Keluarga

+11 Alasan Manusia Meninggalkan Gereja & Agama


Faktor Penyebab Mengapa Manusia Meninggalkan Gereja & Agama

Kristen Sejati – Inilah perwujudan dari bobroknya sistem bermasyarakat. Suatu sistem yang tanpa disadari telah menciptakan berhala-berhala yang dapat dilihat oleh mata kepala. Jika dahulu kala, berhala mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, mempunyai hidung, tetapi tidak dapat mencium, mempunyai mulut tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai lidah tetapi tidak dapat mengecap sesuatu dan mempunyai kulit tetapi tidak dapat meraba. Lain halnya dengan zaman sekarang, berhala telah bertransformasi menjadi lebih hidup dan nyata.

Tahukah anda bahwa berhala yang paling jahat bukanlah patung-patung yang disembah oleh banyak manusia dan bukan pula teknologi mesin yang dipuja oleh banyak kalangan. Tetapi berhala yang paling jahat itu adalah manusia sendiri. Siapapun dia yang memiliki sumber daya yang lebih besar dari sesamanya akan dipuja oleh manusia lainnya. Terlebih ketika semua kelebihan tersebut berbentuk kekayaan intelektual, materi yang melimpah-limpah dan kekuasaan yang besar. Tanpa kita sadari, sistem yang kita sebut terbaik ini telah menciptakan pemujaan untuk meninggikan kalangan tertentu.

Gereja jangan terlena dengan pengaruh buruk dari kapitalisme. Mungkin saja saat ini orang-orang tersebut masih tunduk dalam aturan gerejawi dan akrab dengan banyak hamba Tuhan. Tetapi ketika lahan usaha mereka tersaingi oleh orang lain, pendapatan berkurang, anak-anaknya yang hidup mewah-mewahan, hidup menyendiri dengan teknologi, jarang bahkan tidak pernah berbuat baik kepada sesama, enggan mengalami penderitaan dan suka mengadukan/ mempersoalkan masalah-masalah sepele. Ketahuilah bahwa keadaan ini adalah awal ditinggalkannya gereja oleh konglomerat.

Pada satu titik sikap materialisme kalangan atas akan membuat mereka berpikir “masa bodoh” menghabiskan waktu, tenaga dan materi pada hal-hal agamawi. Terlebih ketika mereka tidak mendapat faedah dari keanggotaan dimana prodaknya tidak populer (kurang diminati warga gereja dan masyarakat luas). Keadaan ini membuat banyak pengusaha akan banting setir lalu mulai mencari uang di tempat-tempat yang tidak halal. Anak-anaknya yang diberi modal besar akan terjun dalam dunia hitam-negatif untuk mengembangkan modal yang dimiliki sekalipun dalam wilayah terlarang.

Ketergantungan manusia akan materi, menggiring kehidupan mereka sendiri dalam pergumulan hidup yang lebih besar. Mereka berpikir bahwa semakin banyak materi akan semakin baik dan terjamin kehidupannya. Tetapi ternyata kehidupannya tambah terancam, kemana-mana hidup tidak tenang. Yang terjadi adalah semakin besar harta benda yang dimiliki maka semakin tinggi kekuatiran yang meradang di dalam hati. Rasa entar berantah menghantui hidupnya karena uang yang dimiliki telah memancing orang lain untuk menginginkan hal tersebut ditambah lagi cara-cara yang tidak halal saaat memperoleh semuanya itu.

Faktor penyebab manusia meninggalkan gereja dan agamanya.

Orang-orang meninggalkan gereja karena pengaruh kapitalis yang begitu besar mengatur kehidupan manusia. Bahkan peran mereka lebih parah lagi yakni membodohi sebanyak-banyaknya orang agar tetap di bawah sedang dirinya sendiri semakin melambung tinggi. Pada akhirnya, peperangan antar kapitalis pecah, perebutan kekuasaan dan lahan usaha yang melibatnya banyak konspirasi manipulatif telah membuat hati banyak orang menebal dan meninggalkan gereja. Keyakinan mereka akan beralih dari percaya kepada agama menjadi percaya kepada oknum pemilik modal tertentu. Berikut selengkapnya.

