Gejolak Sosial

11 Alasan Agama Akan Punah Di Telan Kapitalisme – Ateis Sama Dengan Kapitalis


Agama Akan Punah Di Telan Kapitalisme - Ateis Sama Dengan Kapitalis

Agama adalah ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya (KBBI Offline). Merupakan kepercayaan seseorang atau sekelompok yang telah terorganisir dengan baik dalam satu kesatuan (sistem). Di indonesia ini, jarang sekali manusia yang hidup tanpa memiliki Tuhan. Artinya negeri ini adalah lokasi potensial terbesar yang paling menantang untuk berkembangnya para atheis.

Hidup tidak memiliki keyakinan adalah hidup yang tidak berarti

Ciri kunci dari sifat orang ateis adalah materialisme, yaitu menuhankan materi. Mereka akan terus merasa aman dan nyaman selama ada materi. Selama kebutuhan materinya terpenuhi maka selama itu pula ia merasa bahagia. Sayang kisah-kisah sedih materialisme tidak cukup sampai disini karena MANUSIA TIDAK PERNAH PUAS. Hawa nafsunya terus saja meninggi untuk mengkonsumsi ini dan itu lalu ia sampai pada satu titik kecanduan. Tidak berhenti sampai disitu saja, ternyata merekapun akan menyadari telah sampai pada satu titik jenuh. Akibat dari rasa bosan ini, mereka akan berpikir bahwa hidup sudah tidak berarti lagi. Lalu dengan sungguh-sungguh lebih mengejar materi, menginginkan hal yang lebih tinggi nilainya dimana semuanya itu berlangsung dalam kehampaan hati.

Ateis, kelompok manusia yang tidak pernah puas

Menjadi ateis adalah sebuah keputusan bulat untuk mendedikasikan hidup pada pencarian materi. Manusia berpikir sempit lalu merasa bahwa memiliki benda ini dan itu adalah hasrat tertinggi dalam kehidupan manusia. Padahal apa yang termuat dalam semua benda-benda itu hanyalah mencukupi kebutuhan indra sedang hati tetaplah hampa. Keadaan ini tetap membuat seseorang tidak merasa cukup sekalipun indranya terus terpapar dengan berbagai-bagai hal yang wah…. sebab memang demikianlah hawa nafsu manusia yang tidak terbatas adanya. Jadi saat anda memilih untuk menjadi seorang ateis, itu sama saja dengan menjadi pribadi yang tidak pernah puas.

Ateis cs kapitalisme adalah sama

Mengapa ateis dan kapitalis merupakan paham yang sama? Karena keduanya sama-sama berorientasi pada materi. Orang yang tidak beragama dan kaum borjuis akan berjuang keras untuk meraih kenikmatan & kemuliaan duniawi setinggi-tingginya. Mereka juga sama-sama merupakan orang yang tidak pernah puas sekalipun hidupnya sudah mapan dari sebelumnya. Pada dasarnya kebahagiaan dan kepuasan orang-orang ini sangat berorientasi pada hal-hal yang dapat diindrakan. Keinginannya akan hal-hal duniawi sangat tinggi, tetapi setelah mendapatkannya hasratnya kemudian akan berpindah kepada sesuatu yang lebih bernilai lagi. Itulah mengapa dikatakan bahwa kedua kaum ini adalah sama-sama tidak pernah merasa berkecukupan melainkan te.

Alasan bagaimana cara kapitalis menelan agama/ kepercayaan manusia

Jikalau saat ini anda adalah orang yang peduli dengan apa yang anda yakini maka mulailah berjuang untuk mengusahakan kesetaraan di berbagai bidang. Sebab tanpa kesetaraan maka manusia akan mendewakan materi sedang keberadaan materi itu terbatas. Belum lagi masalah lingkungan yang ditimbulkannya. Pada akhirnya kapitalisme hanya meminta korban yang lebih banyak untuk kepentingan dirinya sendiri dan kelompoknya. Berikut ini beberapa faktor penyebab yang membuat agama ditelan oleh kapitalisme.

  1. Menjadikan materi sebagai penghiburan dan solusi dari masalah.

    Para pemodal ini adalah pedagang yang hendak menjual habis barang dan jasa yang dijualnya. Kemudian mereka menyebarkan isu-isu konyol yang menyatakan bahwa produknya dapat menghibur orang yang sedang bermasalah. Keadaan ini membuat manusia ketergantungan terhadap produk tersebut dan akhirnya menggila. Seperti orang yang kecanduan minuman keras dan narkoba. Mereka berpikir ini adalah solusi, padahal itu akan membuatnya candu dan pikiran tumpul bahkan menjadi bodoh juga.

