Gejolak Sosial

7 Faktor Yang Mempengaruhi Kepribadian, Cara Pembentukan Karakter Manusia


Faktor Yang Mempengaruhi Kepribadian, Cara Pembentukan Karakter Manusia

Kepribadian adalah sifat-sifat yang diekspresikan oleh manusia untuk menanggapi segala sesuatu yang terjadi disekitarnya. Setiap insan memiliki karakteristik yang berbeda-beda satu sama lain sehingga keadaan inilah yang membuat seseorang unik atau spesial. Hanya saja, kekhasan dan keunikan itu diartikan berbeda-beda oleh orang lain. Kemungkinan karena tingginya hawa nafsu untuk dipuji dan populer maka setiap keunikan itu diterjemahkan dengan perilaku yang lebay dan terkesan melanggar aturan. Keadaan inilah yang mendorong beberapa remaja terjebak dalam kenakalan yang hanya akan merugikan dirinya sendiri.

Perkembangan kepribadian selalu mengikuti suatu hierarki

Setiap kepribadian lahir dan berkembang dalam satu hierarki yang sifatnya tidak jauh-jauh dari konsep awal. Misalnya saat anda menganggap bahwa berteriak itu baik maka konsep ini akan terus berkembang: berbicara dengan orang tua, anda berteriak; ketika berkomunikasi dengan pasangan, terus berteriak; saat bercakap-cakap dengan anak/ orang tua, berteriak lagi. Bahkan andapun kemudian akan sampai pada kesimpulan bahwa dengan berteriak maka semua masalah pasti akan selesai.

Jika anda sepemahaman dengan kami maka kebenaran yang hakiki adalah hierarki dasar pemikiran kita. Jadi pemanfaatannya akan terus berkembang: saat sedang menikmati hidup, perlu kebenaran; sewaktu menjalin hubungan dengan sesama membutuhkan kebenaran; ketika berada di depan LCD untuk online, memegang kebenaran; sewaktu bekerja hari demi hari membutuhkan nilai-nilai benar; bahkan saat menyelesaikan masalah/ persoalan/ pergumulan hidup juga anda menerapkan nilai-nilai tentang kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama.

Kemajuan kepribadian dan fungsi otak

Kepribadian seseorang akan berkembang seiring dengan perkembangan otaknya. Sekarang, bagaimana caranya agar otak manusia bisa berkembang? Jika anda hanya suka malas-malasan, mustahil pikiran mampu berkembang pesat melainkan harus beraktivitas. Pelajarilah sesuatu lalu kerjakanlah beberapa hal, kegiatan ini akan membantu anda untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Fokuslah kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian niscaya aktivitas multitasking semacam ini akan membantu meningkatkan kecerdasan anda.

Tahukah anda bahwa peristiwa terpenting yang sangat meningkatkan kemampuan berpikir adalah ketika menghadapi masalah. Jangan pernah takut dengan pergumulan hidup melainkan hadapilah itu seadanya dengan demikian kemampuan untuk menyelesaikan masalah membantu membuka pikiran untuk mengertikan/ memahami hal-hal yang lebih sulit di dalam kehidupan ini. Persoalan yang menimbulkan kepahitan hidup adalah kesempatan untuk meraih kebahagiaan yang mandiri. Saat anda mampu mengatasi rasa sakit/ pahit di hati maka dimungkinkan juga untuk menciptakan sukacita di tengah situasi lingkungan yang bergejolak.

Karakter manusia berbeda-beda

Manusia memiliki beragam kepribadian selama ia hidup di dunia ini. Masing-masing akan berubah dan menyesuaikan diri menurut tanggapan/ respon dari orang lain dan lingkungan sekitar. Keadaan ini turut juga disebabkan oleh faktor pekerjaan yang dilakukan hari lepas hari. Biasanya orang yang terbiasa bekerja sendiri sifatnya pastilah berbeda dengan orang yang bekerja bersama orang lain. Demikian juga halnya, sifat seorang yang sudah teruji berbeda jauh dari sifat yang baru-baru bersinar (baru saja diaplikasikan).

