Gejolak Sosial

7 Yang Bukan Takdir Tetapi Dinasib-Nasibkan Oleh Beberapa Orang


Takdir adalah sesuatu sudah digariskan dari awal oleh Sang Pencipta untuk masing-masing orang. Nilai default dari nasib manusia biasanya bersifat general (umum) yaitu berlaku untuk semua umat manusia. Manusia yang hidup menurut apa yang telah digariskan Tuhan sejak dari awal penciptaan adalah orang-orang yang panjang umur. Tidak hanya sampai disitu saja, mereka juga termasuk dalam sekumpulan orang yang hidup fleksibel tanpa harus khawatir karena ketergantungan terhadap sesuatu.

Mereka yang tidak bisa hidup menurut takdir yang telah ditetapkan Tuhan sejak dari awal kehidupan jelas memiliki candu terhadap sesuatu. Misalnya saja tentang nasib manusia yang harus hidup dalam sistem yang berputar-putar. Keadaan ini jelas membosankan bagi orang awam sehingga cenderung memiliki kualitas kebahagiaan yang lebih rendah. Mereka yang tidak menerima kenyataan bahwa dunia ini berputar-putar dan begitu-gitu saja cenderung menginginkan sesuatu yang lebih baik lagi dibandingkan apa yang sudah dimiliki saat ini.

Sadarilah bahwa orang yang tidak pernah puas, bahagianyapun dangkal. Keadaan ini membuat goncangan kecil saja sudah bisa membuatnya kehilangan rasa tenang dan damai. Tepat saat dimana kita tidak mampu menerima nasib yang telah digariskan Tuhan untuk hidup dalam perputaran yang konstan maka saat itu jugalah kejadian yang sebenarnya sepele sudah dapat membuat rasa sedih, galau dan cemas mengganggu pikiran. Oleh karena itu, siapapun anda dan apapun profesi anda saat ini, berusahalah untuk selalu hidup dalam aktivitas konstan yang dibiasakan.

Hawa nafsu yang terlalu tinggi yang menginginkan agar hari-hari kita selalu baru setiap hari adalah sebuah kenyataan yang salah. Jika segala sesuatu kita buat baru hari demi hari: beli baju baru tiap hari, memiliki pacar baru tiap hari, punya pekerjaan baru setiap hari, menu makanan baru setiap kali sarapan, menggunakan smartphone baru setiap hari dan lain sebagainya. Sadarilah ketika sesuatu yang baru dikait-kaitkan dengan materi maka tepat saat itu kita menjadi orang yang konsumtif. Perilaku semacam ini erat kaitannya dengan gangguan otak (turunnya kecerdasan) dan kerusakan lingkungan (tingginya jumlah sampah dan emisi karbon).

Hidup dalam kenyamanan jangan sampai mengganggu takdir manusia yang seharusnya terus mendapatkan masalah. Jangan pernah membawa diri untuk selalu menghindar dari persoalan sebab disanalah terdapat proses pendewasaan yang sesungguhnya. Anda bisa membaca banyak-banyak buku karya penulis terkenal yang hidup di zaman yang berbeda tetapi dewasa adalah praktek. Jika anda mau dengan ikhlas mengikuti alur nasib manusia yang harus didera oleh berbagai-bagai masalah, niscaya semuanya itu akan menuntun anda pada pembaharuan hidup yang lebih positif hari demi hari.

Apa yang tidak ditentukan oleh nasib?

Hanya ada sedikit hal dalam dunia ini yang ditentukan oleh nasib. Selebihnya dari semua itu tergantung dari usaha dan perjuangan kita masing-masing. Ketahuilah bahwa dalam hidup ini, kita harus bekerja keras dan berkorban untuk menggapai segala sesuatu. Tentu saja hal-hal yang kita dorong ke depan ini adalah tidak jauh-jauh dari kebenaran yang hakiki (mengasihi Allah dan sesama manusia). Berikut beberapa hal yang tidak ditentukan oleh nasib.

  1. Surga atau neraka.

    Ini jelas bukanlah bagian dari takdir yang telah ditentukan oleh Tuhan melainkan semuanya adalah tergantung dari pilihan hidup masing-masing orang. Memang Tuhan Yesus telah menjanjikan surga bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Tetapi apalah gunanya kita percaya kepada Tuhan jikalau sikap (perkataan dan perilaku) sehari-hari selalu menentang ajaran Tuhan? Ketahuilah bahwa menjadi orang surgawi bukan baru nanti dilakukan setelah akhir zaman (di kehidupan ke dua) melainkan surga itu harusnya telah kita rasakan mulai dari sekarang.

