Gejolak Sosial

10 Perilaku Raja Jaman Dulu Yang Tidak Pantas Ditiru – Stop Fokus Indra


Perilaku Raja Jaman Dulu Yang Tidak Pantas Ditiru - Stop Fokus Indra

Pernahkah anda melihat sinetron atau film yang berkisah tentang kerajaan jaman dahulu kala? Pastilah hal ini pernah disaksikan setidak-tidaknya sekali atau beberapa kali kecuali jikalau anda adalah seorang yang tidak suka menonton. Kami dahulu waktu kecil suka sekali menonton film yang berkisah tentang masa lampau. Terlebih ketika dalam aksinya para pemain dikatakan memiliki ilmu sihir atau memiliki semacam hewan buas yang jinak sama tuannya (bisa juga kedua-duanya). Cerita bertajuk fiksi (khayalan/ angan) semacam ini jelas sangat menarik bagi anak-anak. Setelah dewasa, hal-hal yang berbau tahayul tersebut mulai enggan untuk disaksikan karena jauh dari akal sehat.

Kekuatan yang kita gunakan untuk mengakhiri hidup seseorang akan menjadi alasan untuk mengakhiri hidup kita

Kerajaan jaman dahulu kala memang telah banyak tenggelam dalam kedagingan. Mereka bertindak semena-mena layaknya binatang bahkan lebih parah dari binatang buas sekalipun. Sebab sebuas-buasnya binatang hanya membunuh satu hewan selama musim berburu tetapi manusia membunuh puluhan, ratusan, ribuan, puluhan ribu dan seterusnya demi hawa nafsunya yang sesat dan berlebihan. Dari sini jelas sekali bahwa kehidupan mereka hanya dipenuhi oleh hal-hal yang kejam nan keji. Jangan ditanya mengapa mereka berakhir oleh pedang karena telah mengambil segala keinginannya juga dengan pedang. Sesuatu yang kita gunakan untuk meraih sesuatu akan menjadi suatu jerat bagi kita dalam suatu masa yang tidak ditentukan. Oleh karena itu, baiklah kita belajar sesuatu yang baik dari semuanya itu.

Perilaku raja membabi buta seperti binatang tidak layak dihadapan Tuhan

Raja-raja yang memenuhi tangannya dengan darah tidak akan pernah layak dihadapan Allah. Bahkan raja Daud sendiri tidak dizinkan untuk membangun Bait Allah oleh karena semasa hidup, tangannya telah menumpahkan darah (I Tawarikh 22). Sekalipun kita tahu sendiri bahwa sebagian besar orang yang dibunuhnya adalah orang jahat. Satu-satunya darah orang tak bersalah yang ditumpahkannya adalah Suami dari Batsyeba. Orang terbaik pilihan Allah saja hanya membunuh satu orang yang tidak bersalah sudah dianggap tidak layak untuk membangun Bait Allah. Terlebih ketika kita yang merampas hak hidup seseorang, pastilah akan dijerat oleh hukuman  yang teramat berat pula.

Alasan penyebab raja jaman dulu kala terjebak dalam kedagingan

Mengapa raja-raja jaman dahulu kala selalu terjebak dalam keinginannya yang salah? Pada dasarnya perilaku buruk yang kejam sama seperti binatang sudah ada dalam daging setiap manusia. Sifat-sifat ini juga bisa saja mereka tiru saat melihat pertarungan antar hewan. Terlebih ketika para pembesar tersebut suka mengadu binatang yang mereka pelihara. Penyebab utama yang tidak kalah penting adalah karena mereka juga menyaksikan bagaimana orang tua mereka melakukan hal tersebut demi memperebutkan kekuasaan, wilayah dan sebagainya. Faktor lainnya yang tidak kalah penting adalah karena mereka tidak mengenal Tuhan. Atau sekalipun mengenal kebenaran tetapi mereka tidak hidup di dalam kebenaran itu dan enggan untuk memfokuskan pikiran kepada hal-hal positif yang ada didalamnya.

Apa saja yang tidak pantas ditiru/ dicontoh dari orang-orang yang hidup di masa lalu.

Adalah baik jikalau kita bisa belajar dari masa silam dengan demikian beroleh petuah kehidupan untuk diterapkan hari demi hari. Sejarah memang sudah berlalu tetapi mari kembali melihat lebih dalam dari berbagai kejadian tersebut. Apa sebenarnya yang membuat situasinya semakin runyam, saling serang-menyerang dan saling kalah-mengalahkan? Berikut beberapa hal yang tidak pantas untuk di contoh dari zaman kegelapan umat manusia di masa lampau.

  1. Tidak suka bergerak.

    Ini adalah pelajaran paling penting yang dapat kita amati dengan jelas dari perilaku para raja di masa lalu. Mereka begitu bangga dengan kehidupannya yang nyaman dan jarang sekali bergerak. Kalau kepanasan, dikipasin; ambil makanan diambilin; mau makan disuapin; kemana-mana digotong/ diarak dengan tenaga manusia/ hewan (kuda) dan lain sebagainya.

