Gejolak Sosial

7 Alasan Penyebab Munculnya Kasta (Kelas) Sosial – Kehidupan Berjenjang Yang Dipetak-Petakkan Secara Rapi Dan Masif (Tidak Disadari Banyak Orang)


Alasan Penyebab Munculnya Kasta (Kelas) Sosial – Kehidupan Berjenjang Yang Dipetak-Petakkan Secara Rapi Dan Masif (Tidak Disadari Banyak Orang)

Kasta adalah golongan (tingkat atau derajat) manusia dalam masyarakat beragama Hindu (KBBI Offline). Merupakan kelas sosial dalam masyarakat yang menunjukkan perbedaan pengaruh kekuasaan, penggajian dan ilmu pengetahuan. Terlepas dari agama Hindu, kasta diterapkan dimana-mana. Sayang sebagian besar orang tidak menyadari keadaan tersebut. Kemungkinan besar karena istilah ini tidak diumbar dalam sistem berorganisasi melainkan lebih populer sebutannya dengan sistem penggajian, kalangan manajemen, buruh dan lain sebagainya.

Mari kita telisik lebih jauh, “sebenarnya dari mana manusia mengenal sistem kelas dalam hidup bermasyarakat?” Jika kita kembali ke belakang di zaman purba kala pada awal penciptaan. Bisa dipahami bahwa hewan-hewan lebih duluan di ciptakan dibandingkan dengan manusia. Artinya, binatang di padang belantara telah lebih dahulu menetapkan sistem yang berjenjang dalam kawanannya. Bisa jadi nenek moyang kita dahulu meniru tentang sistem kelas dari kumpulan binatang-binatang ini. Lagi pula kala itu, belum ada yang namanya agama dan firman Tuhan masih belum dinubuatkan secara luas.

Tidak salah kalau saat ini kita menyatakan bahwa pemikiran manusia tidak jauh beda dari pemikiran binatang. Sebab secara utuh, kita hidup dari daging, dalam daging dan oleh daging yang notabene sama dengan hewan lainnya. Jika kita terbuat dari daging, tidak salah jika pemikiran kitapun tidak jauh beda dari jalan berpikir hewan. Bila hewan saja mengatur dirinya dalam sistem kelas saat berkelompok dengan sesama spesiesnya maka bukan mustahil jikalau manusiapun cenderung menerapkan kasta sosial dalam hidup bermasyarakat.

Faktor penyebab munculnya kasta di dalam masyarakat

Seperti yang kami jelaskan dalam bagian sebelumnya bahwa kelas sosial di bawa oleh pengaruh kebinatangan sedangkan jika kita berpedoman kepada ajaran Tuhan maka dari sanalah kita memahami bahwa Tuhan menghendaki kesetaraan. Sebab tanpa kesetaraan maka kekuatan ilmu pengetahuan, uang dan kekuasaan hanya akan membuat manusia saling merugikan, berkonspirasi dan saling melemahkan/ memanipulasi bahkan mereka akan mengorbankan sesamanya demi ketamakan di dalam diri masing-masing.. Berikut beberapa alasan mengapa sistem kelas lahir dalam kehidupan bermasyarakat.

  1. Salah satu ciri penting dari sifat kebinatangan.

    Latar belakang utama dari perbedaan kasta di dalam masyarakat adalah akibat nafsu kedagingan manusia itu sendiri. Sama halnya seperti nafsu binatang liar di alam rimba maka demikian manusia juga meniru (secara sengaja atau tidak sengaja) hal tersebut dalam kesehariaannya.

  2. Faktor agama yang juga turut mendukung.

    Elit agamawi juga turut melatar belakangi pembentukan strata sosial ini. Kumpulan kecil elit politik, kalangan atas, bangsawan dan rohaniwan mengajarkan nilai-nilai agama yang mencerminkan sistem kelas dalam bermasyarakat. Mereka dengan sengaja atau tidak sengaja (mungkin memang ada ayat-ayat tertentu yang dipelintir) menciptakan anggapan bahwa manusia telah ditakdirkan oleh Allah untuk menjadi masyarakat kecil atau untuk menjadi pemimpin. Mendoktrin masyarakat bahwa kesuksesan itu hanyalah milik orang-orang terpilih saja sedangkan yang lainnya pastilah akan menjadi hamba kepada orang yang terpilih itu.

  3. Melayani nafsu yang gila hormat dan penghargaan dalam dirinya dan keturunannya kelak.

    Orang yang gila hormat jelas menuntut agar dirinya dan kaumnya di junjung tinggi oleh kaum/ pihak yang lainnya. Sistem ini persis seperti yang terjadi dalam kehidupan hewan dimana kelas masyarakat biasa harus memuliakan bahkan terkesan menyembah kaum lainnya.

    Mereka ingin agar keturunannyapun merasakan apa yang telah dirasakannya. Sebab pikirnya tentu saja keturunannya akan hidup dalam kebijaksanaan seperti dirinya. Padahal hikmat bijaksana ditempa dari kesulitan hidup yang dihadapi hari lepas hari. Mereka ingin memberikan keturunannya hak kekayaan yang lebih luas dan jaminan atas pendidikan yang istimewa nan berkelas untuk dapat mengendalikan orang-orang yang berada di kelas bawah.