  2. Pekerjaan yang dimiliki (digeluti).

    Mengapa pekerjaan bukanlah sebuah nasib? Selama kesetaraan belum diberlakukan maka semuanya ini tergantung dari usaha masing-masing. Sebab dalam zaman kapitalisme siapa yang cerdas, dia yang unggul dan siapa yang bermodal, dialah yang berkuasa. Jadi seberapa tinggi kepintaran anda dan seberapa banyak uang yang anda korbankan untuk menempuh pendidikan, itulah yang menentukan pekerjaan apa yang kita dapatkan.

    Ada dua jalur untuk mendapatkan pekerjaan, yaitu melalui bakat alami yang dimiliki dan melalui jalur pendidikan yang digeluti. Hanya saja perlu dipahami untuk menghindari cara-cara kotor meraih rupiah. Adalah lebih baik bekerja di tempat yang jujur dengan hasil kecil daripada hasil besar tetapi bekerja di tempat yang tidak halal/ tidak sepantasnya. Beberapa orang juga rela membayarkan sejumlah uang untuk meraih pekerjaan yang lebih menjanjikan. Ini adalah salah satu praktek KKN yang kerap terjadi untuk memperebutkan lahan pekerjaan yang lebih layak, terutama terjadi di negara-negara berkembang.

  3. Hasil usaha yang didapatkan dan nilai/ yang diperoleh.

    Sebelum memandang kepada hasil maka alangkah lebih baik jikalau kita fokus kepada proses yang ditempuh untuk menyelesaikan semuanya itu. Orang yang mengedepankan proses-proses yang terampil, teruji dan terpercaya juga tentu saja tidak jauh-jauh dari nilai kebenaran. Saat kita berusaha tolong diperhatikan proses perencanaan, dukungan yang diperoleh dan kemampuan yang dimiliki. Pastikan bahwa segala usaha anda selalu berjalan dalam faedah-faedah kebenaran.

    Kerja keras, disiplin, ketekunan dan kesabaran dalam berusaha sangat menentukan hasil yang diperoleh. Lain halnya dengan pegawai negeri yang semuanya sudah dibayarin pemerintah. Petani, peternak, pegawai swasta dan pengusaha jelas menggantungkan hasil yang diperoleh dari perjuangan yang ditempuh.

    Hanya saja kekuatiran kita dalam hal ini adalah ketika seseorang melakukan usaha yang sesungguhnya kurang baik tetapi dilegal-legalkan. Yang jelas perjuangan semacam ini mendatangkan kerugian bagi orang lain dan lingkungan sekitar sedangkan diri sendiri diuntungkan.

    Ada banyak penilaian yang dilakukan sesama manusia di bumi ini. Biasakan diri untuk mengikuti penilaian yang sifatnya jelas dengan indikator yang juga jelas yang berasal dari lembaga terpercaya. Biasanya ini berlaku dalam suatu even yang memperebutkan kejuaraan atau gelar tertentu. Lain halnya dengan penilaian yang dilakukan oleh sembarang orang lalu berargumen sesuka hati dengan mengatakan bahwa “menurut saya ini & itu.”

    Di era kapitalisme penilaian semacam ini sangat mengundang iri hati dan kesombongan. Terlebih ketika hadiah yang diperebutkan sangatlah besar sehingga orang-orang juga akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk meraih nomor terbaik.

  4. Sakit yang dirasakan.

    Ada dua macam penyakit dalam kehidupan ini, yaitu sakit fisik dan sakit mental. Saat badan anda mengalami sakti-penyakit, tidak perlu mengeluh dan bersungut-sungut karena kenyataan tersebut. Berusahalah untuk menemukan solusi penyembuhan dari keadaan tersebut. Ini adalah ujian fisik yang juga dapat meningkatkan kemampuan daya tahan tubuh untuk mengantisipasi penyakit di waktu mendatang sekaligus membantu anda untuk tetap sabar di tengah tekanan rasa sakit.

    Sakit mental biasanya yang menderita adalah pikiran sendiri. Hati menjadi teriris-iris karena sesuatu dan lain hal. Sadarilah bahwa sesungguhnya hal-hal semacam ini hanyalah fatamorgana yang akan berlalu saat sudah dibiasakan. Anda perlu belajar untuk melakukan simulasi menyakiti diri sendiri dengan demikian ini akan menjadi awal untuk menjadi terbiasa. Simulasi hanyalah percontohan dari kejadian asli, biasanya kenyataan selalu lebih rumit jika dibandingkan dengan simulasi yang dilakukan.