    Ketahuilah bahwa rasa bangga karena tidak melakukan apa-apa melainkan menyerahkan semuanya kepada babu yang dimiliki akan menurunkan aktivitas otak. Akibatnya adalah menurunnya kecerdasan sedang kedagingan turut memuncak melebihi kepala sampai menginginkan hal-hal yang di luar batas kewajaran.

  2. Enggan bekerja keras.

    Kebiasaan yang enggan bekerja ini ditunjukkan oleh anak-anak raja itu sendiri. Kebiasaan mereka yang nggak ada kerjaan cenderung membuatnya manja dan tidak pernah dewasa. Akibatnya umur kerajaan tersebut akan lebih pendek, terpecah-belah dan hancur lebur ketika si anak yang memimpin. Anak raja atau pangeran juga hidup dalam kemewahan hidup dan kenyamanan sehingga membuatnya enggan untuk berlelah mengeluarkan keringat melakukan pekerjaan yang berat atau sulit. Padahal kesulitan hidup sebenarnya bermanfaat meningkatkan level kepribadian dan kehidupan manusia.

  3. Menyukai barang-barang mewah.

    Orang-orang ini sangat menyukai emas dan berbagai-bagai barang antik lainnya. Mereka memiliki tempat khusus untuk mengoleksi semuanya itu. Bahkan kepala, leher, tangan dan kakinyapun dipenuhi dengan berbagai-bagai batu mulia tersebut. Yang paling mengkhawatirkan lagi adalah saat mereka merebutnya dengan cara-cara yang licik dan keji syarat dengan kekerasan.

    Mereka berpikir bahwa barang mewah, pakaian indah dan aksesoris yang indah dan berkilau-kilauan adalah sumber kebahagiaan dan kedamaian hati. Sayang semuanya itu hanya pengalaman panca indra yang sifatnya sesaat saja. Sedang bahagia itu rasanya dari hati bukan di mata, kulit, telinga atau lainnya.

  4. Menggilai perempuan.

    Para raja ini memang sangat serakah kalau urusan selangkangan. 😀 😀 😀 Lihat perempuan cantik dikit udah di jadikan istri. Lihat lagi yang lain senyumannya manis dikit udah di jadikan selir. Saat melihat yang bulat-bulat dikit pastilah langsung diembat dan dibawa lari. Orang-orang ini memang telah dipenuhi dengan kedagingan yang tidak pernah berakhir. Pikiran mereka yang kosong terus menerus membuat nafsu seks itu semakin tinggi dan terus kehausan hari demi hari. Makanya jangan heran jika ada raja yang memiliki istri ratusan sampai ribuan. Padahal kalau dipikir-pikir berulang-ulang kali, mau cantik-mau jelek lubangnya satu dan gunungnya kembar – itu-itu aja – nggak ada yang lain. Tapi itulah manusia yang ditipu oleh indranya sampai menginginkan hal yang sama berulang-ulang kali, hanya menambah dosa saja…..

  5. Pesta pora tiap-tiap hari khusus.

    Saat kehidupan rakyat masih sengsara dan terhimpit oleh berbagai-bagai persoalan, mereka lebih suka berpesta dengan sajian makanan yang luar biasa banyak dan mewah. Tidak cukup sampai disitu, merekapun menyajikan banyak-banyak minuman keras yang memabukkan di sana. Keadaan ini semakin membuat moralitas para petinggi kerajaan semakin amburadur. Pesta ini bisa berlangsung selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu dengan menggunakan bahan pangan yang langsung di pungut/ di pajak dari rakyat banyak.

  6. Maunya terus-menerus dilayani.

    Inti dari menjadi seorang raja di masa lalu adalah kehidupan yang terus-menerus dilayani. Mereka berpikir bahwa hidup dilayani itu sudah sangat hebat. Padahal keadaan semacam ini cenderung mengganggu keseimbangan emosional/ kepribadian sendiri. Ketikmampuan menjaga keseimbangan antara dilayani dan melayani membuat setiap tindak tanduknya hanya ditujukan untuk kepentingan pribadi/ keluarga/ kelompok tertentu saja. Keegoisan ini semakin membuat kepribadian mereka menggila terhadap kenikmatan dan kemuliaan duniawi yang semakin menjerat mereka di dalam berbagai-bagai pelanggaran.

  7. Sombong – angkuh yang berimbas pada iri hati.

    Sifat sombong yang ditunjukkan raja dan kaum bangsawan sudah tidak bisa disentuh oleh bumi. Mereka seolah berada di langit dan memandang orang lain lebih rendah. Bahkan kritik dan saran terhadap kepemimpinannya/ pemerintahannya akan dianggap sebagai musuh bebuyutan.

