Gejolak Sosial

10 Alasan Menghakimi Orang Sakit Kepala Sendiri – Pusing Kepala Karena Sibuk Menilai Sesama


Alasan Menghakimi Orang Sakit Kepala Sendiri - Pusing Kepala Karena Sibuk Menilai Sesama

Menurut anda, apa pekerjaan yang paling berat sampai-sampai membuat sakit kepala? Apakah itu tentang mengurus rumah tangga, menjaga anak, mengurus suami/ istri? Mungkinkah kerjaan tersebut seputar menjadi manajer/ pemimpin dalam suatu instansi/ perusahaan tertentu? Atau jangan-jangan kerja yang paling memusingkan itu adalah saat kita tidak berkesempatan melakukan apa-apa, yaitu saat sedang menganggur? Kesemua hal itu mungkin saja bisa dialami oleh orang-orang disekitar kita bahkan oleh diri sendiri. Tetapi pada dasarnya, untuk melakukan semuanya pertama-tama memang berat tetapi setelah terbiasa barulah dapat dinikmati sehingga mendatangkan kebahagiaan tersendiri saat mampu diselesaikan tepat waktu.

Pekerjaan yang baik membuat pikiran manusia berkembang

Setelah lama berkecimpung dalam dunia kerja, ada banyak masalah yang kami temukan dari sana. Memang awalnya terasa berat tetapi lama kelamaan semuanya bisa dibiasakan. Jalanilah hidup ini dengan penuh semangat agar segala persoalan yang mendatangi anda dapat ditanggung dalam rasa sukacita. Jika anda mampu menjaga kadar kebahagiaan di dalam hati maka semua pergumulan hidup di dunia kerja akan dapat ditanggung sendiri maupun bersama rekan lainnya. Sebenarnya pergumulan hidup bermanfaat juga untuk mengembangkan kepribadian kita. Manfaat ini baru dapat dirasakan bila mampu memahami arti hidup di dunia ini dan dengan rela hati membiarkan diri sendii untuk diuji oleh situasi dan orang-orang disekitar. Persoalan yang dihadapi dengan ikhlas biasanya akan membuat kecerdasan baik dan hidup makin berkembang.

Biasanya terjadi karena pikiran kosong, lagi tidak ada kegiatan

Sayang, pada bagian kali ini kami tidak membahas pekerjaan yang membuat manusia cerdas bahkan berkembangpun tidak. Justru tipe kerja yang satu ini termasuk dalam aktivitas yang kurang kerjaan, mengapa demikian? Karena sama sekali tidak ada untungnya saat ditekuni hari demi hari. Bahkan semakin lama dilakukan maka semakin sakit kepala dibuatnya. Tetapi ada-ada saja orang yang gemar melakukannya, kebanyakan karena tidak sengaja dan yang lainnya karena kurang kerjaan. Seandainya orang-orang ini memiliki kesibukan positif dan seandainya mereka mengetahui betapa buruknya aktivitas menghakimi sesama, pastilah tidak ada lagi yang mau melakukannya.

Alasan mengapa menghakimi orang lain membuat sakit kepala

Pekerjaan menilai orang lain memang tidak berbahaya, bahkan bisa dikatakan bahwa hal tersebut dapat dilakukan oleh hampir semua orang, kecuali anak-anak. Sekalipun tidak berdampak bagi orang lain tetap saja aktivitas ini berefek buruk bagi diri sendiri. Seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa akibatnya dapat membuat pusing. Gejala sakit kepala seperti ini terjadi oleh beberapa faktor penyebab, berikut selengkapnya.