Karakter manusia selalu mencari titik nyamannya.

Di dalam perkembangan kepribadian itu sendiri, manusia selalu mencari titik ternyaman dalam hidup ini. Oleh karena itu jangan bertanya-tanya, mengapa ada orang yang lebih suka menyendiri seharian penuh bahkan selama hidup di dunia ini? Sebab saat sedang sendiri, manusia cenderung hidup dalam zona nyaman dimana semuanya aman terkendali tanpa gejolak sedikitpun. Keadaan inilah yang beresiko menciptakan sifat individualis sempit. Lagipula hidup tanpa masalah akan terasa hambar, justru saat menyendiri aktivitas menjadi minim sehingga kecerdasan turun. Sedang saat kita berani membuka diri dengan dunia luar niscaya kemampuan menyesuaikan diri dan multitasking akan semakin berkembang. Tentu saja, orang-orang yang cerdas lebih dimungkinkan untuk menciptakan kebahagiaannya sendiri

Cara pembentukan karakter dan faktor yang mempengaruhinya

Tidak mudah untuk membentuk karakter manusia. Butuh perjuangan dan jalan yang panjang harus dilalui untuk mewujudkannya. Bukan berarti tidak mungkin tetapi sangat menyita waktu dan emosi. Hanya saja mereka yang mampu mengelola kehidupan menjadi lebih baik sembari tetap memfokuskan pikiran kepada hal yang positif akan menemukan jalan agar terbentuk suatu sifat-sifat yang berkualitas. Berikut selengkapnya proses pembentukan dan faktor yang menyertainya.

  1. Faktor keturunan.

    Apakah kepribadian diturunkan lewat gen? Pada dasarnya gen hanya menentukan ciri-ciri fisik yang nyata dalam hidup seseorang sedangkan karakter manusia sifatnya tidak nyata (tidak bisa di indrakan secara pasti) melainkan hanya dapat dirasakan dan bisa saja berubah dari waktu ke waktu. Sedangkan sesuatu yang biasanya diturunkan sifatnya terus ada seumur hidup.

    Jadi sifat-sifat apakah yang terus ada di dalam diri manusia seumur hidup? Sesuatu yang diturunkan lewat darah dan daging warisan dari orang tua dan nenek moyang manusia adalah “perbuatan daging.” Adapun perbuatan buruk ini terdiri dari hawa nafsu sest-lebay, kebinatangan dan kejahatan lainnya. Tidak hanya anda seorang yang memiliki hal-hal buruk ini tetapi semua orang yang terlahir dalam darah dan daging memiliki hal-hal tersebut di dalam dirinya masing-masing. Masalahnya sekarang adalah apakah anda mampu menekan & mengendalikannya atau tidak? Cara paling jitu untuk mengendalikan perbuatan daging adalah dengan fokus kepada Tuhan (doa, firman, nyanyian pujian), belajar dan bekerja.

  2. Informasi tentang kepribadian yang diperoleh dari luar diri sendiri (lingkungan).

    Perolehan informasi tentang karakter yang benar sangat penting dalam kehidupan seseorang. Mustahil seseorang akan baik tingkah lakunya jikalau ia terus-menerus terpapar dengan hal-hal yang buruk. Sadarilah bahwa lama kelamaan keburukan yang terus-menerus disaksikan/ dilihat/ ditonton dari hari ke hari suatu saat akan diaplikasikan juga dalam kehidupan sehari-hari, perlahan tapi pasti.

    1. Dorongan spritual (Ajaran Tuhan – kebenaran).

      Sikap meniru semacam ini langsung diambil dari keseharian orang-orang yang bekerja di bidang keagamaan atau bisa juga ditiru dari nasehat yang diberikan oleh hamba Tuhan. Masing-masing orang yang meyakini akan adanya Tuhan bisa belajar sendiri melakukan kebenaran dengan membaca, mencatat dan memahami firman hari lepas hari.

      Dorongan spiritual dalam diri seseorang juga sangat tergantung dari kedekatannya dengan para pelayan dan anggota jemaat lainnya. Manusia yang enggan bahkan tidak pernah meninggalkan persekutuaan bersama orang-0rang beriman lebih kuat dorongan spiritualnya untuk memiliki kepribadian yang sesuai dengan ajaran Tuhan.

