Gejolak Sosial

Puncak Peradaban Manusia, Kehidupan Yang Membumi

Puncak Peradaban Manusia, Kehidupan Yang Membumi

Peradaban adalah (1) kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin; (2) hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa (KBBI Offline). Merupakan kemampuan umat manusia (baik kecerdasan dan kebudayaan) untuk menyesuaikan diri dengan bumi. Ada banyak gagasan yang mengindikasikan pengertian dari kata “peradaban.” Beberapa mengatakan bahwa puncaknya terletak dalam hal pencapaian ilmu pengetahuan yang tinggi. Yang lain meyakini bahwa puncaknya terletak dalam pengembangan seni dan kebudayaan yang melampaui batas-batas logika manusia itu sendiri.

Peradaban tercipta atas dasar kebersamaan yang tersistem

Peradaban yang maju dengan pesat selalu diawali dengan kebersamaan diantara seluruh elemen masyarakat. Tanpa rasa kebersamaan ini, mustahil suatu peradaban akan mencapai puncak kejayaan. Rasa kegotong-royongan ini bisa saja timbul karena terletak di wilayah yang sama, keyakinan yang sama (spiritual), kepentingan yang sama dan musuh yang sama pula. Harap dipahami bahwa dahulu kala beberapa orang masih berperilaku seperti binatang sehingga menciptakan ketakutan diantara rakyat. Oleh karena itu, terbentuklah sistem kerajaan untuk melindungi rakyat dari para pengacau tersebut. Sehingga muncullah niat bersama untuk menciptakan suatu sistem kerajaan agar kondisi masyarakat menjadi lebih kondusif.

Kekacauan dalam masyarakat sudah ada sejak dahulu kala. Ini adalah polemik sampai sekarang. Disinilah suatu kerajaan/ negara berperan aktif untuk menciptakan rasa aman dan adil bagi warganya. Sayang, penegakan hukum yang dilakukan hanya menebas pucuk permasalahannya saja. Selang beberapa bulan atau tahun setelah pemberantasan, kejahatan yang serupa kembali muncul di wilayah tersebut. Ini menandakan bahwa penyelesaian masalah dengan cara-cara kekerasan tidak menyelesaikan apa-apa melainkan hanya membuat hal tersebut semakin merajalela.

Segala bentuk persamaan di dalam suatu masyarakat merupakan sebuah petunjuk bahwa telah lahir sebuah peradaban di wilayah tertentu. Misalnya lewat gaya hidup, keyakinan, ramah-tamah, sopan-santun dan karya seni yang ada di dalam masyarakat dan lain sebagainya.. Tanpa perasaan yang serupa sangat sulit untuk membulatkan tekad untuk menjadi suatu kerajaan kecuali bila hal tersebut dicapai dengan cara-cara militerisme, yaitu menaklukkan manusia di bawah kekuatan otot, pedang dan senjata

Puncak kejayaan dicapai lewat ilmu pengetahuan

Bila berbicara mengenai puncak maka keadaan ini menegaskan kemajuan dari berbagai bidang. Pada kebanyakan kebudayaan, tonggak kemajuan itu hanya bersandar dalam satu bidang saja. Misalnya yang diandalkan hanya kekuatan militer atau kekuatan politik saja yang berkembang pesat. Sedangkan bagian-bagian lain dalam kehidupan bermasyarakat tidak turut berkembang, misalnya adalah tentang kehidupan sosial. Perkembangan yang hanya didominasi oleh bidang-bidang tertentu inilah yang membuat puncak peradaban manusia tidak akan bertahan lama. Sebab di dalam masyarakat harus ada yang namanya kebersamaan dan tanpanya lini yang satu akan mengorbankan lini yang lain sehingga destruksipun akan dimulai dari dalam.

Ada begitu banyak bangsa yang dahulu kala sangat maju dengan segala kebudayaan dan kekuatan militernya tetapi pada akhirnya terjatuh karena keangkuhan. Mereka berpikir untuk berkuasa disana-sini (menguasai bumi) sedang kehancuran itu di mulai dari dalam negeri sendiri. Rapuhnya sebuah peradaban akan dimulai dari tatanan masyarakat yang tidak seimbang. Ketidak adilan yang terus terjadi dan telah berlangsung lama akan melegalkan timbulnya pemberontakan atau setidak-tidaknya masyarakat membiarkan pemberontakan itu terjadi. Inilah yang akan menghentikan perkembangan kehidupan ke tahap yang lebih baik melainkan semakin memburuk hingga tersisih dari bumi ini.