  1. Segala sesuatu yang ditinggikan diantara manusia akan diburu oleh semua orang.

    Sistem yang ada tidak lagi menjunjung tinggi Kristus sebagai yang terpenting di dalam hati setiap manusia. Mereka akan meninggikan orang per orang dan sistem yang berkekuasaan. Orang akan berusaha mencapai puncak yang tertinggi tersebut bukan karena mampu tetapi karena berburu nama dan gelar kekuasaan.

    Semakin besar modal yang diperoleh maka semakin besar pula nama dan gelar yang dimiliki. Segala sesuatu telah di indikatorkan dalam bentuk uang, semakin tinggi modal yang dimiliki maka semakin tinggi pula kehormatan yang diberikan. Manusia tidak lagi tekun ke gereja untuk sekedar mengikuti kebaktian tetapi menjadikannya sebagai ajang publisitas dan sekedar pamer mempertontonkan diri kepada orang lain.

  2. Agama hanya sekedar KTP.

    Kekuatan agama dimanfaatkan hanya sebatas untuk menenangkan masyarakat agar tetap kondusif dan tenang. Sedang para petinggi kapitalis rajin berkonspirasi untuk memanen lebih banyak uang dan harta benda. Hidup mereka sendiri telah menjauh dari kekristenan dan saat ini menggantungkan kehidupannya kepada uang. Bahagianya mereka seturut jumlah uangnya, semakin banyak uang maka semakin tinggi jumlah kesenangan yang dibeli. Keadaan ini jelas-jelas membuat mereka sangat kecanduan dengan uang. Akibatnya keinginan untuk memiliki materi lebih dan lebih lagi menjadi hasrat kebanyakan orang, sekedar untuk senang-senang walau hanya sesaat.

  3. Reaksi antara iri hati dan kesombongan.

    Ada orang yang memiliki banyak harta benda sedangkan disisi lain lebih banyak lagi manusia yang hidup terlalu sederhana. Perbedaan yang sangat kontras ini menunjukkan kesenjangan sosial yang tinggi. Sedang oknum tertentu memanfaatkan kemelaratan rakyat agar mereka menjadi alatnya untuk melakukan pekerjaan kotor meraih tujuannya yang sempit.

    Kesombongan kalangan atas telah memicu reaksi kebencian yang membuat segelintir orang dendam. Oknum tertentu dalam negeri maupun orang luar/ asing akan memanfaatkan kebencian ini untuk melakukan aksi-aksi pemberontakan. Ada perlawanan yang sifatnya masif dan ada pula yang terang-terangan seperti terorisme. Tidak ada lagi Tuhan dalam hati setiap orang tetapi yang kuat adalah pemenangnya. Kedengkian yang berkembang pesat akan membuat orang tidak ke gereja karena tidak ingin bertemu dengan pihak-pihak tertentu.

    Kesombongan para kapitalis memuncak tinggi ke angkasa. Mereka ingin mencari hormat diantara manusia karena kehormatan yang dimilikinya saat ini masih belum membuatnya merasa puas. Oknum pemodal akan mendorong orang lain untuk meninggalkan agamanya sambil mengajak orang-orang cerdas untuk berkonspirasi, dengan berkata: “untuk apa menyembah Tuhan, mari datang dekat-dekat maka kami akan membuat hidupmu makmur. Dengan catatan harus mau memanen dilahan-lahan yang tidak pantas/ tidak halal (memanipulasi).”

  4. Manusia akan tergila-gila kemewahan, kenyamanan dan kemudahan duniawi sehingga menurunkan kecerdasannya.

    Orang yang memiliki banyak uang dan harta benda membuatnya sangat tergila-gila dengan kemewahan dan kemegahan materi. Mereka akan berburu harta karun dengan memeras rakyat lewat konspirasi. Sedang manipulasi itu sendiri membawa keuntungan bagi hidupnya dan kelompoknya.

    Berpikir bahwa hidup mewah, mudah dan nyaman adalah kebahagiaannya tetapi yang terjadi justru rasanya kurang terus. Mereka kecanduan terhadap semua gemerlapan duniawi sekaligus membuat nafsunya terhadap materi bertambah-tambah tinggi, maunya lebih lagi.