    2. Keluarga (orang tua dan saudara).

      Seorang anak bisa saja meniru langsung kepribadian Ayah dan Bundanya atau ia bisa juga belajar dari nasehat yang mereka berikan. Tetapi diatas semuanya itu, “Nasehat terbaik dari orang tua adalah saat mereka mampu menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya.”

      Kaum keluarga lain juga dapat menjjadi sumber inspirasi bagi kehidupan seseorang. Terlebih ketika saudara tersebut mencolok dari yang lainnya maka pastilah ia akan menjadi panutan yang pantas dicontoh oleh kaum keluarga lainnya.

    3. Teman dan sahabat di sekitar.

      Saat kita bergabung dalam organisasi tertentu pastilah memiliki teman dan sahabat. Mereka ini sangat mudah di contoh terutama jikalau perilaku dan prinsip hidupnya adalah sesuai dengan nilai-nilai kebaikan hati yang diyakini masing-masing.

    4. Lingkungan pergaulan – budaya masyarakat luas.

      Lingkungan tempat kita berada juga turut mempengaruhi pemikiran pribadi lepas pribadi. Terutama saat ada kebiasaan tertentu di dalam masyarakat yang mencirikan kekhasan daerah tersebut. Selama budaya yang ditekuni oleh masyarakat tidak mendukung nilai nilai kebenaran sejati maka selama itu pula kita masih harus menjauhinya.

    5. Lembaga pendidikan informal dan formal.

      Seorang anak bisa saja dibentuk kepribadiannya lewat pendidikan yang ditempuh selama hidup di dunia ini. Lembaga pendidikan sebagai tempat kita belajar dan mengasah kemampuan otak untuk melakukan berbagai aktivitas yang positif. Kelembagaan ini ada yang bersifat formal (swasta maupun negeri) maupun informal (kursus-skil).

    6. Media yang dinikmati.

      Berhati-hatilah mengkonsumsi media yang ada disekitar anda. Sebab ada-ada saja media yang menampilkan keburukan dengan kedok acara-acara populer. Bahkan bisa kami katakan bahwa jalan cerita dalam sebuah kisah tidak akan ada nilai estetikanya jikalau tidak tampil kebaikan dan kejahatan secara bersamaan. Pastikanlah bahwa anda dapat mengenali berbagai-bagai perbedaan antara manusia yang berkarakter bagus dan jelek. Selama anda tetap menyadari perbedaan antara kedua hal ini lalu berusaha untuk menghindarkan diri yang jahat maka selama itu pula media tidak akan bisa mengubah kepribadianmu yang baik. Sikap yang selalu fokus kepada Tuhan di segala waktu dan selektif juga kritis mencerna informasi akan membantu anda untuk menemukan sifat-sifat yang berkualitas baik.

    7. Masalah – Tekanan.

      Persoalan hidup adalah pelajaran paling berharga dalam kehidupan ini. Informasi tentang kepribadian yang berkualitas yang anda dapatkan dari setiap masalah yang di lalui sangatlah penting. Oleh karena itu, amati dan renungkan baik-baik segala pergumulan hidup yang mendatangi anda. Ini adalah kesempatan untuk belajar menyesuaikan diri sampai tercptalah keinginan untuk hidup mandiri tanpa harus bergantung kepada orang lain.

  3. Tahapan memikirkan.

    Proses ini terjadi di dalam pikiran masing-masing orang. Setiap mereka yang berpikir sebelum bertindak akan menimbang baik-baik, apa saja karakter yang pantas untuk ditiru dan di terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Moment berpikir seperti ini biasanya diambil dalam waktu-waktu khusus dimana kita sedang beristerahat. Sebab menimbang-nimbang suatu karakter membutuhkan wawasan berpikir yang lama dan luas. Oleh karena itu tidak perlu memikirkan (membahas-bahas dalam hati) tentang sifat-sifat yang dimiliki saat sedang bekerja atau belajar. Melainkan fokuslah kepada pekerjaan dan pelajaran tersebut dan jikalau anda dimungkinkan untuk multitasking maka bernyanyilah memuliakan nama Tuhan disela-sela aktivitas yang ditekuni.