Pohon Pengetahuan adalah buah simalakama yang membawa kehancuran

Di masa lalu kemajuan peradaban manusia didominasi oleh pertanian dan militer. Setiap bangsa yang menguasai kedua hal ini niscaya akan menguasai seluruh wilayah yang ada. Sedang kekuatan militer dan pertanian itu sendiri diawali dengan berkembang pesatnya sistem ilmu pengetahuan di daerah setempat. Sayang, dimana-mana Pohon Pengetahuan Tentang Yang Baik Dan Yang Jahat selalu berdampak buruk dalam kehidupan masyarakat. Biar bagaimanapun kemajuan itu, ilmu pengetahuan selalu meminta tumbal. Pada akhirnya ilmu tanpa kasih akan menjadi alat konspirasi yang merugikan bahkan mengorbankan kehidupan orang lain.

Disatu sisi tingkat kemajuan pengetahuan masyarakat akan dikembangkan untuk meraih kemuliaan duniawi yaitu di bidang militer. Seperti semua nenek moyang kita terdahulu yang sangat ingin mulia di bumi, demikianlah ilmu dan wawasan tersebut dimanfaatkan untuk meraih kekuasaan wilayah yang seluas-luasnya. Begitulah nasib manusia yang mengembangkan ilmu tanpa kasih di dalam hati niscaya orang lain akan dijadikan tumbal untuk memuaskan hawa nafsunya terhadap penguasaan wilayah yang lebih luas. Pada akhirnya, orang yang menggunakan pedang akan ditelan oleh pedang itu sendiri.

Disisi lain perkembangan ilmu pengetahuan itu juga turut menelurkan karya-karya seni untuk meraih kemuliaan duniawi. Pencapaian aktualisasi diri yang maksimal biasanya diawali dari kepemilikan hidup yang makmur. Tanpa kesejahteraan mustahil dihasilkan karya seni yang baik bahkan luar biasa. Ada banyak seni yang dihasilkan dalam suatu peradaban. Beberapa terdiri dari seni tarik suara, seni rupa (lukisan, pahatan dan lainnya) dan seni peran (tarian, komedi, film dan lainnya). Semua perkembangan ini dicapai dengan pemikat uang dan pujian (kenikmatan & kemuliaan duniawi).

Akhir dari peradaban manusia

Hawa nafsu yang disertai dengan wawasan yang luas akan berujung menghasilkan keserakahan di dalam suatu sistem (kerajaan/ negara). Keadaan ini selalu diiringi dengan kehidupan para petinggi yang bermewah-mewahan yang disertai dengan ekspansif militer ke wilayah yang lebih jauh. Semua ini pada akhirnya akan menghabiskan sumber daya alam terutama pangan. Rakyat kecil yang biasanya memberikan upeti/ pajak yang besar dari hasil alamnya tidak dapat lagi menghasilkan apa-apa atau sekalipun ada jumlahnya sedikit sekali. Keadaan ini akan berimbas pada kekuatan tempur di medan perang yang menurun, kekuatiran kaum bangsawan akan pasokan pangan yang terus berkurang dan tentu saja akibat masalah perpecahan internal di dalam kerajaan/ negara/ bangsa itu sendiri.

Semua hasil pengetahuan manusia (sistem politik, militer, seni, kebudayaan dan lain sebagainya) pada hakekatnya akan membuat manusia semakin konsumtif terhadap materi. Keadaan ini secara tidak langsung akan menciptakan kesombongan yang sekaligus mendorong munculnya iri hati. Sifat angkuh para pemimpin membuat rakyat tidak lagi loyal dan pembayaran pajakpun mandek (sekalipun ada akan disembunyikan), belum lagi masalah hasil pangan yang terus menurun. Keadaan ini menyebabkan instabilitas politik, belum lagi masalah tentara yang kalah di medan peperangan. Juga yang paling buruk dari semuanya itu adalah perpecahan diantara para pemimpin/ kaum bangsawan. Pada akhirnya semua keadaan ini akan berimbas pada rapuhnya sistem pemerintahan sehingga mudah dikalahkan oleh kekuatan dari dalam (pengkhianatan) dan juga kekuatan dari luar (musuh bebuyutan).