  2. Kaum pemodal akan menjadikan dirinya tuhan yang tidak pernah salah.

    Orang-orang yang memiliki modal banyak akan meninggikan dirinya terhadap orang lain. Mereka akan menundukkan sesamanya dengan materi dan kekuasaan yang dimiliki. Bahkan mereka akan mengatur manusia semau-maunya saja dengan mengesampingkan kebenaran. Sedang saat mereka jelas-jelas salah, orang lain akan dibungkamnya dengan rasa takut (menakut-nakuti) untuk menutupi kesalahan tersebut.

  3. Kaum borujuis murni konsumtif tingkat tiggi tetapi agama mengajarkan hidup sederhana.

    Budaya konsumtif para kapitalis tidak terelakkan dikarenakan oleh modal yang dimiliki cukup besar. Mereka akan hidup bermewah-mewahan ditengah masyarakat dengan demikian menyatakan bahwa materi adalah tuannya. Lewat sikap ini mereka telah menimbulkan kesombongan yang memicu iri hati. Padahal nilai-nilai agama mengajarkan kesederhanaan hidup sehingga semua sumber daya yang ada bisa dinikmati secara bersama-sama.

  4. Mustahil jadi kapitalis tanpa konspirasi dan manipulasi; agama mengajarkan kejujuran.

    Jaman sekarang para pemilik modal telah berkembang dan bertambah jumlahnya. Sedangkan lahan pekerjaan positif telah dipenuhi oleh kapitalis tua yang berpengalaman. Para pemilik modal ini tidak tau mau dikemanakan modal yang dimiliki. Oleh karena itu, mereka mulai membuka lahan-lahan usaha di tempat-tempat yang salah seperti yang menjajakan seks bebas, narkoba, miras dan perilaku menyimpang lainnya.

    Mereka akan berusaha menarik orang lain untuk lebih candu dengan narkoba dan seks bebas dengan menyebarkan desas desus bahwa keduanya bisa menyembuhkan penyakit ini dan itu. Semua konspirasi ini dilakukan dengan melibatkan banyak tokoh intelektual. Mereka tidak lagi mau berbicara lebih jujur melainkan menyembunyikan kejujuran agar kejahatan itu semakin laris-manis.

  5. Para pemilik modal mendorong manusia untuk individualis sedangkan di dalam ajaran agama penting sekali kebersamaan.

    Kapitalis akan membuat sifat-sifat individualis dalam diri manusia semakin tingggi. Dengan sengaja memicu terjadinya persaingan antara warga untuk meraih sesuatu sedang mereka sendiri mendapatkan keuntungan dari peristiwa tersebut. Mereka menggiring manusia agar hanya peduli pada dirinya sendiri. Saat lawannya terjatuh maka itulah kebahagiaannya, tiada pertolongan bahkan kata-kata penuh perhatianpun tidak. Para pemilik modal ini akan menyebarkan berbagai trend yang sengaja dipelintir untuk kepentingan terhadap suatu produk agar laku terjual. Padahal ajaran agama menuntun manusia untuk hidup rukun dalam kebersamaan dengan meminimalisir aksi-aksi persaingan yang tidak penting.

  6. Untuk mengerti Tuhan butuh kecerdasan yang tidak biasa sedang kapitalis membodohi orang lain.

    Orang yang mengerti keberadaan dan kebenaran tentang Tuhan adalah mereka yang cerdas. Sedangkan para kapitalis membodohi manusia dengan mengajarkan mereka untuk konsumtif sehingga otaknya terus kosong lalu menjadi bodoh. Orang seperti ini akan dengan senang hati diperalat oleh kapitalis untuk menggunakan produknya sehingga dirinya makin bertambah-tambah kaya-raya.

  7. Kapitalis membodohi sesamanya untuk dijadikan budak suruhan yang penurut.

    Sifat konsumtif jelas membodohi manusia, ditambah lagi dengan menyebarkan berbagai informasi hoax (omong kosong) yang membodohi manusia. Pada akhirnya para pemilik modal ini akan semakin mulus jalannya agar tetap jaya dari zaman ke zaman dan dari keturunan kepada keturunan berikutnya. Orang-orang yang kurang cerdas sangat menggantungakan kebahagiaannya lewat perolehan materi. Dengan demikian barang dan jasa yang diperjual-belikan oleh para pedagang ini akan laku keras.