    Keadaan ini jelas-jelas membuat aktivitas manusia menurun karena semua didominasi oleh teknologi mesin. Kalangan atas juga cenderung memiliki kegiatan yang sangat sedikit padahal keadaan ini sama saja memberikan ruang bagi hawa nafsu sesat-lebay, kebintangan dan kejahatan lainnya berkembang di dalam dirinya.

    Aktivitas yang kurang membuat fungsi otak menurun sehingga seorang manusia tidak mampu menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam dirinya sendiri. Melainkan mereka harus berpesta dan bergembira sambil mabuk-mabukkan semalaman barulah rasa senang itu hadir walau hanya sesaat. Orang yang memiliki modal lebih banyak lebih sering menggelar pesta yang memabukkan dan di dalamnya mengandung banyak kemaksiatan yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai nilai agama. Oleh karena itu mereka sendiri akan menjadi malas ke gereja sebab apa yang dikhotbahkan Pendeta sangat mengena dalam kehidupannya. Ia lebih memilih untuk mencari gereja tertentu yang hanya menubuatkan berkat, muzizat dan kelimpahan saja tetapi mengabaikan kutuk (tidak dikhotbahkan) yang hadir dalam setiap kejahatan manusia.

  5. Kehidupan manusia dipetak-petakkan menurut penggolongan tertentu.

    Manusia ditakar menurut gaji dan fasilitas yang diterimanya. Orang-orang yang bekerja dibidang-bidang populer: pemimpin, manajer dan manajemen telah menjadi manusia kasta tinggi. Mereka akan diberikan fasilitas yang berlebihan selama menjabat padahal waktu menjabat bukan seumur hidup melainkan memiliki jangka waktu tertentu.

    Keadaan ini membuat para pemimpin dan karyawan manajerial beroleh materi yang melimpah sampai membuatnya ketagihan. Terlebih ketika mereka menatap masa depan dan masa pensiun dimana semuanya itu tidak ada lagi. Keadaan inilah yang membuatnya sangat serakah dengan menimbun lebih banyak lagi harta benda. Mereka memikirkan masa depan sehingga timbullah niat untuk korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Kesalahan yang mereka lakukan ditempat kerja membuatnya merasa tidak pantas untuk datang ke gereja. Kesalahan ini jelas menimbulkan pertentangan di dalam hati terlebih ketika Pendeta mengkhotbahkan tentang moral dan etika orang beriman.

  6. Perdagangan dan sistem ekonomi adalah cara memperkaya kapitalis dan memiskinkan negara.

    Sistem perdagangan dalam suatu negara hanya memperkaya kalangan atas dan kapitalis bermodal besar. Mereka menguasai sumber daya dan memanfaatkan itu sesuka hatinya. Keadaan ini membuatnya semakin bertambah-tambah kaya dari tahun ke tahun.

    Pemerintah tampil dengan penuh kebaikan hati lalu menggaji orang-orang dari golongan bawah sebagai wujud perhatikan kepada masyarakat. Padahal semua uang yang dibelanjakan itu kelak akan masuk kembali ke kantong-kantong kapitalis (pemodal swasta/ perorangan) yang menguasai sumber daya yang ada.

    Dengan uangnya yang begitu besar dan relasinya yang begitu banyak, para pemodal ini akan mempengaruhi orang-orang yang bekerja di dalam organisasi gereja. Terlebih ketika ada oknum agamawi yang ingin mengambil untung (penjilat) dari para pemodal tersebut. Akan terbentuk semacam simbiosis mutualisme yang membuat orang-orang agamawi nurut aja sama apa yang dikatakan oleh konglomerat kelas atas.

    Warga masyarakat yang menyadari betapa buruknya hubungan itu lantas tidak percaya lagi dengan agama dan mulai memutuskan untuk meninggalkan gereja. Mereka menganggap bahwa gereja hanya menjadi sarana untuk meningkatkan popularitas kapitalis tertentu.

    Disisi lain pemerintah tidak berdaya untuk membiayai berbagai-bagai kebutuhan manusia. Bahkan para kapitalis sendirilah yang membiayai orang-orang tertentu menurut potensinya. Ada banyak potensi besar yang menjalankan peran tertentu untuk mengendalikan sumber daya manusia sehingga orang-orang cerdas lebih patuh kepada kapitalis daripada pemerintah. Sebab gaji dan fasilitas yang ditawarkan pemodal besar (kaya raya) lebih memukau dibandingkan dengan yang diberikan pemerintah (miskin).