Puncak kemakmuran juga turut menimbulkan kelemahan dan perpecahan diantara kaum militer. Kekuatan mereka bisa saja semakin lemah dikarenakan oleh pasokan pangan yang terus turun karena rakyat yang kurang kooperatif dan hasil panen yang juga turun. Ketangkasan dalam bertempur juga turut berkurang karena berada dalam zona nyaman (puncak kemakmuran). Belum lagi masalah perpecahan diantara para jendral dimana ada yang pro dan kontra dengan pemerintah. Semua keadaan ini akan menyebabkan kekuatan tempur menurun bahkan untuk bertahan saja dari musuh yang baru-baru bersinar (kerajaan baru berumur sejagung) tidak dapat.

Satu lagi kejadian yang akan menggulingkan puncak kejayaan dari peradaban suatu bangsa adalah bencana alam. Para punggawa/ petinggi/ bangsawan yang sangat menggilai hunian mewah, besar dan berkelas di zamannya akan menebang lebih banyak pepohonan. Ketika lahan-lahan pertanian dan peternakan baru dibuka maka pohon-pohon besar akan ditebang & hutan akan digundulkan. Bila terus dibiarkan tak terkendali niscaya akan berdampak pada kerusakan lingkungan alamiah. Keadaan ini secara bertahap akan menyebabkan hasil panen turun karena tanah yang menjadi tandus (kehilangan unsur hara) dan bencana alam yang menyebabkan gagal panen. Situasi semacam ini juga membuat suatu bangsa/ negara/ kerajaan sangat rapuh dimana mudah ditaklukkan oleh pengkhianat dan musuh bebuyutan dari wilayah lain.

Pelajaran dari peradaban yang telah lama berlalu

Jaman sekarang kita bisa belajar banyak dari peradaban yang telah terjadi sejak zaman dahulu kala. Para pemimpin yang serakah mengejar kemuliaan dengan menaklukkan wilayah yang berada jauh dari daerahnya. Mereka mengandalkan pengetahuan, otot dan senjatanya untuk menjadi mulia agar mampu tertawa bangga kepada teman-teman sebangsanya. Pada akhirnya apa yang mereka lakukan kepada orang lain kelak akan mereka alami juga. Hal yang sama yang dilakukannya kepada sesama akan dialaminya juga kelak atau setidak-tidaknya keturunannya yang kemudian. Apa yang di tabur itu juga yang dituai! Itulah pelajaran pertama.

Pelajaran kedua untuk saat ini adalah memaksa alam menjadi seperti yang kita inginkan adalah menentang takdir yang diberikan Tuhan. Manusia hanya sebagian kecil dari alam tetapi dengan semena-mena kita mengaturnya untuk kepentingan pribadi demi kemewahan, kenyamanan, kemegahan, kenikmatan dan kemuliaan duniawi. Kita memaksa alam sekitar dengan menebang pohon, menggali tanah dan membunuh hewan lainnya sembarangan dimana semuanya itu hanya demi gemerlapan duniawi yang sementara saja. Seolah kita lebih berkuasa dari lingkungan sekitar sehingga memaksanya untuk beradaptasi sesuai dengan yang diinginkan hati ini. Akibatnya jika tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yaitu kita mengorbankan orang lain untuk kepentingan pribadi. Kita bertanya-tanya mengapa bencana terjadi dimana-mana: memakan korban jiwa (manusia, hewan) dan merusak infrastruktur yang ada. Oleh karena itu, kita perlu menyesuaikan diri dengan alam sekitar agar tetap berkuasa atasnya tanpa menghancurkan/ memusnahkan alam untuk selamanya.

Dari dulu kita sudah belajar bahwa peradaban tanpa keadilan sosial dan yang jauh dari aktivitas ramah lingkungan hanya menyebabkan instabilitas, perpecahan dan kehancuran. Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kasih hanya membuat kita terkesan memanfaatkan orang lain demi kepentingan pribadi dan kelompok. Bahkan pada satu titik ilmu tersebut akan memaksa kita untuk mengintimidasi, mencuri, mengadu domba dan memusnahkan kaum tertentu demi mesin berteknologi yang dibanggakan dan telah memanjakan kita selama ini. Oleh karena itu, mari menjaga keseimbangan lewat sistem demokrasi yang menjunjung tinggi kesetaraan ilmu, pendapatan dan kekuasaan. Juga tidak lupa untuk selalu ramah lingkungan dengan demikian alam sekitar melindungi keberadaan kita dan bukannya malah menentang umat manusia dalam bencana alam yang bertubi-tubi.

Salam peradaban yang lebih baik!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.