    Dibalik semuanya itu, kelompok masyarakat yang iri hatinya semakin berkembang melahirkan gerakan pemberontakan dimana-mana. Keadaan ini semakin membuat suasana semakin runyam sehingga kerajaan berada di ujung tanduk. Kalangan atas ini lagi-lagi mengambil tindakan yang agresif untuk menertibkan pemberontakan. Ini seperti menebas pucuk pohon yang suatu saat akan tumbuh kembali.

  8. Rebutan kekuasaan dan wilayah yang lebih lagi.

    Bagaimana mereka bisa berkata puas, pikirannya kosong melulu! Mereka selalu berpikir untuk memenuhi ketidakpuasannya dengan menggapai hal yang katanya lebih hebat lagi. Padahal keadaan ini sama saja dengan menggali kuburan sendiri. Karena sikap-sikap serakah pada akhirnya akan berujung pada kehancuran. Hidup yang selalu saja tidak puas sesungguhnya dikarenakan oleh minimnya aktivitas otak sehingga membuat manusia kurang bahagia.

  9. Syarat dengan kelas sosial.

    Kelas sosial dalam masyarakat menunjukkan bahwa manusia sangat fokus kepada indra. Ketika perannya besar maka jatahnya juga besar, saat orang lain perannya kecil maka jatahnya juga kecil. Keadaan ini seperti hukum memberi, apa yang kita berikan bagi dunia ini persis sama seperti apa yang kita terima dari orang-orang duniawi. Bukankah keadaan ini sama saja sehingga kelak ketika kembali ke surga kita tidak beroleh keuntungan apa-apa? Oleh karena itu, memberilah saat orang lain tidak melihatnya, pasti upah itu nyata di sorga kelak.

    Kelas sosial hanya membuat kondisi masyarakat semakin kacau balau. Sebab orang yang pintar-pintar (kalangan atas) akan dengan senang hati malakukan konspirasi untuk membuat masyarakat tetap bodoh sehingga mau saja dibodoh-bodohi. Sedang mereka sendiri menerima untung yang berlipat kali ganda dari semua peristiwa tersebut.

  10. Ketergantungan akan kenikmatan dan kemuliaan duniawi bahkan menganggapnya sebagai penyelesaian masalah.

    Mereka sangat memperhatikan pujian dan penghormatan dari rakyat. Datang dengan iring-iringan yang entah berantah untuk mendapatkan penghargaan yang membuatnya semakin bangga hingga terbang ke langit klepek-klepek. Padahal semuanya itu sama saja dengan menggantungkan kehidupan di tangan orang lain.

    Raja-raja jaman dahulu melihat harta benda yang berkilau-kilauan sebagai sumber kebahagiaan. Mereka berpikir bahwa benda-benda itulah yang membuatnya menjadi tersenyum senang. Padahal semua aktivitas yang menyenangkan tersebut berasal dari dalam hati.

    Berpikir bahwa main perempuan dan minum tuak sambil mabuk-mabukan adalah cara terbaik untuk menjadi bahagia dan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Keadaan ini jelas membuat tingkat kecerdasan mereka semakin menurun drastis.

    Mereka tidak mampu mempertahankan rasa bahagia itu sebab masih belum mengerti bagaimana pikiran manusia bekerja. Jika kebahagiaan itu bentuknya S maka pertahankan bentuk S tersebut dengan menjaga konsentrasi tetap jauh dari berbagai prasangka buruk (suudzon), sungut-sungut, iri hati (cemburu), sombong, penyesalan dan berbagai hal negatif lainnya. Pertahankan suasana hati anda tetap berbentuk S dengan cara bersyukur dan bernyanyi memuliakan Allah (dalam hati, bibir, alat musik, sambil menari) sampai pikiran terbuka membuat rasa senang-sukacita yang terkendali, tenang dan damai memenuhi hati lalu meluap dalam senyuman mungil di bibir masing-masing.

Fokus kehidpan para raja di masa lalu berada pada indra. Mereka berpikir bahwa materilah yang membuat hatinya berbunga-bunga. Merasa bahwa pujian, penghargaan dan penghormatan merupakan esensi yang dapat menambah keberanian di dalam hati. Padahal semuanya itu pada dasarnya bisa kita ciptakan sendiri lewat latihan yang terus-menerus dan syarat dengan pengorbanan. Sadarilah bahwa semua suasana hati yang baik itu ada dan bisa kita bentuk di dalam pikiran sendiri, belajarlah untuk melakukannya teman. Juga jangan lupa dengan kenyataan tentang dasar yang membangun, membentuk dan mengembangkan kehidupan di seluruh alam semesta adalah Tuhan, yaitu kebenaran itu sendiri. Tanpa kebenaran mustahil ada suasana hati yang baik.

Salam pembelejaran hidup!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s