terkesan menakutkan tetapi ternyata didalamnya mengagumkan. Oleh karena itu, kami terinspirasi untuk menulis beberapa pelajaran hidup yang pantas dari buah yang satu ini dan kebetulan saat ini di daerah kami lagi musim/ banjir buah durian. Berikut selengkapnya filosofi yang kami maksudkan.

  1. Semuanya ada musimnya – semua ada waktunya.

    Buah yang satu ini tidak selalu di jual di pasar/ pajak yang ada disekitar rumah dan lingkungan kita. Ada waktunya untuk berbunga, ada waktunya untuk berbuah, ada waktunya untuk jatuh dan ada waktunya untuk menganggur. Demikianlah kehidupan manusia, tidak semua hal yang kita alami hari lepas hari adalah nikmat. Kadang terasa pahit, asam, asin dan sekali-sekali manis. Terkadang ada suka-duka, ada tawa-tangis dan susah-senangnya, semua itu haruslah diterima seadanya dengan penuh rasa syukur dengan demikian hati selalu berbahagia menjalaninya.

  2. Tamengnya adalah duri-duri tajam – perlindungan kita adalah fokus Tuhan.

    Ini salah satu pelajar kebinatangan, dari sinilah nenek moyang kita belajar untuk membuat perisai/ tameng dan tembok yang berduri untuk melindungi diri dan wilayah kekuasaannya.

    Apa pula perlindungan kita di zaman sekarang? Harus memiliki sesuatu yang jauh dari kekerasan sebab jika kita menirukan hal tersebut, apa bedanya kita dari binatang? Itulah mengapa ada agama yang mengajarkan kita untuk berlindung kepada Tuhan saja dalam segala sesuatu. Fokus kepada Tuhan (doa, firman dan nyanyian pujian) adalah perlindungan kita (luar-dalam) dari segala hawa nafsu sesat-lebay, kebinatangan dan kejahatan lainnya.

  3. Isi Durian lembut di luar tetapi keras di dalam – manusia lembut di luar namun kuat di dalam.

    Isinya yang lembut dan nikmat di mulut berbeda jauh dari bentuk isinya/ bijinya yang sangat keras. Hampir semua buah-buahan matang yang kita kenal strukturnya lembut di luar saja (setelah dibuka di bawah kulit) tetapi bijinya benar-benar keras dan pahit sampai membuat gigi sakit saat dikunyah.

    Seharusnya demikianlah kehidupan kita. Dalam menjalani hari lepas hari, setiap orang perlu belajar untuk lemah lembut dan ramah tamah kepada sesama tetapi begitu diuji oleh situasi, hati ini kuat menjalani semuanya itu.

  4. Kulit boleh sama tetapi isinya bisa berbeda – Banyak hal yang terjadi yang tidak sesuai dengan tebakan/ harapan kita.

    Kami terkadang mendapatkan durian yang kulitnya dari luar sama tetapi ternyata isinya berasa berbeda, yang satu manis & nikmat tetapi yang lain agak pahit & tetap nikmat bahkan beberapa yang lain telah membusuk duluan. 😀

    Kita harus sadar betul bahwa sehebat apapun ilmu dan pengalaman yang dimiliki belum tentu keinginan di masa depan selalu terwujud. Oleh karena itu, jangan penuhi pikiran tentang keinginan (cita-cita) di masa depan melainkan jalankan rencananya, selalu fokus Tuhan dan apapun hasilnya terima semua itu apa-adanya sembari bersyukur dari waktu ke waktu.

  5. Isinya dipisahkan oleh beberapa bagian – Semua ada kelompoknya.

    Setiap isi durian tidak dapat bercampur dengan bagian lainnya melainkan satu biji dipisahkan dengan biji yang lain oleh struktur daging yang kering. Sedang beberapa biji dalam satu kelompok akan dipisahkan oleh semacam sekat dengan kelompok lainnya.

    Ini menandakan bahwa kita tidak bisa hidup seorang diri di dunia ini. Kita butuh kelompok kecil untuk melindungi diri sendiri dari hal-hal buruk di luar yang disebut keluarga. Manusia membutuhkan kelompok kerja yang dapat memfasilitasi seluruh bakat yang dibutuhkannya. Setiap orang membutuhkan kelompok masyarakat tertentu agar tetap hidup hingga beraktualiasasi dalam kelompok tersebut. Oleh karena itu, berhenti hidup menyendiri dan temukan kelompok yang ideal buatmu teman….

     

  6. Sekalipun satu kelompok tetap bisa dipisah dari yang lain – Kebebasan kita di batasi oleh kebebasan orang lain.

    Durian ini cukup unik, tidak seperti jeruk dimana dalam satu kelompok isi dan bijinya bercampur jadi satu. Tetapi buah yang berduri ini biji yang satu tidak dapat campur dengan yang lainnya bahkan cenderung dibatasi oleh kulit daging buah yang kering. Sehingga satu biji memiliki wilayah dan dagingnya sendiri (tidak menyatu dengan yang lainnya).

    Kita belajar untuk tidak terlalu menuntut kebebasan dalam hidup ini sebab kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain. Daripada menuntuk hak-hak atas kebebasan maka lebih baik menyesuaikan diri dengan kehidupan lingkungan anda. Tetapi jika sudah terlalu kelewatan anda bisa menindaknya lebih lanjut.

  7. Seburuk-buruknya durian sangat bermanfaat – betapapun lemah kehidupan kita selalu bisa memberi manfaat kepada sesama.

    Mungkin beberapa orang melihat bahwa buah yang satu ini hanya bermanfaat pada bagian isinya saja. Ternyata kulit durian yang kering juga bermanfaat sebagai media tanam yang baik bagi tanaman hias. Bahkan bijinya bermanfaat pula bagi kesehatan manusia.

    Seburuk apapun keadaan anda saat ini atau selemah apapun kondisi anda atau sesederhana apapun ekonomi keluarga anda, tetaplah menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama. Tidak perlu terlalu repot untuk menjadi orang yang senantiasa berbagi kasih melainkan mulai dari hal-hal kecil di dalam keluarga. Misalnya ramah tamah (senyum, salam, sapa, terimakasih, tolong, maaf, menjadi pendengar yang baik), setia, adil, jujur, berbagi informasi, perhatian dan lainnya. Selanjutnya andapun dapat melakukannya sesuai dengan potensi/ bakat/ pekerjaan yang dimiliki masing-masing.

Durian adalah tanaman musiman yang dapat dinikmati pada waktunya. Pada dasarnya segala hal di dunia ini ada waktunya dengan demikian sensasi rasa dalam kehidupan kita beragam dari hari ke hari. Saat sesuatu dikonsumsi terus-menerus justru akan menyebabkan kejenuhan. Oleh karena itu, alangkah lebih baik jikalau dalam menikmati hidup, kita melakukannya secara fluktuatif dengan demikian tidak kecanduan dan bebas dari rasa bosan. Tetapi harap diingat bahwa fluktuasi (naik-turun) hanya dibutuhkan saat menikmati hidup sedang dalam bersikap kita harus konsisten agar bisa dipercaya oleh orang lain.

Salam kemakmuran!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.