Gejolak Sosial

7 Hal Yang Membuat Sehat, Kuat, Cerdas, Kritis, Luwes & Mengenali Situasi Yang Di Hadapi

Kebiasaan (pihak) Yang Membuat Sehat, Kuat, Cerdas, Kritis, Luwes & Mengenali Situasi Yang Di Hadapi

Menjadi manusia yang berkualitas tidak hanya ditempuh dari pendidikan di bangku sekolah saja. Melainkan pada setiap detik yang kita lalui dalam hidup ini terkandung makna yang dalam. Jadi, adalah baik bagi diri anda untuk memaknai setiap kejadian sebagai sebuah langkah untuk mengembangkan kemampuan diri menjadi lebih baik dari hari ke hari. Sesungguhnya latihan bagi kehidupan manusia tidak hanya dicorat-coret di atas kertas saja melainkan latihan sejati diperoleh dari praktek langsung di lapangan.

Sehat secara fisik

Sehat – menjadi sehat secara jasmani itu penting sebab tanpa fisik yang kuat mustahil kita mampu maksimal dalam melaksanakan berbagai kegiatan hari lepas hari. Kita bisa menjadi sehat dengan cara tidak lupa makan hari lepas hari. Diantara semua asupan makanan yang sangat penting untuk dikonsumsi adalah air garam manis isotoni. Garam adalah sumber energi, kesehatan dan penyembuhan yang luas biasa. Bahkan bisa dikatakan bahwa NaCl menyembuhkan segala macam penyakit asalkan diberikan secara terkontrol. Selain itu, alam sekitar kita juga turut menguji diri ini (misal dalam hal perubahan cuaca ekstrim) sehingga mampu hidup dengan tenang saat terik, panas, hujan dan dingin sekalipun.

Kuat menghadapi gelora kehidupan

Kuat – lain kuatnya manusia di zaman dahulu kala dengan zaman sekarang. Orang-orang yang kuat dahulu diyakini otot-ototnya besar dan mampu menantang siapa saja untuk berduel. Tetapi di zaman sekarang kekuatan itu dinilai dari kesabaran masing-masing. Ini adalah ciri khas kesehatan mental manusia. Mereka yang sanggup bersikap sabar di tengah situasi yang sulit dan di dalam tekanan sekalipun adalah manusia dengan kekuatan hati yang tidak bisa dibeli dengan uang. Ya itu benar…. Sebab kesabaran jenis ini tidak akan anda temukan di toko-toko souvenir, di mall-mall ternama dan di pajak juga di kaki lima sekalipun. Melainkan ini murni dilatih.

Cerdas dalam bersikap dan mengambil keputusan

Cerdas – untuk menjadi pintar mudah saja, cukup dengan membaca, mencatat, mempelajari dan mengingat-ngingat apa yang tertulis dalam Kitab Suci. Jika masih mau yang lebih maka andapun dapat berkunjung ke perpustakaan daerah setempat atau bisa juga dengan membaca konten online di internet. Belajar tidak hanya dari buku saja, andapun dapat mempelajari fenomena alam disekitar. Misalnya tentang siklus bulan, siklus tanaman, siklus buah-buahan, siklus cuaca dan lain-lain. Kitapun bisa mempelajari diri sendiri, sifat-sifat yang dimiliki dan juga orang lain disekitar. Semuanya ini membuat anda cerdas jika dilakukan secara kontinue (terus-menerus).

Kritis merespon informasi

Kritis – namanya juga pengetahuan, sejak dari awal bentuknya selalu terkandung dalam dua wujud, yaitu kebaikan dan kejahatan. Ketahuilah bahwa apapun yang anda temukan sebagai bahan bacaan selama hidup di dunia ini belum tentu sesuai dengan nilai-nilai dalam diri sendiri. Bahkan kisah-kisah yang mengagumkan yang dimuat dalam cerita, carpen, novel, roman, film, sinotron dan lain sebagainya selalu mengandung dua arti dasar, yang baik dan jahat. Oleh sebab itu, perhatikan, simak dan pelajari baik-baik segala sesuatu lalu kritislah saat menilai apalagi saat mengaplikasikannya dalam kehidupan ini. Bandingkan semuanya itu dengan standar kehidupan yang dimiliki.