    Akant tetapi, tidak dapat dipungkiri jika sebuah sifat bisa saja muncul dari dalam diri anda karena dikuasai oleh alam bawah sadar. Seperti yang kami katakan pada bagian sebelumnya bahwa alam bawah sadar manusia sangat kental dengan berbagai-bagai hal buruk. Jika sistem bawah sadar anda aktif oleh karena selalu mengosongkan pikiran niscaya hawa nafsu sesat-lebay, kebinatangan dan kejahatan lainnya akan keluar dari dalam hatimu. Oleh karena itu, di dalam segala sesuatu jangan biarkan otak blank (kosong) melainkan senantiasa carilah kesibukan (bekerja dan belajar) atau setidak-tidaknya senantiasa bersyukur & bernyanyilah untuk memuliakan Allah dalam berbagai kesempatan yang ada.

    • Merasakan suatu sifat.

      Setiap orang akan merasakan pengaruh dari temperamen seseorang setelah sebelumnya berbaur/ bersosialisasi atau setidak-tidaknya mengamatinya. Ia akan menilai hal tersebut apakah baik, buruk atau sedang.

    • Jika dirasa menarik akan langsung diterapkan.

      Beberapa orang yang tidak sempat berpikir atau yang terlena karena terus-menerus menikmati hidup secara maraton akan langsung menirukan apa yang diindrakannya. Keadaan ini turut dipicu oleh karena merasa keren sehingga membuatnya semakin penasan lalu langsung dilakukan. Ini biasanya dialami oleh anak kecil dan remaja yang enggan pikir panjang melainkan hanya asal kopi-paste dari perilaku artis pada media tertentu.

    • Memikirkan apakah itu baik atau buruk.

      Dibandingkan dengan standar kehidupan. Seorang yang bijak turut membanding-bandingkan sebuah perilaku yang akan diterapkannya selama hidup di dunia ini.

      Dibalik semuanya itu, harus disadari juga bahwa beberapa karakter manusia yang keluar dari zona nyaman jelas mengambil resiko yang besar untuk hidupnya. Oleh karena itu, ketidaknyamanan tidak berhubungan dengan kebenaran. Misalnya saja saat seseorang berbuat baik tetapi orang lain menjadikan kebaikannya itu sebagai cara untuk mengacuhkan dan mengabaikannya. Kebaikan yang dilakukannya adalah benar adanya tetapi jelas tidak menimbulkan kenyamanan. Sekalipun demikian orang-orang yang tegar selalu menerima tantangan untuk meningkatkan kemampuan mengendalikan diri sehingga membuat karakter diri menjadi lebih baik dari hari ke hari.

    • Menimbang apakah itu pantas ditiru atau tidak.

      Turut dibandingkan dengan standar kehidupan. Sesuatu yang pantas ditiru atau tidak bergantung dari penilaian masing-masing pribadi. Jika anda masih ragu tentang hal tersebut dapat memilih opsi berikutnya. Terlebih ketika tantangan besar diprediksi akan menyambut di depan saat mengekspresikan sifat-sifat tersebut.

    • Proses bertanya kepada yang lebih tua (ahlinya).

      Sebelum anda melangkah lebih jauh dalam keraguan maka anda dapat menanyakan perihal tentang sifat-sifat yang baik dan benar kepada orang-orang disekitar anda. Pilihlah orang tua, guru, dosen, hamba Tuhan atau orang yang dikenal baik lainnya.

  4. Penerapan langsung.

    Dalam tahapan ini, berhenti menimbang-nimbang melainkan lakukanlah semuanya itu agar andapun turut merasakan dampak yang ditimbulkannya.

    • Tahapan pengujian – rintangan.

      Saat anda hendak menerapkan suatu karakter dalam diri sendiri, sebaiknya mulailah itu dari hal-hal yang kecil dan awali di dalam keluarga sendiri. Jika saat melakukannya dengan sesama anggota keluarga, anda tetap luwes dan percaya diri maka kembangkanlah itu dengan mulai melakukannya kepada orang-orang terdekat, saudara, sahabat, rekan kerja dan lain sebagainya.