  1. Sangat mendalami kehidupan orang lain lalu dibandingkan dengan diri sendiri. Iapun ingin menjadi sama seperti orang lain. Padahal setiap orang diciptakan berbeda, oleh karenanya jadilah diri sendiri. Tetapi bukan juga dalam artian anda jadi diri sendiri dengan menentang kebenarang sejati (kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama).
  2. Menghakimi orang lain dengan sangat teliti tetapi tidak dapat menjaga hatinya dari rasa dengki. Akhirnya, rasa iri yang timbul dalam dirinya membuat emosinya tidak terkendali dan kepala semakin pusing karena ketidakmampuan mengendalikan diri.
  3. Terlalu sakit kepala karena menilai hal-hal kecil (recehan) dalam kehidupan manusia.
  4. Pusing kepala karena rasa bersalah setelah mengungkapkan penilaian kita terhadap seseorang yang belum tentu benar (dengan disebutkan namanya).
  5. Terlalu mendalami kehidupan seseorang lalu membandingkannya dengan diri sendiri. Tetapi yang ditirunya adalah sisi buruk dari penilaian tersebut.
  6. Menilai orang lain di dalam hati lalu merendahkannya dan meninggikan diri sendiri. Ini juga bisa membuat sakit kepala sebab menimbulkan rasa bersalah.
  7. Menghakimi seseorang dalam sudut pandang sempit lalu menganggap dia sebagai penyebab segala sesuatu. Keadaan ini membuat hubungan kita dengannya menjadi terganggu, sehingga saat ketemu jadi gelisah sendiri.
  8. Menilai seseorang secara sepihak (sesuatu yang masih belum jelas) padahal belum tentu dia yang melakukannya. Hal yang semacam ini jelas memusingkan kepala terlebih ketika kedepannya terbukti bahwa penilaian yang kita lakukan salah total.
  9. Terlalu sibuk menilai orang lain sehingga lupa untuk memperbaiki diri sendiri. Ketika hal yang sama terjadi padanya maka sikapnya bahkan lebih buruk dari semua pihak yang pernah dinilainya.
  10. Melakukan penilaian pada sesuatu yang berada di luar kemampuan akal pikiran manusia. ketahuilah bahwa kebiasaan menilai sesuatu yang diluar logika bukan lagi menambah pengetahuan tetapi membuat kita menjadi ahli jampi/ peramal. Serahkan & kembalikan hal-hal semacam itu kepada Tuhan.
  11. dan lain sebagainya.

Menilai itu juga penting, bagian dari pengetahuan

Menilai situasi adalah pengetahuan tetapi jangan fokus kepada orangnya. Seperti telah kami katakan pada tulisan sebelumnya bahwa ilmu pengetahuan adalah buah simalakama – pedang bermata dua yang dapat memberikan dampak baik dan buruk. Jika anda bijak menggunakannya maka ilmu itu akan membawa kehidupan pada kemajuan dari sisi mental kepribadian (psikologi). Oleh karena itu, perbaiki tujuan anda saat melakukannya. Jangan karena kita tidak senang, benci dan dendam kepada orang tersebut lalu dengan semena-mena mencaci makinya di dalam hati sendiri. Seburuk apapun kesalahan orang yang dinilai, hindari sikap yang memperparah keadaan tersebut. Tetapi cobalah untuk merasa iba dengan melihat sisi tertentu yang membuat kita berbelas kasihan. Seperti, “Kasihanilah orang ini Tuhan, dia masih muda. Bimbinglah dia kepada jalan yang benar itu!

Menghakimi dan menilai itu sama saja. Hanya, agar anda tidak terjerat dalam kesalahan karena aktivitas ini, berusahalah untuk memiliki tujuan yang benar saat melakukannya dan bukan untuk merendahkan seseorang/ oknum tertentu. Seharusnya kita menghindari menilai hal-hal kecil/ recehan dan yang tidak masuk akal. Hal-hal diluar logika murni rahasia Tuhan, kita logikakanpun itu bisa saja membuat salah paham dan gelar kita berubah menjadi ahli nujum alias peramal. Sebaiknya simpan penilaian terhadap orang lain di dalam hati sendiri. Sekalipun itu diungkapkan, tolong jangan diberitahu namanya/ identitasnya. Berhati-hatilah saat menyampaikan semuanya itu, pastikan tujuan anda bukan untuk menjelek-jelekkan orang tersebut di hadapan orang lain. Melainkan lebih kepada mengambil makna kehidupan yang positif dari semua peristiwa tersebut.

Bila perlu, saat waktu luang banyak, alangkah lebih baik jikalau kita senantiasa fokus kepada Tuhan sambil bercakap-cakap dengan-Nya dalam doa, bisa dengan membaca firman-Nya dan tentu dapat dilakukan dengan memuji dan memuliakan nama-Nya. Baik di dalam hati, lewat panca indra, menggunakan alat musik dan bisa juga sambil melakukan beberapa gerakan ringan (tarian sederhana).

Salam, kita bukanlah hakim bagi sesama!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.