Menjadi orang yang luwes

Luwes – merupakan suatu totalitas yang mencakup faktor luar dan dalam. Keadaan ini lebih dekat pada kemampuan seseorang untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Biasanya diawali dengan kemampuan untuk menerima kenyataan apa adanya, seburuk apapun itu. Kesempatan kita untuk mengubah sesuatu hanya saat dilibatkan dalam tahapan perencanaan. Tetapi saat sesuatu terjadi begitu saja maka yang dapat kita lakukan adalah menerimanya apa adanya. Tidak perlu melawan dalam hati walau dari luar terlihat tenang sebab ini sama saja dengan dendam, yang suatu saat akan diungkap keluar. Yang mungkin dapat kita lakukan adalah memberi masukan agar kedepannya dapat melakukan yang lebih baik lagi.

Mampu mengenali situasi yang dihadapi

Mengenali situasi yang dihadapi – sebuah situasi tidak semuanya alami begitu saja terjadi. Memang dalam banyak keadaan manusia cenderung bertindak senyatanya – apa adanya. Hanya saja dalam beberapa kondisi, sesuatu yang sedang terjadi syarat dengan rekayasa. Ini adalah sebuah aksi sandiwara yang sebenarnya tidak berdasar. Oleh karena itu, jangan terlalu serius menanggapinya melainkan santai saja sambil tetap ramah. Kemampuan mengenali mana aksi dramatisasi dan mana yang nyata murni dipelajari dari pola penampakan dan insting yang dimiliki. Kita memelihara kerendahan hati untuk mampu mengertikan situasi ini.

Apa saja yang membuat manusia sehat, kuat, cerdas, kritis, luwes dan mampu mengenali sesuatu?

Sadar atau tidak, ketahuilah bahwa selama hidup di bumi ini kita dilatih dalam pola-pola tertentu untuk memahami arti kehidupan yang sebenarnya. Saat kita menyadari bahwa masalah itu penting maka tepat saat itu jugalah berkesempatan untuk mengikuti proses pembentukan yang sedang berlangsung. Tetapi bila terlalu over protektif dan terlalu dimanjakan oleh teknologi alhasil tidak ada kebaikan yang dapat membentuk kepribadian kita menjadi lebih berkualitas dibanding sebelumnya. Berikut ini, hal/ pihak/ kebiasaan yang dapat membuat anda berkembang.

Pihak tertentu

  1. Alam sekitar.

    Ada tantangan yang besar ketika kita memasuki alam sekitar. Saat kami berjalan dengan kaki telanjang di daerah-daerah yang terjal, sangat menguji kemampuan untuk menyeimbangkan diri. Keberadaan hewan-hewan buas (misalnya ular) disekitar mengajari kita untuk lebih berani. Menghadapi malam yang gelap pekat mengasah keberanian di dalam hati. Melewati dinginnya cuaca membuat kemampuan tubuh untuk menyesuaikan suhu sangat baik. Menghadapi terik sang mentari melatih kulit kita untuk tidak terbakar dalam panasnya suhu.

  2. Orang disekitar kita.

    Masyarakat disekitar kita terkadang memiliki pola-pola tersendiri untuk menguji diri ini. Entah itu berlangsung disengaja ataupun secara tidak sengaja. Jika anda adalah orang yang mampu berpikir positif maka semuanya itu akan ditanggapi dengan santai sambil belajar menyesuaikan diri. Sadarilah bahwa ujian kehidupan mengajari kita untuk mengerti keadaan orang lain, mampu mengendalikan diri dan belajar memaafkan.

    Sedikit tips yang sangat ampuh untuk mengampuni seseorang. Saat sedang mendapat perlakuan tidak baik lalu hati anda bergejolak dan mulai menyesal sana sini, tepat saat itu jugalah dibutuhkan ketulusan hati untuk memaafkan. Saran kami saat memaafkan orang adalah dengan berbelas kasihan. Misalnya dengan mengatakan, kasihanilah orang-orang ini ya Tuhan, mereka masih terlalu muda untuk memahaminya, tidak ada yang bersalah dalam perkara ini….

  3. Sistem/ organisasi/ komunitas.

    Sistem kerja yang ada di tempat anda adalah sebuah sarana untuk menguji kemampuan yang dimiliki. Tidak perlu susah-susah mencari tantangan kerja melainkan mulailah belajar untuk memahami pekerjaan tersebut. Langkah berikutnya yang harus anda lakukan adalah mulai memahami dan dekat dengan semua orang di tempat kerja dari jabatan terendah sampai jabatan tertinggi. Semua ujian yang kita dapatkan di bidang ini murni merupakan sebuah sarana untuk melatih kemampuan untuk menyesuaikan diri sembari menjaga sikap tetap terkendali di bawah tekanan.