  4. Membuat orang lain tetap bodoh dengan menjadi hamba turun-temurun.

    Setiap kelas dalam masyarakat hanya mampu membiayai pendidikan anak yang setara dengan posisinya. Akibatnya orang-orang yang berada dalam kasta masyarakat biasa hanya sanggup mengenyam pendidikan yang jauh di bawah standar akibat kemampuan ekonomi yang rendah. Pendidikan yang diajarkan kepada merekapun sangat sederhana dan cenderung mengarahkannya untuk memperhambakan diri kepada masyarakat yang tingkatannya lebih tinggi.

  5. Menghalangi perkembangan kalangan bawah.

    Menciptakan kasta sosial tidak hanya sekedar menghalangi perkembangan rakyat jelata melainkan juga turut mengekang mereka agar tetap menjadi hamba bagi kalangan atas. Ini dipengaruhi oleh sekolah yang berbeda antara rakyat biasa dan orang-orang elit dalam pemerintahan. Belum lagi masalah tentang akses informasi terbatas yang perbolehkan/ diizinkan kepada mereka. Juga termasuk dalam hal ketersediaan pangan dan kesehatan yang layak bagi rakyat kecil dibatasi dengan maksud untuk membatasi kemajuan mereka mencapai taraf hidup yang lebih layak.

  6. Melegalkan aksi konspirasi manipulasi.

    Orang-orang ini membuat masyarakat tetap dalam kekangannya. Mereka menciptakan orang-orang yang rapuh dan sangat mudah dikendalikan oleh trend media yang sedang berkembang. Kalangan bawah menjadi sasaran empuk berbagai aksi konspirasi yang syarat manipulasi yang dilakukan secara diam-diam oleh para elit/ masyarakat kelas atas. Selain itu, mereka menjadikan kalangan bawah tetap miskin sehingga tidak mampu mengakses kemajuan iptek yang lebih baik. Mereka paling sering melakukan aksi manipulatif terhadap informasi dan kesahatan: menyebarkan informasi hoax (omong kosong) dan membuat masyarakat sakit (ketergantungan dengan obat farmasi).  Semua konspirasi ini terjadi secara masif dan terus saja menguntungkan dengan luar biasa kalangan atas/ elit/ bangsawan/ pegawai pemerintahan.

  7. Menciptakan stabilitas sosial dan politik.

    Segelintir orang (sebagian) yang hidup dalam strata sosial yang tinggi dididik dalam pengetahuan yang nyata-aplikatif dan mendapatkan fasilitas teknologi yang terhubung dengan informasi yang lebih besar. Sedangkan kebanyakan penduduk dari masyarakat biasa hanya mengenyam pendidikan yang sangat terbatas sehingga merekapun mudah dibodoh-bodohi oleh kalangan atas. Media yang ada menjadi alat bagi kalangan atas untuk menekan masyarakat bawah sehingga terciptalah stabilitas sosial dan politik yang dipaksakan.

Sistem masyarakat yang berjenjang hanya memupuk kesombongan diantara kalangan atas sedangkan kelas masyarakat biasa akan dipenuhi dengan iri hati. Saat para bangsawan diberikan uang yang lebih banyak, keadaan ini sekaligus akan membuatnya terlena menikmati hidup. Aktivitas kurang (pekerjaan minim) sedangkan waktu banyak dihabiskan untuk menyenangkan diri sendiri. Keadaan ini membuat kalangan atas kurang cerdas dengan kesadaran yang turut menurun. Yang ada di dalam dirinya justru bagaimana cara agar uang terus dan tetap ada, inilah yang membuat mereka melancarkan konspirasi manipulatif. Mereka mengedepankan aksi tipu-tipu untuk meraup uang dari tangan rakyat kecil. Sedang mereka sendiri mengalami penurunan kreativitas malahan semua karyanya memiliki pesan moral yang amburadur. Padahal diantara rakyat kecil ada potensi yang tersembunyi tetapi terus ditekan oleh faktor ekonomi dan turut disesatkan oleh aktivitas masyarakat kelas atas yang cemburu.

Kelas sosial dalam masyarakat hanya akan menghasilkan pemberontakan. Tidak hanya itu saja, kriminalitas diantara rakyat jelatapun semakin merajalela. Jikapun pemberontakan dan kriminalitas belum cukup untuk menghempaskan peradaban tersebut maka kalangan atas yang hidup dalam kemewahan materi akan bertambah-tambah banyak. Salah satu ciri khas strata sosial tingkat tinggi adalah kekayaan yang berlimpah-limpah. Keadaan ini membuat orang-orang tersebut menjadi konsumtif sehingga menghasilkan polutan/ pencemaran lingkungan yang semakin tinggi. Pada akhirnya, timbullah bencana alam yang menelan banyak korban jiwa dari kalangan rakyat bawah. Sedang para pelaku pencemaran tersebut yaitu orang elit dari kalangan atas duduk manis dalam rumahnya yang mewah, kokoh dan berkelas tak tergoyahkan. Inilah yang kami sebut sebagai konspirasi melemahkan, memerah dan mengorbanakan rakyat jelata demi hawa nafsu dan ketamakan orang-orang berkelas.

Salam stop serakah!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.