      Sifat yang rendah hati dan mau memaafkan anggota keluarga lainnya akan membuat anda lebih luwes (apa adanya) ketika hal tersebut ditentang oleh Ayah, Ibu, Saudara-Saudari. Jika tekanan karena kepribadian tersebut mampu anda tanggung saat melakukannya di dalam rumah sendiri maka andapun sudah siap untuk menerapkannya di lingkungan yang lebih luas.

  5. Penilaian.

    Anda bisa menilai diri sendiri apakah sifat-sifat itu sudah baik ataupun belum. Biasakan diri untuk mengoreksinya dalam waktu tertentu dengan melakukan kilas balik ke belakang.

    • Baik.

      Jika anda melihatnya sudah baik adanya sekalipun masih ada hal-hal yang belum benar-benar pas di beberapa bagian. Sebab biar bagaimanapun untuk menyempurnakannya dibutuhkan waktu yang lama sehingga menjadi terbiasa bahkan membudaya. Lanjutkanlah penerapan karakter yang baik itu dalam hari-hari yang anda lalui. Mantapkan dahulu melakukannya di dalam keluarga kemudian barulah beranjak di lingkungan yang lebih luas.

    • Buruk

      • Direvisi. Saat suatu karakter tidak baik untuk anda maka cari posisi/ kondisi/ keadaan yang paling cocok untuk mengaplikasikannya. Andapun bisa mengubah beberapa teknik agar dapat mengekspresikan hal tersebut menjadi lebih sederhana sesuai dengan kebutuhan.
      • Ubah total. Suatu sifat yang sangat tidak cocok dalam diri anda adalah ketika hal tersebut tidak mendatangkan ketenteraman di dalam hati sekalipun hal tersebut telah disederhanakan. Anda perlu mencari kepribadian lainnya yang cocok untuk diterapkan dalam hidup yang sementara ini.
  6. Hati-hati dengan faktor Pengotor kepribadian.

    Faktor pegotor adalah sebuah penghambat yang membuat anda tidak mampu mengekspresikan sesuatu secara maksimal. Si pengotor ini juga bisa jadi penghambat yang menurunkan minat atau terlalu over protektif memanjakan anda.

    1. Energi kebahagiaan.

      Sebelum menekuni suatu sifat maka pastikanlah bahwa anda sedang berada dalam keadaan bahagia. Sebab mereka yang sedang tidak bahagia selama menjalani hidup cenderung kurang mampu menerima hal-hal baru. Bahagia tidak dilihat dari materi tetapi bisa dibentuk sendiri di dalam hati. Untuk mencapai hal ini anda harus mampu mengatasi rasa sakit di dalam hati. Jika otak anda sudah berkembang sehingga bisa menepis rasa sakit yang ditimbulkan oleh diri sendiri maupun oleh orang-orang disekitar maka akan dimungkinkan untuk menciptakan kebahagiaan sendiri.

      Mulailah dengan senantiasa bersyukur dan bernyanyi memuliakan Tuhan di segala waktu agar pikiran terbuka hingga rasa senang-sukacita yang terkendali, tenang dan damai memenuhi hati yang meluap dalam senyuman mungil di bibir masing-masing.

    2. Ketidaktulusan.

      Pastikanlah bahwa setiap ekspresi yang anda haturkan ke luar dikerjakan dengan tulus tanpa maksud-maksud jahat lainnya. Oleh karena itu, jangan biarkan diri ini terlena memikirkan cita-cita di masa depan melainkan tetap fokus kepada Tuhan, pekerjaan atau pelajaran yang sedang ditekuni.

      Tidak perlu memberi alasan, “mengapa saya berbuat baik?” Melainkan teruslah bernyanyi memuliakan Allah dan alamatkan setiap kebaikan yang dilakukan kepada Manusia hanya kepada Allah saja dengan demikian tetap menjadi orang yang tulus.