  7. Persaingan antar kapitalis untuk memperebutkan kekuasaan dan lahan usaha.

    Terjadi persaingan sengit yang melibatkan pemodal besar. Tidak seperti saat manusia saling berkelahi satu-sama lain dimana masing-masing akan menderita luka dan memar secara langsung. Tetapi dalam pertarungan antar kapitalis, orang lain hanya akan menjadi kaki tangan yang disuruh-suruh untuk melakukan ini dan itu. Orang suruhan inilah yang menjadi petugas lapangan untuk menjadi alat sekaligus tameng bagi para pemodal. Sehingga sekalipun mereka kalah, tetap saja yang babak-belur dan terluka parah hanyalah bawahannya. Sedang pemodal itu sendiri duduk manis dalam kediamannya yang mewah.

    Perilaku kekerasan semacam ini jelas tidak didukung oleh gereja bahkan agama manapun. Sakalipun tangannya tidak dikotori oleh darah orang lain tetapi dialah otak dari semua aksi tersebut yang beresiko menyebabkan rasa bersalah yang tinggi. Seperti halnya kesalahan Daud yang telah membunuh suami Barsyeba secara diam-diam sehingga membuatnya tidak pantas membangun bait suci.

  8. Mulai dibukanya lahan usaha di area-area terlarang.

    Perkembangan kepemiliki modal usaha berkembang pesat di dalam masyarakat. Sedang modal yang dimiliki anak-anak pemodal besar tidak bisa lagi dikembangkan sebab semua usaha di lahan positif telah terisi penuh.

    Oleh karena itu anak pemodal besar yang memiliki kekayaan dan relasi yang fantastis akan mencari-cari masalah. Atau lebih tepatnya merekalah yang membuat sengaja menimbulkan suatu penyakit masyarakat (baik fisik maupun mental). Inilah yang menjadi kesempatan bagi mereka untuk berdagang sembari tampil memberikan solusi.

    Cara lainnya yang dapat mereka tempuh adalah dengan melegalkan hal-hal yang dianggap keji oleh gereja. Mereka dengan sengaja menyebarkan berita-berita yang dipelintir untuk mengakomodasi kepentingannya. Keadaan ini, sama saja dengan melegalkan dosa yang jelas-jelas dilarang oleh agama manapun, misalnya tentang penggunaan narkoba, seks bebas dan lain sebagainya. Prostitusi, narkoba dan miras adalah lahan yang subur untuk seorang pemodal picik. Belum lagi ketika usaha-usaha negatif lainnya dilegalkan lewat undang-undang.

  9. Rusaknya lingkungan karena sikap konsumtif orang-orang kaya.

    Budaya konsumtif kalangan konglomerat tidak bisa diimbangi oleh alam sekitarnya. Mereka memakan dan menghancurkan banyak sumber daya dalam waktu sekejap mata sedangkan lingkungan membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan menahun untuk menghasilkan semuanya itu.

    Selain itu pemanfaatan mesin-mesin berteknologi canggih sebagai sebuah faktor pemberi kepuasan bagi orang-orang kaya akan menghasilkan biaya operasional yang tinggi. Bahan bakar yang digunakan untuk mengaktifkan teknologi tersebut telah membuat iklim berubah menjadi lebih panas dengan musim kemarau yang sangat keras dan lama.

  10. Rusaknya lingkungan karena konspirasi untuk melariskan alat elektronik tertentu.

    Degradasi lingkungan juga diakibatkan oleh karena berbagai permainan licik dari oknum tertentu. Mereka menghilangkan peran lingkungan untuk melindungi manusia sehingga masyarakat mencari perlindungan dari para pedagang. Lewat mesin berteknologi yang dijual oleh kapitalis maka masyarakat tetap mampu menikmati udara yang bersih dan sejuk (AC). Kendaraan tertutup (mobil) akan laku keras karena suhu panas di jalanan membuat kulit meriang hampir terbakar. Dan masih banyak teknologi lainnya yang diperjualbelikan oleh para pemodal ini, yang sebenarnya hanya meniru dari peran lingkungan alamiah (pepohonan) menghidupi dan melindungi manusia.