  8. Kapitalis yang mendewakan materi menghalalkan segala cara.

    Seorang pemilik modal mustahil tidak mementingkan materi, baginya uang adalah segalanya. Oleh karena itu, ia akan mencapai apa yang diinginkan oleh hatinya sekalipun hal tersebut melegalkan segala sesuatu. Ini semakin di dukung oleh karena dia memiliki budak-budak bodoh yang siap mati untuk mewujudkan keinginannya tersebut.

  9. Pemilik modal merusak lingkungan dalam aktivitasnya.

    Pemanfaatan sumber daya alam di bawah tangan kapitalisme individu bersifat tidak terkendali. Mereka akan mengeruk sebanyak-banyaknya, mengambil sebesar-besarnya dan memanen seluas-luasnya demi sesuatu untuk diceritakan dengan tawa yang penuh kebanggaan kepada teman-temannya. Orang-orang ini tidak merasa bersalah sedikitpun, padahal selama ini lingkungan alamiah telah merawat kehidupan semua penduduk. Akibatnya, banjir, tanah longsor, banjir bandang, kekeringan, kelaparan, gelombang panas, badai-angin kencang dan bencana lainnyapun terus terjadi menelan korban jiwa.

  10. Persaingan para kapitalis mengabaikan nilai-nilai kebenaran.

    Saat para pemilik modal berniat untuk memperebutkan suatu lahan usaha demi kepentingan kelompoknya maka mereka akan melakukan aksi-aksi manipulasi paling keji dan paling kejam untuk menakut-nakuti oknum tertentu. Orang-orang ini akan mengorbankan lebih banyak harta bendanya bahkan nyawapun tidak masalah (termasuk KKN) demi sebuah regulasi atau lahan usaha tertentu.

  11. Pada akhirnya pemilik modal akan menguasai sumber daya yang tersisa dan menjadikan dirinya tuhan atas semuanya.

    Saat kerusakan lingkungan merajalela, ketergantungan manusia akan perlindungan oleh teknologi mesin dan gedung mewah semakin tinggi. Sedang energi yang tersisa tidak lagi dapat bertahan lebih lama. Akhirnya, pecahlah perang dunia ketiga dimana kapitalis besar (negara) akan rebutan sumber daya. Yang terkuat akan berkuasa terhadap sumber daya tersebut dan cakap sombong untuk merendahkan betapa lemahnya pihak lainnya. Kesombongannya ini terbawa-bawa sehingga ia sangat bangga akan pencapaian tersebut sambil mengatakan hal yang sama kepada semua pengikutnya, “kalau bukan aku, kamu tidak selamat!” Sikap ini sekaligus mengharuskan setiap orang yang berada di bawah perlindungan mesin dan gedung yang dibuatnya untuk sujud dan menuruti apapun keinginannya.

Nilai-nilai agama mengedepankan moralitas di segala bidang sedang kapitalis mengedepankan uang. Kapitalisme menegaskan bahwa siapa yang gesit & kuat, dialah yang akan kaya raya. Sedang segelintir orang dapat meraih keburukan dengan kekuatan dan kegesitan. Ketika seorang manusia memiliki uang yang lebih maka ia mampu dengan leluasa berkuasa dan mengendalikan sesamanya secara semena-mena. Mereka yang memiliki kekuasaan dan harta berlimpah-limpah akan meninggikan diri diantara manusia lainnya. Inilah yang menjadi awal mula kekuatan spiritual punah ditelan kekuatan pemodal besar.

Sistem ekonomi kapitalisme hanya akan meningkatkan jumlah orang-orang yang ateis. Memang dari KTP yang dimilikinya telah tercantum jelas agama apa yang dianutnya tetapi itu hanyalah di atas kertas saja. Sedang di dalam hatinya sendiri, yang penting ada uang, jabatan dan kekuasaan maka semua beres. Sadar atau tidak, sistem kapitalis menimbulkan kesombongan dan iri hati di dalam masyarakat. Keadaan ini membuat orang lain juga turut berlomba-lomba untuk menjadi pemodal sedang lahan usaha di daerah yang positif sudah full tank. Akhirnya, mereka memilih lahan usaha di tempat-tempat yang penuh dosa yang sekaligus menjauhkannya dari nilai-nilai agamawi sehingga cepat atau lambat akan menjadi ateis.

Salam kesetaraan!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s