    3. Provokasi/ hasutan sesama.

      Ada suara-suara yang akan menggoyahkan anda dan ada pula suara yang menguatkanmu. Anda harus selektif menanggapi semuanya itu, jangan terima bulat-bulat tetapi koreksi diri sendiri sembari tetap fokus kepada Tuhan.

    4. Kenikmatan duniawi.

      Gemerlapan dunia ini adalah pengotor dari semua kepribadian yang hendak anda ekspresikan. Ini cenderung membuat otak kosong dan aktivitas minim. Akibatnya, kita cenderung lebih suka bermalas-malasan bahkan menjawab permainan komunikasi saja tidak mau terlebih ketika disuruh mengubah karakter yang lebih sulit dari itu.

    5. Relasi yang dimiliki.

      Tidak perlu memanfaatkan relasi yang dimiliki secara berlebihan. Tidak baik jika anda hanya bersembunyi di balik kekuatan orang lain untuk sekedar berlindung dari kesalahan melainkan hadapi semuanya itu apa adanya.

    6. Enggan merasa sakit.

      Manusia selalu merasa sakit sekalipun ia berada diposisi yang baik. Seperti ketika seorang bayi keluar dari rahim Ibunya, langsung menangis karena pertama sekali menghirup atmosfer dan merasakan suhu udara di bumi. Bayi menangis karena terlalu takut setelah keluar dari zona nyaman. Padahal semuanya itu hanya berlangsung sesaat saja.

      Demikianlah juga, rasa sakit akan memberi suatu tekanan di dalam otak anda untuk membantu & membimbingnya untuk berkembang. Jika kemampuan berpikir sudah mumpuni sehingga dapat menghilangkan rasa ini maka andapun akan dimungkinkan untuk meraih berbagai suasana hati yang baik dan positif.

    7. Pendendam – enggan memaafkan.

      Tidak ada manusia yang sempurna, demikian juga tidak ada sifat yang selalu diekspresikan atau ditanggapi secara sempurna. Bisa saja ada kesilafan ditengah-tengah semuanya itu maka dari sanalah hati tersakiti. Anda harus mulai belajar untuk memaafkan dan mengikhlaskan semuanya itu, terserah siapapun yang salah. Mulailah belajar melupakan masa lalu, yang buruk-buruk tidak perlu dibahas-bahas di dalam hati melainkan selalu fokuskan pikiran kepada Tuhan.

  7. Sifat yang diulang-ulang dalam waktu yang lama.

    Agar suatu sifat menjadi budaya, harus dilakukan secara terus-menerus. Ketekunan anda dalam melaksanakan semuanya itu akan membuatnya menjadi kebiasaan. Sedang hal-hal yang sudah terbiasa jika dilakukan secara konsisten dalam waktu yang lama akan menjadi budaya. Yaitu sesuatu yang terjadi begitu saja tanpa harus disuruh/ diperintahkan oleh sistem sadar dalam otak manusia (disebut juga insting)

Nikmatnya gemerlapan duniawi dapat membuat kita bahagia, puas, damai dan tenteram untuk sementara saja. Saat sedang menyendiri, kita merasa sifat-sifat ini sudah sempurna padahal itu hanya fatamorgana karena kenikmatan duniawi membuat kita terlena. Butuh perjuangan dan pengorbanan untuk mengembangkan suatu kepribadian yang positif. Harus siap menanggung rasa sakit yang disebabkan oleh diri sendiri maupun oleh orang lain. Sadarilah bahwa karakter yang berkualitas harus melalui dapur peleburan alias ujian kehidupan agar sifat-sifat tersebut semakin murni (tulus) adanya. Pada akhirnya, semua proses pembentukan ini tidak hanya membutuhkan waktu dua-tiga hari saja melainkan berbulan-bulan bahkan sampai bertahun-tahun. Mereka yang rendah hati, tidak kenal lelah, rela berkorban dan terus berjuang akan menemukan titik dimana semua sifat itu akan mendatangkan kebahagiaan dan ketenteraman hati sekalipun situasi dilingkungan sekitar sedang bergejolak.

Salam, semua proses menyakitkan tetapi kelak akan berubah!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.