    Orang-orang dari kalangan rakyat jelata berekonomi menengah ke bawah tidak akan mampu membeli berbagai peralatan tersebut. Hidup mereka semakin melarat dan terpinggirkan bahkan bencana alam akan menghimpit dan menekannya. Akhirnya, orang-orang kecil ini akan termakan oleh bencana pemanasan global yang menimpa daerah tersebut (misalnya banjir, badai/ angin kencang, gelombang panas dan lain sebagainya). Para pemilik modal akan menganggap kejadian itu sebagai seleksi alam, yang kuat akan bertahan dan yang lemah akan tersingkir. Padahal nilai-nilai dalam agama menjelaskan agar manusia mampu mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri.

  11. Ketergantungan akan energi membuat sistem kewalahan bahkan cenderung berperang.

    Kebutuhan akan teknologi mesin sangat besar terlebih karena lingkungan sekitar telah dikuasai oleh gedung-gedung pencakar langit dan bangunan mewah lainnya. Tidak ada lagi tempat bagi tumbuhan untuk melakukan aksi netralisasi terhadap berbagai polutan dan zat pencemar. Akibatnya, manusia akan berlindung di balik gedung-gedung mewah tertutup dan berteknologi agar dapat terhindari dari panasnya mentari. Keadaan ini membuat kebutuhan/ konsumsi listrik yang sangat tinggi. Sebab untuk mengaktifkan semua mesin-mesin pelindung tersebut diperlukan lebih banyak minyak. Padahal pasokan BBM yang dimiliki semakin lama semakin kecil jumlahnya dari tahun ke tahun.

    Kenyataan ini membuat pemerintah dan pihak swasta akan terus mencari sumber energi yang lain. Pencarian ini pada akhirnya berujung kepada peperangan besar untuk memperebutkan lahan energi yang masih tersisa. Ada dua jenis perang yang kerap terjadi yaitu perang langsung dan tidak langsung. Perang yang tidak langsung dilakukan dengan menyebarkan informasi yang salah *mengadu domba sehingga manusia akan saling berselisih tetapi pihak tertentu (orang ketiga) akan mendapatkan keuntungan besar dibalik semua kekerasan tersebut.”

    Saat energi hampir habis maka kapitalis akan menguasai lahan minyak yang masih tersisa. Mereka akan mengganjar biaya yang sangat tinggi agar orang lain bisa bergabung dengannya. Tidak ada lagi agama atau gereja yang menyelamatkan kehidupan manusia. Melainkan siapa yang bermodal besar maka hartanyalah yang akan menyelamatkannya. Sedang rakyat kecil yang tidak ada apa-apa akan dihadang dengan kekuatan militer yang besar. Orang-orang yang memborontak untuk menerobos ke dalam pemukiman konglomerat kala itu akan ditangkap dan diadili tanpa proses hukum yang jelas.

  12. Orang-orang agamawi enggan menegur perilaku kapitalis, mereka hanya memberitakan berkat.

    Saat para Hamba Tuhan terlalu dekat dan sangat ketergantungan dengan berbagai-bagai pemberian yang mewah-mewah dari oknum pemodal besar, tepat saat itulah khotbah mereka terbatas. Mereka hanya mengkhotbahkan berkat dan kelimpahan akan segera datang tetapi enggan untuk mengkhotbahkan kutuk akibat kesewanang-wenangan pemilik modal selama menjalani hidup dan dalam menjalankan usahanya. Keadaan ini membuat orang-orang yang menyadarinya akan memandang dengan sinis lalu berpikir untuk tidak mau lagi datang ke gereja lalu pindah ke denominasi lain.