    Ada dua penyebab yang membuat kita sakit, yaitu karena ketelodoran sendiri atau pengaruh lingkungan (termasuk dari sesama manusia) dan bisa juga karena terlalu manja dimana selama ini hidup dalam zona nyaman terus-menerus. Inilah yang menjadi alasan mengapa penyakit bukanlah suatu takdir, yaitu karena terjadi akibat kesalahan sendiri dan karena terlalu memanjakan diri dalam zona nyaman. Kenyamanan hanya akan membuat kita terlalu sensitif sehingga sangat agresif (bersikap buruk) ketika rasa sakit itu muncul.

  5. Kaya atau miskin.

    Sebenarnya kaya dan misikin itu tidak ada bedanya. Pada dasarnya, yang membuat kita kaya adalah karena selalu bersyukur. Sedang yang membuat kita miskin adalah karena selalu merasa kurang dan terus bersungut-sungut. Kedua hal ini jelas tidak terjadi secara undian melainkan semua harus diusahakan.

    Sadarilah bahwa hawa nafsu manusia tidak ada batasnya.
    Hanya saja kelemahan dari penentuan kekayaan ini ketika manusia mengedepankan cara-cara manipulasi untuk meraih rupiah. Konspirasi dan tipu muslihat adalah dua sejoli yang kerap dilakukan oleh sistem untuk memperoleh & mengumpulkan materi (uang) sebanyak-banyaknya. Daripada memanipulasi orang lain untuk beroleh materi maka lebih baik terlena dengan aktivitas berpikir saat senantiasa fokus kepada Tuhan di segala waktu.

  6. Teman, sahabat dan pasangan hidup yang dimiliki.

    Ini jelas diusahakan oleh setiap orang. Semakin aktif kita untuk berkumpul dan mengikuti berbagai acara dalam paguyuban tertentu maka semakin banyak pula teman. Penentu jumlah teman dan sahabat yang dimiliki bukan seberapa banyak orang yang baik kepada anda tetapi sebanyak apa kebaikan yang anda sebarkan kepada orang lain. Satu hal lagi yang perlu diperhatikan saat mencari teman adalah jangan terlalu mengharapkan perhatiannya melainkan berikanlah perhatian kepadanya.

    Tidak mudah untuk hidup bersama orang lain terlebih karena berbagai perbedaan minat dan sifat. Tetapi mereka yang dewasa memiliki sudut pandang (persepsi) positif sehingga menganggap hal tersebut sebagai tantangan untuk belajar menyesuaikan diri. Saat bersama dengan teman-teman, yang kita butuhkan adalah pengorbanan. Sebab satu teman berbeda kelemahannya, itulah titik dimana kita ada, mampu memahaminya dan selalu mendukungnya

  7. Kebahagiaan, kepuasan, kedamaian dan ketenteraman hati.

    Ketahuilah bahwa kepuasan, kebahagiaan, kedamaian, kententeraman hati adalah satu hal yang sama. Semua rasa ini ditentukan oleh kemampuan masing-masing mengelola suasana hati. Membebaskan pikiran dari hal negatif adalah kunci konsistensi rasa. Tetapi selama anda selalu terlena dan terbuai oleh dunia ini sehingga sangat fokus kepada indra, niscaya bahagia, puas, damai dan tenteram yang dirasakan akan dangkal dan sesaat saja.

    Selain itu, anda harus mampu terbiasa dengan rasa sakit dengan mengalihkannya untuk senantiasa fokus memuji dan memuliakan nama Tuhan. Kami yakin jikalau anda mampu tetap fokus kepada Tuhan sembari mengabaikan hal-hal yang buruk itu maka rasa bahagia dihatipun tetap terjaga stabil.

    Satu hal lagi yang harus anda ingat untuk bahagia adalah kesederhanaan. Bahagia, tenteram, damai dan puas yang sederhana membuat kita bisa merasakannya dimanapun, kapanpun dan apapun yang sedang dialami. Beberapa cara terbaik untuk menyederhanakannya adalah dengan hidup sederhana dan senantiasa bersyukur dalam segala hal.

    Rasa yang nikmat ini jelas bukanlah takdir melainkan harus dilatih hari lepas hari. Terlebih saat suasana sekitar (sikon: situasi dan kondisi) mulai kacau balau, kemampuan tetap nyaman dan tenang menghadapinya berasal latihan dari hal-hal kecil.

Apa yang lebih baik dari kebahagiaan? Lebih baik bahagia dengan harta pas-pasan (cukup-cukup makan) daripada kaya-raya dalam kegelisahan. Bonus….

Salam santun!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s