  4. Diri sendiri.

    Menguji diri sendiri adalah sebuah langkah antisipatif untuk menghadapi sesuatu yang lebih besar ke depannya. Sebelumnya sudah kita ketahui bahwa segala sesuatu di dunia ini bagaikan pedang bermata dua. Misalnya saja dalam hal penggunaan internet yang didalamnya terkandung informasi yang baik dan juga yang buruk (pornografi, penipuan, hoax). Ada juga simulasi untuk menghadapi kebisingan sambil tetap fokus untuk melakukan hal yang positif. Demikian juga simulasi saat menghadapi fitnah, hinaan, cercaan dan makian dari orang lain. Saat kita menguji diri sendiri akan dimungkinkan untuk menghadapi situasi yang lebih berat namun tetap tenang dalam bersikap.

    Kebiasaan yang melatih.

  5. Ramah tamah.

    Ini adalah kebaikan yang paling sederhana bermanfaat untuk menguji diri sendiri. Anggap saja kemungkinan keramahan kita diacuhkan adalah 100% sehingga lebih siap jika itu memang terjadi. Adalah baik untuk bersikap ramah kepada semua orang dengan demikian kita berbagi hal positif. Kebaikan yang satu ini bisa dilakukan dimana saja, kapan saja dan apa saja situasi yang sedang dihadapi. Kami belajar banyak hal dari ramah tamah, misalnya kapan saatnya hanya tersenyum, kapan saatnya mengucapkan salam, kapan mengucapkannya dengan volume yang lembut, kapan saatnya bersalaman dan lain sebagainya.

  6. Siap menghadapi masalah seadanya.

    Persoalan adalah sesuatu yang terjadi tanpa pernah kita duga atau yang terjadi malahan sebaliknya. Oleh karena itu, selalu siapkan diri untuk menghadapi persoalan hidup. Pergumulan yang kita hadapi dengan sikap yang terbuka tanpa sungut-sungut melatih kesabaran dan kemampuan mengendalikan sifat-sifat buruk, seperti hawa nafsu sesat-lebay, kebinatangan dan kejahatan lainnya. Satu lagi yang meningkat dalam kehidupan kita adalah kecerdasan. Jadi, jangan galau terus saat menghadapi persoalan melainkan bersukacitalah senantiasa dengan selalu bersyukur dan bernyanyi memuliakan Tuhan di dalam hati.

  7. Menahan diri untuk tidak menikmati hidup secara berlebihan.

    Progam kami sendiri untuk menahan indra sebenarnya ada banyak. Salah satu yang paling akurat hingga saat ini adalah keengganan untuk menonton televisi. Yang lainnya lagi adalah niat untuk makan sekali sehari walau sering bolong-bolong. Kebiasaan untuk makan sekali sehari memang lancar hanya saja terkadang bolong karena ada-ada saja makanan yang lebih di rumah.

    Harus dipahami bahwa menikmati hidup itu memang penting tetapi melakukannya secara berlebihan adalah jelas tidak baik. Kami sendiri selalu berusaha untuk tidak mengkonsumsi cemilan, hanya saja niat ini kadang luntur demi menjalankan ekonomi. Kita juga tidak boleh terlalu hemat, uang yang ada di tangan harus di jalankan sebagian agar ekonomi berputar.

    Berpuasa itu baik teman. Ada kalanya saat kita menghadapi sesuatu yang genting, tahanlah diri untuk mengkonsumsi sesuatu. Ini juga melatih pencernaan kita untuk lebih sehat. Juga jangan lupa dengan kebiasaan mengkonsumsi air garam manis, ini adalah sumber energi dan anti penyakit yang sudah diberikan Tuhan sejak dari awal dunia ini diciptakan.

Masalah membuat kita sehat, kuat, cerdas, kritis, luwes dan mampu mengenali sesuatu. Jangan pernah ilfil dengan gonjang-ganjing kehidupan yang terus berlangsung di sekitar anda. Di dalam instabilitas situasi lahirlah orang-orang yang stabil dalam bersikap tetap terkontrol dengan baik. Tentu saja keadaan ini awalnya akan ditempuh dalam rasa sakit. Tetapi mereka yang mampu belajar dari kesalahan dan mulai memahami arti kehidupan yang sebenarnya, bahwa hidup ini akan terus diasah oleh persoalan untuk semakin tajam di dalam menjalani hari yang tidak pasti.

Salam tegar tapi santun!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.