  13. Perselisihan untuk memperebutkan posisi penatua gereja.

    Saat masing-masing orang mencalonkan diri untuk menjadi penatua gereja, mereka sangatlah tertarik karena perannya yang bisa mengontrol arah mana yang harus di dukung sekaligu mempengaruhi Hamba Tuhan. Terlebih ketika gaji seorang penatua juga cukup fantastis, sadarilah keadaan ini membuat tingkat persaingan untuk memperebutkan kursi penatua sangatlah gesit. Persaingan ini semakin gencar saat dalam pemilihat tidak menanyakan kehendak Tuhan (mengabaikan demokrasi Tuhan). Mereka yang merasa diperlakukan secara tidak adil akan keluar lalu hengkang dari jemaat tersebut untuk pindah ke gereja lain.

  14. Gereja hanya sebagai salah satu alat kampanye.

    Jika memang agama hanya dijadikan sebagai salah satu sarana kampanye oleh para politikus, memang awalnya jemaat tidak menyadari hal ini. Tetapi lama kelamaan beberapa anggota jemaat akan memandang sinis keadaan tersebut. Sebab tidak lain dan tidak bukan Hamba-Hamba Tuhan telah disogok oleh calon pasangan/ calon legislatif tertentu sehingga para penetua ikut mempromosikan mereka. Keadaan ini akan dianggap oleh jemaat yang cerdas sebagai penyimpangan karena ternyata orang-orang yang katanya rohani adalah mata duitan juga.

  15. Agama hanya memperhatikan kalangan kapitalis.

    Saat seorang kaya raya sakit atau ada kerabatnya yang meninggal, orang-orang agamawi akan datang beramai-ramai untuk menyampikan kepedulian, kesedihan dan belasungkawa. Tetapi ketika yang meninggal atau yang sakit adalah orang sederhana bahkan beberapa diantara mereka miskin, gereja tidak ada. Paling-paling yang datang menjenguk hanya Pendetanya tok. Keadaan ini jelas mengiris hati orang yang hidupnya melarat sehingga merekapun tidak percaya lagi sama orang-orang gerejawi yang ternyata matre juga.

  16. Dalam acara Gerejawi hanya di dominasi oleh kapitalis dan kerabatnya, bosan mata melihat mereka lagi & terus.

    Karena bokapnya selalu memberikan sumbangan yang besar-besar kepada gereja, sikawan ini selalu tampil bak artis gerejawi. Saat ada perayaan atau acara khusus ia selalu mengambil peran yang penting. Padahal di luar sana masih banyak anggota jemaat lainnya yang bisa dilatih/ di-training untuk melakukan peran tersebut. Tetapi para penatua sepertinya sudah lengket terus sama keluarga kapitalis yang satu ini sehingga bosan mata jemaat melihat orang-orang itu terus yang tampil saat ada event/ acara tertentu.

  17. Acara gerejawi awalnya tetapi ujung-ujungnya diarahkan untuk kepentingan kapitalis tertentu.

    Kebaktian yang dilakukan seperti dicampur aduk dengan kepentingan kapitalis tertentu. Acara gerejawi hanyalah panggilan agar orang-orang mau datang sedangkan semuanya itu ujung-ujungnya diarahkan untuk maksud-maksud pemodal besar. Keadaan ini membuat beberapa anggota jemaat yang menyadari hal tersebut akan muak melihat perilaku petinggi gerejawi yang bisanya hanya “klepek-klepek” saat berhadapan dengan para pemberi sumbangan dengan nilai fantastis itu.

Kapitalisme akan menggagahi agama karena besarnya harta benda yang dimilikinya. Mereka akan merasa bersalah karena politik konspirasi dan manipulasi yang dijalankan selama ini. Sedang hamba Tuhan berkhotbah tentang buruknya moralitas manusia. Keadaan ini secara berangsur-angsur membuat manusia akan semakin jauh dari kebenaran sebab di tempat-tempat yang benar uangnya kecil. Padahal para pemilik modal ini telah terbiasa mencicipi materi yang begitu besar dan tebal. Bagi pemilik modal yang  candu terhadap gemerlapan duniawi, hidup tidak berarti jika uang terbatas. Oleh karena itu mereka berusaha untuk menggali keluar dari jalur kebenaran sehingga pendapatan dan keuntungan yang diperoleh juga lebih besar. Lagipula oknum konglomerat ini tidak ingin agar orang-orang rajin ke gereja sebab barangnya yang dianggap ilegal oleh Firman menjadi lebih laris manis.

Salam keadilan sosial!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s